Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Waka BP Batam Lantik 27 Pejabat Eselon II, Ini Nama-namanya
    8 jam lalu
    Polsek Bengkong Amankan 2 Remaja Pelaku Pencurian Motor
    14 jam lalu
    BP Batam Buka Peluang Kerjasama Pengolahan Sampah di TPA Punggur
    17 jam lalu
    Polres Bintan Amankan Pelaku Penyalahgunaan Penjualan BBM Bersubsidi
    18 jam lalu
    BMKG Ingatkan Warga Kepri Waspadai Banjir Pesisir/Rob (16–22 Mei 2026)
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026
    15 jam lalu
    Empat Siswa MAN Karimun Lolos Seleksi Dayung Porprov 2026
    1 hari lalu
    100 Siswa Ikut Lomba Bertutur di Tanjungpinang
    1 hari lalu
    Buku Ajar Lokal
    1 hari lalu
    Beasiswa Pendidikan Tinggi untuk Siswa Berprestasi dan Kurang Mampu di Batam
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Kasu, Batam
    3 hari lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    2 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    3 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    3 minggu lalu
    Pulau Pecong, Batam
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Artikel

Ratusan Pelajar Indonesia Terjebak Kerja Paksa

Editor Redaksi 7 tahun lalu 1.2k disimak

PEMERINTAH Indonesia meminta perwakilan Taiwan di Jakarta untuk sementara waktu menghentikan pemberian visa program magang untuk pelajar perguruan tinggi.

Hal ini menyusul laporan ratusan mahasiswa Indonesia yang diduga dipaksa bekerja melebihi batas kewajaran di sejumlah pabrik di Hsinchu, Taipei.

Pemerintah, melalui Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taiwan, juga telah menerjunkan tim ke sejumlah kampus di Taipei untuk menelusuri dugaan praktik serta meminta klarifikasi dari otoritas setempat.

Didi Sumedi, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, menduga penyimpangan terkait dengan jam kerja yang berlebihan.

“Itu program magang sambil kerja. Kelebihan jam kerja yang menjadi masalah dan kita minta Kemenlu (Taiwan) untuk menegur industri serta memberi penalti kepada universitasnya,” sebut Didi kepada BBC Indonesia, Kamis (3/1/2019).

Untuk diketahui, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, sehingga pejabat perwakilan yang ada di sana bukanlah diplomat melainkan hanya kantor dagang sebagai representatif dari kerja sama niaga dua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir meminta KDEI untuk mengambil langkah tegas seperti menghentikan perekrutan dan penempatan pelajar untuk program magang di Taiwan. Selain itu, dirinya juga meminta KDEI memastikan keamanan dari pelajar-pelajar yang dipekerjakan itu.

Dari catatannya yang dikutip South China Morning Post, ada sekitar 6.000 pelajar Indonesia di Taiwan, sekitar 1.000 di antaranya berpartisipasi dalam program magang di berbagai kampus sejak untuk tahun ajaran 2017/ 2018.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Indonesia mengaku baru mengetahui laporan ini dari pemberitaan media. “Semua masih diteliti dan dicek lebih lanjut oleh perwakilan di Taipei. Kita tunggu dulu 1-2 hari ini ya,” ucap Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar, dalam CNN Indonesia.

Di sisi lain, Ismunandar menyebut ratusan pelajar yang terdaftar kuliah di Universitas Hsing Wu—salah satu kampus yang diduga melakukan praktik magang—di Distrik Linkou, Taipei, masuk melalui bantuan pihak ketiga alias perantara.

Laporan penyalahgunaan jam kerja ini pertama kali diungkap anggota parlemen dari Partai Nasionalis Tiongkok (Kuomintang/KMT), Ko Chih-en. Dari penelusurannya, setidaknya ada enam kampus di Taipei yang ketahuan menyalahgunakan program New Southbound Policy.

Program ini pertama kali diinisiasi oleh Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada September 2016. New Southbound Policy memberi kesempatan bagi pelajar dari 18 negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Australasia untuk mengikuti program kerja di Taiwan.

Oleh keenam kampus, program ini diduga disalahgunakan. Mereka berkongkalikong dengan sejumlah perusahaan agar menampung para pelajar ini bekerja di sana.

Perusahaan, di sisi lain, meraup untung karena “mendapat” pekerja dengan upah yang sangat minim—bahkan tak perlu diupah. Alih-alih diberi pelatihan kerja, para pelajar ini malah diminta bekerja setidaknya 10 jam per hari.

Tidak dijelaskan berapa banyak pelajar yang dipekerjakan. Namun, dari laporan Ko yang dikutip Taiwan News, ada sekitar 300 pelajar Indonesia di Universitas Hsing Wu yang bekerja untuk salah satu pabrik pembuat lensa mata.

Dalam satu pekan, mereka hanya menghabiskan waktu untuk belajar di kampusnya pada Kamis dan Jumat. Sedangkan pada Minggu sampai Rabu mereka akan bekerja di pabrik. Ada bus-bus yang khusus mengangkut mereka dari kampus ke pabrik di Hsinchu.

Mereka akan bekerja dari pukul 07.30 hingga 19.30, dengan waktu istirahat sekitar 2 jam. Mereka juga diharuskan berdiri selama 10 jam untuk mengepak sekitar 30 ribu lensa kontak.

Ketika para pelajar mengeluh soal pekerjaan mereka kepada kampus, pihak kampus hanya menjawab “kalian harus membantu perusahaan, supaya mereka bisa membantu kampus.”.

Dari laporan serupa yang ditayangkan Taipei Times disebutkan, pada awalnya para perusahaan ini menawarkan para pelajar ini gaji bulanan berkisar $20.000 dolar Taiwan (sekitar Rp9,36 juta) beserta akomodasi dan makanan.

Kenyataannya, pada tahun kedua, para pelajar diwajibkan membayar sekitar $40.000 dolar Taiwan (sekitar Rp18,72 juta) kepada kampus untuk sejumlah kebutuhan seperti biaya sekolah, akomodasi, dan kebutuhan lainnya.

Padahal, Kementerian Pendidikan Taiwan telah menyuntikkan dana tambahan untuk setiap kampus yang menjalankan program magang ini.

Selain pelanggaran jam kerja, jika benar terbukti, maka kampus dan perusahaan yang terlibat juga melanggar aturan magang pada tahun pertama yang diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan Taiwan.

Kementerian terkait sebenarnya sudah mencium masalah ini sejak tahun lalu. Ketika itu, ada pelajar dari Sri Lanka yang kedapatan mengalami masalah serupa.

Peringatan keras sudah dikeluarkan. Kampus-kampus yang terbukti melakukan kenakalan ini terancam tak akan mendapatkan suntikan dana lagi dari Kementerian Pendidikan. Bahkan pada kasus yang lebih berat, mereka diwajibkan untuk mengikuti “sesi konsultasi khusus” dengan otoritas terkait.

“Ini bukan modus baru. Ini adalah pola berulang yang menunjukkan bagaimana sekolah, perusahaan, maupun lembaga pekerja lainnya mengambil keuntungan dari program New Southbound Policy,” tukas Ko.

Sumber : BBC / CNN / Taiwan News

Kaitan mahasiswa, pelajar, taiwan, top
Redaksi 4 Januari 2019 4 Januari 2019
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Dilan 1991 Segera Tayang
Artikel Selanjutnya Gelombang Laut Natuna Capai 6 Meter!

APA YANG BARU?

Waka BP Batam Lantik 27 Pejabat Eselon II, Ini Nama-namanya
Artikel 8 jam lalu 132 disimak
Polsek Bengkong Amankan 2 Remaja Pelaku Pencurian Motor
Artikel 14 jam lalu 150 disimak
Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026
Sports 15 jam lalu 154 disimak
BP Batam Buka Peluang Kerjasama Pengolahan Sampah di TPA Punggur
Artikel 17 jam lalu 168 disimak
Polres Bintan Amankan Pelaku Penyalahgunaan Penjualan BBM Bersubsidi
Artikel 18 jam lalu 188 disimak

POPULER PEKAN INI

Nelayan Bintan Unjuk Rasa Tolak Sedimentasi Pasir Laut
Lingkungan 7 hari lalu 954 disimak
Niat Baik, Jangan Sampai Bikin Bingung
Catatan Netizen 7 hari lalu 759 disimak
Sabu 1.315,4 gram Ditemukan di Area Terminal Keberangkatan Bandara RHF
Artikel 7 hari lalu 579 disimak
“Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
Histori 4 hari lalu 556 disimak
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang Mirip Museum
Catatan Netizen 4 hari lalu 505 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?