Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Usai Jalani Proses Hukum di Malaysia, Dua Nelayan Bintan Akhirnya Dipulangkan
    4 jam lalu
    Sempat Langka, Harga Minyakita di Tanjungpinang Tembus Rp19 Ribu per Liter
    5 jam lalu
    Kantor Imigrasi Batam Perketat Pengawasan di Titik Perlintasan Internasional
    5 jam lalu
    Mahasiswa Datangi Kantor Wali Kota dan DPRD Batam, Suarakan Lima Tuntutan Krisis Lingkungan
    5 jam lalu
    Pria Pelaku Jambret di Nongsa Ditangkap di Kawasan Bengkong
    11 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kalahkan Inggris 2-1, Argentina Berpeluang Back to Back Juara Dunia
    13 jam lalu
    Dominasi Pertandingan, Matador Spanyol Melangkah ke Final Usai Hentikan Prancis
    2 hari lalu
    Full Big Match, Semifinal Piala Dunia 2026 Laga Antar Para Jawara
    2 hari lalu
    SD-SMP Negeri di Batam Wajib Terima Siswa Berkebutuhan Khusus
    3 hari lalu
    “Dari Puncak Dai ke Buitenzorg: 7 Bulan Menjelajah Riau Lingga”
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    2 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    2 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    2 minggu lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    2 minggu lalu
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Sejarah dan Filosofi Kue Keranjang Saat Imlek

Editor Admin 2 tahun lalu 959 disimak
Kue keranjang, disediakan oleh GoWest.ID

PERAYAAN Imlek bagi sebagian besar masyarakat keturunan Tionghoa tidak pernah lepas dari yang hidangan khas nan legit bernama kue keranjang.

Daftar Isi
Sudut pandang akademisSejarah kue keranjang

Kue yang memiliki rasa manis dan tekstur kenyal serta lengket ini memiliki arti dan filosofi yang begitu bermakna bagi masyarakat Tionghoa.

“Kue keranjang ini kan dibuat dari gula, ketan dan juga air. Jadi, dalam kue keranjang itu memiliki filosofi yang begitu erat dalam kehidupan kita,” kata pemilik kue keranjang Hoki, Kim Hin Jauhari yang sudah melakoni usaha ini sejak tahun 1988, saat dijumpai di Sawangan, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu.

Menurut dia, rasa manis yang dihasilkan dari gula itu diyakini akan dapat memberikan berbagai hal positif dalam kehidupan di tahun yang baru Imlek seperti rejeki, hubungan yang jauh lebih baik antar sesama dan juga anggota keluarga.

Sedangkan tekstur yang kenyal dan juga lengket, dipercayai oleh masyarakat Tionghoa akan dapat meningkatkan hubungan yang erat antar anggota keluarga, sanak saudara dan juga kerabat.

Dengan dimensi yang bulat, seolah kue ini ingin mempresentasikan keutuhan hubungan antar sesama, baik keluarga, tetangga serta masyarakat sekitar agar senantiasa bergandeng tangan tanpa harus mendahulukan ego masing-masing.

Sembari sibuk mempersiapkan berbagai pesanan untuk para konsumen yang melakukan pemesanan secara online maupun menghubungi melalui pesan singkat, Jauhari bercerita bahwa kebiasaan masyarakat Tionghoa pada saat Imlek memesan kue keranjang adalah untuk dibagikan kepada orang-orang sekitar.

“Kami (masyarakat Tionghoa) yang merayakan Imlek percaya akan hal itu,” jelas dia.

Meski begitu, filosofi tersebut dikatakan Jauhari hanya berlaku pada saat perayaan Imlek saja. Ketika kue keranjang itu dikonsumsi tidak pada saat perayaan Imlek, filosofi tersebut tidak berlaku lagi.

Sudut pandang akademis

Kue keranjang atau Nian Gao merupakan wujud nyata kerekatan warga lokal dan juga masyarakat Tionghoa. Kue keranjang sendiri menurut catatan sejarah kuliner Indonesia sudah hadir sejak abad ke-19 yang lalu.

Kue manis yang kaya akan sejarah di masa lalunya ini, merupakan salah satu simbol keharmonisan masyarakat Tionghoa dan juga masyarakat Nusantara. Hal itu dikarenakan terdapat berbagai hidangan yang kemudian diadopsi menjadi sajian khas Nusantara.

Mulai dari rasa dan juga tekstur yang lengket, membuat kue keranjang ini memiliki beberapa kemiripan dengan apa yang disebut sebagai Dodol di masyarakat suku Jawa dan juga Betawi pada masa itu.

“Kalau dari bukti-bukti tertulis dan sejarah, kue ini mulai tampak pada abad ke-19. Banyak keluarga peranakan Tionghoa di Betawi dan Pulau Jawa memunculkan home industry kue ini untuk perayaan Imlek,” ucap Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (FIB Unpad) Fadly Rahman saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Sabtu.

Menurut sejarah yang ada, Fadly membenarkan bahwa masyarakat Tionghoa sangat amat menghargai simbol-simbol dan juga keyakinan yang kuat. Hal itu juga terjadi pada dunia kuliner.

Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa kue keranjang ini memiliki simbol untuk saling merekatkan hubungan antara sesama. Hal itu terlihat karena tekstur yang lengket dari kue yang menjadi kudapan pada saat perayaan Imlek.

Memang, Masyarakat Tionghoa sendiri memiliki keragaman yang kaya akan sejarah kuliner mereka. Berbagai adopsi muncul ketika mereka (masyarakat Tionghoa) bersandar ke Nusantara.

Masyarakat Tionghoa kala itu, tidak hanya membawa kepentingan agama, ekonomi dan budaya, mereka juga turut membawa berbagai komoditas pangan negara asal mereka yang saat ini telah menjadi makan sehari-hari masyarakat di Indonesia.

“Yang pasti, dalam perjalanan sejarah kuliner Indonesia memang tidak bisa dihindari dari pengaruh-pengaruh Tionghoa. Mereka banyak memperkenalkan komoditas pangan yang dibudidayakan di negara mereka. Sehingga, saat ini kita mengenal kedelai dan juga olahan turunannya seperti kecap, tahu maupun tauco,” tutur dia.

Sejarah kue keranjang

China Highlight dalam laman resminya menjelaskan beberapa hal mengenai asal-usul terkait kue keranjang. Ada satu legenda yang menyebutkan kue Keranjang ini erat dikaitkan dengan Dewa Dapur dan kue menjadi sesembahan untuk dewa-dewa tersebut yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa berada di setiap rumah.

Masyarakat Tionghoa banyak yang meyakini bahwa setiap tahunnya Dewa Dapur akan melaporkan berbagai hal kepada Kaisar Giok terkait dengan empunya rumah tempat sang Dewa tinggal. Untuk mencegah Sang Dewa mengatakan hal-hal buruk, maka si pemilik rumah akan mempersembahkan Kue Keranjang yang legit dan lengket. Tujuannya, supaya mulut Dewa Dapur terkatup rapat sehingga tidak melaporkan hal-hal buruk kepada Kaisar Giok.

Asal-usul hadirnya kue keranjang atau Nian Gao juga diceritakan dalam sejarah perang di China yang sudah ada sejak 2.500 tahun yang lalu. Cerita itu menyebutkan bahwa asal usul Nian Gao ada sejak mangkatnya politikus sekaligus Jenderal perang dari Kerajaan Wu yaitu Wu Zixu.

Setelah Wu tewas, Raja Yue yang bernama Goujian menyerang Ibu kota Kerajaan Wu dan menyebabkan banyak tentara terjebak di dalam tembok besar kota tersebut. Para tentara yang kelaparan itu, tidak memiliki persiapan makanan dan banyak tentara kemudian tewas akibat kelaparan.

Para prajurit yang masih selamat kemudian mengingat perkataan mendiang Jenderal Wu bahwa jika para prajurit membutuhkan makanan, mereka harus menggali tepi tembok kota sedalam tiga kaki untuk bisa mendapatkan makanan. Lantas para prajurit yang tersisa melaksanakan ucapan yang pernah dikatakan oleh Raja Wu kala itu. Rupanya, fondasi dari tembok kota adalah balok yang terbuat dari nasi ketan, sehingga tembok dapat berdiri kokoh dan lengket ke tanah. Nasi ketan yang menjadi fondasi itulah yang kemudian menyelamatkan nyawa pada prajurit dari kelaparan.

Oleh karena itu, kue keranjang atau dalam bahasa China disebut sebagai Nian Gao, yang selama periode Tahun Baru Imlek dianggap dapat membawa keberuntungan dan berbagai hal-hal positif.

(nes/berbagai sumber)

Kaitan imlek, Kue keranjang
Admin 11 Februari 2024 11 Februari 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Swiatek dan Gauff Pimpin Undian di Qatar Open
Artikel Selanjutnya Jangan Masukkan Informasi Rahasia pada Gemini

APA YANG BARU?

Usai Jalani Proses Hukum di Malaysia, Dua Nelayan Bintan Akhirnya Dipulangkan
Artikel 4 jam lalu 106 disimak
Sempat Langka, Harga Minyakita di Tanjungpinang Tembus Rp19 Ribu per Liter
Artikel 5 jam lalu 98 disimak
Kantor Imigrasi Batam Perketat Pengawasan di Titik Perlintasan Internasional
Artikel 5 jam lalu 86 disimak
Mahasiswa Datangi Kantor Wali Kota dan DPRD Batam, Suarakan Lima Tuntutan Krisis Lingkungan
Artikel 5 jam lalu 125 disimak
Pria Pelaku Jambret di Nongsa Ditangkap di Kawasan Bengkong
Artikel 11 jam lalu 101 disimak

POPULER PEKAN INI

Kalahkan Belgia, Matador Spanyol Tantang Prancis di Semifinal
Sports 6 hari lalu 368 disimak
Tundukan Singa Atlas, Ayam Jantan Eropa Melangkah ke Semifinal Piala Dunia
Sports 7 hari lalu 343 disimak
“Dari Puncak Dai ke Buitenzorg: 7 Bulan Menjelajah Riau Lingga”
Histori 4 hari lalu 327 disimak
Ada Tugas Baru Untuk RT/RW di Batam, Mendata Warga Nunggak Pajak Kendaraan
Artikel 6 hari lalu 302 disimak
Inggris Bertemu Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
Sports 4 hari lalu 300 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?