“Tempat itu bernama Kasoo (pulau Kasu, pen.). Berisi sekitar 40 rumah yang dibangun rapat di tepi pantai, beratap daun palem.“
…
“Satu atau dua pemimpin kelompok itu bisa dikenali namanya. Yang paling terkenal bernama Hamet. Ia telah menjalankan sistem ini sejak bertahun-tahun lalu dan sangat ditakuti oleh penduduk asli di Singapura.”
(Hooker’s Journal of Botany and Key Garden Miscellany Volume VII, 1855)
Oleh: Bintoro Suryo
SEBUAH surat lama dari seorang engineer pertambangan asal Inggris, James Motley, berisi catatan memoar perjalanannya saat mengunjungi Kepulauan Batam pada tahun 1853. Surat ditujukan kepada Sir William Jackson Hooker, seorang Botanis asal Norwich – Inggris, bertarikh 19 Desember 1854.
Dalam surat, Motley menceritakan kondisi wilayah perairan Kepulauan Batam masa itu, termasuk kondisi penduduk yang mendiami, keanekaragaman hayati hingga memoarnya saat menyinggahi pulau Kasu dan pulau Sugi.
Tahun 1853 menurutnya, Selat Singapura dan Kepulauan Batam bukan lagi wilayah “terra incognita”. Pulau-pulau utamanya sudah tergambar dalam peta, walau belum semua.
Namun, Orang Eropa tetap menganggapnya seperti labirin Perairan yang sulit dilalui.
Di peta hanya tertulis “Battam, Bulang dan Sugi”. Di laut aslinya menurut Motley, ternyata ada ratusan pulau kecil dan gosong karang yang membentuk labirin lautan yang bisa menyesatkan. Di beberapa pulau kecil bersumber air, ia juga mencatat telah ada beberapa kampung nelayan.
Motley bukan penjelajah resmi. Ia berangkat dari Singapura pada 16 Januari 1853 dengan perahu kecil berisi 5 awak. Tujuan sebenarnya adalah daratan Sumatra. Tapi, ia justeru terjebak di perairan ini yang kemudian memberi peluang padanya untuk melakukan survei sederhana. Ia juga merasakan pengalaman berada di wilayah perairan Batam masa itu yang sering disebut “sarang perompak” di koran-koran Singapura dan London.
Dari Singapura, ia sebenarnya berniat menyeberang ke daratan Sumatera untuk kemudian melakukan perjalanan darat ke pulau Jawa. Ia terdampar di perairan Batam karena cuaca yang buruk. Setelah berkutat dalam labiran selat-selat sempit antar pulau, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Singapura, menaiki kapal besar langsung menuju Batavia. Tujuan akhirnya adalah Banjarmasin. Ia mendapat tawaran kerja sebagai ahli pertambangan di sana.
Surat James Motley mulai ditulis setahun setelah pelayarannya di Kepulauan Batam, 28 November 1854; saat ia berada di Surabaya, sambil menunggu menunggu kapal tujuan ke Banjarmasin. Baru diselesaikan dan dikirimkan dari Banjarmasin pada 19 Desember 1854.
Motley dalam suratnya kepada Hooker menyebut, kondisi Sosial-Ekonomi kepulauan Battam masa itu memang berada di bawah pengaruh Belanda dengan vatsal kesultanan Riau Lingga. Namun, wilayah ini dinilai kurang menarik untuk diawasi secara penuh. Secara praktik, para penguasa lokalnya cenderung berkuasa secara independen.
Dalam surat, ia juga menyebut nama seorang penguasa independen di perairan ini, Hamet yang tinggal di pulau Bulo (pulau Buluh, pen.). Menurut Motley, selain menguasai perairan di sekitarnya hingga ke Sugi, Hamet dan kelompoknya juga menjalani aktifitas perampokan secara bebas kepada kapal-kapal para pedagang. Aktifitasnya telah berlangsung bertahun-tahun sampai kunjungan Motley di tahun 1853. Sosok itu begitu ditakuti, namun tidak ada upaya untuk menanganinya. Hamet disebut Motley, mengawasi area kekuasaannya dari kediamannya di pulau Buluh.
“Dan di tempat itulah, menurut saya, ia sebenarnya dapat ditangkap tanpa banyak kesulitan dengan sedikit ketangkasan.” (James Motley, 1853)
James Motley meninggal pada 1 Mei 1859 di Banjarmasin. Ia menjadi korban bersama isteri dan kedua anaknya dalam peristiwa kerusuhan tambang yang terjadi di sana (perang Banjar 1859 – 1863). Pada saat peristiwa terjadi, James Motley diketahui telah menetap di Kalimantan Tenggara, yakni di Kalangan. Ia menjabat sebagai kepala pengawas di sebuah tambang batu bara swasta bernama Julia Hermina, yang didirikannya sendiri, dan yang saat itu sudah mulai berproduksi. Kegiatan pengumpulan spesimen botani-nya juga berjalan lancar. Ia diketahui baru saja mengirim 1300 spesimen tumbuhan kepada Hooker.
Sumber :
Isaac Henry Burkill - Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society/Volume 79/The Circumstances Attending the Murder in 1859, of the Botanist James Motley
James Motley, the life story of a collector and naturalist, by A. Raymond Walker
MOTLEY mencatat, transaksi perdagangan paling penting di Kepulauan Batam masa itu adalah melalui hubungannya dengan Singapura. Penduduk di pulau-pulau kecil seperti Kasu (Kasoo, pen.) misalnya. Mereka menebang pohon bakau untuk kayu bakar yang langsung dibawa ke Singapura. Sementara Orang Sugi mengolah agar-agar dan tripang dari laut untuk dijual ke Singapura.
Pada masa kunjungannya, menurut Motley, Uang Singapura lebih disukai daripada uang Belanda.
Catatan suratnya kepada Sir William Hooker diterbitkan di Hooker’s Journal of Botany Vol. VII, 1855. Sebuah Jurnal botani.
Di bawah ini, saya sajikan surat Motley tersebut, apa adanya dengan bahasa abad ke-19.
Catatan Perjalanan James Motley: Menyusuri Kepulauan di Selatan Selat Singapura
Dari “Hooker’s Journal of Botany” Vol. VII, 1855. Surat dari Sourabaya, 28 November 1854
SESUAI janji, saya duduk untuk menuliskan sedikit kisah tentang perjalanan saya ke Sumatra di awal tahun ini. Atau setidaknya memulainya, karena saya belum tahu kapan bisa menyelesaikannya.
Saat ini saya tertahan di Sourabaya. Kapal yang saya tumpangi dalam perjalanan ke Banjarmasin, sedang berlabuh untuk memuat barang. Jadi setelah melihat-lihat kota, saya punya satu dua hari luang untuk menulis.
Keberangkatan yang Tergesa-gesa.
Upaya pertama saya menjadi contoh peribahasa “tergesa-gesa malah lambat”. Karena ingin cepat sampai, saya malah memilih perahu yang terlalu kecil. Perahu itu hanya sampan dayung biasa. Saya berangkat dari Singapura, dengan 5 orang awak pada 16 Januari 1853. Saat itu, fajar baru mulai menyingsing.
Sebelum menyeberang, saya mampir ke kapal survei Inggris H.M.S. Royalist yang baru pulang ke Singapura, setelah berlayar selama 11 tahun. Di sana saya berpamitan dengan beberapa teman lama di negeri Hindia ini.
Lalu, kami menyeberangi Selat Singapura, melewati perairan dekat Pulau Blakang Mati. Pulau itu terkenal karena dua hal: demam remiten yang ganas menyerang orang asing yang tidur di sana, dan kebun nanasnya yang luas.
Nanas di pulau itu ditanam berbaris sampai ke puncak bukit setinggi 200 kaki. Hampir tidak ada proses perawatan. Yang dilakukan hanya membersihkan gulma sebelum buah menjadi matang, lalu membongkar kebun lama untuk diganti kebun yang baru.
Untuk bibit, penduduk di sini lebih menyukai menyemai tunas kecil di pangkal buah daripada mahkota buah atau tunas dari akar. Setelah buah pertama dipanen, tunas dari akar dibiarkan berbuah lagi. Setelah panen kedua, kebun biasanya sudah penuh gulma dan harus dibersihkan kembali.
Ada dua varietas nanas yang ditanam di wilayah ini. Satu berwarna gelap dengan ruas besar. Satu lagi kuning keemasan. Yang gelap ukurannya paling besar, tapi rasanya berair dan berserat, kecuali saat panen di musim kemarau. Yang kuning jauh lebih enak walau buahnya kecil. Rasanya hampir menyaingi nanas yang dibudidaya di daratan Eropa. Namunteksturnya lebih kasar dan berkayu.
Buah dari pulau-pulau di wilayah ini sangat murah. Ongkos memotong dan mengangkut ke pantai justru lebih mahal dari buahnya. Beberapa tahun lalu, siapa saja boleh membawa pulang semuat perahu yang digunakan untuk membawa, dengan syarat, orang yang mengambil juga memotong dengan jumlah yang sama untuk pemiliknya.
Sampai sekarang, nanas masih dijual di jalanan Singapura seharga 8 buah satu sen, atau setengah penny. Puluhan ton dikonsumsi setiap hari saat tiba musim panennya, terutama oleh orang Tionghoa.
Serat daun nanas juga diolah di Singapura, walau dalam jumlah terbatas. Biasanya dipakai untuk tali dan jaring pancing. Cara membersihkannya adalah dengan menarik daun di antara dua besi tumpul, mirip cara mengolah serat pisang Manila.
Nanas di sini juga sering mengalami kelainan pada masa pertumbuhannya. Mahkotanya bisa tumbuh sangat besar seperti jambul. Orang menyebutnya “Nanas Jangkar”. Mahkota juga sering bercabang.
Ada juga varietas indah bernama “Nanas Kondeh”, bentuknya seperti piramida. Semua tunasnya berada di pangkal buah, bisa sampai 20. Kemudian tumbuh menjadi buah kecil dengan mahkotanya sendiri.
Di kebun rumah penduduk di sini, mahkota nanas sering dibuang dengan cara dikorek pakai ujung pisau saat bunga mulai mekar. Lukanya cepat sembuh dan tertutup braktea. Tanpa diperiksa, buah itu akan terlihat seperti varietas berbeda. Cara ini dipercaya bisa memperbaiki rasa buah.
Labirin Perairan dan Pulau Kasoo
SEKITAR pukul 10 pagi, kami mulai memasuki labirin pulau-pulau di sisi selatan Selat Singapura ini. Di kebanyakan peta, wilayah ini digambarkan hanya sebagai beberapa pulau besar bernama “Battam”, “Bulang” dan “Sugi” Padahal kenyataannya terdiri dari ratusan bahkan ribuan pulau kecil.
Di antara karang dan gosong pasir, arus pasang surut mengalir sangat kuat. Beruntung, arus itu menguntungkan kami. Seringkali perahu kami melaju 5-6 knot tanpa layar atau dayung.
Dalam pelayaran di sebuah perairan di wilayah ini, beberapa tukang perahu mengatakan kepada saya; lupa membawa persediaan daun “sirih”. Mereka memohon agar diizinkan mendarat di sebuah permukiman kecil untuk membelinya.
Tempat itu bernama Kasoo (pulau Kasu, pen.). Berisi sekitar 40 rumah yang dibangun rapat di tepi pantai, beratap daun palem.
Di belakang kampung, ada tanah luas yang sudah dibersihkan, tapi tidak ada tanaman kecuali sedikit sirih dan kelapa. Tanahnya ditumbuhi lalang Imperata Koenigii dan pohon-pohon kurus setengah terbakar yang dipenuhi paku epifit, terutama “Sarang Alang” atau Asplenium Nidus.
Orang-orang di pulau Kasoo ini, hidup dari menangkap ikan dan membuat kayu bakar untuk dijual ke Singapura. Untuk itu mereka hanya menebang satu jenis kayu: Rhizophora. Kemungkinan dari jenis R. conjugata. Orang Melayu menyebutnya “Kayu Bakau”.
Kayunya berwarna kemerahan-putih, mudah dibelah, mudah terbakar, dan menghasilkan panas yang tinggi dengan bau khas. Karena itu sangat disukai untuk memasak. Harganya di Singapura 1 dolar untuk 1000 bilah. Satu bilah panjangnya 2 kaki dengan diameter 1,5-2 inci.
Sejumlah besar kulit “Bakau” dibawa oleh orang Tionghoa menggunakan kapal jung. Kulit itu dipakai sebagai penyamak kulit di Singapura, dicampur gambir.
Pulau ini juga banyak dihuni hewan kecil sejenis Moschus yang disebut “Pelandok”. Ada beberapa ekor yang ditangkap dan dikurung di sangkar untuk dijual ke Singapura. Ada juga burung nuri berekor panjang dari genus Palaeornis yang terbang berkelompok sambil menjerit.
Di antara barang dagangan yang menurut saya aneh adalah sekeranjang cacing laut putih, setebal jempol dan panjang 1 kaki. Cacing itu ditemukan di kayu lapuk jenis Rhizophora. Penduduk menyebutnya “Tamueno” yang sudah lama terendam air laut. Harganya mahal di kalangan orang Tionghoa kaya di Singapura karena dianggap hidangan langka.
Selain daun sirih, anak buah saya juga membeli tangkai buah muda dari jenis Piper yang disebut “buah seperti cabai” atau buah merica. Buah itu dijual dengan cara dirangkai di benang. Bisa dikeringkan tanpa kehilangan rasa pedasnya. Karena itu sangat dihargai orang Melayu untuk bekal di laut. Daunnya tidak bisa awet lebih dari 8-10 hari walau dibungkus pelepah pisang.
Kondisi Geologi dan Tumbuhan di Kepulauan Batam
TIDAK ada yang bisa menandingi keindahan pemandangan di kepulauan ini. Kadang saya bisa menghitung lebih dari 100 pulau sekaligus dalam satu perjalanan. Di lain waktu, arus membawa kami melewati selat sempit yang pepohonannya hampir bertemu di atas perahu.
Batuannya sama dengan di Singapura: lempung, batu pasir, dan kerikil kuarsa. Hampir semua mengandung besi. Sebagian batu berwarna merah dan ungu yang indah.
Seluruh formasi ini dipotong urat dan massa laterit besar. Ada yang berongga dan berdebu, tapi kebanyakan sangat keras, padat, dan berat, berwarna merah kehitaman. Mengandung 75-80% besi, tapi terlalu banyak silika sehingga kurang bernilai sebagai bijih.
Lapisan batunya miring dan terlipat. Walau kebanyakan pulau tidak lebih dari 100 kaki di atas laut, pantainya sangat indah. Ada yang berpasir, ada yang penuh bongkahan laterit keras yang tersisa setelah lapisan tanahnya tererosi.
Banyak pulau kecil yang hijau, sebenarnya adalah rumpun pohon air asin seperti “Bakau”, “Tamueno”, “Tunga” jenis Rhizophora, “Pempat” jenis Sonneratia, dan “Api-api” jenis Avicennia. Pohon-pohon itu tumbuh di atas lumpur dan karang yang hanya terlihat saat surut.
Airnya jernih. Hamparan karang terlihat dengan warna pelangi dan menjadi rumah bagi ikan-ikan berwarna cerah. Ikan-ikan itu punya gigi kuat dan “merumput” di ujung-ujung karang. Perut mereka berisi zat kapur seperti pasta yang mungkin membuat dagingnya kadang beracun.
Saya menemukan banyak cangkang di setiap pendaratan kami di pulau-pulau kecil wilayah ini. Burung seperti elang, merpati, dara laut, trinil, cekak, kuntul, dan ibis, juga bisa dengan mudah ditemui. Pulau-pulau kecil di sini, menjadi lokasi terbaik mereka dalam mencari makan dan tempat tinggal yang aman.
Vegetasi pulau-pulau di wilayah ini khas pantai tropis. Pohon Rhizophora, Sonneratia, Avicennia dan jenis _Combretaceae berbunga merah dan putih, kerap bisa ditemui. Tumbuhan “Nyari” mendominasi perairan yang berlumpur bersama pohon Nipa, Paku Laut, Acrostichum, Rotan Laut Flagellaria, Dillenia dan jenis-jenis pandan liar.
Salah satu jenis pandan liar yang biasa dikenal penduduk di sini adalah “Kasoo Samak”.
*Kemungkinan, dari nama itu pulau Kasoo (pulau Kasu, pen.) dinamakan oleh penduduk awal yang mendiaminya.
Jika tumbuh-tumbuhan tersebut ada di suatu tempat atau pulau kecil, itu menjadi tanda adanya sumber air tawar di lokasi tersebut. Penanda alami itu sering digunakan penduduk untuk menemukan sumber mata air kecil di sekitarnya. Jika memungkinkan, wilayah bersumber air bersih tersebut akan digunakan sebagai tempat tinggal oleh mereka.
Di pasir, tumbuhan yang umum ditemui adalah Pandanus, Calophyllum, Vitex Negundo, Cycas, “Waru” Paritium, “Aru” Casuarina, “Tapak Karbau” Ipomoea, “Tuba Laut”, Crinum “Bakong”, Carex, “Gandarusa” obat penurun demam, Cissus, “Simpur” Dillenia, Wollastonia, dan Phyllanthus.
Di banyak pulau-pulau kecil di wilayah ini, kita juga bisa dengan mudah menemukan tumbuhan yang hidup di batu-batu. Seperti misalnya pakis besar, Hoya, anggrek Dendrobium, Cymbidium, Trichoglottis dan Thelasis. Puncak dari batu yang ditumbuhi tanaman tersebut, biasanya ditumbuhi semak Ixora jingga, pohon Ficus, Podocarpus, “Penaga” Calophyllum, “Ketapang” Terminalia, dan “Gadore” Pandanus setinggi 30 kaki dengan buah seputih gading.
Di bagian atas pulau, seperti di Kasoo, dominan ditumbuhi pohon Clusiaceae dan Myrtaceae. Ada juga jenis Syzygium berbuah hitam, Myristica, dan pohon Sapotaceae yang merupakan penghasil getah putih; dulu dipakai untuk memalsukan getah perca.
Tumbuhan penghasil karet terbaik yang tumbuh di wilayah ini adalah Urceola atau “Jintawan”. Batangnya sebesar paha. Getahnya diambil dengan memotong batang. Sayangnya, di kepulauan ini tidak diolah. Padahal lokasinya dekat laut dan sangat menguntungkan jika dilakukan. Caranya hanya dengan mencampur getah dengan air laut maka akan menggumpal.
Pemerintahan, Perompak, dan Tokoh Hamet
SELURUH kepulauan ini milik Belanda, bagian dari Keresidenan Riau. Tapi beberapa kepala suku terlihat praktis merdeka dan jarang diganggu.
Mengelola sistem pemerintahan yang aktif atas penduduk di wilayah ini, hampir tidak mungkin dilakukan. Kecuali dengan kekuatan kapal meriam atau kapal uap yang biayanya sama sekali tidak sebanding dengan nilai dan pentingnya.
Namun begitu, saya kira, satu atau dua kepala suku di wilayah perairan ini tetap menerima tunjangan pendapatan walaupun kecil. Uang Belanda secara nominal digunakan, meskipun penduduk sangat bersedia menerima mata uang Singapura untuk barang mereka.
Permukiman di Kepulauan ini sangat terpencar. Penduduknya tidak memiliki reputasi baik. Banyak yang mengatakan bahwa kebiasaan membajak kapal-kapal dagang yang melintas belum sepenuhnya bisa dihilangkan. Perahu kecil dari Singapura kadang-kadang disergap. Gerombolan perampok Melayu, kadang juga mendarat dan menjarah permukiman kecil yang terpisah-pisah di wilayah ini.
Satu atau dua pemimpin kelompok itu bisa dikenali namanya. Yang paling terkenal bernama Hamet. Ia telah menjalankan sistem ini sejak bertahun-tahun lalu dan sangat ditakuti oleh penduduk asli di Singapura.
Hamet berasal dari pulau Bulo (pulau Buluh, pen.). Salah satu pulau di bagian barat dari kelompok kepulauan ini, tempat istri dan anak-anaknya juga tinggal.
Dan di tempat itulah, menurut saya, ia sendiri (sebenarnya) dapat ditangkap tanpa banyak kesulitan, dengan sedikit ketangkasan, jika pemerintah memang berniat memberantasnya. Tapi, itu tidak dilakukan.
*Beberapa sumber yang berhubungan dengan ini, seperti surat Raffles kepada Lord Minto pada 1811 dan catatan JH. Moor 1837, sosok Hamet berasosiasi dengan Raja Hamid; salah satu putera Raja Ali YDM Riau V yang berhijrah dari ulu Sungai Muar Johor ke Riau paska perjanjian London 1824.
Kehidupan Penduduk dan Perjalanan Malam
PEKERJAAN utama penduduk di wilayah perairan ini; menangkap ikan, mengumpulkan kapur dan karang untuk dijual di Singapura, mengumpulkan dan mengeringkan “agar-agar” dan “tripang”, mengumpulkan kulit mangrove, menebang kayu bakar, menebang dan merakit kayu ke Singapura, seperti “saftipong”, “seraya”, dan kayu ringan lainnya untuk digergaji menjadi papan. Juga bagian tiang dari “Pulai” atau “Bintangur”, Calophyllum inophyllum, dan kayu lengkung untuk pembuatan kapal dari “Pempat”, “Pemarga”, “Ketapang”, dan sejenis Melastoma.
Di beberapa pulau yang lebih besar, dihasilkan cukup banyak buah, dan tikar dari daun panjang “Pandan Wangi”. Obor damar dibuat di beberapa permukiman.
Pada suatu sore dalam pelayaran di Kepulauan ini, cuaca tidak bersahabat. Ombak bergulung tinggi. Perahu terlalu kecil untuk dapat tidur dalam kondisi kering, walaupun kami memutuskan bermalam di tepi pantai.
Jadi, kami menuju permukiman penduduk di sebuah pulau. Tapi kampung itu sudah kosong. Bangunan tempat tinggal penduduk dalam kondisi sudah tanpa atap. Akhirnya, kami terpaksa berangkat lagi dalam kondisi gelap menuju Sungai Sipagu di Pulau Sugi.
Arus berlawanan dengan perjalanan laut kami malam itu di sekitar selat sempit pulau Sugi. Setelah berupaya, kami baru tiba sekitar tengah malam di sebuah kampung di pulau itu.
Kedatangan kami langsung membuat gempar. Orang kampung keluar dengan senapan dan tombak. Mereka mengira kami adalah perompak yang biasa menjarah kampung-kampung penduduk. Setelah bisa menjelaskan, saya akhirnya diizinkan menginap di rumah seorang kepala kampung.
*Kepala Kampung pada masa itu adalah sosok pemimpin di sebuah wilayah pemukiman penduduk yang dipilih sendiri oleh mereka berdasarkan ketokohan dan kemampuan ilmu yang dimiliki.
Saya tidur dengan senapan di samping karena menurut tukang perahu saya, orang di pulau Sugi ini, kadang juga jadi bajak laut. Tapi ia meyakinkan bahwa mereka tidak akan mencelakai orang yang datang dengan damai. Walau begitu, saya memutuskan untuk tetap waspada.
Dari pulau Sugi Kembali ke Singapura
PAGI harinya, baru terlihat kampung ini terlihat masih baru didiami oleh penduduk. Mereka terlihat sedang menjemur agar-agar dan menumbuk damar Dipterocarpus untuk obor.
Damar yang sedang diolah mereka, awalnya dilelehkan dengan minyak kayu, lalu dibentuk batang sepanjang 18 inci dan dibungkus daun Zalacca. 1 batang dijual 2-5 sen. Obor damar yang dihasilkan, biasanya dijual ke Singapura untuk membuat api besar atau digunakan untuk penerangan rumah orang Melayu.
Saya kemudian mandi di mata air jernih di kampung ini. Pada pukul 6.30 pagi, kami memutuskan untuk berangkat. Di tepi karang, terlihat beberapa perempuan dan anak-anak sedang memungut “agar-agar” dan “tripang”.
“Agar-agar” yang bagus berwarna bening seperti tulang rawan, panjang 2-6 inci. Setelah diambil, dibersihkan dan dijemur 10 hari. Dijual 10 dolar per pikul. Setelah direndam air tawar, agar-agar itu bisa mengembang lagi dan direbus jadi jeli untuk makanan manis dan asin. Ekspornya besar ke Tiongkok.
Kami ingin ke selatan, tapi angin berlawanan. Ombak di laut terbuka terlalu besar untuk perahu kami. Setelah beberapa kali kemasukan air, saya memutuskan kembali ke Singapura mencari perahu lebih besar.
Alasan lain: saya dengar sungai-sungai di Sumatra sedang banjir. Butuh berhari-hari untuk masuk ke dalam. Prospek tidur basah di perahu kecil, tentu tidak menyenangkan.
Jam 10 pagi kami berhenti mendayung dan memasang layar. Dengan bantuan angin, kami tiba di Singapura pada malam hari.
Perjalanan ke Sumatra ditunda. Tapi setidaknya saya sudah melihat sendiri ribuan pulau di Karesidenan Riau: indah, keras, dan penuh kehidupan.
Banjarmasin, 19 Desember 1854,
James Motley
(*)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com



