Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pertamax 92 Langka di Batam, Pertamina; Akibat Kendala Sandar Kapal
    6 jam lalu
    Ketua DPRD Kepri Viral Kendarai Harley Davidson Tanpa Helm
    6 jam lalu
    Cuaca Batam Berawan, Potensi Hujan Petir (10–11 Mei 2026)
    7 jam lalu
    Bertemu Konjen India, BP Batam Buka Peluang Perluasan Kerjasama
    1 hari lalu
    DPRD Batam Bentuk Pansus Ranperda Pengelolaan Persampahan
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Singapura Maju karena Sastra?
    4 jam lalu
    MAN Insan Cendekia Batam Juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kepri
    6 jam lalu
    Bus Sekolah Gratis di Tanjungpinang Masih Sepi Peminat
    2 hari lalu
    PSG Tantang Arsenal di Partai Puncak Liga Champions Eropa
    3 hari lalu
    Inter Milan Raih Scudetto ke 21, Pesta Biru Hitam di Kota Milano
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    4 hari lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    1 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    1 minggu lalu
    Pulau Pecong, Batam
    2 minggu lalu
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Makam Bukit Batu dan Kehidupan di Alur Sungai Rocoh Bintan”

Jejak J.E. Teijsmann di Negeri Segantang Lada (Bagian 2)

Editor Admin 2 jam lalu 108 disimak
Ilustrasi, pemandangan pesisir Riouw dengan latar gunung Bintan sekitar tahun 1915 dalam foto berjudul : "Kust in Riouw". © Arsip perpustakaan Leiden BelandaDisediakan oleh GoWest.ID

” … mereka akan membiarkan semuanya terbengkalai. Kebun-kebun di dalam hutan itu, semua warisan leluhur. Mungkin pada zaman dahulu yang lebih makmur, pohon-pohon buah itu terawat dengan baik, juga lokasinya.”

Daftar Isi
Mendaki Gunung BintanKebun Warisan di Tengah HutanMakam Raja-Raja Kuno di Hutan Bukit BatuPara Pemburu BurungPapan Luncur di Gosong LumpurMakam Keramat di PengujanMenyusuri Sungai Rocoh di Kampung BulanResiden yang Khawatir, Berangkat ke Lingga

…

“Di dalamnya terbaring orang keramat itu. Menurut informasi penduduk, jarak antara batu di bagian kepala makam dan batu kakinya, telah memanjang sampai 56 kaki sejak kematiannya ratusan tahun lalu. Tempat ini begitu dikeramatkan.”

…

” … kami melihat ada beberapa orang, pada ketinggian 100 kaki, berjalan di atas dahan-dahan yang menjulur lebar dari sebuah pohon ara liar. Agak heran karena mereka berpindah dari satu dahan ke dahan lain yang kokoh, layaknya mamalia berkaki empat, sambil bernyanyi riang.”

(J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)

Oleh: Bintoro Suryo


PADA bagian kedua catatan ahli Botani J.E. Teijsmann di Bintan tahun 1872 ini, memaparkan perjalanannya menembus belantara hutan di pulau Bintan. Ia menempuh alur darat yang sulit dan tiba di puncak gunung Bintan yang diselimuti mitos.

Di Bukit Batu, ia menemukan komplek makam kuno dari raja-raja terdahulu di kerajaan Bintan Kuno. Sementara di pulau Pengujan, sebuah makam yang begitu dikeramatkan penduduk, ditaksir telah berusia ratusan tahun sebelum ditemukan. Ada tradisi pengurbanan yang dilakukan Yang Dipertuan Muda Riau di sana.

Ia juga mencatat dengan detil kondisi sekitar saat mengarungi sungai Rocoh di pedalaman hutan Bintan. Denyut kehidupan terbagi di antara kampung-kampung Melayu dan Tionghoa. Ada perbedaan cara bertahan hidup antara keduanya.

Lewat catatan hariannya di dokumen : Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV‘ tahun publikasi 1874, Teijsmann tidak hanya merekam kekayaan flora, topografi, dan budaya lokal. Tetapi juga menggambarkan denyut kehidupan penduduk, hingga kondisi perkebunan gambir-lada di “Negeri Segantang Lada”.

Sebuah potret Bintan abad ke-19 yang hidup. Namun getir, liar dan tradisional.

Berikut catatannya yang dirangkum pada bagian kedua.

Mendaki Gunung Bintan

PADA tanggal 2 Agustus 1872, kami mendaki gunung Bintan yang sangat ditakuti penduduk di sini. Di kalangan pribumi, gunung itu dianggap menyeramkan dan jarang didaki. Mereka tidak hanya percaya bahwa di sana banyak roh jahat yang bersemayam, tetapi juga karena pendakian memerlukan tenaga yang terlalu besar. Itu membuat mereka enggan.

Ilustrasi, Peta kepulauan Riau Lingga sekitar tahun 1883 – 1885 dalam peta berjudul : “Kaart van den Riouw- en Lingga-Archipel”, dibuat oleh J.W. Stemfoort dan J.J. ten Siethoff. © Arsip perpustakaan Leiden Belanda

Titik tertinggi gunung Bintan ditaksir tidak lebih tinggi dari 1540 kaki (sekitar 470 meter dpl., pen.). Meskipun kami sering berhenti untuk beristirahat saat mendakinya, perjalanan hingga puncak dari lokasi kampung terakhir hanya sekitar satu jam. Kami mulai berangkat pukul setengah tujuh pagi. Setelah beberapa waktu berdiam di atas puncak, pukul 10, kami sudah kembali lagi di kampung.

Jalur menuju puncak pada awalnya sangat buruk. Ada bekas jalan setapak. Namun akibat penebangan hutan, hampir seluruh ruasnya terhalang. Kami harus memanjat melewati batang-batang besar dan bongkahan batu besar yang menghalangi alur hingga akhirnya tiba pada bagian hutan yang belum terjamah dan rimbun. Jalan setapak di wilayah ini sangat curam dan licin. Kadang-kadang, kami harus memanjat pada batu-batu yang menonjol di lereng-lerengnya. Di beberapa bagian lain, tanah berbentuk lempung kuning, curam serta licin.

Dari kejauhan, gunung Bintan terlihat seperti sebuah massa batu yang besar. Tapi kenyataannya, hampir seluruhnya tertutup hutan lebat. Banyak batang pohon raksasa dengan ketinggian setidaknya 100 kaki (sekitar 30 meter, pen.) dan diameter 5 kaki (sekitar 1,5 meter, pen.). Sebagian besarnya merupakan pohon kayu jenis Balau, Meranti, Seraya, Medang sirai dan Rungkas. Penduduk pribumi sepertinya jarang memanfaatkan. dan lain-lain, yang karena penduduk yang jarang jarang dimanfaatkan.

Di tempat orang membuka kebun di lereng bagian bawah, batang-batang pohon itu hanya menjadi mangsa api. Atau tetap tergeletak begitu saja saat tumbang karena usia. Sementara di bagian tengah lereng, selain dipenuhi pohon besar, juga banyak belukar dan jenis-jenis rotan, sehingga di dalamnya sulit ditembus.

Pemandangan dari puncak, atau lebih tepatnya dari punggung tertinggi ke arah selatan, terlihat pulau Penyengat dan sekitarnya. Jarak pandang begitu terbuka. Beberapa pulau kecil juga tampak dengan jelas.

Pemandangan ke arah timur laut juga terlihat. Tetapi ke barat dan utara tertutup oleh puncak gunung di sebelahnya. Dari jauh, juga terlihat lahan yang dijadikan kebun gambir dan lada. Kondisinya seperti terbengkalai dan lebih banyak ditumbuhi belukar muda.

Kami sempat mencoba untuk mencapai puncak kedua dari gunung ini. Tetapi tidak berhasil karena ada jurang dalam yang terletak di antaranya. Sementara dindingnya berupa tebing dengan kemiringan hampir tegak lurus.

Walau penduduk sekitar menyebut gunung ini dihuni oleh roh-roh jahat, kami tidak mendapat gangguan atau malapetaka saat mendaki hingga kembali turun.

Perjalanan kami ke puncak gunung Bintan ini, ditemani beberapa penduduk kampung Noyong. Di antaranya adalah keturunan Raja di kampung itu serta enam orang pemuda. Mereka menemani kami hingga ke atas puncak. Walau sempat gusar dengan keberadaan roh-roh jahat yang mereka percayai, mereka yakin tidak akan diganggu karena terlindungi oleh kami.

Dalam perjalanan ke puncak hingga kembali turun dari gunung Bintan, tidak banyak sampel bibit tumbuhan yang berhasil saya bawa. Saya hanya mengumpulkan beberapa jenis buah hutan dan ranting kayu yang dijatuhkan ke bawah oleh kelompok kera dan tupai.

Jalur menuju puncak cukup ekstrim. Hampir seluruhnya mendaki. Ini menyebabkan kelelahan dan kami terpaksa berhenti berkali-kali untuk beristirahat, memulihkan paru-paru kami.

Jalur turun tidak kurang melelahkan, meskipun dalam hal yang berbeda. Kami perlu mengandalkan otot-otot kaki untuk menahan beban tubuh di kemiringan yang lumayan curam. Kelelahan otot-otot, baru kami rasakan betul keesokan harinya. Saat turun dari puncak, kit harus selalu waspada; di mana akan menjejakkan kaki, entah di batu, akar pohon atau bidang miring yang licin, agar tidak tersandung atau tergelincir. Jika tanahnya licin, maka yang terbaik adalah menancapkan tumit ke dalamnya. Namun karena kemiringan tubuh tidak tegak lurus dan harus terus diseimbangkan oleh lutut, menyebabkan otot-otot kami harus bekerja lebih keras.

Kebun Warisan di Tengah Hutan

SORE harinya, kami masih sempat mengunjungi hutan yang banyak berisi tanaman buah-buahan. Banyak ditemukan pondok milik warga pribumi yang didirikan sebagai tempat tinggal sementara, untuk menunggui tanaman buah hingga bisa dipanen.

Para penghuni pondok-pondok ini akan tinggal sementara di sini. Mereka menunggui pohon buah-buahan tersebut hingga bisa dipanen. Setelah itu, kembali ke kampung masing-masing. Ada yang berasal dari Tanjung Pinang, Penyengat, dan kampung lain di sekitarnya.

Selanjutnya, mereka akan membiarkan semuanya terbengkalai. Kebun-kebun di dalam hutan itu, semua warisan leluhur mereka. Mungkin pada zaman dahulu yang lebih makmur, pohon-pohon buah itu terawat dengan baik, juga lokasinya.

Ada sebuah lembah bergelombang di kaki gunung Bintan ini, setelah kita melalui hutan berisi tanaman buah. Untuk menuju ke sana, ada jalur setapak kecil yang terdiri dari lempung kuning dan tanah humus. Jalur itu sepertinya terbentuk karena seringnya dilalui, bukan karena dibangun oleh penduduk. Ketika tiba, kita bisa menemukan hamparan rumput subur di bawah pohon-pohonnya. Bercampur dengan semak dan perdu liar. Tapi, sangat sedikit yang mau bersusah payah membersihkannya agar pohon-pohon buah yang telah tumbuh liar itu, bisa lebih leluasa mendapatkan nutrisi. Jikapun ada yang mau menebas, biasanya dilakukan sekedarnya saja.


PANEN buah di sini, biasanya berlangsung selama beberapa bulan. Saya hampir tidak pernah melihat pohon buah-buahan sebesar di lokasi ini. Terutama pohon manggis yang memiliki tinggi dan lingkar yang luar biasa.

Di sini, saya juga menemukan sejenis tumbuhan yang oleh orang Sunda diberi nama “krastoelang” (Chloranthus). Akarnya bisa diseduh seperti teh. Air seduhan yang dihasilkan, bisa memicu keringat bagi yang meminumnya. Itu menyenangkan dan mungkin bisa menjalankan fungsi kesehatan lain pada tubuh.

Saya kemudian memberi tahu teman perjalanan saya, Datoe Aboe Hasan, untuk menggali dan mengambil beberapa akar tanaman itu dan membawanya.

Di kemudian hari, saya mendengar kabar dari Datoe Aboe Hasan bahwa ia telah mencoba resep saya dari tanaman itu. Ia menyukainya. Bahkan memerintahkan beberapa orang-orangnya untuk mencari akar tanaman itu lagi. Informasi resep saya juga disampaikan kepada bangsawan lain di Penyengat, bahkan hingga Sultan di Lingga. Namun di mana pun kami membotanisir di wilayah Riau Lingga ini, tidak dijumpai tanaman Chloranthus itu, kecuali yang berada di kaki gunung Bintan. Saya baru menemukan jenis baru dari marga itu di wilayah hutan pulau Lingga. Tampaknya, tanaman tersebut juga memiliki khasiat yang sama.

Semua orang terkemuka di negeri ini, kemudian berusaha mendapatkannya.

Makam Raja-Raja Kuno di Hutan Bukit Batu

PADA tanggal 5 Agustus 1872, kami meninggalkan kampung Noyong pagi-pagi sekali menuju kapal Moona menggunakan perahu Jung kecil kami. Menyusuri sungai ke hulu, tempat kapal Moona ditambatkan. Namun ketika kami tiba, sungai kecil itu sedang surut. Kami harus menunggu beberapa jam di sana sampai air pasang datang.

Sekitar pukul 10 pagi, kami bisa kembali ke atas Moona. Dengan itu, kami sekarang mendayung lebih jauh ke hulu sampai ke Bukit Batu. Untuk pertama kalinya di sungai itu, tampak medan berbukit. Di kanan dan kiri tidak terlihat perkampungan penduduk selain rawa-rawa yang ditumbuhi rhizophora serta vegetasi pantai lainnya. kami kemudian turun ke darat dan mulai mendaki ketinggian, sampai ke tempat, di mana terdapat enam makam yang terpelihara baik dari Raja-Raja terdahulu di daerah ini.

Semua makam ditandai. Kecuali satu yang hanya memiliki batu kasar sebagai nisan penanda. Tidak ada tahun atau prasasti lain yang ditemukan di atasnya, kecuali pada salah satunya terdapat ayat dari Al-Quran. Ada seorang lelaki tua, yang tinggal di dekatnya. Ia ditugaskan menjaga makam-makam ini, sambil mengupayakan kebun buah-buahan.

Kami kemudian berlayar lebih jauh ke hulu sungai, sampai akhirnya tiba di sebuah rumah pribumi yang terletak di tepi sungai. Dari sana, ada jalan setapak menuju ke pedalaman. Kami mengikuti jalan setapak ini dan kemudian tiba di wilayah berpenduduk, sangat mirip dengan yang kami temui di kampung Noyong. Seorang penduduk menuntun kami melewati jalan setapak sempit di sini. Jarak antara satu rumah penduduk dengan yang lain agak berjauhan.

Setelah beberapa waktu melintasi jalur setapak, kami akhirnya tiba kembali di Bukit Batu. Melalui alur setapak lain, kami kembali ke kapal Moona untuk bermalam di atasnya.

Pada wilayah yang kami singgahi ini, juga terdapat kebun buah-buahan yang bersambung-sambung. Memiliki kualitas yang sangat baik dan subur. Tetapi, sama terlantarnya seperti yang ada di Noyong.

Sapi, kerbau dan kuda akan menemukan makanan berlimpah di sini jika dipelihara penduduk. Hewan-hewan itu sebenarnya juga dapat membantu membersihkan ladang. Namun, saya tidak menemukan ada satupun penduduk yang memelihara hewan-hewan tersebut.

Tidak ada hewan buas yang perlu ditakutkan di sini kecuali buaya. Orang Melayu di sini, sepertinya sudah puas dengan aktifitas penangkapan ikan untuk bertahan hidup. Sangat sedikit yang mengupayakan pertanian. Jika ada, tanaman yang diupayakan biasanya berupa tanaman tebu, singkong, ubi, keladi, jagung, labu, jahe dan pisang.

Para Pemburu Burung

PADA 4 Agustus 1873, kami menyusuri sungai lain di wilayah ini. Tapi, karena kapal Moona dengan tiang-tiangnya yang tinggi tidak dapat maju lagi karena terhalang dahan-dahan rhizophora (bakau, pen.) yang masih terlalu mendominasi, kami pindah ke sebuah sampan kecil. Setelah mendayung kira-kira setengah jam, kami tiba di daerah berawa. Sejarak lebih dari 5 pal, ada beberapa bekas kebun gambir dan lada. Alur setapak menuju ke sana begitu buruk dan sulit dilalui.

Jalan setapak itu ditumbuhi rumput lebat dan tinggi serta alang-alang. Di sekitarnya hutan lebat. Akar-akar dan batang pohon yang tumbang sangat menyulitkan perjalanan. Di tempat-tempat terbuka bekas kebun gambir yang sekarang hanya ditumbuhi kayu muda, sinar matahari turun tegak lurus menimpa kami.

Dari kejauhan, kami melihat ada beberapa orang, pada ketinggian 100 kaki, berjalan di atas dahan-dahan yang menjulur lebar dari sebuah pohon ara liar. Agak heran karena mereka berpindah dari satu dahan ke dahan lain yang kokoh, layaknya mamalia berkaki empat, sambil bernyanyi riang.

Mereka membawa tabung yang tergantung pada seutas tali berisi getah. Dengan menggunakan tongkat panjang yang salah satu ujungnya diikat, mereka mencelupkannya ke dalam tabung, kemudian mengolesi dahan-dahan di sekitarnya. Orang pribumi di rombongan kami menyebut, mereka sedang berburu merpati liar (punai dan pergam) yang biasa hinggap untuk memakan buah yang masak.

Setelah getah dioleskan di banyak dahan, baru pada keesokan harinya mereka kembali untuk memeriksa jerat getah yang telah dipasang. Jika beruntung, mereka akan mendapati burung-burung yang terperangkap karena bersentuhan dengan getah, jatuh ke bawah. Mereka hanya tinggal memungutnya. Dengan cara itu banyak burung ditangkap.


SETELAH menerobos alang-alang dan padang rumput, kami tiba di sebuah hutan indah dengan batang-batang pohon besar dengan kerapatan yang sulit ditembus. Pada semak-semak yang kebanyakan berlumut di sekitarnya, saya menemukan sejumlah anggrek kecil berbagai jenis.

Sayang, hutan-hutan semacam itu ditakdirkan untuk ditebang dan dibakar untuk keperluan budidaya gambir.

Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya kami mencapai ladang/ perkebunan pertama. Kebun lada dan gambir di sini masih terlihat baik. Begitu juga dengan perkebunan kedua yang kami temui setelahnya. Pada yang terakhir ini, tinggal seorang mandor kampung Tionghoa. Ia menjalani pekerjaan itu karena ditugaskan. Dahulu, ia seorang petugas — mewakili kepolisian yang menjaga keamanan di antara penduduk ladang yang ditaksir mencapai 2000 orang Tionghoa.

Setelah tengah hari, kami kembali ke Moona karena lapar. Kemudian, menyusuri sungai lagi dan menjelang sore kami telah mendekati kuala, di mana kami berlabuh dan melewatkan malam.

Papan Luncur di Gosong Lumpur

PADA 5 Agustus 1872, pagi harinya kami berjalan hingga kaki terbenam di dalam lumpur di alur sungai. Tetapi karena air pasang, kami segera naik ke darat. Gosong lumpur terlihat jelas sekarang dan membentang luas di sepanjang pantai.

Hanya ada sebuah kampung yang terlihat di daratan. Di gosong lumpur itu banyak didirikan kelong (sero). Pada waktu surut, orang pergi mengosongkannya, tetapi karena tidak mungkin datang dengan perahu kecil atau berjalan di atas lumpur, mereka menggunakan sebilah papan selebar kira-kira satu kaki dan panjang 4 kaki. Kemudian menempatkan keranjang ikan mereka di depan, yang dipegang menggunakan tangan. Dalam posisi membungkuk dan dilengkapi dengan jaring serok, mereka bertumpu dan berdiri dengan satu kaki di belakang. Sementara kaki yang lain digunakan untuk menekan lumpur, menggerakkan papan luncur itu.

Papan luncur itu, sekarang meluncur sangat cepat di atas lumpur. Alat ini agak mirip dengan papan luncur di atas es.

Ketika mereka menukar kaki agar masing-masing bergiliran bekerja, maka hal itu dilakukan dengan melompat, tanpa membiarkan kedua kaki sekaligus bertumpu pada papan. Tentu, diperlukan banyak ketangkasan untuk menjaga keseimbangan. Jika terjatuh, mereka akan sangat kesulitan untuk keluar dari lumpur yang lembek itu.

Makam Keramat di Pengujan

KAMI sekarang mengarahkan haluan ke pulau kecil Pengujan. Terdapat sebuah makam keramat “orang dahulu kala” di sana. Terdiri dari sebuah tembok panjang 40 kaki, lebar 14 kaki dan tinggi lebih dari 4 kaki dengan 2 tangga untuk naik dan turun melewati tembok itu.

Ilustrasi, rumah-rumah tradisional Melayu di pesisir sekitar tahun 1915 dalam foto berjudul: “Paalwoningen aan de kust in Riouw”. © Arsip perpustakaan Leiden Belanda.

Di dalamnya terbaring orang keramat itu. Menurut informasi penduduk, jarak antara batu di bagian kepala makam dan batu kakinya, telah memanjang sampai 56 kaki sejak kematiannya ratusan tahun lalu. Tempat ini begitu dikeramatkan.

Belum lama ini, Yang Dipertuan Muda Riouw bersama kira-kira 500 orang berziarah ke sana untuk kegiatan ritual menolak bala. Seekor kerbau dikorbankan. Dagingnya dimasak dan menjadi ‘santapan makan besar’ bersama penduduk.

Sebagian besar pulau ini terdiri dari pasir gumuk. Di atasnya ditemukan keanekaragaman besar vegetasi gumuk. Sebagian besarnya sama dengan yang terdapat di Bangka pada tanah-tanah semacam itu. Pantainya juga terdiri dari pasir. Terdapat sebuah kampung, yang ditandai dengan banyaknya pohon kelapa. Di sisi yang berlawanan masih terlihat pohon-pohon hutan yang tinggi.

Dengan mendayung dan berlayar, kami tiba melalui selat kecil di kuala Rocoh, dekat kampung Tanjung Nyiur. Kami menemukan beberapa rumah pribumi di pantai.

Sore harinya pukul 3, kami mendarat dan berjalan-jalan melewati alur setapak yang kadang-kadang berawa, kadang-kadang kering dan tertutup akar pohon, melalui hutan yang masih perawan sampai tiba di sungai Rocoh. Di seberangnya terletak kampung Tekah, kira-kira setengah jam perjalanan dari kuala.

Kami pikir, di sini bisa menemukan air minum yang baik, karena tidak menemukannya di Tanjung Nyiur. Air di sana berwarna kemerahan. Benar saja, di sini kami mendapati air yang jernih. Orang pribumi biasa meminumnya secara langsung. Menjelang sore, kami kembali ke kapal Moona untuk bermalam di atasnya.

Menyusuri Sungai Rocoh di Kampung Bulan

PADA 6 Agustus 1872, pagi hari pukul 6, kami berlayar dan mendayung. Perjalanan terasa sangat lambat karena tidak ada angin, selain dayung yang berjumlah 4 buah. Tapi, semuanya telah patah saat berupaya masuk ke dalam sungai Jebut.

Kami akhirnya harus meninggalkan kapal Moona karena alur perjalanan di sungai mulai terhalang pohon-pohon Rhizophora. Kami kemudian pindah ke sebuah sampan pinjaman kecil yang bocor untuk melanjutkan perjalanan.

Menggunakan sampan ini, kami masuk ke sebuah anak sungai, yang membawa kami ke kampung Bulan Lama. Tapi, di sini buntu. Padahal, kami berharap dari sini bisa terus melanjutkan perjalanan menggunakan sampan hingga ke Pangkalan Bulan Baru. Hanya ada dua pilihan bagi kami sekarang; ke sana melalui darat atau melalui sungai. Kami akhirnya memilih yang terakhir.

Kampung Pangkalan Bulan Lama terdiri dari beberapa rumah. Banyak pohon buah-buahan, terutama tanaman Cempedak. Kami mengitari seluruh hutan di sekitarnya hingga menemukan sebuah perahu di sungai yang penuh muatan buah. Perahu itu akan berangkat ke Tanjung Pinang.

Setelah berkeliling di kampung Bulan Lama, kami naik kembali ke sampan bocor kami, keluar dari anak sungai dan selanjutnya menyusuri sungai utama. Tapi alurnya jauh lebih sempit. Nama wilayah ini Rocoh. Air di sini sedikit asin, tapi dapat diminum. Kami menampung air minum perbekalan di sini sambil berharap bisa bertemu sumber air jernih yang lebih segar untuk diminum.

Dari sungai Rocoh, kami tiba di Pangkalan Bulan Baru, di mana pelayaran untuk perahu berakhir. Sebenarnya masih ada sungai kecil yang bisa dilalui sampan ukuran lebih kecil untuk masuk lebih ke dalam.

Di sini kami turun ke darat dan bertemu seorang mandor kampung Tionghoa. Ia tidak mengerti sepatah kata pun kosa kata Melayu, tetapi menerima kami dengan sangat ramah. Di sini, mandor itu bertanggung jawab atas kira-kira 150 orang Tionghoa dari ladang-ladang sekitarnya.

Ada beberapa rumah orang Tionghoa yang berdiri. Di salah satu rumah, kami menumpang untuk beristirahat sekaligus untuk memasak bahan makanan perbekalan kami.

Sore hari pukul 5, kami berjalan-jalan di kampung ini. Melalui alur darat, kami mencoba mengikuti alur sungai kecil lebih ke hulu. Tapi, akhirnya kami harus lewat jalan memutar karena tepi sungai seluruhnya ditumbuhi pohon-pohon yang rapat.

Pada jarak kira-kira setengah pal, kami menemukannya kembali alur sungai. Arusnya masih deras dari arah hulu. Tapi, kami tidak dapat mengikutinya lagi. Belantara di sekitarnya hampir mustahil kami tembus.

Kami diceritakan bahwa air sungai kecil ini tidak berasal dari pegunungan, yang memang tidak ada. Tetapi dari sebuah bukit yang menjadi pemisah air, antara aliran ini dan yang lain. Yang berada di sisi seberang mengalir ke arah laut.

Patut diperhatikan bahwa di sini di tanah yang lebih datar, sungai air tawar semacam itu bermula, yang bahkan di kaki gunung Bintan tidak ditemukan. Kami juga diceritakan, bahwa air dari kaki bukit ini mengalir bersama dari banyak mata air kecil, membentuk sungai air tawar.

Dari sisi sungai kecil ini, kami berusaha menyeberang menggunakan beberapa batang pohon yang dilintangkan di atas sungai. Di seberang, kami tiba di sebuah hutan yang subur, tetapi berawa. Untuk mencapai bagian yang lebih padat, kami harus berjalan dengan cara menyeimbangkan diri di antara batang-batang kayu di tanah rawa itu, sampai jarak kira-kira setengah pal.

Alur yang kami lalui ini, merupakan alur penghubung utama untuk pergi dari satu ladang ke ladang lain.

Jika vegetasi di lembah berawa itu sangat subur, segera setelah kami tiba di seberang, kami tidak menemukan apa-apa selain belukar kurus dan lahan yang sudah tandus karena budidaya gambir. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang, melalui alur yang sama dan menyulitkan itu.

Saya bagaimanapun, bisa mengumpulkan beberapa tumbuhan menarik di sekitarnya.

Pada pukul 5 sore, kami sudah kembali di Pangkalan Bulan Baru. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, kami bisa mandi dengan nikmat di sungai yang jernih. Setelah itu, kami kembali naik ke sampan bocor kami untuk kembali ke kapal Moona. Dari sana, kami menyusuri sungai lagi hingga kembali ke kuala.

Residen yang Khawatir, Berangkat ke Lingga

TANGGAL 7 Agustus 1872, pagi-pagi sekali, kami kembali berlayar untuk mengunjungi pulau kecil Tekulai (Terkuli). Di sini, ditempatkan sebuah lampu pantai, yang dijaga oleh 5 orang pribumi. Dahulu ditemukan banyak pohon kelapa di pulau kecil ini. Tetapi sekarang, seluruhnya telah ditebang bersih. Tidak ditemukan apa-apa selain padang rumput dan semak belukar. Pulau ini seluruhnya datar. Terdiri dari karang dan pasir laut putih.

Ilustrasi, Kantor dan menara suar di pulau Tekulai (pulau Terkuli/ Terkulai, pen.) sekitar tahun 1915. © Arsip perpustakaan Leiden Belanda.

Kami tidak berlama-lama di sana, dan segera kembali ke Tanjung Pinang. Tiba di sana sekitar pukul 12 siang.

Begitu kembali, saya baru tahu bahwa Residen sangat khawatir tentang keberadaan kami. Ia bahkan telah mengirim sebuah “sampan panjang” untuk mencari keberadaan kami. Ia khawatir, kami ditimpa kecelakaan atau kemalangan.


PADA 12 Agustus 1872, kapal pos dari Singapura tiba di bandar Tanjung Pinang. Saya akhirnya bisa mengirim peti berisi sampel tumbuh-tumbuhan, termasuk jenis-jenis anggrek yang saya ambil dalam perjalanan kemarin ke kebun negara di Buitenzorg (Kebun Raya Bogor, pen.). Dalam peti juga termasuk sebuah paket biji-bijian.

Ilustrasi, lukisan benteng di bandar Riouw sekitar tahun 1883 berjudul : Riouw, © Heldring, O.G.H. Arsip perpustakaan Leiden Belanda

Tanggal 17 Agustus 1872, meskipun masih belum ada kapal yang baik dan layak laut untuk melakukan perjalanan ke Lingga, kami akhirnya memutuskan perjalanan ditempuh dengan kapal Moona saja. Semoga nasib baik bersama kami. Sebuah perahu kotter reyot dan sebuah “sampan panjang” milik kesultanan Lingga Riau yang biasa digunakan untuk tugas pemantauan oleh Datoe Stia Aboe Hassan, diikutsertakan. Sang Datoe yang baik juga menemani saya lagi.

Catatan: Kotter adalah kapal layar bertiang tunggal. Biasanya berukuran panjang 10 hingga 15 meter. Kapal kotter biasa digunakan sebagai kapal patroli dan kapal penghubung antar pulau pada masa kolonial Belanda.

Residen berusaha melakukan segala yang mungkin untuk menjaga kami dari bahaya selama perjalanan menuju Lingga. Ia juga telah memerintahkan agar armada kecil pendamping tetap bersama kapal Moona kami. Tetapi tidak lama setelah perjalanan laut dimulai dari Riau, kedua kapal pendamping kami hilang dari pandangan.

Kami berangkat pada sore hari pukul setengah lima. Tetapi, angin tidak menguntungkan, sehingga perjalanan awal kami tidak lebih jauh dari Pulau Basieng. Di sekitar perairan pulau kecil ini, angin dan arus membuat kapal kami hanya bisa terayun sepanjang malam.

(*)

Bersambung

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography. 
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan bintan, History, kepri, kepulauan riau, Rhio, riau, Riouw, sejarah
Admin 10 Mei 2026 10 Mei 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Singapura Maju karena Sastra?

APA YANG BARU?

Singapura Maju karena Sastra?
Catatan Netizen 4 jam lalu 102 disimak
Pertamax 92 Langka di Batam, Pertamina; Akibat Kendala Sandar Kapal
Artikel 6 jam lalu 143 disimak
Ketua DPRD Kepri Viral Kendarai Harley Davidson Tanpa Helm
Artikel 6 jam lalu 61 disimak
MAN Insan Cendekia Batam Juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kepri
Pendidikan 6 jam lalu 147 disimak
Cuaca Batam Berawan, Potensi Hujan Petir (10–11 Mei 2026)
Artikel 7 jam lalu 175 disimak

POPULER PEKAN INI

Prakiraan Cuaca, Potensi Hujan Masih Terjadi di Batam dan Sekitarnya
Artikel 6 hari lalu 679 disimak
Polsek Bengkong Amankan Pelaku Pelecehan Seksual Kepada Anak Di Bawah Umur
Artikel 6 hari lalu 645 disimak
Disdik Batam Himbau Keluarga Mampu Pilih Sekolah Swasta
Pendidikan 6 hari lalu 624 disimak
Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
Statistik 4 hari lalu 559 disimak
BUMD Kepri Disorot, Banyak yang Tidak Mencapai Target Kinerja
Artikel 4 hari lalu 558 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?