PEMADAMAN listrik meluas (blackout) yang melumpuhkan wilayah Batam, Bintan dan Tanjungpinang di Kepulauan Riau dikeluhkan warga, terutama di Bintan. Saat Kota Batam berangsur pulih 100 persen, warga Bintan justru harus gigit jari menghadapi kegelapan hingga 52 jam tanpa kepastian dan minim komunikasi dari otoritas terkait.
Seorang warga Bintan, Indah, menyuarakan kekesalannya atas lambatnya proses pemulihan di daerahnya. Ia mempertanyakan alasan Bintan membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk kembali menyala dibanding wilayah lain.
“Mengapa Bintan tidak menyala selama 52 jam itu, dan tidak ada penanganan dari pihak terkait,” tegas Indah.
Keresahan serupa disampaikan Rudi, warga Bintan lainnya. Menurutnya, absennya informasi valid mengenai perbaikan pasokan listrik membuat warga terpaksa bertahan hidup di tengah keterbatasan tanpa jaminan kapan aktivitas dapat kembali normal.
Rudi juga menyoroti pemulihan bergilir yang diterapkan di Kota Tanjungpinang. Hal itu semakin mempertegas kesan bahwa penanganan dampak blackout di Bintan tidak menjadi prioritas.
“Sudah 52 jam kami bertahan, tanpa informasi dan penanganan yang jelas. Seharusnya Pemda dan juga DPRD Bintan harus bisa memberikan penanganan terhadap warga di Bintan,” ujar Rudi.
PLN Fokus Pemulihan, Sinyalkan Kompensasi
DARI pihak korporasi, PT PLN (Persero) mengonfirmasi bahwa pasokan listrik di Batam telah sepenuhnya kembali normal, sementara Bintan masih dalam proses penanganan bertahap.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN, Suroso Isnandar, menyampaikan hal tersebut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
“Sudah pulih per hari ini hampir semuanya sudah pulih, Batam sudah pulih 100 persen dan Bintan sebagian menyusul,” kata Suroso.
Menanggapi kerugian warga, Suroso menjelaskan adanya mekanisme kompensasi atas pemadaman meluas sesuai regulasi yang berlaku. Namun, fokus utama saat ini adalah normalisasi seluruh jaringan.
“Sesuai dengan peraturan yang ada, jika padamnya melebihi jumlah jam tertentu yang harus kami cek, ada mekanisme tersebut. Tapi pada saat ini yang penting prioritas pertama kita adalah memulihkan kembali pelayanan kepada masyarakat,” lanjutnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti lumpuhnya pasokan listrik di Kepulauan Riau masih terus diinvestigasi secara mendalam oleh pihak internal PLN.
“Sedang kami telusuri (penyebabnya) secara seksama dan kita tidak menutup kemungkinan berbagai alasan, mana yang harus kita improve,” ujar Suroso.
Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan PLN Batam, Rudi Antono, mengungkapkan indikasi awal gangguan di fasilitas utama kelistrikan. Dugaan sementara mengarah pada intervensi faktor eksternal di instalasi vital.
PT PLN Batam menduga gangguan meluas yang melumpuhkan Batam dan sekitarnya dipicu oleh masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan. Kendati demikian, penyelidikan menyeluruh masih berlangsung untuk memastikan penyebab utama kegagalan sistem tersebut.
(nes/ham)


