Hubungi kami di

Ini Batam

Halaman Gedung LAM Batam Dihijaukan Dengan Tanaman Tradisional

iqbal fadillah

Terbit

|

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata memimpin gerakan penghijauan disekitar halaman Gedung LAM Batam, Jum'at (10/07). Photo : Ist. @Disbudpar Batam

SELURUH Pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam melakukan kegitan penghijauan dengan menanam tanaman tradisional dilahan kosong yang ada dihalaman Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam.

Kegiatan ini atas inisiasi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata untuk memanfaatkan lahan di sekitar kantor Disbudpar tersebut.

Ardi mengatakan, seluruh pegawai membawa bermacam-macam tanaman yang bermanfaat, seperti pandan wangi, jeruk, sirih, kenanga, bibit daun kari, daun semangkok, bunga melati, jambu, bunga raya, terong pipit, kunyit, jahe, kencur, lidah buaya, lengkuas, ubi dan kelapa gading. Menurut Ardi, hal tersebut dalam rangka implimentasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang telah disusun khususnya Pengetahuan Tradisional berupa makanan minuman lokal dan methoda penyehatan dan ramuan. Serta sejalan dengan Perda Kota Batam No 1 tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu

“Semuanya tanaman tradisional dan di tanam di lahan yang masih kosong disekitar kantor,” kata Ardi, saat ditemui di halaman Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM), Batam Centre, Jumat (10/7).

Menurut Ardi, selain memperindah halaman, kegiatan ini juga sekaligus untuk mengajak pegawai berolahraga dan berjemur karena kegiatan dilakukan di pagi hari. Ardi berharap tanaman ini tumbuh sehingga lingkungan Disbudpar makin hijau dan terlihat asri.

“Semoga tanaman ini tumbuh sehingga manfaatnya bisa dirasakan seluruh pegawai dan lingkungan makin hijau dan asri,” ujarnya.

Selain memperindah halaman, di hari yang sama, ruang dalam Kantor Disbudpar tepatnya di ruang yang biasanya diperuntukkan untuk ruang tunggu tamu, kini dindingnya dihias dengan kain-kain berwarnakan khas Melayu, yakni warna merah, kuning, dan hijau. Kemudian diletakkan pembidang atau peralatan untuk membuat tudung manto serta pajangan alat musik. Tujuannya selain untuk mempercantik ruangan dan menambah pengetahuan tentang budaya Melayu, tempat ini juga sebagai workshop mini bidang kebudayaan.

“Seperti terlihat saat ini salah seorang pegawai dari Bidang Kebudayaan membuat kain tudung manto lengkap dengan peralatannya di ruangan ini. Tudung Manto merupakan kain penutup kepala khas Melayu. Tamu bisa melihat dan belajar langsung cara membuat tudung manto” jelas Ardi.

Masih kata Ardi, nantinya lokasi yang dihias ini bisa juga jadi spot foto yang menarik bagi pegawai dan tamu yang datang.

*(Zhr/GoWestId)

“Semoga kegiatan positif ini terus berlanjut,” pungkasnya.

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *