Hubungi kami di

Khas

Air Dohot ; Air Minum Para Raja Yang Bisa Dinikmati Publik

Terbit

|

Fira fengan air Dohot buatannya, © Kominfo Kepri

Ratusan tahun lalu, jika raja-raja Kerajaan Johor Riau Lingga berkumpul, maka air dohot yang akan jadi sajiannya. Tradisi itu masih terus berlanjut, di Kerajaan Selangor Darul Ehsan di Malaysia sana. Di Kepulauan Riau minuman ini masih asing bagi sebagian orang. 

————

DI Pulau Penyengat, dimana raja-raja Melayu pernah menetap, air dohot masih kerap disajikan pada acara-acara istimewa. Keluarga besar Imran Hanafi termasuk yang tak absen meramu air dohot, untuk menyambut Ramadhan ataupun Idul Fitri.

“Dulu kan kalau mau puasa, kami suka buat. Pak Ansar itu kan dulu bos bapak Fira di Bintan. Nah kami suka antar kesana. Jadi rupanya Pak Ansar dan Ibu Dewi ini suka. Jadi kalau jumpa, Bu Dewi suka semangat bilang kalau suka sekali sama air dohotnya,” ujar wanita yang akrab disapa Fira ini, Jumat (17/9/2021) kemarin di Tanjungpinang.

Berawal dari banyak yang bertanya, Fira melihat peluang usaha. Dengan modal nekat, pada 2020 lalu ia mulai meramu air dohot untuk dipasarkan.

Memang, keluarga ini sudah biasa membuat air dohot dengan resep sesuai dengan resep tradisional dari raja-raja terdahulu. Hanya saja ia perlu melakukan percobaan, untuk menemukan takaran yang pas serta harga jualnya.

Setelah melakukan tiga kali uji coba, Fira memutuskan untuk menjual dengan standing pouch berukuran 500 ml.

Ia mengambil merk Air Dohot Hamzah, yang label kemasannya ia desain sendiri. Tak berani langsung produksi, Fira membuka PO (pre order) dengan menawarkan kepada para kenalan melalui media sosial.

“Minta tolong lah ke paman, tante, bapak, tawarkan ke kawan-kawan mereka dan ke kantor-kantor. Setelah terkumpul 60 pesanan gitu, baru kami produksi dan nanti diantar,” kenang Fira.

Kini, Fira sudah menyebar produk air dohotnya ke beberapa tempat di Tanjungpinang dan Batam.

Yang pertama sekali menerima produknya adalah Kedai Kopi Batu 10.

BACA JUGA :  Jelang Akhir Konsesi | ATB Sentralisasi Penanganan Keluhan

“Itu karena Pak Ansar itu suka sekali sama air dohot ini. Kalau kata orang disana (Kedai Kopi Batu 10), itu yang minum bapak semua. Jadi setiap duduk, bapak minumnya air dohot ini,” sebut ibu dari dua orang putri ini.

Saat Ansar Ahmad menjadi Anggota DPR RI, ia kerap memesan air dohot untuk dibawa ke Jakarta. Menjadi buah tangan teman-temannya di Senayan sana. Saat terpilih sebagai Gubernur Kepri, Ansar kerap menyajikan Air Dohot Hamzah untuk para tamu daerah. Mulai dari para jendral, menteri, Presiden, hingga Ustad Abdul Somad. 

“Itu Pak Menteri Suharso Monoarfa yang pertama. Katanya suka sekali, sampai pesan yang kering untuk dibawa ke Jakarta. Katanya nanti istrinya yang buat di rumah,” ujar sarjana komunikasi ini. 

Berawal dari itu, Fira melihat peluang menjual kemasan bahan mentah air dohot. Ia kemas dengan toples lucu, yang bisa dijadikan satu liter air dohot. Tapi tetap lebih banyak yang memesan air dohot yang sudah siap minum. Termasuk sebagai buah tangan.

“Terakhir ini ibu Lantamal pesan 100 pouch kecil, dibawa ke Jakarta. Jadi kami kemas dengan keranjang buah gitu. Kemarin ada juga yang pesan untuk dibawa ke Surabaya. Tapi kalau untuk luar kota, kami kasih yang belum masuk pendingin. Jadi yang masih dalam suhu ruang. Itu untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan rasa,” sebut wanita berjilbab ini.

BACA JUGA :  Aturan Protokol Kesehatan Akan Ditingkatkan Jadi Perda

Fira yakin, usahanya akan berkembang pesat. Apalagi ia tak hanya sekedar menjual minuman. Namun menjual sejarah, budaya dan juga kearifan lokal.

“Ini minuman para raja zaman dahulu, resepnya masih sama sesuai literature. Itu yang ingin Fira angkat. Fira ingin, kalau orang pulang dari Pulau Penyengat, yang dibawah pulang tak hanya deram-deram. Tapi juga air dohot yang asli dari Penyengat,” sebut Fira.

Tapi Fira masih memiliki kendala untuk menjadi lebih besar. Mulai dari modal yang masih minim, bahan baku, hingga ada saja orang yang minta secara gratis. “Ada juga yang kayak gitu, minta gratis,” sebut Fira sedih.

Kini ia fokus untuk memperbaiki kemasan, desain merk, melengkapi label halal dan BPOM. “Sekarang sedang proses. Kemarin dari BPOM sudah datang. Ini mau dikirim sampel produknya ke laboratorium di Bogor,” jelas Fira.

Setelahnya, ia ingin menambah produksi. Kini Fira membuat 40 pouch dalam satu kali produksi. Dalam sepekan, ia bisa melakukan dua sampai tiga kali produksi untuk mengisi kebutuhan di sejumlah gerai di Tanjungpinang dan Batam.

Jika ada pesanan diluar kebutuhan gerai, Fira bisa menambah jumlah produksi. Kini, ia sudah memiliki seorang karyawan tetap yang membantu proses produksi. 

Selain menjadi pemilik dari Rumah Diraja yang memproduksi Air Dohot Hamzah ini, Fira sehari-hari adalah pegawai di Dinas Kominfo Kepri. Dengan bangga ia menyebutkan, jika kini penghasilan dari air dohot lebih besar dari penghasilan tetapnya.

“Tapi sekarang keuntungannya masih diputar untuk mengembangkan usaha dulu,” tutup Fira.

(*/gas)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook