Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔮 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Di Balik Ambisi Indonesia dan Sorotan Global Pembangunan Pusat Data
    19 menit lalu
    Polisi Amankan Tiga Kerabat Korban Kekerasan Seksual Kakak-Beradik di Bintan
    55 menit lalu
    Tiga Terduga ABK Ditangkap dan Nakhoda Kabur Usai Penyelundupan 16 Migran ke Malaysia
    1 jam lalu
    18 Wilayah Tergolong Krisis Air, BP Batam Janji Benahi
    13 jam lalu
    ABH Siapkan Tangki Air, Pekerjaan Pipa di Simpang Plamo – K Square Belum Rampung
    14 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    WALHI Soroti Risiko Ekosistem dan Krisis Air Efek Ekspansi Data Center Batam
    14 jam lalu
    Kenalkan Sejarah dan Budaya di Ranah Digital
    2 hari lalu
    Polibatam Bawa 9 Inovasi Unggulan ke The Premier Manufacturing Indonesia Series 2026
    2 hari lalu
    Timnas Indonesia Raih Tropi Internasional Sepakbola, Setelah 35 Tahun Puasa Gelar
    3 hari lalu
    Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    1 minggu lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    1 minggu lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    1 minggu lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    3 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    4 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔮 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Ai Djong di Tanah Merah, Kapal Purba di Soengei Djaka”

Editor Admin 37 menit lalu 137 disimak
Ilustrasi, Potongan peta berjudul: "Straat Riouw" tahun pengumpulan data 1865 - 1867. Dipublikasi pada 1894. Memperlihatkan wilayah teluk Bintan di pulau Bintan. © KITLVDisediakan oleh GoWest.ID

“Baru menjelang malam, kami dapat mendarat di atas beting lumpur di muara Soengei Bintan. Tempat di dekatnya terdapat sebuah kedai Tionghoa. Malam itu dihabiskan di tengah-tengah kawanan nyamuk.”

Daftar Isi
Ai Djong di Tanah MerahPengelompokkan Orang BintanTiba di Boekit BatoeKapal Purba di Soengei DjakaLegenda Tok SëkoedeiKeramat Tok Këlalo

…

“Yang pasti adalah bahwa Teluk Bintan dahulu jauh lebih dalam dan jauh lebih besar, mungkin pernah merupakan sebuah selat.”




“Tiada mĂ«ngapa, mĂ«lainkan diobahi nizamnya”. (Itu tidak apa-apa, hanya nisan-nisannya perlu diubah).

Oleh: Bintoro Suryo


BERDASAR kronik ‘Sejarah Melayu’ tentang Bintan, J.G. Schot menulis wilayah teluk Bintan pada masa yang lampau, merupakan wilayah ramai; tempat interaksi para pedagang dari berbagai wilayah dengan kapal-kapalnya. Pulau Pengujan yang terletak di hadapan menjadi penting pada masa masa kerajaan Bintan kuno.

Wilayah itu telah dihuni sejak masa pra Islam, sebelum era kesultanan Malaka yang diikuti Johor dan kemudian berlanjut ke Riau Lingga.

Temuan seperti bangkai kapal purba di sekitar sungai Jaka, memperkuat asumsinya.

“Di Soengei Djaka dekat lereng gunung bintan, sedikit lebih ke arah laut, pada suatu masa dulu, pernah ditemukan di dalam tanah; beberapa sisa sebuah kapal. Di dalamnya masih terdapat pena-pena kayu sapan yang besar dan tidak rusak.”

Namun sepertinya, ada mata rantai yang putus pada era tersebut dengan era setelahnya.

“
 penduduk tidak ingat pernah melihat atau membuat perahu dengan pasak kayu sapan, mereka pun percaya bahwa mereka berurusan dengan bangkai sebuah wangkang milik seorang Tionghoa bernama Tok SĂ«koedei (Tok Sekudei), yang kapalnya kandas di kaki Gunung Bintan.”

Karena terpisah masa yang sangat lama, penduduk di Bintan pada masa kedatangan Schot, lebih banyak menceritakan kronik-kronik cerita rakyat yang mereka dengar secara turun temurun.

Satu hal lagi yang menarik perhatiannya adalah fakta etnologi masyarakat asli Bintan masa itu, bila dibandingkan dengan kronik ‘Sejarah Melayu’ :

“Tampaknya tidak benar bahwa kedatangan Sri Tri Boeana disambut dengan cara bersahabat dan penuh kekeluargaan.” (J.G. Schot, Bijdrage tot de kennis Van oud Bintan, 1889)

Catatan memoar J.G. Schot di bagian kedua ini, diawali dari kampung Tanah Merah, di salah satu sisi teluk Bintan. Sebuah kampung yang baru didirikan sekitar 50 tahun lalu (di masa kedatangan Schot) dan dihuni oleh kelompok masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai ‘Orang Ai Jong’.

Berikut catatan memoar bagian 2 dari perjalanan J.G. Schot menelusuri Bintan pada 1883.


Ai Djong di Tanah Merah

PENDUDUK di kampung Tanah Merah, tidak termasuk suku Bintan. Melainkan membentuk suku tersendiri, yaitu suku Ai-djong (ai = air, ajar dan djong = perahu, kendaraan, praoe).

Jadi, orang ai djong = orang-orang yang tinggal di atas air di dalam perahu. Namanya sudah menunjukkan bahwa penduduknya dulunya merupakan suku Orang Laut sejati.

Potongan peta: ‘Boesoeng’ tahun 1946, memperlihatkan kampung Tanah Merah orang Ai Jong’. © KITLV

Di kampong itu, selain kepala kampong yang sudah tua, ada beberapa orang yang masih ingat bahwa penduduknya dulu tanpa tempat tinggal tetap. Mereka berkelana dengan perahu-perahu di sepanjang pantai selatan Bintan Utara dan di teluk Bintan.

Pekerjaan mereka dulu juga terdiri dari menangkap ikan. Baik di laut lepas maupun di beting lumpur dan di sungai-sungai kecil yang bermuara ke teluk Bintan.

Namun, mereka kini telah beralih menetap di Tanjung Merah. Terutama akibat tekanan dari pihak pemerintahan pribumi. Meskipun telah memiliki rumah dan tinggal menetap, orang-orang Ai-djong ini masih sering pergi meninggalkan rumah untuk berkelana di laut.

Suku Ai-Djong memiliki bahasa dan dialek sendiri. Bahasa Melayu Riouw belum mereka pahami sepenuhnya.

Karena kekurangan waktu, saya tidak dapat melakukan penelitian khusus terhadap dialek mereka. Tetapi, beberapa kata yang ingin saya sebutkan di sini dapat memberi gambaran betapa besarnya perbedaan antara dialek mereka dan bahasa Melayu Riouw.

Kata-kata itu adalah:

  • opeh dan kasar untuk “bapak” atau “kakek”
  • mapeh untuk “anak”
  • ikĂ«, kila dan akoe_untuk “di sini” dan
  • sikĂ« untuk “di sana”.

DI kampong Tanjung Merah lah tempat penemuan benda-benda yang sempat ditunjukkan oleh Yang Dipertuan Muda kepada saya. Mereka menemukan benda-benda itu saat hendak membangun rumah. Saat batu-batu disingkirkan di suatu tempat, si pembangun menjadi penemu yang beruntung. Ia mendapati beberapa perhiasan emas, yang kemudian ditunjukkan kepada Yang Dipertuan Muda. Saya pernah secara sengaja bertanya apakah sebelumnya pernah ditemukan emas lagi. Namun jawabannya menyangkal.

Seperti yang diberitahukan kepada saya, di Tanjung Merah hanya pernah dilakukan satu kali penemuan seperti itu. Kemudian, orang memang masih melakukan penggalian di sisi bukit yang sama. Di kaki bukit tempat kampong itu berada, digali. Tetapi, tidak ditemukan apa-apa lagi.

Sebaliknya, orang-orang Ai-djong dulu memang pernah beberapa kali melakukan penemuan seperti itu di seberang teluk. Tetapi akhir-akhir ini tidak terjadi lagi. Sehingga, boleh diduga bahwa di sana juga tidak akan ada lagi yang bisa ditemukan.

Pengelompokkan Orang Bintan

KARENA surutnya air, sebagian besar hari terbuang. Baru menjelang malam, kami dapat mendarat di atas beting lumpur di muara Soengei Bintan. Tempat di dekatnya terdapat sebuah kedai Tionghoa.

Malam itu dihabiskan di tengah-tengah kawanan nyamuk. Sementara itu, saya minta para sesepuh seperti Mëlan dan Hoesin untuk memberi keterangan tentang suku Bintan.

Menurut mereka, suku yang sekarang ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Orang Bintan toea (Bintan Tua)
  • Orang Bintan pendatang
  • Orang Bintan BĂ«rsĂ«manda.

Orang Bintan toea dapat dikatakan sebagai suku Bintan yang sejati. Merekalah penduduk yang paling tua.

Untuk pernikahan, mas kawin bagi Orang Bintan toea adalah 8 thail emas atau 400 realen.

Orang Bintan pendatang adalah keturunan orang-orang yang datang dari Bukit Siguntang di Palembang ke Bintan di bawah pimpinan Dëmang Lebar Daoen, pada waktu kedatangan Sri Tri Boeana. Mereka tampaknya berkedudukan lebih tinggi daripada Orang Bintan toea. Ini terlihat dari mas kawin untuk mereka; sebesar 10 thail emas.


Catatan:
Mas kawin; mahar
Thail: satuan berat emas, ±37,5 gram
Realen: mata uang zaman itu


Dari perbedaan ini, orang akan cenderung menyimpulkan bahwa legenda tentang kedatangan Sri Tri Boeana seperti yang saya tulis sebelumnya, menjadi kurang benar; jika ia menggambarkan Sri Tri Boeana dan pengikutnya disambut sebagai teman dan sederajat. Sri Tri Boeana diterima oleh para raja Bintan sebagai anak.

Tampaknya tidak benar bahwa kedatangan Sri Tri Boeana disambut dengan cara bersahabat dan penuh kekeluargaan.

Apakah kerajaan Bintan, dan mungkin juga kerajaan Singapura yang tertua, terpaksa mengakui kekuasaannya?

Bagaimanapun juga, hal itu sesuai dengan kedudukan mereka yang lebih tinggi dan pasti diwarisi dan dimiliki para pengikut dan keturunannya. Sampai sekarang, masih terlihat dari besarnya mahar untuk perempuan-perempuan yang merupakan keturunan para pendatang dari Palembang itu.

Perlu disebutkan sekilas di sini, bahwa di Bintan orang boleh menikah, baik di dalam sukunya sendiri, maupun dengan suku lain. Sedangkan besarnya mahar diatur menurut suku tempat perempuan itu berasal.

Orang Bintan bërsëmanda adalah keturunan orang-orang dari berbagai suku yang pada zaman dahulu menetap di antara orang Bintan. Bagi mereka, tidak ada mas kawin yang tetap. Hal itu tergantung pada suku asal tempat masing-masing Orang Bintan bërsëmanda berasal. Dalam arti sebenarnya, orang-orang ini, meskipun sekarang disebut Orang Bintan, tidak termasuk suku Bintan. Dengan demikian, pengelompokkan suku Bintan sebenarnya hanya terbatas pada dua kelompok yang pertama saja; Orang Bintan Toea dan Orang Bintan Pendatang.

Di masa sekarang (masa pencatatan J.G. Schot 1883), hasil percampuran antara Orang Bintan toea dan Orang Bintan pendatang dikenal dengan nama Bangsa Boekit Batoe (Bukit Batu). Sedangkan yang lain disebut Bangsa Pënaoeng (Penaung)


KEESOKAN harinya,kami mengunjungi sebagian Soengei Bintan untuk melihat beberapa kuburan tua.

Mengenai beberapa kuburan itu, yaitu yang di Boekit Batoe.Tuan Teijsmann sudah melaporkannya dalam perjalanan botani beliau di Riouw-Lingga beberapa tahun lalu. (Baca: Catatan perjalanan J.E. Teijsman di Bintan).

Berdasarkan ‘nizam’ di kuburan-kuburan itu, terkubur di Boekit Datoe lima orang perempuan (permaisuri?) dan satu orang laki-laki.


Catatan:

Penaoeng: Berasal dari kata ‘naoeng (Naung) = bayangan, tempat berteduh, perlindungan; bĂ«rnaoeng = berteduh, mencari tempat berteduh, tinggal.
Nizam: Batu nisan pada kuburan diletakkan menghadap ke arah kaki. Nizam, sama seperti ‘mesan’ dalam bahasa Melayu, berasal dari kata Persia: ‘nisan’

Tiba di Boekit Batoe

BATU-BATU di atas kuburan perempuan lebih tipis daripada lebarnya. Jadi pipih. Sedangkan yang di atas kuburan laki-laki, dari bawah ke atas menjadi semakin lebar berbentuk tiang segi enam, yang diakhiri dengan semacam mahkota.

Potongan peta: ‘Boesoeng’ terbitan tahun 1946, memperlihatkan kampung Bukit Batu yang berada di seberang gunung Bintan dan dipisahkan oleh Sungai Bintan. © KITLV

Kuburan-kuburan ini konon merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang bernama Tok Tëlani, seseorang dari Tëngganau, yang menurut sebagian orang adalah cucu Dëmang Lebar Daoen.

Tok ini (datoek = datoe?) dahulu diserang dan dibunuh oleh raja Pahang. Ketiga putranya kemudian melarikan diri ke Malaka. Sementara sebagian dari para pengungsi membawa jenazah Tok Tëlani ke Bintan di Boekit Batoe. Mereka mendirikan tempat pemakaman raja di sampingnya.

Salah satu kuburan perempuan, pasti merupakan kuburan putri Wan Sri Binai. Tetapi yang mana satu, tidak dapat dipastikan. Kemungkinan besar adalah yang kemudian diletakkan ayat Al-Qur’an di atasnya.

Banyak dari batu-batu ini memang telah diperbarui bentuk dan posisinya; karena rasa hormat, sejak Islam masuk ke sini.

Yang Dipertuan Muda Riouw menyatakan kepada saya dengan pasti bahwa semua kuburan di Boekit Batoe berasal dari zaman pra-Islam. Oleh karena itu, beliau tidak keberatan jika ada penggalian pada kubur kramat itu.

Tetapi penduduk, meskipun sekarang Islam, masih begitu menghormati kuburan para leluhur mereka, sehingga Yang Dipertuan Muda akhirnya harus mengurungkan niat untuk mencari benda-benda kuno pada makam-makam tersebut.

Letak nisan pada kuburan di Boekit Batoe dari sudut pandang Islam, sudah sejalan sekarang. Generasi setelah datangnya Islam, telah menyesuaikan letak arah kuburan leluhur mereka.

Begitu juga yang saya temukan di kampong Bedese (Selat Desa) di Nginang (Pulau Ngenang, pen.) dekat Tandjong Sau di selat Riouw. Beberapa kuburan terlihat berbeda arah dengan kuburan muslim. Kemungkinan berasal dari masa sebelum islam. Penghulu kampong dan seorang anak raja di tempat itu kemudian saya beritahu. Jawaban mereka:

“Tiada mĂ«ngapa, mĂ«lainkan diobahi nizamnya”. (Itu tidak apa-apa, hanya nisan-nisannya perlu diubah).


BOEKIT Batoe di tepi sungai Bintan, mendapat nama itu dari bukit-bukit yang berbatu dan mengandung bijih besi di sekitarnya.

Pada zaman dahulu, di sini memang sempat dilakukan penggalian. Bijih-bijih besi yang didapat, kemudian diangkut lebih jauh ke hulu menuju TĂ«bing TinggiÂč . Di sana dilebur dan diolah.

Nama Tëbing Tinggi berasal dari kedatangan orang-orang Palembang ke Bintan pada masa lalu.

Orang-orang Palembang itu, awalnya menetap di sana. Kampong itu kemungkinan besar dinamai menurut tempat asal mereka.

Pertama, pasti karena keinginan, meskipun di negeri asing, tetap ingin merasa di wilayah sendiri; dan kedua juga karena adanya sedikit persamaan yang mereka lihat pada tepi sungai yang tinggi (tëbing).

Di Tëbing Tinggi, konon, menurut keterangan orang Bintan, terdapat kuburan seorang Datoe Tokë. Siapakah datoe ini pada zamannya, dan apa yang istimewa darinya? Tidak dapat saya ketahui.

Di muara Soengei Krong yang kecil, terdapat tempat pendaratan yang digunakan oleh Yang Dipertuan Muda bila beliau mengunjungi daerah-daerah ini. Di sini juga tinggal seorang Said, yang sewaktu sang raja tidak ada, mengawasi dan mengatur penduduk.

Di Soengei Krong, hutan pantai masih lebat. Rumah-rumah penduduk juga sudah agak jauh dari Soengei Bintan. Lokasinya menyebar di kaki dan di lereng Gunung Bintan. Bagian bawah gunung di sini, ditanami pohon-pohon buah-buahan dari berbagai jenis.

Kapal Purba di Soengei Djaka

DI Soengei Djaka dekat lereng gunung bintan, sedikit lebih ke arah laut, pada suatu masa dulu, pernah ditemukan di dalam tanah; beberapa sisa sebuah perahu. Di dalamnya masih terdapat pena-pena kayu sapan yang besar dan tidak rusak. Dari bentuk penanya, yang karena ukurannya masih dapat langsung digunakan, dikabarkan bahwa perahu yang menjadi bagiannya pasti berukuran cukup besar.

Potongan peta: ‘Boesoeng’ terbitan tahun 1946, memperlihatkan lokasi tempat penemuan kapal purba yang dicatatkan oleh J.G. Schot tahun 1883. Lokasinya disebut berada di Sungai Jaka/ Jakas yang berada di dekat muara sungai Bintan, dekat lereng gunung Bintan besar. © KITLV

Penduduk juga tidak mengerti; bagaimana perahu sebesar itu bisa terdampar sejauh itu ke arah hutan dan sejauh itu dari laut?

Dan karena penduduk tidak ingat pernah melihat atau membuat perahu dengan pasak kayu sapan, mereka pun percaya bahwa mereka berurusan dengan bangkai sebuah wangkang milik seorang Tionghoa bernama Tok Sëkoedei (Tok Sekudei), yang kapalnya kandas di kaki Gunung Bintan ketika di tempat itu masih ada sebuah troemboe (gugusan karang yang berada di bawah air).

Ilustrasi, sebuah kapal Wangkang Tionghoa yang sedang berlayar di perairan kepulauan Riau, tahun publikasi 1938. © KITLV

Juga kedua meriam tembaga kecil muatan yang sudah kami sebut tadi, yang ditemukan di Soengei Bërë pada jarak 200 vadem dari kaki Gunung Bintan; menurut rakyat berasal dari Tok Sëkoedei.

Apakah dari satu dan lain hal dapat disimpulkan bahwa sebagian Gunung Bintan masih berada di bawah permukaan laut, ketika sudah cukup dekat di situ berdiam suatu penduduk yang dapat menjadi pembawa cerita turun-temurun itu? Saya juga belum berani memutuskan.

Yang pasti adalah bahwa Teluk Bintan dahulu jauh lebih dalam dan jauh lebih besar, mungkin pernah merupakan sebuah selat.

Berbagai penggalian yang saya lakukan untuk membuktikannya di daerah sekitar Soengei Bintan sampai ke Soengei Djaka dan Soengei Krong, bahkan sampai sangat dekat ke kaki Gunung Bintan, menunjukkan bahwa di sana; di bawah lapisan lumpur setebal kurang lebih yang ditumbuhi hutan, terdapat terumbu karang.

Kadang-kadang bahkan muncul batang-batang karang yang bentuknya masih sangat bagus dan tidak rusak.

Dari satu dan lain hal ini, muncullah dugaan dengan kemungkinan besar, bahwa apa yang di peta digambarkan sebagai sebuah pulau Bintan yang cukup besar; dahulu terdiri dari sebuah pulau yang lebih besar (Bintan Utara) dan beberapa pulau yang lebih kecil. Kurang lebih dengan cara yang sama seperti sekarang Kepulauan Batam terlihat.


Catatan:

Wangkang: perahu layar besar Tionghoa
Troemboe: karang/gosong di bawah air
Vadem: satuan kedalaman, ±1,8 meter. Jadi 200 vadem ≈ 360 meter
Sapan: pasak/penyemat kayu sapan

Legenda Tok Sëkoedei

TENTANG kandasnya Tok Sëkoedei, masyarakat masih menceritakan hal berikut:

Putra Tok Sëkoedei kehilangan nyawanya saat kapal itu kandas. Berubah menjadi seekor burung. Ia terbang kembali ke Siam menemui ibunya untuk menyampaikan berita duka itu kepadanya. Mendengar kabar itu, ibunya menjadi begitu sedih, sehingga lama-kelamaan ia merana dan meninggal. Putranya kemudian berusaha mencari ayahnya lagi, dan terbang kembali ke Bintan, dan dari sana ke daerah lain, tetapi sia-sia.

Bahkan sekarang, pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, masih terdengar di Bintan jenis burung, yang oleh orang Bintan disebut Tok Sëkoedei, yang dari teriakannya yang aneh itu, orang Bintan mengira mendengar beberapa ungkapan bahasa Tionghoa.

Karena tidak mengerti bahasa Tionghoa, bagi saya ketika mendengar burung itu, tidak mungkin untuk menilai kebenaran cerita itu.

Namun dikatakan masyarakat bahwa burung itu antara lain juga berseru “laitja” yang dalam bahasa Tionghoa berarti “mari makan atau minum”.


Catatan:
Kemungkinan, orang melihat pada burung itu sebagai keturunan dari putra Tok Sëkoedei yang berubah menjadi burung. Orang menganggap dari situ dapat dipahami bahwa putra itu memanggil ayahnya dan mengatakan bahwa ibu telah menyiapkan makanan.

Keramat Tok Këlalo

SEBELUM kita meninggalkan Soengei Bintan, berikut saya sampaikan sedikit tentang kramat Tok Këlalo, yang terletak di Soengei Bërë dan saat air pasang tertutup air.

Arah batu nisannya di sini dari Timur ke Barat. Jadi sama sekali bertentangan dengan aturan Islam. Batunya memang agak sejenis dengan yang kemudian ditempatkan di Boekit Batoe di atas kuburan. Hanya kurang dihias, dan juga menunjukkan bahwa ini adalah kuburan seorang perempuan.

Asal-usul kramat ini adalah sebagai berikut:

Di teluk Bintan, pada masa lampau, terjadi peristiwa sebuah perahu di ketinggian Soengei Bërë sekarang, telah kandas. Sang nakhoda, yang heran, kemudian memeriksa ke sekelilingnya. Mendadak, terbentuk sebuah beting yang hampir mencapai permukaan air. Sementara di atas beting itu, anggota tubuh paling bawah seorang perempuan muncul ke atas air, dan terdengar olehnya suara yang mengeluh.

Seketika ia bersumpah, menyadari bahwa ada arwah yang belum tenang. Bahwa ia akan menguburkannya dengan layak, tetapi untuk itu katanya ia harus mengambil sepasang batu nizam dulu. (ia menyebutnya batoe atjih.

Suara keluhan itu pun berhenti, dan seketika perahu itu dapat melanjutkan perjalanannya. Sang nakhoda membeli sepasang batu nisan dalam perjalanannya. Tetapi kemudian, lupa apa yang harus dilakukannya dengan batu-batu itu, sampai ia secara kebetulan kembali ke Bintan, dan dengan perahunya. Sekali lagi, ia mengalami berbagai kemalangan dan perjalanannya mengalami berbagai keterlambatan.

Baru kemudian ia sadar, bahwa semua nasib buruk itu disebabkan karena tidak menepati janji yang dulu pernah diucapkannya. Lalu meskipun jenazahnya sudah tidak ditemukan lagi, ia meletakkan batu-batu nizam itu di tempat ia dulu melihatnya. Sejak itu Tok Këlalo tidak mengganggu lagi.


HARI ketiga kunjungan saya: dilakukan kunjungan ke daerah perbukitan yang disebut Boekit Bangsa. Perjalanan diakhiri dengan kunjungan ke kramat di Pëngoedjan.

Soengei Bangsa, namanya berasal dari bukit Boekit Bangsa, tempat dulunya diduga berdiri sebuah kampung tertua. Sedangkan nama Bangsa digunakan, karena di kampung itu hanya orang-orang dari keturunan tertentu yang boleh tinggal.

Kediaman para raja, bagaimanapun berada di suatu tempat di mana kira-kira 40 sampai 50 tahun yang lalu ditemukan sebuah kampung kecil bernama Karang Batoe.

Sekarang di Boekit Bangsa tidak ada apa-apa lagi selain pohon-pohon buah-buahan dan beberapa rumah. Juga tidak terlihat adanya kuburan-kuburan khusus (makam).


Catatan:
Batoe Atjih: Batu nisan Islam. Batu-batu nisan ini, menurut keterangan yang saya terima, dulu diambil dari Atjeh. Apakah nama batoe atjih berasal dari situ, saya tidak berani memastikan. Batoe atjih sebenarnya adalah ungkapan Melayu yang umum untuk batu nisan. Di zaman yang lebih baru, batu-batu itu di Riouw disediakan oleh tambang batu pasir di Sëngarang, yang dikerjakan oleh orang Tionghoa.
Sungai Bangsa: berada lebih ke arah Soengei Këlapa, di Tëroes yang dulunya lebih lebar.


Di Soengei Pënaoeng tinggal orang-orang yang datang kemudian (kelompok Orang Bintan Bërsëmanda), yang tidak termasuk suku Bintan yang sebenarnya. Mereka berada di bawah yurisdiksi seorang orang kaja.

Di sana juga ditunjukkan kepada saya sebuah kuburan tua, yang dikenal dengan nama makam Pënaoeng. Letaknya di Boekit Tamboer. Makam itu disebut berasal dari zaman ketika orang Atjeh berperang dengan Bintan dan untuk sementara berhasil menduduki wilayah itu.

Pemimpin Orang kaja Pënaoeng yang tewas dalam pertempuran itu konon dimakamkan di sana.

Namun biasanya Boekit Tamboer digunakan juga sebagai tempat pemakaman umum, dan hal itu sampai sekarang masih dilakukan.

Sementara itu, di sekitar Boekit Bangsa dan juga Pënaoeng, masih terlihat jelas bekas-bekas pertanian ladang yang dulu cukup luas. Sekarang seluruh daerah itu sudah menjadi hutan atau padang alang-alang. Hanya di beberapa tempat yang sangat kecil dan terpencil dilakukan penanaman ladang dari waktu ke waktu oleh penduduk yang sedikit jumlahnya. Mereka terbagi dalam tiga kampung.

Menurut cerita warga, pada suatu kesempatan, ketika orang hendak membuat sebuah sawah kecil di tepi (tëbing) Boekit Bangsa, di dalam tanah ditemukan dua buah piring yang di atas tadi sudah dibicarakan.

Pada masa yang kemudian, penduduk Pënaoeng dan Boekit Bangsa semakin banyak pindah ke Boekit Bangsa. Terutama di bagian selatan yang lebih aman.

Sekarang, Orang kaja tinggal di Soengei Bangsa, di suatu tempat yang jelas dulunya dapat dicapai oleh laut.


KUNJUNGAN saya ditutup dengan ziarah ke kramat di Pëngoedjan. Di sekitarnya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, pernah dilakukan beberapa kali penggalian. Tempat ditemukan piring-piring dan benda-benda emas, terletak kira-kira di ujung utara, bagian dari pulau Pëngoedjan.

Tampaknya di sini juga dulu pernah ada sebuah tempat pemakaman yang sangat tua dari orang-orang Bintan terdahulu, yang dapat disimpulkan dari fakta bahwa orang tidak mengenalnya lagi.

Hanya ada satu kramat yang dikenal, karena di atasnya terdapat batu-batu nisan yang besar dan kasar.

Sayang bahwa dari semua emas dan perhiasan yang digali itu, tidak ada yang tersisa lagi. Seorang lelaki yang sangat tua di Pëngoedjan menceritakan kepada saya, bahwa orang sengaja dalam jumlah besar mencari emas, telah menggali di sekitar kramat yang masih ada itu dan telah menemukan sangat banyak.

Fort de Kock, 26 Okt. 1888.

(*)

Selesai

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan Ai Jong, batam, History, J.g. Schot, kepri, kepulauan riau, Riouw Lingga, sejarah, Suku Bintan, Teluk Bintan
Admin 9 Oktober 2026 9 Oktober 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Polisi Amankan Tiga Kerabat Korban Kekerasan Seksual Kakak-Beradik di Bintan
Artikel Selanjutnya Di Balik Ambisi Indonesia dan Sorotan Global Pembangunan Pusat Data

APA YANG BARU?

Di Balik Ambisi Indonesia dan Sorotan Global Pembangunan Pusat Data
Artikel 19 menit lalu 124 disimak
Polisi Amankan Tiga Kerabat Korban Kekerasan Seksual Kakak-Beradik di Bintan
Artikel 55 menit lalu 58 disimak
Tiga Terduga ABK Ditangkap dan Nakhoda Kabur Usai Penyelundupan 16 Migran ke Malaysia
Artikel 1 jam lalu 122 disimak
18 Wilayah Tergolong Krisis Air, BP Batam Janji Benahi
Artikel 13 jam lalu 191 disimak
ABH Siapkan Tangki Air, Pekerjaan Pipa di Simpang Plamo – K Square Belum Rampung
Artikel 14 jam lalu 216 disimak

POPULER PEKAN INI

Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
Histori 4 hari lalu 602 disimak
Polibatam Bawa 9 Inovasi Unggulan ke The Premier Manufacturing Indonesia Series 2026
Pendidikan 2 hari lalu 601 disimak
Imbas Pelebaran Jalan Tengku Sulung, Pengendara Diarahkan Lewat Botania
Artikel 3 hari lalu 554 disimak
Ratusan Calon PMI Nonprosedural Batal Berangkat dari Batam
Artikel 3 hari lalu 543 disimak
Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 5 hari lalu 543 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?