RATUSAN pelari dari Batam, Tanjungpinang, Tanjunguban, Lobam, hingga Lagoi memadati kawasan Bintan Industrial Estate (BIE), Bintan, pada Sabtu (26/9) malam kemarin. Para peserta berkumpul untuk meramaikan Tropical Night Run 2026, sebuah gelaran yang dihadirkan sebagai ajang olahraga sekaligus hiburan yang memadukan aktivitas fisik dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Memasuki edisi keduanya, ajang tahunan ini menyajikan dua pilihan kategori lintasan, yakni 5 kilometer (5K) dan 10 kilometer (10K). Para pelari diajak menyusuri rute yang membentang dari dalam hingga luar kawasan industri di bawah nuansa malam.
Sentuhan kelestarian lingkungan menjadi nilai pikat utama dalam edisi kali ini. General Manager PT Bintan Inti Industrial Estate (BIIE), Aditya Laksamana, menegaskan bahwa peran pengelola kawasan industri tidak terbatas pada pengembangan sektor bisnis semata, tetapi juga mengedukasi gaya hidup sehat bagi masyarakat dan para pekerja.
“Sebagai pengelola kawasan, kami tidak hanya mengembangkan industri, tapi juga mengajak masyarakat terutama para karyawan untuk hidup sehat dengan membiasakan diri berolahraga,” tutur Aditya.
Komitmen tersebut dibuktikan lewat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yang disabet BIIE atas aksi pengumpulan bibit mangrove melalui ajang lari. Setiap peserta menyumbangkan 10 bibit mangrove, yang menghasilkan akumulasi lebih dari 5.000 bibit. Seluruh bibit tersebut dijadwalkan akan ditanam di kawasan konservasi mangrove BIE, Busung, dalam dua pekan mendatang.
Tak berhenti di situ, konsep zero waste juga tecermin dari medali finisher yang dibagikan. Medali-medali tersebut memanfaatkan hasil daur ulang limbah plastik bekas, sebuah terobosan yang menuai apresiasi langsung dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan.
“Ini menarik, plastik bekas bisa didaur ulang dan disulap menjadi medali,” ungkap Hasan saat menghadiri acara. Ia menambahkan bahwa kegiatan yang memadukan pola hidup sehat, edukasi lingkungan, dan potensi penggerak ekonomi daerah seperti ini patut terus dilestarikan.
Lautan pelari malam itu diwarnai beragam cerita menarik dari para pesertanya. Dari kalangan pelajar, hadir Nicho, siswa Tunas Bangsa yang menjadikan ajang ini sebagai event lari keduanya. Ia tampil impresif dengan menembus posisi 10 besar di garis finis.
Pengalaman berkesan juga dirasakan oleh Syafa Nabila Saepudin, karyawan PT CCI Lobam. Tergiur oleh keseruan edisi tahun sebelumnya, Syafa memutuskan untuk menjajal ajang lari perdana dalam hidupnya di kategori 5K.
“Ini pertama kali ikut event lari. Saya ikut karena sebelumnya acaranya seru, jadi penasaran ingin coba,” cerita Syafa, yang berhasil membukukan catatan waktu 49 menit setelah intens berlatih sepulang kerja dan melakukan orientasi medan rute.
Suasana perlombaan kian semarak berkat aksi eksentrik Jaswan, pelari asal Lagoi. Tampil seraya memanggul karung sampah dan mengenakan kostum bertema orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), aksinya di kategori 5K sukses mencuri perhatian dan menjadi warna tersendiri di tengah kemeriahan Tropical Night Run 2026.
(nes)


