Hubungi kami di

Khas

‘Tan Hock Seng’ Pilih Tutup Setelah 90 Tahun Berjualan Roti di Singapura

Terbit

|

Tan Boom Chai latar belakang toko rotinya, melalui akun Instagramnya, ia menyampaikan keputusannya untuk menutup toko rotinya di Singapura setelah 90 tahun beroperasi. © Instagram - Tanhocksengsg

Sebuah toko roti tradisional di Singapura, Tan Hock Seng berencana menutup permanen tokonya mulai Rabu (3/11/2021), setelah beroperasi selama 90 tahun.


MENJELANG hari penutupan, toko roti itu diburu para pelanggan yang ingin mendapatkan olahan roti hingga kue-kue terkenal buatan mereka untuk terakhir kalinya.

Mengutip Mothership, awalnya toko roti Tan Hock Seng ini didirikan oleh sang kakek dari –pemilik saat ini– Tan Boon Chai yang bernama Tan Tiam. Ia adalah seorang migran asal China dari distrik Tong’an di provinsi Fujian.

Fa Gao, salah satu jenis roti yang dijual di toko Tan Hock Seng. © Instagram – Tanhocksengsg

Ia kemudian mendirikan toko ini di kawasan China Street, Singapura dan mulai menjajakan makanan panggang khas Hokkien pada tahun 1931.Lalu selanjutnya toko roti itu diserahkan kepada ayah Tan, bernama Tan Kar Teng, sebelum Tan mengambil alih ketika ia baru berusia 20 tahun. Tan memulai berdagang dengan menghabiskan waktu berjam-jam di toko tempat ia belajar sembari melihat orang lain membuat kue.

Pada tahun 1980-1990, sebagian besar kawasan Chinatown, Tanjong Pagar, dan Telok Ayer mengalami perombakan besar-besaran. Akhirnya pada tahun 2000, toko roti pun harus pindah dari alamat awalnya dan menetap di lokasi saat ini, yaitu di Far East Square, Singapura.

Tangkapan layar, unggahan Tanhocksengsg di Instagram

Alasan toko roti legendaris ini memilih tutup

Setelah memimpin toko selama 50 tahun, Tan pun mengejutkan banyak orang karena ingin menutup bisnis kuliner yang sudah ada sejak 1931 itu.

Ia mengaku tidak punya pilihan selain menyerah terutama karena tiga alasan.

Pertama, sewa toko roti dengan Far East Organization akan berakhir pada bulan November. Dengan berakhirnya masa sewa toko, Tan merasa sudah waktunya untuk berhenti sejenak.

Lalu yang kedua, ia mengatakan bahwa para karyawannya sudah semakin tua.

“Saya akan jujur kepada kamu. Saya tidak bisa tinggal di garis ini dan melanjutkan lebih lama lagi. Saya hanya akan memiliki sekitar satu tahun tersisa di “tangki” saya, dua tahun atasan,” ujarnya.

Tan Hock Seng memang selalu membuka toko setiap hari, kecuali hari pertama tahun baru Imlek.

BACA JUGA :  Uganda Yang Terjerat Hutang China, Bagaimana Indonesia?

“Saya tidak tahan untuk melepaskan (toko roti),” ujarnya.

Alasan terakhir ialah karena anak-anaknya tidak punya rencana untuk mengambil alih kendali. Kedua putra dan putrinya hanya menikmati kue-kue yang ia buat, tetapi tidak pernah belajar bagaimana membuat kue-kue itu.

“Mereka tidak tertarik, dan memiliki karier sendiri,” ujar Tan.

Setelah mendengar tentang penutupan toko roti yang menjual kuliner tradisional itu para pelanggan dari seluruh bagian Singapura pun datang, untuk mendapatkan kue-kue terkenal dari toko roti untuk terakhir kalinya.

Bahkan beberapa pelanggan rela menunggu lebih dari satu jam hingga makanan yang dipanggang keluar dari oven.

“Ketika saya mendengar mereka tutup, saya sangat sedih karena kami benar-benar menyukai (kue-kue mereka),” ujar seorang pelanggan dikutip dari Channel New Asia.

Pada hari-hari terakhir, toko roti legendaris ini terlihat begitu sepi. Namun, di dapur belakang, yaitu tempat kue-kue itu diproduksi, terlihat dipadati oleh aktivitas. Terlihat Tan sedang sibuk mempersiapkan kue dengan tiga karyawannya.

Mereka sedang menggulung, mengisi, dan membentuk kumpulan tau sar piah (bakpia isi kacang hijau) terakhir dari tokonya.

Meski sudah berusia 71 tahun, Tan begitu kuat untuk menyiapkan semuanya. Mulai memanggang roti di dapur, hingga bertemu dan menyapa pelanggan di depan toko.

Toko roti yang dulunya menjual lebih dari 40 jenis makanan panggang yang berbeda-beda, kini telah mengurangi menu dengan hanya menjual sajian favorit saja.Seperti halnya kue kering isi kacang hijau yang gurih, beh teh saw, pong piah, dan kue bulan.

Popularitas tau sar piah buatan mereka memang sudah tidak diragukan lagi. Hanya dalam tiga hari, mereka berhasil menjual habis bakpia tersebut. Tak banyak juga para pelanggan yang kecewa begitu mengetahui bahwa kue dan banyak penawaran lainnya terjual habis.

Tangkapan layar, unggahan Tanhocksengsg di Instagram

Selain itu, pada hari berikutnya berencana untuk menghabiskan bahan mentah apa pun yang tersisa pada persediaan. Mereka pun memutuskan hanya untuk membuat beh teh saw, atau bila diterjemahkan berarti biskuit renyah kuku kuda.

BACA JUGA :  Di Tengah Ancaman Demo Besar, Pemerintah-DPR RI Sepakati RUU Cipta Kerja

Untuk memastikan lebih banyak pelanggan dapat membeli beh teh saw mereka, Tan Hock Seng harus membatasi setiap orang hanya bisa membeli 10 potong kue saja.

Untuk menghindari kehabisan lagi, Tan dan istrinya, Yeo Ah Sui, juga menyarankan pelanggan untuk datang lebih awal yaitu pada jam 11 pagi.

Menariknya, ada pasangan paruh baya asal Singapura yang rela mengambil cuti dari pekerjaan hanya untuk mendapatkan kue itu di Tan Hock Seng, yang telah menjadi favorit keluarganya.

Sang istri pun mengungkapkan bahwa ia telah memakan kue beh teh saw dari toko roti itu sejak dia masih kecil; dan kemudian memperkenalkannya kepada suami dan anaknya.

Selain itu, perempuan berusia 60 tahun bernama Sandy ini juga mengatakan bahwa ia telah mengenal toko roti tersebut setelah ia mulai bekerja di sekitar kawasan Chinatown itu pada 34 tahun yang lalu.

Photo : © Instagram – Tanhocksengsg

Sementara pada 30 September lalu menjadi hari-hari terakhir Tan Hock Seng yang benar-benar penuh dengan haru perpisahan. Itu adalah hari terakhir kerja untuk tiga anggota staf, termasuk dua karyawan lama; yang mana salah satunya telah bekerja selama lebih dari 20 tahun.

Dalam rangka menandai acara khusus tersebut, menantu perempuan Tan membawa kue cokelat untuk dibagikan kepada para karyawan selama istirahat makan, yaitu setelah tim selesai membuat batch terakhir.

Berpisah dengan karyawan lama mereka bukanlah hal yang mudah, terlebih para karyawan juga telah dianggap seperti keluarga sendiri.

Menjalankan toko roti tradisional ini memang begitu menantang bagi Tan, karena jam buka dimulai sejak pukul 4 pagi. Serta, untuk mengasah kerajinan pembuatan kue tradisional itu juga membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun.

Tan mengaku tidak tahu akan seperti apa nasib toko rotinya ke depan, yang pasti Tan dan istrinya akan rehat untuk saat ini.

(*)

Sumber : Mothership | Channel News Asia | Kumparan | Instagram 

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook