- Nama : Pulau Pecong
- Tata Pemerintahan : masuk dalam wilayah administrasi kecamatan Belakangpadang, kota Batam
- Luas : sekitar 16,368 km²
- Populasi : sekitar 1.000 jiwa (sekitar 270 Kartu Keluarga)
PULAU Pecong, sebuah kelurahan di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau, memiliki luas wilayah daratan sekitar 16,368 km². Pulau ini didominasi oleh penduduk beretnis Melayu dengan jumlah sekitar 1.000 jiwa (sekitar 270 Kartu Keluarga) yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.
Akses ke pulau ini bisa menggunakan kapal pompong, sejenis kapal kayu kecil yang biasa digunakan masyarakat antar-pulau melalui pelabuhan Sekupang atau pelabuhan rakyat Sagulung di Batam.

PULAU ini dinamai dari pohon yang disebut masyarakat setempat sebagai pohon pucung. Pohon yang sangat tidak diinginkan karena mulai dari daun, buah hingga batangnya, disebut memiliki rasa yang pahit, bahkan memabukkan. Dahulunya, pohon itu banyak ditemui di sekitar pulau Pecong.

Walau cuma pulau kecil dengan letak yang jauh dari pusat kota Batam, infrastruktur pendidikan di pulau ini terbilang lengkap. Lembaga pendidikan mulai PAUD hingga SMA sudah tersedia. Pulau Pecong menjadi sentra pendidikan bagi warga di pulau-pulau sekitarnya.
Hikayat pulau Pecong
DISEBUTKAN dalam cerita orang-orang dulu, ada 7 orang yang disebut panglima Galang dan menguasai perairan strategis di sekitar wilayah ini. Mereka terlahir dari 7 wanita asal pulau yang sekarang disebut pulau Galang. 7 Panglima Galang terkenal sebagai lanun atau bajak laut yang sering mengganggu aktifitas kapal-kapal dagang yang melintas. Wilayah mereka meliputi perairan di sekitar Pulau abang, Pulau Sembur, Pulau Cate, Pulau Tokok, Pulau Selat Nenek, Pulau Pecung dan Pulau Panjang.

Ditarik lebih jauh ke belakang, kisah 7 Panglima Galang ini bermula dari perintah seorang Sultan Malaka di abad ke-16 untuk membuat sebuah Lancang atau Kapal. Pasukan Kerajaan kemudian tiba di pulau kecil yang kelak dikenal dengan nama pulau Galang. Banyak persediaan kayu seraya yang dipercaya sebagai bahan baku yang baik untuk kapal milik raja di pulau itu. Pasukan Kerajaan kemudian membuat lancang di sana. Seorang warga pulau yang dikenal sebagai orang Selat (yang mendiami wilayah Kepulauan, pen) bernama Canang, coba mendekati pasukan Kerajaan yang sedang membangun lancang. Namun ia diusir untuk menjauh. Sang pria tersinggung dan akhirnya keluar sumpah darinya; “lancang yang dibangun tidak akan pernah bisa mencapai laut saat selesai dibangun.”
Keanehan terjadi saat lancang selesai dibangun. Kapal atau lancang itu tidak bisa dibawa ke laut, seperti sumpah pria bernama Canang. Agar bisa turun ke laut, pasukan Kerajaan mendapat masukan untuk menggunakan 7 wanita yang sedang hamil anak pertama di pulau itu sebagai pemutus sumpah, sekaligus landasan menggulirkan kapal ke laut.
Kapal akhirnya bisa melaut dan berlayar menuju Malaka, sesuai keinginan Sultan. 7 wanita hamil yang menjadi landas kapal meninggal, namun anak-anak mereka selamat. Mereka dipelihara oleh pria bernama Canang yang mengeluarkan sumpah awalnya tersebut.
Setelah dewasa, ketujuhnya kemudian memiliki dendam besar karena ibu-ibu mereka dijadikan tumbal. Ketujuhnya kemudian menjelma menjadi sosok lanun yang sangat berani dan menguasai perairan sekitar Batam hingga Karimun dan dikenal dengan sebutan 7 Panglima Galang.

Cikal bakal keturunan orang Pecong yang mendiami pulau Pecong besar sekarang, dipercaya dari keturunan para hulubalang laut yang ikut bersama salah satu panglima Galang bermastautin di pulau Pecong kecil.
(ham)


