DI tengah upaya penanganan krisis air bersih dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), wilayah Kepulauan Riau (Kepri) kini mulai bersiap menyambut transisi cuaca menuju puncak musim hujan yang diproyeksikan terjadi pada Januari 2027.
Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi teknis mulai menyusun langkah antisipasi ganda: meredam risiko karhutla di akhir periode kering sekaligus memitigasi potensi banjir menjelang tingginya curah hujan.
Kepala BPBD Kota Tanjungpinang, M. Yamin, mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya masih berfokus mendistribusikan air bersih secara gratis kepada warga yang terdampak kekeringan. Penyaluran air baku dan air bersih tersebut dilakukan atas dukungan BPBD Provinsi Kepri serta PDAM Tirta Kepri.
“Sekarang menghadapi kekeringan kami masih tetap melakukan distribusi bagi warga yang memerlukan air dalam menanti curah hujan yang terjadi pada Oktober maupun November,” kata Yamin.
Namun, seiring mendekatnya musim penghujan, Yamin meminta masyarakat tidak lengah dan segera melakukan tindakan preventif, seperti membersihkan lingkungan serta saluran air guna mencegah genangan maupun banjir akibat tumpukan sampah.
“Ketika curah hujan normal maupun berlebih, kami mengharapkan kewaspadaan masyarakat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa penanganan karhutla selama masa kering pun terus berjalan secara terpadu bersama pemadam kebakaran dan pemangku kepentingan terkait.
Langkah siaga lintas sektor ini merespons rilis resmi prediksi musim hujan Kepri 2026/2027 yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Tanjungpinang, Jumat (25/9/2026). Koordinasi tersebut melibat dinas-dinas teknis, termasuk BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah (RHF) BMKG Tanjungpinang, Ahmad Kosasih, menjelaskan bahwa pola cuaca di Kepri terbilang unik karena memiliki karakteristik yang bervariasi di tiap daerah. Beberapa area seperti Batam bagian barat dan sebagian besar Kabupaten Karimun telah membasah lebih awal.
Sementara untuk Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, hujan ringan yang bersifat lokal dan tidak merata sejatinya sudah mulai mengguyur sejak akhir September. Transisi menuju intensitas hujan yang lebih intens diperkirakan berlangsung perlahan mulai Oktober.
“Untuk wilayah kita, puncak hujannya akan terjadi pada Januari 2027,” papar Kosasih.
Meskipun intensitas hujan mulai meningkat secara bertahap, BMKG mengingatkan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya reda. Peringatan dini kekeringan meteorologis masih diberlakukan hingga dasarian ketiga September, terutama untuk sejumlah area di Kabupaten Bintan.
“Karena curah hujan masih belum merata, kita masih harus berhati-hati di beberapa wilayah Kabupaten Bintan yang masih memiliki risiko kebakaran hutan dan lahan,” imbau Kosasih.
(nes)


