Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
    2 jam lalu
    KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
    2 jam lalu
    Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
    4 jam lalu
    Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
    9 jam lalu
    Tongkang Batu Granit Terbalik di Perairan Batu Ampar, Seluruh ABK Selamat
    22 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026, Banyak Partai Bigmatch
    7 jam lalu
    Piala Dunia 2026, Tuan Rumah Kanada Lolos ke Babak 16 Besar
    11 jam lalu
    32 Tim Lolos Babak Knok Out, Tim Eropa dan Afrika Dominasi
    1 hari lalu
    “Timah 55 Kaki di Bawah Singkep, Kebaikan Sultan Riau Lingga”
    1 hari lalu
    Sinergi Budaya dan Sport Tourism, Dragon Boat Race 2026 Resmi Digelar di Tanjungpinang
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    2 hari lalu
    Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
    2 hari lalu
    Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
    4 hari lalu
    Ikan Lepu (Lion Fish)
    5 hari lalu
    Pohon Bakau Api Api
    1 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    6 hari lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Nasib Nelayan Teluk Belian Di Tengah Kerusakan Ekosistem Mangrove

Editor Admin 2 tahun lalu 1.1k disimak
Perahu nelayan di pantai Ocarina, Batam Centre, Batam. © F. Bintoro SuryoDisediakan oleh GoWest.ID

DALAM dua dasawarsa terakhir, alih fungsi hutan mangrove di sekitar lokasi pantai wilayah core Batam centre ini begitu masive. Hampir tidak ada yang tersisa, kecuali di beberapa wilayah di Nongsa yang terletak di hadapan. Mangrove di sekitar perairan Belian juga kian susut akibat gencarnya pembangunan.

Oleh: Bintoro Suryo


DAMPAK dari berkurangnya hutan mangrove di sekitar kawasan ini, menyebabkan sedimentasi yang berujung pada kotornya air laut. Biota lautnya juga menjadi berkurang.

Berdasarkan data Badan Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Sei Jang Duriangkang, luas hutan mangrove di Batam pada 2021 lalu mencapai 18.524 hektar. 50% dari luasan tersebut dalam kondisi rusak. 

Ruang tangkap nelayan semakin sempit. Proyek-proyek konstruksi yang bermunculan, seperti mengabaikan dampak lingkungan dan membuat mereka harus berpindah-pindah. Para nelayan tidak punya lagi wilayah tangkapan yang pasti.

Arus pembuangan limbah rumah tangga dari perumahan pun, turun mengalir ke laut yang meningkatkan pencemaran dan kualitas air yang semakin buruk. 

Luas area mangrove yang makin berkurang, langsung berdampak pada habitat yang ada di sekitar ekosistemnya. Akan terjadi penurunan keanekaragaman hayati dan ekosistem menjadi tidak seimbang.

Kerusakan pada area pesisir seperti ini, tak hanya berdampak pada pendapatan nelayan saja, tapi juga meningkatkan ancaman abrasi, erosi serta instusi air laut yang naik karena limbah industri. 

“Kami di sini ada 3 Kube (Kelompok Usaha Bersama) Nelayan. Di sini lah dermaga kami, tak ada tempat lagi”, ujar Eddy, ketua Kube Nelayan Bengkong.

Sehari-hari, ia dan sekitar 15 rekan nelayan lainnya,menggunakan salah satu sisi pantai di sekitar Ocarina Batam Centre sebagai pangkalan sementara. Ada puluhan perahu yang ditambatkan di sini.

“Ini lahan pengembang. Kami numpang saja. Tak ada lagi tempat kami untuk menambatkan perahu, soalnya”, ujar seorang nelayan lainnya di sini.

Ia kemudian menunjuk sekeliling pantai yang dulunya rimbun oleh hutan bakau, namun sekarang, telah habis tak bersisa.

“Dulu kami di sebelah sana, waktu masih ada hutan bakaunya”, lanjut dia.

Dampak yang timbul bisa ditebak. Ekosistem laut yang berkurang, membuat hasil tangkapan mereka juga ikut berkurang.

“Kami harus berpindah-pindah (lokasi melautnya, pen) sekarang.”

Wilayah perairan Teluk Belian yang kini lebih terbuka karena aktifitas hilir mudik kapal Fery penyeberangan Batam – Singapura, juga menjadi momok tersendiri bagi para nelayan.

Beberapa nelayan di pantai Ocarina Batam Centre, © F. Bintoro Suryo

“Kami harus lebih hati-hati. Perairan ini jadi rute penyeberangan internasional. Sudah pernah kejadian, rekan kami hilang di laut karena perahunya terbalik. Mungkin tersapu ombak dari lalu lalang kapal – kapal Ferry di sini. Baru di temukan beberapa hari kemudian dalam kondisi meninggal”, kata Edy.

Kondisi itu membuat para nelayan makin khawatir. Di tengah sulitnya mencari tangkapan ikan, mereka juga dituntut untuk lebih waspada.

“Kadang seperti disengaja gitu saat kami ada di sekitar jalur perlintasan mereka. Seperti digas cepat, gelombangnya kan langsung menyebar ke sekitar. Kami sering harus cepat-cepat menyingkir, takut terbalik perahunya”, kata seorang nelayan lainnya yang merupakan anggota KUBE nelayan di sini.

Apakah ada perhatian dari pemerintah tentang keberadaan mereka?

“Kalau dibilang tak ada, ya tidak juga. Pemerintah kadang memberi bantuan. Cuma jumlahnya tak seberapa, tak semua bisa merasakan. Yang kami butuhkan sebenarnya perlindungan dan bimbingan, kami ini harus bagaimana?” lanjut Edy.

Bantuan biasanya diberikan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Tapi menurut Edy, bantuan sering kali tidak tepat sasaran. Banyak KUBE yang hanya aktif saat menerima bantuan, kemudian non aktif, sehingga tidak menyasar hingga ke nelayan.

Kendala lain yakni bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional perahu mereka. Edy menyebut mereka kerap kesulitan untuk mendapatkannya.

“Kami harus keliling ke SPBU-SPBU, bawa jirigen, kadang botol-botol saja. Itu juga sering ditolak. Mungkin dikira pelangsir. Lantas kami mendapatkan BBM darimana?” serunya gusar.

Terminal BBM khusus nelayan, masih jadi angan-angan bagi para nelayan yang beraktifitas di sekitar perairan ini.

Kerang Hijau dan Rusaknya Perairan

KERANG hijau. Koloni ini mulai muncul di sekitar perairan laut Batam Centre sejak beberapa tahun terakhir. Masyarakat biasa mengenalnya dengan sebutan Kupang. Hewan laut yang hidup berkoloni dan menempel kuat dengan menggunakan benang byssusnya pada benda-benda keras. Seperti misalnya kayu, bambu, batu, ataupun substrat lain yang keras.

Kerang Hijau, beberapa tahun terakhir marak muncul di sekitar perairan Batam Centre. © F. Bintoro Suryo

Kerang hijau ini, punya nama ilmiah Perna viridis. Sejenis  binatang lunak atau moluska yang hidup di laut. Bercangkang dua serta berwarna hijau.
Di Indonesia julukannya terhitung beragam. Masyarakat Kepulauan Riau biasa mengenalnya dengan nama Kupang. Di Jakarta, kerang hijau juga dikenal dengan nama kijing (Jakarta). Masyarakat Banten dan sebagian Jawa Barat menyebut Kedaung. Di Maluku Utara, Kerang Hijau dikenal dengan nama bia tamako.

Melansir beberapa sumber, kerang hijau merupakan sumber protein, vitamin B12, asam amino, lemak, serta omega-3 dan omega-6, sangat baik bila dikonsumsi manusia.

Di laut, warna cangkang dan bentuk, biasanya akan tertutup oleh hewan lain yang hidup menempel pada cangkang mereka untuk bertahan hidup, yakni teritip. Hewan jenis antropoda yang masih berkerabat dengan kepiting dan udang. Hubungan simbiosis Komensalisme antara Kerang Hijau dan Teritip sangat umum ditemui bila kita menjumpai kedua jenis hewan ini di dasar-dasar laut.

Oleh sebagian masyarakat, hewan laut ini mulai diburu karena memiliki potensi ekonomi, untuk dijadikan lauk pauk di rumah. Seperti halnya kerang darah yang sudah lebih dulu dikenal orang.

“Sudah sejak beberapa tahun ini muncul banyak di sekitar Teluk Belian ini, terutama yang dekat ocarina sana”, sebut Basri, seorang nelayan yang tinggal di kampung Kelembak. Sebuah perkampungan kecil warga lama Batam yang terletak di seberang Batam Centre.

Melihat potensi ekonominya, pria berusia sekitar 60 tahunan itu sekarang banting setir menjadi nelayan pemburu Kupang. Hampir setiap hari, ia mengarahkan perahu ketintingnya ke arah pantai Ocarina. Lokasi tempat kemunculan kerang-kerang hijau tersebut. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang berkilo-kilo gram kerang hijau yang langsung diangkut menggunakan perahu.

Seorang nelayan di Batam Centre sedang membersihkan kulit kerang hijau hasil tangkapannya. © F. Bintoro Suryo

“Biasanya kita ambil saat laut surut. Sekilo kalau masih sama cangkang dan belum diolah, bisa laku Rp. 10 ribu. Kalau sudah diolah (dilepas cangkangnya dan direbus, pen) bisa dijual Rp. 30 ribu ke pasar. Di pasaran, harganya mencapai Rp. 45 ribu per kilo (gram) “, katanya.

Fenomena kemunculan kerang-kerang hijau di sekitar perairan Batam Centre ini, menjadi berkah tersendiri bagi kelompok nelayan di Kampung Kelembak. Di tengah sulitnya mencari tangkapan lain hewan laut saat ini karena perubahan perairan dan makin susutnya area hutan-hutan mangrove, kerang-kerang hijau tersebut, seperti menjadi berkah tersendiri bagi mereka.

Kabar buruknya, kemunculan hewan ini di sekitar perairan Batam centre, diduga menjadi penanda makin rusaknya lingkungan perairan sekitar.

Seperti diketahui, kerang hijau merupakan salah satu organisme bioindikator perairan yang dapat merespon pencemaran lingkungan dengan cepat. Mereka memiliki mekanisme filter-feeder, sehingga berbagai partikel bisa masuk di dalam tubuh kerang hijau, khususnya logam berat.

Ada yang menduga, koloni kerang hijau kemungkinan terkena dampak metal limbah berat, seperti misalnya limbah minyak hitam dari out port limit (OPL) yang saban tahun selalu menerpa pantai-pantai di Batam. Kerang-kerang tersebut diduga bergerak ke wilayah permukaan laut yang lebih dangkal serta memulai koloni barunya. Seperti yang banyak terlihat di sekitar pantai Ocarina Batam Centre.

(*)

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel dan video ini pertama kali terbit di : bintorosuryo.com
Rubrik : Catatan Netizen jadi platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi para netizen yang gemar menulis, tentang apa saja hal positif yang bisa dibagikan melalui wadah GoWest.ID. Kirim artikel/ konten/ esai anda secara mandiri lewat cara ini ya.

Kaitan bakau, batam, batam centre, Kerang hijau, Kupang, mangrove, nelayan, Teluk Belian
Admin 27 Desember 2024 27 Desember 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih1
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya 6.495 Siswa Terima Seragam Sekolah Gratis di Tanjungpinang
Artikel Selanjutnya RI Minta Penjelasan Singapura soal Nelayan Batam Diganggu saat Melaut

APA YANG BARU?

Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 2 jam lalu 102 disimak
KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
Artikel 2 jam lalu 92 disimak
Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
Artikel 4 jam lalu 106 disimak
Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026, Banyak Partai Bigmatch
Sports 7 jam lalu 120 disimak
Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
Artikel 9 jam lalu 113 disimak

POPULER PEKAN INI

Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
Documentary 6 hari lalu 454 disimak
Walikota Batam Enggan Jawab Saat Ditanya Ada Orasi Politik di Pawai MBG Siswa
Artikel 5 hari lalu 426 disimak
Akomodasi Keluhan Warga, Pemko Batam Alihkan Proyek TPS ke 140 Bin Kontainer
Lingkungan 2 hari lalu 406 disimak
Pakar Hak Anak Soroti Pawai Dukungan MBG di Batam
Pendidikan 6 hari lalu 388 disimak
Ikan Lepu (Lion Fish)
Rupa 5 hari lalu 368 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?