Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Hari ini (25/08), Pagi Sampai Siang Hari Kota Batam Diperkirakan Cerah Berawan
    3 jam lalu
    Ribuan Srikandi ikuti gerak jalan 8 Kilometer di Tanjungpinang
    2 hari lalu
    Suhu Batam dan Karimun Tembus 32°C, Angin Kencang Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Kepri
    2 hari lalu
    Lahan Tiga Hektare di Kawasan Barelang Hangus Terbakar
    2 hari lalu
    Warga Temukan Kerangka Manusia di Sei Ladi
    3 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Negeri Lingga, 1861 (Bagian 1)
    1 hari lalu
    Jalan Kaki itu Membahagiakan
    2 hari lalu
    Anggaran Pendidikan Rp 820,9 Triliun Belum Sentuh Kesejahteraan Guru
    3 hari lalu
    Siswa SDN 005 Teluk Sebong Diajak Lebih Pede Lewat Kegiatan Literasi
    4 hari lalu
    IPB, UGM, dan University of Melbourne Gelar Program Kuliah Pertanian Lintas Negara
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Gedung Beringin, Batam
    2 hari lalu
    Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
    6 hari lalu
    Inflasi Kota Batam Juli 2026 Stabil di Angka 3,49 Persen
    1 minggu lalu
    Bandar Udara Raja Haji Abdullah, Karimun
    1 minggu lalu
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa

Editor Admin 4 tahun lalu 665 disimak

ALUNAN musik gamelan terdengar berpadu dengan musik Eropa. Sembilan penari perempuan diapit empat orang pengapit di depan dan belakang berjalan memasuki pendopo Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY. Mereka membawakan tari Bedhaya Mintarga, tari klasik asal Keraton Yogyakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana X.

Tari tersebut ditampilkan dalam rangka Pementasan Catur Sagatra 2022. Acara ini merupakan ajang silaturahmi empat swapraja dinasti Mataram Islam, yaitu Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta dengan Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo.

Musik yang mengiringi awal tari itu merupakan Gendhing mares, perpaduan gamelan dan musik Eropa di Keraton Yogyakarta. Kata “Mares” merupakan serapan dari kata Mars, sebuah komposisi musik Eropa yang sering digunakan untuk kepentingan militer. Gendhing mares sebagai musik hibrida dengan demikian menandakan interaksi sosial-budaya antara keraton dengan Barat.

“Dengan mentoleransi kehadiran musik Eropa di istana Yogyakarta, para penguasa Jawa dapat mempertunjukan penerimaan dan apresiasi mereka terhadap kenyataan-kenyataan politik kala itu – kehidupan istana dalam konteks kolonialisme Eropa,” kata Sumarsam, profesor musik di Wesleyan University, dalam Merenungkan Gema Perjumpaan Musikan Indonesia-Belanda.

Gendhing Mares dalam Tari Jawa

Kelahiran Gendhing mares tak bisa dilepaskan dari musik mars yang dihadirkan militer kolonial pada abad ke-17. Sebagaimana VOC berupaya memainkan musik-musik tradisional di Nusantara, kerajaan-kerajan di Nusantara juga berupaya memainkan musik Barat tersebut. Percampuran pun terjadi antara musik lokal dan Barat.

“Bahan-bahan musik yang diperkenalkan VOC dilokalisasi dengan cara berbeda-beda: didomestikasi ke dalam genre musik lokal, seperti dalam kasus tanjidor, digunakan sebagai simbol seperti pada gendhing mares, atau menghasilkan musik hibrida populer Indonesia berbasis Barat,” tulis sejarawan Bart Barendregt dan Els Bogaert dalam “Recollecting Resonances: Listening to an Indonesian-Dutch Musical Heritage”, termuat dalam Recollecting Resonance: Indonesian-Dutch Musical Encounters.

“Perkawinan” musik itu, menurut Sumarsam, memainkan peran penting dalam perkembangan musik di berbagai daerah di Nusantara. Keraton Yogyakarta menjadi salah satu yang berperan penting bagi keberlanjutan “perkawinan” musik Barat-Jawa itu dengan kreasi musik baru. 

“Musik militer di Keraton Yogyakarta muncul sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792),” ungkap akademisi musik R.M. Surtihadi dalam tulisannya di Journal of Urban, “Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta”.

Di keraton, musik Eropa dipadukan dengan karawitan Jawa dan digunakan sebagai hiburan pertunjukan, upacara protokoler, hingga ritual di dalam Keraton. Bahkan tari yang dianggap sakral di Keraton Yogyakarta seperti bedhaya dan srimpi menggunakan gendhing mares dalam iringannya. Gendhing Mares akan berbunyi ketika para penari melakukan gerakan kapang-kapang di awal dan di akhir tarian. Hal ini dilakukan sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V.

“Gendhing mares menjadi fakta interaksi sosial antara warga istana Jawa dan orang Eropa,” tulis Sumarsam.

Saat itu konflik antara istana-istana Jawa dan kolonialis Belanda sedang tinggi. Adanya hibriditas dari dua musik ini diharapkan dapat sedikit meredakan konflik. 

“Periode pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V (1923-1955) terjadi kontak budaya asing yang mengendap ke dalam budaya Jawa (keraton) dengan adanya perpaduan instrumen musik Barat ke dalam musik iringan tari Jawa ataupun upacara protokoler,” tulis Surtihadi.

Babad Ngayogyakarta mengisahkan, suatu ketika ada perjamuan antara sultan dan pembesar Belanda. Selain terhidang makanan dan minuman, tersaji pula hiburan musik, tari, serta dansa.

“Setelah para musisi berhenti menghormat, minuman kopi, susu, dan teh, beserta kudapan sudah merata, bersamaan dengan iringan musik, ketika sudah selesai perjamuan diteruskan dengan, menari dansa, dan suka ria, minuman disajikan terus-menerus,” kata Babad Ngayogyakarta Vol. III.

Dalam jamuan tersebut ditampilkan tari Bedhaya, Srimpi, dan Trunajaya. Bunyi terompet dan tabuhan genderang bersamaan dengan musik karawitan mengiringi pementasan dua tari tersebut. Musisi yang menggarapnya adalah orang Belanda.

“Mulai membuat gendhing-gendhing sabrangan dengan diiringi suara musik terompet, genderang, bedhug, dan sejenisnya, untuk mengiringi Kapang-kapang maju/mundurnya Lelangen Dalem Bedhaya, serta Beksan Trunajaya, yang disuruh mengerjakan perpaduan gamelan dengan musik orang Belanda yaitu Van Gough serta Smith,” lebih lanjut Babad Ngayogyakarta mengisahkan.

Keterlibatan alat-alat musik Eropa dalam gamelan Jawa diperbanyak pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VIII. Bila mulanya hanya alat musik tiup dan pukul saja, di masa ini ditambahkan dengan alat musik gesek.

“Karsa Dalem (panggilan hormat untuk Sultan yang berkuasa, red.) melengkapi iringan Kapangkapang Bedhaya/Srimpi, beksan Trunajaya, serta Srimpi Pandelori dan Srimpi Muncar, dengan tambahan instrumen musik gesek/ biola,” kata Babad Ngayogyakarta III.

Kendati “berbau” pengaruh kolonial, Gendhing Mares tetap menjadi kebanggan bagi keraton Yogyakarta. Bahkan tari paling sakral di keraton, Bedhaya Semang, juga menggunakan Gendhing Mares untuk pengiring gerakan masuk dan keluarnya penari di area pentas. Padahal, tari ini sudah ada jauh sebelum Gendhing Mares muncul.

Bedhaya Semang muncul sejak Sultan Hamengkubuwana I bertakhta. Tarian ini disinyalir sebagai warisan Sultan Agung saat Mataram masih menjadi satu kerajaan Islam.

“Keputusan menggunakan Gendhing Mares dibuat oleh orang berperingkat tinggi, bangsawan, seorang pangeran muda, yang lebih menyukai Gendhing Mares karena wataknya yang bersemangat, sigrak,” ungkap Sumarsam.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Eropa, Gamelang, Jawa, musik, yogyakarta
Admin 7 November 2022 7 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pembukaan Porprov Kepri V 2022 di Bintan Meriah
Artikel Selanjutnya Ngobrol Everywhere | Ngobrolin Dunia Ekraf Bersama Ketua Gekrafs Batam

APA YANG BARU?

Hari ini (25/08), Pagi Sampai Siang Hari Kota Batam Diperkirakan Cerah Berawan
Artikel 3 jam lalu 25 disimak
Negeri Lingga, 1861 (Bagian 1)
Histori 1 hari lalu 204 disimak
Gedung Beringin, Batam
Infrastruktur 2 hari lalu 241 disimak
Ribuan Srikandi ikuti gerak jalan 8 Kilometer di Tanjungpinang
Artikel 2 hari lalu 240 disimak
Suhu Batam dan Karimun Tembus 32°C, Angin Kencang Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Kepri
Artikel 2 hari lalu 239 disimak

POPULER PEKAN INI

BMKG Batam:”Hari Ini dan Besok, Cuaca Kepri Cerah Berawan”
Artikel 4 hari lalu 429 disimak
Basri DPO Kasus Narkoba Batam Diduga Kabur ke Malaysia
Artikel 6 hari lalu 409 disimak
Kodrat Batam Siapkan 17 Atlet ke Porprov Kepri, Target Pertahankan Juara Umum
Sports 6 hari lalu 370 disimak
Ekspor Ikan Batam Tembus Rp125 Miliar ke Singapura, Sudah 45% dari Target 2026
Artikel 6 hari lalu 341 disimak
Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
Statistik 6 hari lalu 326 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?