Hubungi kami di

Khas

Cerita Guru SD di 4 Pulau Berbeda di Kab. Bintan | “Sinyal Bapuk, Tak Punya Ponsel Untuk Belajar”

iqbal fadillah

Terbit

|

SD Negri 04 Mantang Pulau Siolong Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Photo :@tirto.id

“Sekolah daring selama pagebluk corona: sinyal internet bapuk, tak punya ponsel, susah mati beli pulsa dan kuota”

——————————-

INI BUKAN cerita baru lagi, para siswa, orangtua, dan guru jungkir balik mengikuti proses belajar jarak jauh via daring selama pandemi COVID-19.

Di daerah-daerah terluar dari pusat kekuasaan, bahkan sekalipun di dekat pusat wisata terkenal di Indonesia, para murid harus mencari cara yang tak masuk akal demi mendapatkan sinyal internet.

Di tempat lain, ada keluarga-keluarga yang tak punya ponsel sama sekali; ada juga yang bergantian memakai satu ponsel milik orangtuanya.

Dan, sekalipun mudah mendapatkan akses internet dan punya ponsel, banyak keluarga yang kerepotan membeli kuota, di saat ekonomi keluarga tergulung pagebluk (Pandemi Covid-19).

Kondisi-kondisi ini, selama enam bulan terakhir sejak Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menerapkan belajar dari rumah pada akhir Maret lalu, menunjukkan ketimpangan pendidikan di negara kepulauan Indonesia.

Seperti yang dikutip dari tirto.id, anda bisa mendengarkan cerita Imam Aji Subagyo, guru usia 30 tahun, yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Kepulauan Riau.

Nama sekolahnya SD Negeri 004 Mantang. Sekolah induknya di Pulau Siolong, sementara tiga sekolah cabangnya di Pulau Sirai, Pulau Telang Kecil, dan Pulau Telang Besar.

Keempatnya berada di Kabupaten Bintan, daerah andalan pariwisata di provinsi Kepulauan Riau, yang dihubungkan lautan.

Menjadi kepala sekolah di SD tersebut, ujar Imam, bak memimpin empat sekolah berbeda karena di tiap pulau punya kelas satu sampai kelas enam.

Tinggal di Pulau Siolong, Imam harus naik perahu selama 30 menit menuju Pulau Sirai; 1 jam menuju Pulau Telang Kecil; dan 1,5 jam menuju Pulau Telang Besar.

Di tiga pulau ini, jangankan sinyal internet, sinyal telepon pun bapuk. Warga harus pergi ke pelabuhan jika ingin menikmati sinyal “agak lumayan,” kata Imam.

“Hanya sekolah di Pulau Siolong yang punya sinyal memadai. Itu pun hanya provider IM3,” cerita Imam kepada awak tirto.id via telepon pada awal September lalu.

Akhirnya, ia terpaksa menggelar proses belajar tatap muka terbatas di tiga pulau tersebut—yang sebenarnya agak mengkhawatirkan mengingat Kabupaten Bintan pernah menjadi zona merah Covid-19.

“Banyak siswa berasal dari keluarga miskin, yang membuat mereka tak punya ponsel”, cerita Imam.

Kabupaten Bintan, menurut Badan Pusat Statistik tahun 2019, memiliki 10 ribu penduduk miskin atau 6 persen dari total penduduk.

Di Pulau Siolong, ada juga SMP Negeri 25 Satu Atap Selat Limau. Kebanyakan siswanya dari keluarga mampu, yang kebanyakan tinggal di Pulau Siolong dan Pulau Sirai.

“Enggak semua anak di Pulau Telang Kecil dan Telang Besar bisa sekolah di SMP itu,” kata Imam. Artinya, ancaman putus sekolah besar sekali.

*(Zhr/GoWestId)

Sumber : tirto.id

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook