Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Tuntut Peran Walikota, Ratusan Pekerja PT Ghim Li Datangi Kantor Pemko Batam
    4 menit lalu
    Jeritan Hati dan Ketidakpastian 1.025 Buruh PT Ghim Li Batam
    4 jam lalu
    Tiga Orang Jadi Tersangka Kasus Bentrokan Maut Lahan di Setokok
    4 jam lalu
    Buruh PT Ghim Li Indonesia Masih Bertahan di Area Pabrik
    1 hari lalu
    Dua Warga Dilaporkan Meninggal Dalam Bentrokan di Setokok
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Suasana tahun 1998 & Informasi yg Menyaru?
    4 jam lalu
    Kabut Asap di Batam Bisa Bertahan Hingga Oktober 2026
    4 jam lalu
    Kabut Asap Selimuti Wilayah Batam, Disdik Berlakukan Belajar Dari Rumah
    19 jam lalu
    Kualitas Udara Batam Memburuk, Jarak Pandang Menyusut
    1 hari lalu
    Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
    7 hari lalu
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    1 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    1 minggu lalu
    Tanjung Lamun, Batam
    2 minggu lalu
    Gunung Kijang, Bintan
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa

Editor Admin 4 tahun lalu 687 disimak

ALUNAN musik gamelan terdengar berpadu dengan musik Eropa. Sembilan penari perempuan diapit empat orang pengapit di depan dan belakang berjalan memasuki pendopo Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY. Mereka membawakan tari Bedhaya Mintarga, tari klasik asal Keraton Yogyakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana X.

Tari tersebut ditampilkan dalam rangka Pementasan Catur Sagatra 2022. Acara ini merupakan ajang silaturahmi empat swapraja dinasti Mataram Islam, yaitu Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta dengan Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo.

Musik yang mengiringi awal tari itu merupakan Gendhing mares, perpaduan gamelan dan musik Eropa di Keraton Yogyakarta. Kata “Mares” merupakan serapan dari kata Mars, sebuah komposisi musik Eropa yang sering digunakan untuk kepentingan militer. Gendhing mares sebagai musik hibrida dengan demikian menandakan interaksi sosial-budaya antara keraton dengan Barat.

“Dengan mentoleransi kehadiran musik Eropa di istana Yogyakarta, para penguasa Jawa dapat mempertunjukan penerimaan dan apresiasi mereka terhadap kenyataan-kenyataan politik kala itu – kehidupan istana dalam konteks kolonialisme Eropa,” kata Sumarsam, profesor musik di Wesleyan University, dalam Merenungkan Gema Perjumpaan Musikan Indonesia-Belanda.

Gendhing Mares dalam Tari Jawa

Kelahiran Gendhing mares tak bisa dilepaskan dari musik mars yang dihadirkan militer kolonial pada abad ke-17. Sebagaimana VOC berupaya memainkan musik-musik tradisional di Nusantara, kerajaan-kerajan di Nusantara juga berupaya memainkan musik Barat tersebut. Percampuran pun terjadi antara musik lokal dan Barat.

“Bahan-bahan musik yang diperkenalkan VOC dilokalisasi dengan cara berbeda-beda: didomestikasi ke dalam genre musik lokal, seperti dalam kasus tanjidor, digunakan sebagai simbol seperti pada gendhing mares, atau menghasilkan musik hibrida populer Indonesia berbasis Barat,” tulis sejarawan Bart Barendregt dan Els Bogaert dalam “Recollecting Resonances: Listening to an Indonesian-Dutch Musical Heritage”, termuat dalam Recollecting Resonance: Indonesian-Dutch Musical Encounters.

“Perkawinan” musik itu, menurut Sumarsam, memainkan peran penting dalam perkembangan musik di berbagai daerah di Nusantara. Keraton Yogyakarta menjadi salah satu yang berperan penting bagi keberlanjutan “perkawinan” musik Barat-Jawa itu dengan kreasi musik baru. 

“Musik militer di Keraton Yogyakarta muncul sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792),” ungkap akademisi musik R.M. Surtihadi dalam tulisannya di Journal of Urban, “Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta”.

Di keraton, musik Eropa dipadukan dengan karawitan Jawa dan digunakan sebagai hiburan pertunjukan, upacara protokoler, hingga ritual di dalam Keraton. Bahkan tari yang dianggap sakral di Keraton Yogyakarta seperti bedhaya dan srimpi menggunakan gendhing mares dalam iringannya. Gendhing Mares akan berbunyi ketika para penari melakukan gerakan kapang-kapang di awal dan di akhir tarian. Hal ini dilakukan sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V.

“Gendhing mares menjadi fakta interaksi sosial antara warga istana Jawa dan orang Eropa,” tulis Sumarsam.

Saat itu konflik antara istana-istana Jawa dan kolonialis Belanda sedang tinggi. Adanya hibriditas dari dua musik ini diharapkan dapat sedikit meredakan konflik. 

“Periode pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V (1923-1955) terjadi kontak budaya asing yang mengendap ke dalam budaya Jawa (keraton) dengan adanya perpaduan instrumen musik Barat ke dalam musik iringan tari Jawa ataupun upacara protokoler,” tulis Surtihadi.

Babad Ngayogyakarta mengisahkan, suatu ketika ada perjamuan antara sultan dan pembesar Belanda. Selain terhidang makanan dan minuman, tersaji pula hiburan musik, tari, serta dansa.

“Setelah para musisi berhenti menghormat, minuman kopi, susu, dan teh, beserta kudapan sudah merata, bersamaan dengan iringan musik, ketika sudah selesai perjamuan diteruskan dengan, menari dansa, dan suka ria, minuman disajikan terus-menerus,” kata Babad Ngayogyakarta Vol. III.

Dalam jamuan tersebut ditampilkan tari Bedhaya, Srimpi, dan Trunajaya. Bunyi terompet dan tabuhan genderang bersamaan dengan musik karawitan mengiringi pementasan dua tari tersebut. Musisi yang menggarapnya adalah orang Belanda.

“Mulai membuat gendhing-gendhing sabrangan dengan diiringi suara musik terompet, genderang, bedhug, dan sejenisnya, untuk mengiringi Kapang-kapang maju/mundurnya Lelangen Dalem Bedhaya, serta Beksan Trunajaya, yang disuruh mengerjakan perpaduan gamelan dengan musik orang Belanda yaitu Van Gough serta Smith,” lebih lanjut Babad Ngayogyakarta mengisahkan.

Keterlibatan alat-alat musik Eropa dalam gamelan Jawa diperbanyak pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VIII. Bila mulanya hanya alat musik tiup dan pukul saja, di masa ini ditambahkan dengan alat musik gesek.

“Karsa Dalem (panggilan hormat untuk Sultan yang berkuasa, red.) melengkapi iringan Kapangkapang Bedhaya/Srimpi, beksan Trunajaya, serta Srimpi Pandelori dan Srimpi Muncar, dengan tambahan instrumen musik gesek/ biola,” kata Babad Ngayogyakarta III.

Kendati “berbau” pengaruh kolonial, Gendhing Mares tetap menjadi kebanggan bagi keraton Yogyakarta. Bahkan tari paling sakral di keraton, Bedhaya Semang, juga menggunakan Gendhing Mares untuk pengiring gerakan masuk dan keluarnya penari di area pentas. Padahal, tari ini sudah ada jauh sebelum Gendhing Mares muncul.

Bedhaya Semang muncul sejak Sultan Hamengkubuwana I bertakhta. Tarian ini disinyalir sebagai warisan Sultan Agung saat Mataram masih menjadi satu kerajaan Islam.

“Keputusan menggunakan Gendhing Mares dibuat oleh orang berperingkat tinggi, bangsawan, seorang pangeran muda, yang lebih menyukai Gendhing Mares karena wataknya yang bersemangat, sigrak,” ungkap Sumarsam.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Eropa, Gamelang, Jawa, musik, yogyakarta
Admin 7 November 2022 7 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pembukaan Porprov Kepri V 2022 di Bintan Meriah
Artikel Selanjutnya Ngobrol Everywhere | Ngobrolin Dunia Ekraf Bersama Ketua Gekrafs Batam

APA YANG BARU?

Tuntut Peran Walikota, Ratusan Pekerja PT Ghim Li Datangi Kantor Pemko Batam
Artikel 4 menit lalu 16 disimak
Jeritan Hati dan Ketidakpastian 1.025 Buruh PT Ghim Li Batam
In Depth 4 jam lalu 107 disimak
Suasana tahun 1998 & Informasi yg Menyaru?
Catatan Netizen 4 jam lalu 88 disimak
Kabut Asap di Batam Bisa Bertahan Hingga Oktober 2026
Lingkungan 4 jam lalu 109 disimak
Tiga Orang Jadi Tersangka Kasus Bentrokan Maut Lahan di Setokok
Artikel 4 jam lalu 86 disimak

POPULER PEKAN INI

Pertama Kali Digelar! Lomba Karaoke RW 20 “Cipta Permata Idol” Sukses Hibur Warga
Artikel 6 hari lalu 925 disimak
Semua Diundang! Fesmed Selat Malaka 2026 Buka Pendaftaran Peserta Seminar, Diskusi dan Lokakarya
Artikel 6 hari lalu 284 disimak
Dua Warga Dilaporkan Meninggal Dalam Bentrokan di Setokok
Artikel 2 hari lalu 268 disimak
Hujan Ringan Diprakirakan Basahi Batam Siang Hingga Sore
Artikel 2 hari lalu 266 disimak
Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Lingkungan 2 hari lalu 261 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?