Hubungi kami di

Histori

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Vaksinasi Massal Flu Babi Yang ‘Gagal’ di Tahun 1976?

ilham kurnia

Terbit

|

Seorang wanita mendapatkan vaksinasi flu babi pada tahun 1976, foto : smithsonianmagazine

FLU babi yang mewabah di Amerika Serikat pada 1976, membuat presiden AS saat itu mengumumkan upaya untuk memvaksinasi semua warga negaranya.

Richard Fisher menemukan kesalahan dalam kebijakan itu yang dapat menjadi pelajaran untuk saat ini.

Pascal Imperato sedang mengantre untuk divaksin, ketika juru kamera juga berada di sana untuk mengabadikan momen itu.

Saat itu sekitar pukul 10.30 pagi tanggal 12 Oktober 1976, dan Imperato berada di Klinik Kesehatan Chelsea, sebuah gedung Art Deco di sisi barat bawah Manhattan.

Klinik itu adalah satu dari sekitar 60 lokasi yang tersebar di sekitar New York, yang bersiap untuk memvaksinasi hampir semua warga di kota.

Tahun itu, kekhawatiran akan pandemi flu babi membayangi, jadi Presiden Gerald Ford memerintahkan vaksinasi massal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat.

Vaksinasi terhadap Imperato menandai hari pertama vaksinasi di New York.

Imperato adalah wakil komisaris kesehatan dan ketua gugus tugas yang bertugas meluncurkan program vaksinasi di kota itu, jadi dia secara sukarela difoto untuk media massa saat divaksin.

Walikota New York City, ketika ditanya, telah menolak berpartisipasi, jadi Imperato mengambil alih. Jumlah orang yang mau divaksin banyak saat itu.

Namun, apa yang dimaksudkan sebagai pembukaan seremonial dan pencitraan hubungan masyarakat yang positif berubah menjadi suram.

Pekan itu, surat kabar mulai melaporkan berita meresahkan dari klinik vaksin di Pittsburgh: tiga kematian yang tampaknya tidak dapat dijelaskan karena serangan jantung.

“Saya ingat hari itu. Saya mengingatnya dengan jelas,” kenang Imperato.

“Saya melihat berita utama itu di kereta bawah tanah dan berkata, ‘Ya Tuhan. Semua kacau balau di sini.”

Berita utama yang muncul kemudian ternyata lebih buruk.

Dua hari kemudian, tabloid New York Post menulis artikel berjudul “Adegan di Klinik Kematian Pennsylvania”, yang menampilkan kisah emosional tetapi hampir pasti dilebih-lebihkan tentang: “Satu orang yang sudah tua, Julia Bucci, 75 tahun, meringis melihat jarum suntik di lengannya, lalu ia mundur beberapa langkah, lalu jatuh mati di lantai klinik, tepat di depan mata mereka. “

Cerita-cerita itu ternyata salah dan menyesatkan.

Tapi itu hanya salah satu dari banyak masalah yang melanda “kasus flu babi tahun 1976”, ketika seorang presiden AS memutuskan untuk segera memberikan vaksin kepada seluruh penduduk Amerika berdasarkan sains yang tidak benar dan kelalaian politik.

Gugatan hukum, efek samping, dan liputan media negatif menyusul, dan peristiwa tersebut merusak kepercayaan masyarakat pada sistem kesehatan selama bertahun-tahun yang akan datang.

Apa yang terjadi bahkan mungkin meletakkan dasar bagi pandangan keliru mereka yang anti terhadap vaksin.

Saat dunia terburu-buru meluncurkan vaksin kepada miliaran orang saat ini, apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa nahas tahun 1976?

Kasus itu dimulai di pangkalan pelatihan Angkatan Darat AS di New Jersey.

Pada bulan Februari 1976, beberapa tentara di Fort Dix jatuh sakit karena flu babi yang sebelumnya tidak dikenal. Tidak ada yang bersentuhan dengan babi, jadi ada asumsi bahwa penularan antar manusia sudah terjadi.

Pengujian mengungkapkan bahwa virus itu telah menyebar ke lebih dari 200 orang.

Pandemi tahun 1957 dan 1968 masih segar dalam ingatan, dan ada ketakutan bahwa pandemi influenza serupa tahun 1918, yang telah menewaskan puluhan juta orang, akan terjadi.

Penyelidikan lebih lanjut menemukan bahwa orang di bawah usia 50 tahun tidak memiliki antibodi terhadap jenis virus baru ini.

Keputusan mendesak dibutuhkan.

Pejabat kesehatan masyarakat menyadari mereka mungkin memproduksi vaksin dan mendistribusikannya kepada publik pada akhir tahun jika mereka bertindak cepat.

Industri farmasi baru saja menyelesaikan pembuatan vaksin untuk penyakit flu biasa.

Mereka juga memiliki keunggulan: ayam jantan.

Saat itu, vaksin influenza diproduksi di telur ayam yang telah dibuahi. Ayam jantan musim itu akan disembelih, jadi keputusan yang lambat akan menambah penundaan beberapa bulan untuk pembuatan vaksin.

Pada bulan Maret, Presiden Ford mengumumkan program senilai US$137 juta pada 1976 untuk memproduksi vaksin pada musim gugur.

“Tujuannya adalah untuk mengimunisasi setiap pria, perempuan, dan anak-anak di AS, dan dengan demikian merupakan program imunisasi terbesar dan paling ambisius yang pernah dilakukan di Amerika Serikat,” tulis Imperato dalam makalah tahun 2015 yang merefleksikan peristiwa tersebut.

Dengan melihat ke belakang, mudah untuk melihat bahwa ketakutan itu tidak berdasar.

Jenis flu babi yang terlihat di Fort Dix tidak berbahaya, dan pandemi tak terjadi.

Belakangan, para peneliti menemukan bahwa jenis flu babi yang jinak telah menyebar di populasi AS jauh sebelum yang satu itu diidentifikasi di pangkalan militer.

Dan para ilmuwan yang takut akan flu Spanyol terulang lagi tidak tahu bahwa influenza 1918 dihasilkan oleh unggas, bukan babi.

Para peneliti pada saat itu juga menderita suatu bentuk bias: berdasarkan pengalaman dari tahun 1950-an dan 60-an, mereka berasumsi pandemi influenza besar terjadi dalam siklus 11 tahun, padahal sebenarnya pandemi terjadi secara tidak beraturan.

Jadi, seperti yang terjadi sepanjang pandemi Covid-19 pada 2020, para ilmuwan hanya dapat memberikan saran terbaik berdasarkan pengetahuan yang tidak lengkap.

Banyak pejabat kesehatan masyarakat yang skeptis dan tidak yakin juga, termasuk Imperato di New York.

“Saya pikir kami semua setuju bahwa ya, itu mungkin tidak mungkin, tetapi kami tidak dapat sepenuhnya yakin,” kenangnya.

Ford memang mengadakan pertemuan dengan para ilmuwan terkemuka untuk memutuskan apakah harus ada program vaksinasi, tetapi “itu ditafsirkan sebagai peristiwa politik daripada proses ilmiah”, menurut David Sencer, direktur Pusat Pengendalian Penyakit kala itu.

Namun, itu tidak berarti bahwa para ilmuwan bersikap netral dalam ketidakpastian.

Seperti yang disimpulkan oleh mantan presiden Institute of Medicine Harvey Fineberg dalam tinjauan kejadian pada tahun 2008, banyak ilmuwan senior mendukung vaksin dengan agenda yang sudah ada sebelumnya.

Beberapa peneliti melihat peluang untuk meningkatkan kredensial lembaga atau bidang mereka di panggung nasional, tulisnya, sementara yang lain berpegang pada “keyakinan bahwa pencegahan penyakit dengan vaksinasi adalah kesempurnaan yang dapat dicapai dari kondisi manusia”.

Ketika musim panas AS tiba, tidak ada wabah yang muncul secara nasional atau internasional, tetapi upaya produksi vaksin terus berlanjut.

Empat perusahaan farmasi telah mulai memproduksi vaksin, dan pengujian masuk tahap uji klinis. Tapi di bulan Juni, ada masalah yang akan berdampak luas selama bertahun-tahun setelahnya.

Itu dimulai ketika produsen mengumumkan permintaan asuransi tanggung gugat yang mereka ajukan ditolak pemerintah, maka secara efektif mereka memberhentikan operasi mereka.

Mereka meminta Kongres untuk mengganti kerugian mereka kelak, tapi permohonan itu juga ditolak.

Selama berminggu-minggu, hal ini menghambat rencana pejabat kesehatan seperti Imperato, tetapi yang utama, telah merusak kepercayaan publik.

“Sementara ultimatum perusahaan produksi mencerminkan tren litigasi di masyarakat Amerika, pesan bawah sadar yang tidak disengaja, dan tidak salah berbunyi ‘Ada yang salah dengan vaksin ini,'” tulis Sencer.

“Mispersepsi publik ini, baik yang dibenarkan atau tidak, memastikan bahwa setiap kejadian terkait kesehatan yang terjadi setelah vaksinasi flu babi akan diteliti dan dikaitkan dengan vaksin tersebut.”

Pada bulan Juli, pemerintahan Ford setuju untuk menanggung biaya tuntutan hukum dan meminta Kongres untuk mengesahkan undang-undang terkait itu.

Programnya itu berjalan kembali seperti rencana awal, tapi sudah terlambat memperbaiki persepsi masyarakat.

Krisis Oktober

Pada pertengahan Oktober, ketika Imperato sedang mengantre dengan para fotografer untuk pengambilan gambarnya di New York City, krisis lain tengah menanti, bahkan ketika para pemimpin tak mengakuinya.

“Presiden sendiri divaksinasi di televisi pada 14 Oktober, hal yang semakin meningkatkan persepsi bahwa ini adalah peristiwa yang dipolitisasi,” tulis Sencer.

Kematian di Pittsburgh akan menjadi awal.

Meskipun tidak ada bukti kausal yang mengaitkan kematian ini dengan vaksin, hal ini memicu banyak orang untuk mengklaim akibat kesehatan yang buruk, dengan menyalahkan vaksinasi. Sembilan negara bagian mengakhiri program vaksinasi mereka.

Dengan peluncuran program yang menjadi perhatian, dan karena kaitannya yang erat dengan Gedung Putih, banyak jurnalis yang tidak terbiasa meliput sains hanya melaporkan apa yang mereka lihat dan dengar dari publik, tanpa menginterogasi apakah peristiwa itu terkait.

Jurnalis tabloid memberikan beberapa beberapa inci kolom untuk nuansa epidemiologis.

Apa yang seharusnya mereka cari adalah “ekses kematian” (excess mortality)- kematian yang tidak akan terjadi dalam kondisi sebaliknya – tetapi kisah yang muncul setiap hari adalah tentang serangan jantung yang tidak dapat dijelaskan, perawat yang putus asa, dan kegagalan politik yang mendapat lebih banyak perhatian publik.

Peristiwa tersebut dikenal di tim Imperato sebagai “krisis Oktober”.

Penggunaan vaksin di hari-hari berikutnya anjlok karena kepercayaan publik memudar.

“Beberapa dari headline berita itu sangat buruk. Saya ingat, salah satunya adalah ‘angka kematian yang meningkat’, “kenangnya.

“Apa yang sebenarnya mereka lakukan adalah memantau pola kematian yang normal pada populasi lansia.”

Menyalahkan vaksin, katanya, sama dengan menyimpulkan bahwa seorang pria yang terbunuh oleh dahan pohon yang tumbang karena ia menggunakan kaos kaki warna merah.

Imperato menjadi frustrasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) selama periode ini, yang menurutnya seharusnya melangkah lebih cepat untuk meyakinkan orang dan menyajikan bukti.

“CDC tetap diam. Kami tidak senang dengan itu,” kenangnya.

“Kami sangat marah dengan mereka.”

Ia menggemakan spekulasi seputar CDC hari ini dan bertanya-tanya apakah mereka dibungkam karena alasan politik, tetapi hal ini belum pasti.

(Sencer, kepala CDC pada saat itu, mungkin dapat menjawabnya, sayangnya dia meninggal pada tahun 2011. Namun, pada tahun 2006, dia menulis bahwa CDC percaya departemen kesehatan masyarakat lokal dan negara bagian adalah pihak terbaik yang bisa berkomunikasi dengan media dan publik.)

Masalah saraf

Pada bulan-bulan berikutnya – masih tanpa wabah – masalah baru muncul. Kali ini, akibat dari efek samping yang nyata.

Jutaan vaksinasi berarti timbulnya lusinan kasus sindrom Guillain-Barre, gangguan langka yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang saraf.

Ini menyebabkan seseorang merasa lemah dan kesemutan secara ekstrem, dan dalam beberapa kasus kondisinya bisa parah, menyebabkan komplikasi dan kelumpuhan.

Sindrom ini kurang dipahami pada tahun 1970-an.

Penelitian menemukan bahwa kemungkinan seseorang mengalami kondisi itu setelah vaksinasi sangat kecil, tetapi skala peluncuran vaksinasi tahun 1976 berarti segelintir orang pasti akan terpengaruh.

Seperti yang pernah ditunjukkan Sencer dalam sebuah wawancara dengan Organisasi Kesehatan Dunia, jika pandemi terjadi pada tahun 1976, maka kasus yang jarang terjadi ini akan menjadi “sesuatu yang tak signifikan” di tengah masalah yang jauh lebih dalam dan lebih luas.

Bukan rahasia lagi bahwa vaksin dapat memiliki efek samping, tetapi efek perlindungannya terhadap penyakit mematikan secara signifikan lebih besar daripada risikonya bagi sebagian besar orang.

Seperti yang ditunjukkan Helen Branswell dari Stat News baru-baru ini, ,efek samping ringan harus diantisipasi seiring munculnya vaksin baru muncul Covid-19 dan hal ini tidak perlu dikhawatirkan.

Juga, Anda lebih mungkin terkena sindrom Guillain-Barre dari infeksi seperti flu daripada vaksin flu.

Tingkat kasus ekstra yang terkait dengan vaksin flu babi 2009 hanyalah dua dari sejuta.

Namun, masalah Guillain-Barre pada tahun 1976, sayangnya, menyebabkan penyakit dan penderitaan di antara sekelompok orang yang tidak beruntung – mungkin sebanyak ratusan – yang sekarang dapat kita simpulkan sebenarnya tidak perlu mengalami itu.

Setelah berbulan-bulan liputan media yang negatif, laporan Guillain-Barre mengakhiri permasalahan flu babi di AS.

Program Ford dihentikan pada bulan Desember 1976 dengan hanya sekitar 20% dari populasi AS yang divaksinasi.

Oleh karena pemerintah AS telah menawarkan perlindungan dari pertanggungjawaban pada produsen vaksin, pemerintah harus menanggung ratusan klaim kompensasi dari penggugat yang menderita Guillain-Barre bertahun-tahun sesudahnya.

Kasus flu babi itu, kata New York Times, telah menjadi “kegagalan” yang ditandai dengan upaya meraih keuntungan politik dan kepercayaan yang tidak beralasan.

“Bahayanya sekarang adalah bahwa seluruh gagasan tentang langkah pencegahan dapat didiskreditkan,” kata editorial harian itu.

Meskipun akan sulit untuk mengatakan bahwa insiden itu mengarah langsung ke gerakan anti-vaksin beberapa dekade kemudian, kegagalan tahun 1976 akan tetap ada dalam ingatan Amerika, dan setelah bertahun-tahun setelahnya membuat sebagian warga sangsi dengan saran petugas kesehatan dan manfaat vaksin.

Jadi, ketika para politisi berdiri di podium, membuat klaim dan janji tentang vaksin selama pandemi Covid-19, apa lagi yang bisa dipelajari dari kasus flu babi tahun 1976?

Untuk Fineberg, “kesalahan strategis yang mendasar” adalah mengumumkan program vaksinasi massal begitu awal.

Jadi, ketika presiden dan perdana menteri membuat janji yang kepada publik – seperti Operation Warp Speed, upaya AS saat ini untuk meluncurkan 300 juta dosis kepada publik AS pada Januari 2021 – itu membuat proses ilmiah menjadi janji politik.

Seperti yang ditunjukkan tahun 1976, komitmen semacam itu dapat membuat para pemimpin kurang bersedia untuk beradaptasi dengan bukti baru – atau perubahan risiko.

Sencer menulis bahwa Ford dan para pemimpin lainnya terus-menerus diberi tahu bahwa pandemi saat itu”mungkin” terjadi, tetapi kasus bisa saja menurun seiring waktu.

Ada juga perbedaan bahasa: bagi seorang ilmuwan, kemungkinan bisa berarti satu dari sejuta; bagi seorang politisi, hal itu membutuhkan tindakan.

Setelah kejadian tahun 1976, menarik juga untuk membaca dampak politisi yang menyajikan informasi ilmiah kepada publik.

Ketika Ford menjadi wajah inisiatif vaksin, tulis Sencer, itu tidak menumbuhkan kepercayaan publik.

“Informasi ilmiah yang berasal dari tokoh politik non-ilmiah kemungkinan besar akan mendorong skeptisisme, bukan antusiasme,” tulisnya.

Namun, kesalahan macam ini cepat terlupakan saat pandemi Covid-19.

Ilmuwan, bagaimanapun, adalah manusia juga.

Saat ini, mudah untuk melihat celah dalam bukti ilmiah tahun 1976, seperti keyakinan bahwa virus tersebut mencerminkan wabah tahun 1918 atau bahwa pandemi akan terjadi.

Tetapi para ilmuwan pada masa itu tidak dapat melihatnya dan karena dihadapkan pada ketidakpastian, mereka akhirnya membuat kesimpulan yang dipengaruhi oleh keyakinan, naluri atau ketakutan.

Hal yang sama terjadi juga hari ini.

Ilmu tentang virus di tahun 2020 mungkin jauh lebih canggih, namun ilmu tentang Sars-Cov-2, virus penyebab penyakit Covid-19, masih belum lengkap.

Menurut Fineberg, kasus flu babi ditandai dengan sikap “terlalu percaya diri atas teori yang berasal dari sedikit bukti”.

Ada juga semacam efek “pahlawan” yang berperan, kata Fineberg, akibat ketakutan akan bencana sehingga menyebabkan langkah yang agresif.

Jadi, ketika politisi di masa kini berbicara tentang “sains” seolah-olah itu adalah kumpulan pengetahuan yang lengkap, sebuah panduan terkait apa yang harus dilakukan, itu mengabaikan ketidakpastian dan fakta bahwa sains adalah hasil upaya manusia.

Adapun Imperato, mengingat hari dia divaksinasi dengan kekacauan yang menyusulnya, khawatir dengan apa yang akan terjadi di tahun 2020.

“Saya benar-benar melihat pola komentar yang sama tentang vaksin Covid-19 dan uji cobanya,” katanya.

Ia yakin, tidak ada alasan mengapa upaya vaksinasi massal tidak dapat diluncurkan dengan cepat, tetapi ia khawatir tentang reaksi media yang akan timbul.

“Ada begitu banyak pembicara, di televisi dan di media sosial, mengomentari setiap aspek pandemi ini,” katanya.

“Kredensial mereka tidak cocok dengan apa yang mereka komentari. Saya menyebut mereka sebagai penyusup.”

Kasus flu babi tahun 1976 memberi banyak pelajaran untuk hari ini, kata Imperato, dan ada kebijaksanaan dalam pepatah yang mengatakan bahwa mereka yang mengabaikan pelajaran sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya.

Namun, sepanjang kariernya dia tetap menjadi orang yang mengadvokasi manfaat vaksin untuk menyelamatkan nyawa.

“Anda tahu, semua yang terjadi saat saya mendapat vaksinasi, itu tidak menghalangi saya [mendukung manfaat vaksin]. “

(*)

* Richard Fisher adalah jurnalis senior untuk BBC Future, dan ikuti akun Twitternya di @rifish

versi bahasa Inggris dari artikel ini, The fiasco of the 1976 ‘swine flu affair’ di laman BBC Future.

Sumber : BBC / MSN

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook