Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Tanjungpinang Tembus 6 Besar Kota Termaju di Sumatera
    7 jam lalu
    Aksi Pencurian Berulang di Indomaret RSBP Batam Berakhir Damai melalui Mediasi
    8 jam lalu
    Pemko Batam Bantah Koperasi Merah Putih P. Buluh Mangkrak
    8 jam lalu
    Batam Tak Masuk 10 Kota Maju di Sumatra
    9 jam lalu
    Gubernur BI Mendadak Mundur, Prabowo Siapkan Kepres Pemberhentian
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Volume Sampah di Batam Melonjak 35 Persen
    8 jam lalu
    Alun-Alun Engku Putri Penuh Sorak, Event FIBA 3×3 2026 Ramaikan Batam
    2 hari lalu
    Bungkam China 22-9, Belanda Juara FIBA 3×3 Women’s Series Batam 2026
    3 hari lalu
    Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental
    5 hari lalu
    31 Tim Basket 3×3 Internasional Mulai Berlaga di Batam Hari ini
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    7 hari lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    2 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    3 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    4 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    1 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Kisah dalam Sepiring Char Kway Teow

dan perbedaan melangit antara dolar dan ringgit

Editor Admin 2 tahun lalu 708 disimak
Seporsi char kway teow yang saya nikmati Senin kemarin di Culture Penang. © F. Sultan Yohana/ disediakan oleh GoWest.ID


KARENA masih terbawa nuansa “Pulau Penang”, sekembalinya dari sana, saya minta ke istri untuk cari char kway teow. Yang enak ya! Pesan saya pada istri, setidaknya seperti di kedai yang kami kunjungi di Penang. Bukan char kway teow ala Singapura yang terasa tebal, berat, dan dominan kecap hitam itu. Saya ingin char kway teow yang ringan tapi lezat seperti di Penang. Senin (17/6) siang itu, bini kemudian mengajak saya ke Penang Culture, kedai makan di sebuah mall di daerah Serangoon yang bersertifikat halal.

Oleh: Sultan Yohana


SULIT mencari char kway teow halal di Singapura. Beberapa bulan lalu, saya sempat makan char kway teow halal di daerah Bukit Merah yang bereputasi “wah” karena penjualnya mantan chef hotel berbintang, dan seorang China yang muallaf. Tapi saat makan, rasanya biasa saja.

Di Culture Penang, Senin itu, saya memesan char kway teow dan es cendol. Bini pesan kway teow kuah dan white coffee dikit gula. Hmm, boleh juga, bathin saya ketika sendok pertama char kway teow masuk ke mulut. Tapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan char kway teow yang saya nikmati di Penang sebelumnya. “Rasanya masih terasa berat, terlalu asin, dan kurang seimbang,” saya mengungkapkan pendapat saya soal rasa char kway teow pada istri.

Di Penang, sepekan sebelumnya, kami menemukan sebuah kedai di sebelah kantor pemerintah Penang, yang ramai. Pengelolanya seorang Tionghoa muda yang ramah. Kedai buka sebentar saja, dari jam 8 pagi hingga 3 siang. Hari berikutnya, ketika kami datang lagi pada jam 3.15 sore, ia tidak mau melayani kami. Kedai tutup. Saya kecewa sekaligus gembira. Orang Tionghoa di Penang, bisa kerja nyante, bisa lebih menikmati hidup. Tidak kerja ngoyo sampai kaki jadi kepala, kepala jadi kaki; sebagaimana saudara-saudaranya di negeri tetangga. Saya kemudian berkunjung ke kedai sebelah, alhamdulillah kami masih diterima. Tapi seperti kedai char kway teow yang tutup, kedai itu juga segera tutup begitu kami selesai makan.

Orang China Penang memang terkenal agak nyante.

Ketika itu, kami berdua masing-masing memesan char kway teow, secangkir kopi putih, dan es cendol. Total habis 21 ringgit. Jika di Singapurakan dengan kurs sekarang, cuma S$6 untuk semua makan dan minuman yang kami berdua nikmati. Gila, pikir saya! Makanan senikmat ini, harganya cuma $6 dolar. Di Singapura, dengan uang segitu, Anda mungkin cuma bisa beli nasi ayam yang rasanya tidak ke mana-mana, serta secangkir kopi.

Kurs dolar Singapura ke ringgit yang mengkuat hingga menembus 3.5 kali, memang membuat apa-apa hal di Malaysia terasa murah bagi orang Singapura. Sopir Grab yang mengantar kami ke Bandara Penang, Jumat lalu bercerita, betapa beruntungnya orang Singapura, yang kurs duitnya begitu perkasa. Bisa beli apa saja ketika pelesir ke Malaysia. Pendapat sopir Grab itu memang tidak salah. Tapi, sebagai penduduk Singapura, saya merasa penguatan kurs dolar Singapura terhadap ringgit Malaysia tidak berpengaruh banyak di kehidupan sehari-hari. Harga sayur, buah-buahan, atau apa pun yang diimpor dari Malaysia, tetap mahal, bahkan kini terasa lebih mahal. Padahal, impor Singapura dari Malaysia nilainya mencapai 13.21 persen dari total impor keseluruhan. Hanya kalah 0,22 persen dari impor China ke Singapura. Seharusnya, secara teori kurs, saat ini, masyarakat Singapura bisa mendapatkan bahan pokok lebih murah.

Saya tak tahu kenapa? Kurs dolar menguat dari nilai mata uang negara-negara tetangga, tapi harga-harga kebutuhan tetap saja tinggi. Bahkan setengah tahun terakhir ini, terasa kian naik. Itu mungkin karena semua kebutuhan di Singapura, diimpor. Harus didatangkan dari negara lain. Ini berbeda dengan Malaysia, misalnya, yang bisa memenuhi segala kebutuhan mereka dari produk lokal. Tidak perlu impor.

Beginilah kenyataan hidup di kota yang tak punya apa-apa. Semua-semua tergantung negara lain. Semua-semua didatangkan dari luar. Semua-semua mahal. Berbahagialah Anda yang bisa memanen apa pun kebutuhan pangan dari kebun Anda sendiri.

Kembali ke kedai Culture Penang. Saya harus membayar S$35 untuk semua makanan yang kami berdua nikmati. Harga yang sebetulnya wajar untuk makanan Singapura. Namun kami baru pulang dari Penang, dan hanya membayar 21 ringgit atau S$6 untuk menu makanan serupa. Perbedaan bak langit-bumi yang membuat saya ingin berteriak sekeras-kerasnya pada dunia, “jiancuukkkkkk….”

Sepiring char kway teow bisa menjelaskan pada kita, bagaimana keras dan mahalnya kehidupan di Singapura. Sepiring char kway teow di Singapura, bisa menjelaskan pada kita, bahwa Anda dilarang hidup bermalas-malasan di sini! Anda dilarang boros! Anda dilarang hidup penuh gengsi!

Kalau sudah begini, masih Anda bermimpi ingin tinggal di Singapura? Sebaiknya batalkan saja!

(*)

Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id 
Rubrik : Catatan Netizen jadi platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi para netizen yang gemar menulis, tentang apa saja hal positif yang bisa dibagikan melalui wadah GoWest.ID. Kirim artikel/ konten/ esai anda secara mandiri lewat cara ini ya.

Kaitan Catatan, kuliner, malaysia, netizen, Penang
Admin 12 Juli 2024 12 Juli 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pembayaran Bus Trans Batam Pakai E-money!
Artikel Selanjutnya Mucikari Remaja di Batam Jual Pelajar SMP ke Pria Hidung Belang

APA YANG BARU?

Tanjungpinang Tembus 6 Besar Kota Termaju di Sumatera
Artikel 7 jam lalu 143 disimak
Aksi Pencurian Berulang di Indomaret RSBP Batam Berakhir Damai melalui Mediasi
Artikel 8 jam lalu 128 disimak
Pemko Batam Bantah Koperasi Merah Putih P. Buluh Mangkrak
Artikel 8 jam lalu 107 disimak
Volume Sampah di Batam Melonjak 35 Persen
Lingkungan 8 jam lalu 152 disimak
Batam Tak Masuk 10 Kota Maju di Sumatra
Artikel 9 jam lalu 137 disimak

POPULER PEKAN INI

KKP Lebur 11 Politeknik Menjadi Satu Bernama Institut Kelautan Indonesia
Pendidikan 6 hari lalu 366 disimak
Urusan Paspor di Imigrasi Batam? Jangan Lupa Bawa Dokumen Asli
Artikel 3 hari lalu 347 disimak
BP Batam Rekonstruksi Total Jalan Gajah Mada Mulai 25 Juli, Arus Dialihkan
Artikel 3 hari lalu 328 disimak
Diduga Puting Beliung Sapu Kawasan PT VME Batu Ampar, Sejumlah Bangunan Rusak
Artikel 6 hari lalu 316 disimak
Kemenkeu Berikan Insentif Pajak 0% Selama 50 Tahun Untuk Investor di PFII
Artikel 4 hari lalu 305 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?