AMBISI menjadikan Batam sebagai pusat data (data center) dan hilirisasi teknologi digital di kawasan kepulauan kini berhadapan langsung dengan realitas lingkungan. Di balik besarnya nilai investasi yang digadang-gadang, keberadaan data center justru mengancam ketersediaan air bersih dan pasokan energi lokal—dua sumber daya krusial yang selama ini terbatas bagi masyarakat.
DILEMA ekologis dan ekonomi tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Proyek Data Center dan Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Energi dan Air di Batam” pada Festival Media Selat Malaka (FESMED) 2026 di Politeknik Negeri Batam, Minggu (20/9/2026) lalu.
Peneliti AI Henke Yunkins menegaskan bahwa industri digital sejatinya tidak murni berada di ruang maya. Pemrosesan data berkapasitas raksasa membutuhkan sistem pendingin ekstensif dan energi listrik dalam jumlah yang luar biasa besar.
“Data center punya jejak fisik, jadi tidak hanya virtual. Kebutuhan energinya luar biasa, begitu juga kebutuhan air,” tutur Henke.
Persoalan ini menjadi makin krusial mengingat iklim tropis Batam serta posisinya sebagai wilayah kepulauan yang tidak memiliki sumber air alami besar. Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam, Dendi Gustinandar, mengonfirmasi ketergantungan Batam pada faktor alam.
“Batam adalah daerah yang tidak punya sumber air. Air kita berasal dari curah hujan. Karena itu sejak dulu Batam membangun proyek waduk, saat ini ada delapan waduk,” jelas Dendi.
Guna menopang ekspansi data center—termasuk di kawasan Nongsa—pemerintah mengklaim terus berupaya memitigasi kebutuhan daya dan air baku tersebut. Namun, hal itu justru memunculkan pertanyaan besar dari publik terkait sejauh mana kemampuan daya dukung lingkungan Batam sanggup bertahan tanpa mengorbankan kebutuhan warga sipil.
Risiko Dominasi Energi Fosil dan Ancaman Krisis Pasokan
Tantangan tak berhenti pada ketersediaan air. Keandalan pasokan listrik yang harus stabil tanpa henti (zero-downtime) memicu kekhawatiran baru terkait dampak turunan terhadap lingkungan.

Zakki Amali dari Trend Asia mengingatkan bahwa industri ini tidak berdiri sendiri. Ia menyinggung rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batam yang disinyalir kuat berkaitan erat dengan lonjakan kebutuhan daya industri data center.
“Ini tidak hanya sekadar proyek data center. Akan ada hal lain setelah itu,” peringat Zakki.
Dalam diskusi tersebut, jaminan keandalan pasokan listrik di tengah kapasitas energi daerah yang terbatas masih menjadi pertanyaan kritis peserta yang belum mendapat jawaban tuntas.
Investasi Triliunan Rupiah, Minim Serapan Tenaga Kerja
Dari sisi manfaat ekonomi daerah, kontribusi data center juga dipertanyakan. Dosen Institut Teknologi Batam, Alvendo Wahyu Aranski, mengkritik pembuat kebijakan agar tidak memandang pembangunan hanya dari besarnya nilai rupiah yang masuk.
“Kita menciptakan proyek bukan semata-mata untuk investasi, tetapi harus ada kajian terlebih dahulu, apakah sumber daya alam kita mencukupi atau tidak,” tegas Alvendo.
Ketimpangan antara nilai investasi dan manfaat sosial disuarakan oleh peserta diskusi, Asnil Bambani. Ia membandingkan salah satu data center terbesar di Indonesia yang memiliki nilai aset mendekati Rp500 triliun dan pendapatan tahunan Rp1,8 triliun, namun hanya sanggup mempekerjakan sekitar 180 tenaga kerja.
Dendi Gustinandar mengakui bahwa karakteristik industri berbasis teknologi informasi memang bukan industri padat karya, sehingga serapan tenaga kerjanya tergolong sangat kecil dibanding skala investasinya.
Panggilan Kritis bagi Jurnalisme Lingkungan
Rangkaian acara FESMED Selat Malaka 2026 yang mengusung tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara” ini ditutup dengan ajakan bagi media untuk mengubah cara pandang dalam meliput isu teknologi.
Jurnalis Antonia Timmerman mendorong para jurnalis untuk membongkar narasi manis investasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terkait jejak ekologis industri AI dan data center.
“Jurnalis perlu mempelajari terlebih dahulu teknologinya sebelum melakukan liputan. Kita perlu terus mengajukan pertanyaan kritis ketika meliput teknologi dan data center,” pungkas Antonia.
(ham)


