KRISIS air bersih yang melanda kawasan Kecamatan Nongsa, Kota Batam, belum usai. Memasuki hari ketiga tanpa tetesan air akibat dampak pemadaman listrik massal (blackout), puluhan warga dari Kavling Nongsa, Teluk Mata Ikan, hingga Kavling Sambau, berbondong-bondong mendatangi gerbang Nongsa Digital Park (NDP) pada Rabu (14/10/2026).
Kedatangan mereka bukan sekadar melayangkan protes biasa. Mereka meminta kepastian waktu normalisasi pasokan air yang hingga kini masih macet total di rumah-rumah warga.
Bagi masyarakat setempat, situasi ini telah berubah status menjadi darurat kemanusiaan skala rumah tangga. Seluruh sendi aktivitas harian—mulai dari mandi, mencuci, hingga urusan sanitasi mendasar—lumpuh total.
Rahman, salah seorang warga Teluk Mata Ikan, mengungkapkan kekecewaannya mendalam atas minimnya respons cepat dari pihak berwenang. Selama tiga hari terakhir, ia menyebut warga berjuang sendiri tanpa ada uluran tangan berupa bantuan logistik air dari pemerintah maupun instansi terkait.
“Sudah tiga hari air di tempat kami mati. Tiga hari terakhir kondisi semakin diperparah dengan tidak adanya bantuan dari pemerintah ataupun instansi terkait,” ujar Rahman saat ditemui di lokasi aksi.
Dampak krisis ini bahkan memaksa warga mengambil langkah ekstrem demi bertahan hidup. Air laut terpaksa dilirik sebagai alternatif terakhir untuk sekadar memenuhi kebutuhan sanitasi darurat.
“Kondisi sudah kering parah. Tengoklah kami tidak ada air mengalir sama sekali, bahkan sampai gunakan air laut untuk cebok. Asli ini penyiksaan sekali bagi warga,” keluhnya dengan nada geram.
Nada serupa juga disuarakan Lisa, warga Kavling Sambau. Ia menceritakan bagaimana ironi krisis ini terus berulang. Sempat ada angin segar ketika persoalan air membaik pasca-aksi protes pekan sebelumnya, namun kelegaan itu hanya berumur jagung. Aliran air yang sempat kembali menyala mendadak menyusut drastis sebelum akhirnya mati total.
“Ada hidup kemarin, tapi kecil kali. Sebelumnya juga sempat ada bantuan air tangki, tapi makin ke sini makin parah. Enggak sanggup kami pakai air galon, beli terus,” ungkap Lisa menggambarkan beban finansial yang kian menumpuk.
Menanggapi gejolak ini, Humas PT Air Batam Hilir (ABH), Ginda, tidak menampik bahwa kelumpuhan distribusi air bersih tersebut berpangkal dari insiden blackout yang mengguncang Batam sejak Senin (12/10/2026). Gangguan pasokan listrik membuat Instalasi Pengolahan Air (IPA) lumpuh dan gagal beroperasi normal.
“Intinya kondisi itu pengaruh dari blackout dari Batam pada Senin kemarin, sebab IPA tidak berfungsi sehingga berdampak ke permukiman warga di daerah lain seperti di Kecamatan Sagulung. Pemulihan bertahap, jadi harap warga sabar dulu,” sebut Ginda.
(dha)


