Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
    9 jam lalu
    Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
    10 jam lalu
    Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
    13 jam lalu
    Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
    13 jam lalu
    Sepertiga Wilayah ‘Stress Area’ Batam Masih Tunggu Kepastian Air Bersih Hingga 2027
    13 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
    10 jam lalu
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    13 jam lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    3 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Laga Lawan Bangladesh Timnas Garuda Harus Menang Besar
    4 hari lalu
    Asian Games 2026, Panahan Sumbang Koleksi Emas untuk Indonesia
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    4 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    6 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    6 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa

Editor Admin 4 tahun lalu 714 disimak

ALUNAN musik gamelan terdengar berpadu dengan musik Eropa. Sembilan penari perempuan diapit empat orang pengapit di depan dan belakang berjalan memasuki pendopo Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY. Mereka membawakan tari Bedhaya Mintarga, tari klasik asal Keraton Yogyakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana X.

Tari tersebut ditampilkan dalam rangka Pementasan Catur Sagatra 2022. Acara ini merupakan ajang silaturahmi empat swapraja dinasti Mataram Islam, yaitu Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta dengan Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo.

Musik yang mengiringi awal tari itu merupakan Gendhing mares, perpaduan gamelan dan musik Eropa di Keraton Yogyakarta. Kata “Mares” merupakan serapan dari kata Mars, sebuah komposisi musik Eropa yang sering digunakan untuk kepentingan militer. Gendhing mares sebagai musik hibrida dengan demikian menandakan interaksi sosial-budaya antara keraton dengan Barat.

“Dengan mentoleransi kehadiran musik Eropa di istana Yogyakarta, para penguasa Jawa dapat mempertunjukan penerimaan dan apresiasi mereka terhadap kenyataan-kenyataan politik kala itu – kehidupan istana dalam konteks kolonialisme Eropa,” kata Sumarsam, profesor musik di Wesleyan University, dalam Merenungkan Gema Perjumpaan Musikan Indonesia-Belanda.

Gendhing Mares dalam Tari Jawa

Kelahiran Gendhing mares tak bisa dilepaskan dari musik mars yang dihadirkan militer kolonial pada abad ke-17. Sebagaimana VOC berupaya memainkan musik-musik tradisional di Nusantara, kerajaan-kerajan di Nusantara juga berupaya memainkan musik Barat tersebut. Percampuran pun terjadi antara musik lokal dan Barat.

“Bahan-bahan musik yang diperkenalkan VOC dilokalisasi dengan cara berbeda-beda: didomestikasi ke dalam genre musik lokal, seperti dalam kasus tanjidor, digunakan sebagai simbol seperti pada gendhing mares, atau menghasilkan musik hibrida populer Indonesia berbasis Barat,” tulis sejarawan Bart Barendregt dan Els Bogaert dalam “Recollecting Resonances: Listening to an Indonesian-Dutch Musical Heritage”, termuat dalam Recollecting Resonance: Indonesian-Dutch Musical Encounters.

“Perkawinan” musik itu, menurut Sumarsam, memainkan peran penting dalam perkembangan musik di berbagai daerah di Nusantara. Keraton Yogyakarta menjadi salah satu yang berperan penting bagi keberlanjutan “perkawinan” musik Barat-Jawa itu dengan kreasi musik baru. 

“Musik militer di Keraton Yogyakarta muncul sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792),” ungkap akademisi musik R.M. Surtihadi dalam tulisannya di Journal of Urban, “Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta”.

Di keraton, musik Eropa dipadukan dengan karawitan Jawa dan digunakan sebagai hiburan pertunjukan, upacara protokoler, hingga ritual di dalam Keraton. Bahkan tari yang dianggap sakral di Keraton Yogyakarta seperti bedhaya dan srimpi menggunakan gendhing mares dalam iringannya. Gendhing Mares akan berbunyi ketika para penari melakukan gerakan kapang-kapang di awal dan di akhir tarian. Hal ini dilakukan sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V.

“Gendhing mares menjadi fakta interaksi sosial antara warga istana Jawa dan orang Eropa,” tulis Sumarsam.

Saat itu konflik antara istana-istana Jawa dan kolonialis Belanda sedang tinggi. Adanya hibriditas dari dua musik ini diharapkan dapat sedikit meredakan konflik. 

“Periode pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V (1923-1955) terjadi kontak budaya asing yang mengendap ke dalam budaya Jawa (keraton) dengan adanya perpaduan instrumen musik Barat ke dalam musik iringan tari Jawa ataupun upacara protokoler,” tulis Surtihadi.

Babad Ngayogyakarta mengisahkan, suatu ketika ada perjamuan antara sultan dan pembesar Belanda. Selain terhidang makanan dan minuman, tersaji pula hiburan musik, tari, serta dansa.

“Setelah para musisi berhenti menghormat, minuman kopi, susu, dan teh, beserta kudapan sudah merata, bersamaan dengan iringan musik, ketika sudah selesai perjamuan diteruskan dengan, menari dansa, dan suka ria, minuman disajikan terus-menerus,” kata Babad Ngayogyakarta Vol. III.

Dalam jamuan tersebut ditampilkan tari Bedhaya, Srimpi, dan Trunajaya. Bunyi terompet dan tabuhan genderang bersamaan dengan musik karawitan mengiringi pementasan dua tari tersebut. Musisi yang menggarapnya adalah orang Belanda.

“Mulai membuat gendhing-gendhing sabrangan dengan diiringi suara musik terompet, genderang, bedhug, dan sejenisnya, untuk mengiringi Kapang-kapang maju/mundurnya Lelangen Dalem Bedhaya, serta Beksan Trunajaya, yang disuruh mengerjakan perpaduan gamelan dengan musik orang Belanda yaitu Van Gough serta Smith,” lebih lanjut Babad Ngayogyakarta mengisahkan.

Keterlibatan alat-alat musik Eropa dalam gamelan Jawa diperbanyak pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VIII. Bila mulanya hanya alat musik tiup dan pukul saja, di masa ini ditambahkan dengan alat musik gesek.

“Karsa Dalem (panggilan hormat untuk Sultan yang berkuasa, red.) melengkapi iringan Kapangkapang Bedhaya/Srimpi, beksan Trunajaya, serta Srimpi Pandelori dan Srimpi Muncar, dengan tambahan instrumen musik gesek/ biola,” kata Babad Ngayogyakarta III.

Kendati “berbau” pengaruh kolonial, Gendhing Mares tetap menjadi kebanggan bagi keraton Yogyakarta. Bahkan tari paling sakral di keraton, Bedhaya Semang, juga menggunakan Gendhing Mares untuk pengiring gerakan masuk dan keluarnya penari di area pentas. Padahal, tari ini sudah ada jauh sebelum Gendhing Mares muncul.

Bedhaya Semang muncul sejak Sultan Hamengkubuwana I bertakhta. Tarian ini disinyalir sebagai warisan Sultan Agung saat Mataram masih menjadi satu kerajaan Islam.

“Keputusan menggunakan Gendhing Mares dibuat oleh orang berperingkat tinggi, bangsawan, seorang pangeran muda, yang lebih menyukai Gendhing Mares karena wataknya yang bersemangat, sigrak,” ungkap Sumarsam.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Eropa, Gamelang, Jawa, musik, yogyakarta
Admin 7 November 2022 7 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pembukaan Porprov Kepri V 2022 di Bintan Meriah
Artikel Selanjutnya Ngobrol Everywhere | Ngobrolin Dunia Ekraf Bersama Ketua Gekrafs Batam

APA YANG BARU?

Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 9 jam lalu 118 disimak
Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
Artikel 10 jam lalu 148 disimak
Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
Sports 10 jam lalu 127 disimak
Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
Artikel 13 jam lalu 254 disimak
Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
Pendidikan 13 jam lalu 170 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 4 hari lalu 731 disimak
Penyelundupan 11,31 Kg Emas ke Singapura Gagal
Artikel 6 hari lalu 586 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 5 hari lalu 576 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 4 hari lalu 556 disimak
Komisi III DPR RI Setujui Komjen Pol. Suyudi Ario Bayu Jadi Kapolri Baru, Ini Profilnya
Artikel 4 hari lalu 477 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?