Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
    12 jam lalu
    Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
    12 jam lalu
    Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
    15 jam lalu
    Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
    16 jam lalu
    Sepertiga Wilayah ‘Stress Area’ Batam Masih Tunggu Kepastian Air Bersih Hingga 2027
    16 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
    12 jam lalu
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    15 jam lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    3 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Laga Lawan Bangladesh Timnas Garuda Harus Menang Besar
    4 hari lalu
    Asian Games 2026, Panahan Sumbang Koleksi Emas untuk Indonesia
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    4 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    6 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    6 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Pasir Laut Kepri dan Bui untuk Seorang Menteri

Editor Admin 9 tahun lalu 5.2k disimak
ilustrasi

GoWest.id – Dimulai sejak 1976 oleh Bapak Pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, proyek reklamasi di Negeri Singa telah berhasil memperluas daratan mereka hampir 200 kilometer persegi, dari 527 kilometer persegi menjadi 716 kilometer persegi.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menyebutkan, reklamasi Singapura yang dipusatkan di pantai barat dan timur itu, membutuhkan delapan miliar kubik pasir yang didatangkan dari Kepulauan Riau dalam kurun waktu 24 tahun (1978-2002).

Singapura untung. Indonesia buntung. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, nilai kerugian yang dialami Indonesia mencapai 42,38 miliar dolar Singapura. Setiap hari, ada 29 kali kapal hilir mudik membawa ribuan meter kubik pasir laut dari Kepri menuju Singapura. Kapal tersebut berkapasitas muat antara 1.000-4.000 meter kubik sekali angkut.

Pemerintah boleh berteriak. Tetapi, di sebalik berbagai ancaman kerusakan lingkungan dan teritorial negara itu, selalu ada pihak yang diuntungkan. Bisnis pasir laut melibatkan duit besar dan pemain kakap. Tak heran, sekelas menteri pun bisa tersandung fulus pasir laut Kepri.

Menteri Kelautan (2001-2004) Rokhmin Dahuri harus duduk di kursi pesakitan pengadilan tindak pidana korupsi karena kedapatan menerima suap sebesar 400 ribu dolar AS dari pengusaha Singapura pemilik kapal keruk pasir laut.

Ketika itu, Rokhmin juga menjabat ketua Tim Pengendali dan Pengawas Pengusahaan Pasir Laut (TP4L), sebuah lembaga yang dibentuk pemerintah dan DPR untuk mengawasi penambangan dan penjualan pasir laut dari Kepri ke Singapura.

Semua bermula dari penangkapan tujuh kapal keruk pasir laut ilegal milik Singapura oleh TNI AL pada 2002 di perairan Kepri. Pengadilan Negeri Tanjungpinang menjatuhkan denda Rp 30 juta tiap kapal. Namun TP4L yang dipimpin Rokhmin menolak denda yang dirasa terlalu kecil itu. Pemerintah menginginkan setidaknya negara berhak atas denda 15 persen dari harga kapal 210 juta dolar AS. Di sinilah celah untuk bermain-main terbuka.

Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu 2 Mei 2007, mantan staf khusus Rokhmin, M Fadil Hasan, mengaku pernah disuruh bosnya itu menemui para pengusaha pemilik tujuh kapal yang ditahan TNI AL itu di Singapura pada Februari 2003. Waktu itulah, ia dititipi duit 400 ribu dolar AS untuk Rokhmin.

Kendati tak menyangkal ihwal uang 400 ribu dolar itu, Rokhmin membantah kepergian Fadil Hasan ke Singapura bertemu pemilik kapal atas suruhannya. Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara kepada Rokhmin, seorang berlatar belakang akademisi dari Institut Pertanian Bogor.

Karut marut penambangan pasir laut ini akhirnya dihentikan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan saat itu Rini Suwandhi. Ia menerbitkan surat keputusan nomor 117/MPP/Kep/II/2003 pada 28 Februari 2003 yang menetapkan dihentikannya ekspor pasir laut demi mencegah kerusakan lingkungan pesisir dan pulau-pulau. Sejak itu, para pemain pasir laut di Kepri hilang satu demi satu. Mereka yang dulu kaya mendadak dan hidup mewah dari duit pasir, tak sedikit yang jatuh miskin dan terpuruk.

Besarnya putaran uang bisnis pasir selalu dikenang mereka yang pernah menikmati masa-masa kejayaan ekspor pasir laut ke Negeri Singa. Korban pejabat sekelas menteri, tak membuat surut keinginan mereka untuk menghidupkan lagi penjualan pasir ke negara tetangga.

Pada 2008, misalnya, Asosiasi Eksportir Pasir Laut Kepri mengeluarkan pernyataan mendesak pemerintah dan DPR membuka lagi kran ekspor pasir ke Singapura. Sekretaris Asosiasi, Abdullah Gosse, beralasan ekspor pasir bakal mendongkrak perekonomian daerah karena permintaan dari Singapura masih sangat tinggi. Proyek reklamasi yang digeber sejak 1976 masih jauh dari garis finis. Diperkirakan program perluasan wilayah darat negeri jiran itu baru akan selesai pada tahun 2030. “Selama itu pula mereka masih butuh pasir dari Kepri,” ujar Gosse, mantan bankir Bank Duta.

Di Singapura, pasir laut Kepri dihargai 1,5 dolar per meter kubik. Harga yang amat murah menurut takaran Menperindag Rini Suwandhi. Persoalan harga yang rendah ini juga menjadi salah satu dasar Menteri Rini menerbitkan SK 117/MPP/Kep/II/2003 yang menyetop penjualan pasir ke Singapura. Sebab, nilai yang didapat tak sebanding dengan kerusakan lingkungan dan kerugian kedaulatan yang mesti ditanggung Indonesia.

Perdagangan pasir laut dari Kepri ke Singapura yang berjalan hampir 24 tahun boleh dibilang memang hanya menguntungkan pribadi, kelompok, dan perusahaan tertentu yang tergabung dalam tiga konsorsium besar pemegang kuasa penambangan (KP). Penjualan pasir nyaris tak berdampak pada pendapatan daerah. Yang ada malah lingkungan rusak parah.

Sepekan terakhir di bulan pertama tahun 2018 ini, rencana ekspor pasir laut Kepri ke Singapura bergaung kembali, seiring pernyataan Gubernur Kepri Nurdin Basirun kepada media terkait rencana pendalaman alur laut. Jika ekspor pasir hidup lagi, akankah ada pejabat yang terkorban lagi? Tidakkah belajar dari sejarah? (*)

Kaitan khas, top
Admin 24 Januari 2018 24 Januari 2018
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Premium Susah Nak Cari, Eh Harga Pertalite Dah Naik
Artikel Selanjutnya Rusticus, Caesar dan Kebebasan Pers

APA YANG BARU?

Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 12 jam lalu 130 disimak
Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
Artikel 12 jam lalu 163 disimak
Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
Sports 12 jam lalu 133 disimak
Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
Artikel 15 jam lalu 285 disimak
Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
Pendidikan 15 jam lalu 193 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 4 hari lalu 731 disimak
Penyelundupan 11,31 Kg Emas ke Singapura Gagal
Artikel 6 hari lalu 586 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 5 hari lalu 577 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 4 hari lalu 556 disimak
Komisi III DPR RI Setujui Komjen Pol. Suyudi Ario Bayu Jadi Kapolri Baru, Ini Profilnya
Artikel 4 hari lalu 478 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?