Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Kelangkaan Minyakita Berlanjut di Batam, Warga Khawatir Harga Naik
    5 jam lalu
    Polisi Gencarkan Patroli Malam di Coastal Area
    1 hari lalu
    BPBD Tanjungpinang Imbau Warga Waspada Cuaca Hujan dan Kemunculan Buaya di Pesisir
    1 hari lalu
    Lakalantas Saat Hujan Deras, Seorang Pemotor Tewas Terjatuh dan Terlindas
    2 hari lalu
    Tumpukan Sampah di Botania Garden, DLH Batam Kekurangan Petugas
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Beasiswa Pendidikan Tinggi untuk Siswa Berprestasi dan Kurang Mampu di Batam
    5 jam lalu
    Final Turnamen Voli Piala Wali Kota Batam Berakhir Ricuh
    6 jam lalu
    “Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
    1 hari lalu
    10
    Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang Mirip Museum
    1 hari lalu
    Kepri Butuh 1.500 Guru Baru, Perekrutan Masih Dikaji Jelang Tahun Ajaran 2026
    1 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Kasu, Batam
    1 hari lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    2 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    2 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    2 minggu lalu
    Pulau Pecong, Batam
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Pilihan gowest.id

Anda Selalu Merasa Sibuk? Padahal Sebenarnya Tidak!

Editor Redaksi 10 tahun lalu 1.8k disimak
Foto : theodysseyonline.com

Salah satu fakta tentang kehidupan modern yang tak terbantahkan ialah betapa sibuknya semua orang.


Di negara-negara maju, sejumlah besar peserta survei mengaku mereka sangat terbebani pekerjaan, sampai mengorbankan waktu mereka bersama keluarga dan kawan. Akan tetapi mungkin kebanyakan orang paling sibuk tidak ambil bagian dalam survei itu: menurut studi pada 2014, salah satu alasan utama orang menolak ikut survei adalah : mereka merasa terlalu sibuk.

Anda mungkin menganggap penjelasannya sederhana: kita merasa jauh lebih sibuk belakangan ini karena pekerjaan kita lebih banyak. Namun Anda salah. Jumlah jam kerja – yang dibayar maupun tidak – tidak bertambah dalam beberapa dasawarsa terakhir, setidaknya di Eropa atau Amerika Utara.

Orang tua di masa kini yang khawatir tidak menghabiskan cukup waktu bersama anak-anak mereka ternyata menghabiskan jauh lebih banyak waktu dibanding generasi sebelumnya.

Selama 50 tahun ke belakang, kondisi telah berubah – perempuan melakukan jauh lebih sedikit pekerjaan tak dibayar, dan lebih banyak pekerjaan dibayar; sementara laki-laki melakukan lebih sedikit pekerjaan dibayar, dan jauh lebih banyak pekerjaan tak dibayar,” kata Jonathan Gershuny dari Centre for Time Use Research di Oxford University. “Namun jumlah total pekerjaan persis sama.”

Lebih dari itu, data juga menunjukkan bahwa orang yang mengatakan mereka sangat sibuk umumnya keliru.

Kenapa demikian? Sebagian jawabannya ialah ekonomi. Seiring peningkatan ekonomi, dan peningkatan pendapatan kaum yang berkecukupan, waktu menjadi lebih bernilai: setiap jam berarti lebih, jadi kita merasakan lebih banyak tekanan untuk mengisinya dengan lebih banyak pekerjaan. Namun kesibukan juga merupakan hasil dari jenis pekerjaan yang umum kita lakukan.

Di era sebelumnya, pekerjaan – didominasi bertani atau manufaktur – lebih membebani fisik; namun tetap ada batasnya. Anda tak bisa memanen ladang Anda sebelum waktunya; Anda tak bisa menghasilkan produk lebih banyak kalau bahan-bahannya tak lagi tersedia.

Foto : iStock
Foto : iStock

Namun di era yang disebut konsultan manajemen Peter Drucker ‘kerja pengetahuan,’ kondisi itu berubah. Kita hidup di ‘dunia tanpa batas,’ kata Tony Crabbe, pengarang buku Busy: How to Thrive in a World of Too Much. Selaluada lebih banyak email, lebih banyak rapat, lebih banyak bahan bacaan, lebih banyak ide untuk diwujudkan – dan kemajuan teknologi perangkat seluler berarti Anda dapat dengan mudah mengerjakan tugas lebih banyak di rumah, atau di tempat kebugaran, atau saat liburan.

Hasilnya, tak terelakkan, kita kewalahan. Bagaimanapun, kita manusia yang terbatas, dengan energi dan kemampuan yang terbatas, namun berusaha menyelesaikan tugas yang tak habis-habis. Kita merasakan tekanan sosial untuk ‘melakukan semuanya,’ di kantor dan di rumah, namun itu bukan hanya sulit; itu mustahil.

Dengan tekanan waktu yang begitu besar, tidak aneh jika kita sering melirik jam. Namun penelitian psikologi menunjukkan bahwa kesadaran-waktu seperti ini sebenarnya berujung pada performa yang lebih buruk. Jadi konsekuensi ironis ‘perasaan sibuk’ ialah kita menyelesaikan tugas lebih baik jika tidak terburu-buru.

Pakar ekonomi Sendhil Mullainathan dan peneliti perilaku manusia Eldar Shafir menggambarkan persoalan ini sebagai ‘bandwith kognitif’: perasaan kurang, uang maupun waktu, mengganggu pengambilan keputusan. Jika Anda sibuk, Anda lebih mungkin melakukan pilihan manajemen waktu yang buruk – mengambil komitmen yang tidak bisa Anda tangani, atau memprioritaskan hal remeh-temeh. Terbentuklah lingkaran setan: perasaan sibuk Anda membuat Anda semakin sibuk.

Lebih parah lagi, pola pikir seperti ini menginfeksi waktu luang kita – sehingga ketika jadwal kita memungkinkan satu-dua jam waktu bersantai, kita pun merasa perlu mengisinya secara “produktif”. “Hal paling merugikan ialah tendensi untuk menerapkan produktivitas pada hal-hal yang, hakikatnya, tidak memerlukannnya,” kata Maria Popova, penulis blog Brain Pickings.

Berdasarkan sejumlah studi, laki-laki melakukan lebih banyak pekerjaan tak dibayar dan perempuan melakukan lebih sedikit dibanding 50 tahun lalu, namun waktu total yang dihabiskan untuk bekerja tetap sama. Foto : iStock
Berdasarkan sejumlah studi, laki-laki melakukan lebih banyak pekerjaan tak dibayar dan perempuan melakukan lebih sedikit dibanding 50 tahun lalu, namun waktu total yang dihabiskan untuk bekerja tetap sama. Foto : iStock

Jika ada solusi bagi epidemi kesibukan ini, selain penetapan 21 jam kerja sepekan – mungkin kita perlu menyadari betapa irasional sikap kita. Secara historis, simbol utama kekayaan, pencapaian, dan superioritas sosial ialah keleluasaan untuk tidak bekerja: kehormatan terbesar, seperti dikatakan pakar ekonomi dari Abad 19 Thorstein Veblen, ialah waktu luang. Namun sekarang, kesibukan telah menjadi indikator ketinggian status.

“Orang-orang paling sukses di masyarakat kita biasanya sangat sibuk, dan harusnya begitu,” kata Gershuny.

“Anda bertanya, apakah saya sibuk, dan saya jawab: ‘Ya, tentu saja saya sibuk – karena saya orang penting!’”

Sebagai contoh betapa absurdnya sikap seperti ini, pakar ekonomi Dan Arley bercerita tentang seorang tukang kunci yang pernah ia temui. Di awal karirnya, si tukang kunci “tidak begitu bagus dalam pekerjaannya: dia butuh waktu sangat lama untuk membuka pintu, dan malah sering merusak kuncinya,” kata Ariely.

Tetap saja, orang membayarnya dengan senang hati dan memberinya tip. Namun seiring kemampuannya membaik, para pelanggan semakin sering mengeluh soal tarif, dan berhenti memberi tip.

Mungkin Anda pikir mereka akan menghargai akses lebih cepat ke mobil atau mobil mereka; namun apa yang sebenarnya mereka inginkan ialah usaha si tukang kunci – meski berarti mereka harus menunggu lebih lama.

Terlalu sering, kita bersikap demikian tak hanya kepada orang lain, tapi juga diri sendiri: kita mengukur nilai diri bukan berdasarkan hasil yang dicapai, namun seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk melakukannya.

Kita punya jadwal yang padat, karena membuat kita merasa lebih baik dengan diri sendiri. Ini tidak masuk akal. Mungkin kita bisa berhenti sejenak untuk merenungkannya – jika kita tidak sibuk. ***

PENULIS :  Oliver Burkeman

Kaitan orang modern, sibuk, waktu, zaman modern
Redaksi 22 September 2016 22 September 2016
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya REVIEW : ‘Snowden’ Sejahat itu?
Artikel Selanjutnya ‘Menyulap’ Pipi Tembem Jadi Tampak Lebih Tirus

APA YANG BARU?

Kelangkaan Minyakita Berlanjut di Batam, Warga Khawatir Harga Naik
Artikel 5 jam lalu 132 disimak
Beasiswa Pendidikan Tinggi untuk Siswa Berprestasi dan Kurang Mampu di Batam
Pendidikan 5 jam lalu 126 disimak
Final Turnamen Voli Piala Wali Kota Batam Berakhir Ricuh
Sports 6 jam lalu 138 disimak
Pulau Kasu, Batam
Wilayah 1 hari lalu 208 disimak
“Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
Histori 1 hari lalu 345 disimak

POPULER PEKAN INI

FLS3N dan O2SN untuk Bakat Non-Akademik Siswa Digelar di Batam
Pendidikan 7 hari lalu 670 disimak
Niat Baik, Jangan Sampai Bikin Bingung
Catatan Netizen 5 hari lalu 583 disimak
Nelayan Bintan Unjuk Rasa Tolak Sedimentasi Pasir Laut
Lingkungan 5 hari lalu 561 disimak
5.120 Pelajar Batam Tampilkan Tari Zapin Massal
Pendidikan 7 hari lalu 557 disimak
Mendikdasmen Tinjau Pelaksanaan Digitalisasi Pendidikan dan MBG di Batam
Pendidikan 6 hari lalu 536 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?