Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Mahasiswa Batam Akan Gelar Aksi 18 Juni 2026 dengan Sembilan Tuntutan “Tuntutan 45”
    22 jam lalu
    Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Jambret di Mangsang, Korban Rugi Rp8,7 Juta
    22 jam lalu
    Tiga Dugaan Korupsi; Kejari Tanjungpinang Tunggu Hasil Audit Kerugian Negara
    2 hari lalu
    Hubungan Remaja Berujung Bayi, Polsek Bintan Timur Amankan Tersangka
    2 hari lalu
    Harga Emas Antam di Pegadaian Batam Naik, UBS Stagnan pada Minggu (14/6)
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Polibatam Perkuat Jejaring Internasional Lewat Global Knowledge Sharing 2026
    22 jam lalu
    Pendaftar Membludak, SMK Negeri 1 Batam Kelebihan Kuota Hingga 1.546 Siswa
    22 jam lalu
    Parade Kemilau Nusantara Kepri 2026
    2 hari lalu
    Ada Subsidi Pendidikan bagi Siswa Batam Tidak Tertampung di Sekolah Negeri
    2 hari lalu
    Piala Dunia 2026, Korea Selatan Comeback (2-1) Atas Republik Ceko
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    ANALISIS DATA: Cuaca Batam & Kepri Sepekan ke Depan
    2 hari lalu
    Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah (Sultan Riau Lingga Keempat 1857 – 1883)
    4 hari lalu
    Penduduk Batam Kategori Miskin 3,81 persen, Lingga Tertinggi di Kepri 9 persen
    6 hari lalu
    Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
    6 hari lalu
    Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
    1 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    5 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    11 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Kisah Horst Stern, Jurnalis Yang Ajak Publik Perhatikan Kesejahteraan Hewan

Editor Admin 6 tahun lalu 1.3k disimak

Jauh sebelum isu lingkungan dan kesejahteraan hewan dibahas serius di Jerman, jurnalis Horst Stern telah memperingatkan lewat acara televisinya tentang dampak hubungan disharmoni yang diciptakan manusia.

Daftar Isi
Generasi yang terpaksa terjun di PD IIWartawan dan aktivis lingkungan

————

JURNALIS dan aktivis lingkungan asal Jerman, Horst Stern, pernah berjaya pada tahun 1970-an lewat film dokumenter Sterns Stunde yang diproduksi oleh lembaga penyiaran Süddeutsche Rundfunk.

Film dokumenter yang tayang antara tahun 1970 hingga tahun 1979 ini banyak bercerita tentang hewan-hewan yang berada di sekitar orang Jerman pada masa itu, seperti ayam dan babi peliharaan, kuda tunggangan, serta rusa merah hasil buruan di hutan.

Lewat karya-karyanya, Stern melemparkan pertanyaan kritis dan reflektif tentang hal-hal yang telah dianggap lumrah dalam interaksi antara manusia dan binatang. Hingga kini karyanya banyak dianggap sebagai acuan bagaimana melakukan peliputan lingkungan secara kritis.

Seperti apa sosok wartawan yang lahir di kota Stettin (kini masuk wilayah Polandia) pada 24 Oktober 1922 ini?

Generasi yang terpaksa terjun di PD II

HORST Stern mengaku tidak terlalu mengenal ayah kandungnya karena orang tuanya berpisah sewaktu ia masih sangat muda. Ibunya kembali menikah, dan seingat Stern, mereka selalu berada dalam kondisi keuangan yang pas-pasan.

Beruntung ia termasuk anak cerdas.

Nilai-nilainya sangat bagus sehingga ia seolah berlangganan beasiswa. Awalnya ia sangat berminat di bidang mata pelajaran seperti matematika, kimia dan fisika. Namun di kemudian hari minatnya malah berkembang di bidang bahasa.

Sayangnya, masa-masa emas di sekolah tidak berlangsung lama, Stern mengalami kejenuhan dalam belajar. Nilai-nilainya pun menurun dan beasiswanya dibatalkan.

Saat itu tahun 1939, perang telah di ambang pintu dan mulai mengetuk Jerman. Seperti para pemuda yang lahir pada zamannya, Stern tidak bisa menghindar. Ia kemudian ditugaskan di Afrika utara selama tujuh bulan, melihat dan mengalami sendiri kejamnya Perang Dunia II.

Tentang perang, Stern diketahui tidak begitu suka mengobral cerita. “Saya telah melihat hal-hal yang sangat kejam, adu pisau dan sejenisnya.

Oleh karena itu saya sangat benci kekerasan,” ungkap Stern dalam wawancara dengan Ludwig Fischer dan Martina Schweitzer pada tahun 1997 dalam buku berjudul Unerledigte Einsichten: der Journalist und Schriftsteller Horst Stern yang artinya kurang lebih “Urusan-urusan yang Belum Usai: Jurnalis dan Penulis Horst Stern.”

Wartawan dan aktivis lingkungan

KARENA Jerman kalah perang, Stern dan banyak tentara lain pun menjadi tawanan. Namun ia dengan cepat dibebaskan.

“Saya dibebaskan tahun 1948, dan tidak bisa kembali ke tempat yang saya sebut sebagai rumah,” ujar Stern.

Ia merujuk kepada keadaan pascaperang, ketika ia sudah tidak punya ada siapa-siapa lagi di Stettin, kota kelahirannya. Sang ibu telah pindah ke Hamburg dan menetap di sana.

Stern lalu memutuskan pergi ke Jerman selatan, ke tempat seorang kenalannya sewaktu masa-masa menjadi tawanan perang, yaitu seorang arsitek yang bernama Fritz Grube. Di sini, nasib membawanya berkontak dengan koran Stuttgarter Nachrichten dan mulai menulis tentang dunia hewan.

Tidak lama kemudian ia mulai memproduksi film dokumenter yakni Sterns Stunde yang sukses diterima publik Jerman. Film dokumenter ini digambarkan sebagai acara televisi yang intrusif, kritis, dan sejak awal tidak pernah dimaksudkan murni sebagai hiburan.

Peter Boudgoust, Direktur media Jerman SWR, bahkan menuliskan bahwa lewat acara Sterns Stunde, Horst Stern telah menciptakan “tonggak sejarah dalam film dokumenter tentang hewan dan pada saat yang sama menjadi dasar jurnalisme alam yang kritis” pada tahun 1970-an.

“Horst Stern bukan hanya seorang jurnalis yang luar biasa, tetapi juga pejuang yang tak kenal lelah untuk mendukung etika hewan dan kesadaran ekologis,” ujar Boudgoust seperti dikutip dari laman media Jerman, zeit.de.Mundur dari kehidupan publik

Sejak Sterns Stunde, popularitas Horst Stern meningkat di kalangan media dan pemerhati lingkungan di Jerman. Ia terus berkarya dan menerbitkan sejumlah buku, antara lain tentang perburuan rusa, dan pengamatannya terhadap dunia lebah.

Horst Stern juga telah sejak awal memperingatkan dampak pariwisata bagi lingkungan di Pegunungan Alpen dan hutan-hutan di Jerman yang tengah sekarat. Pada tahun 1975 ia juga ikut mendirikan BUND, yaitu asosiasi lingkungan dan konservasi alam yang disegani di Jerman.

Stern tidak banyak berbicara tentang kehidupan pribadinya. Selepas menyatakan pensiun di tahun 1984, ia meninggalkan Jerman untuk tinggal di Irlandia.

Pengunduran dirinya dari media di Jerman menjadi sorotan dan mengundang banyak spekulasi. Akan tetapi Stern mempertahankan keputusannya dan menyatakan ia akan selalu merasa bangga dengan profesi yang telah dijalaninya.

Namun Stern tetap menolak sebagian besar permintaan wawancara. Tampaknya, ia telah memutuskan untuk menarik diri dari sorotan publik. Di usia 96 tahun, pada 17 Januari 2019, Horst Stern dengan damai menutup usia.

Kecintaan dan perhatiannya akan kesejahteraan hewan-hewan dapat terlihat dalam kutipan wawancara tahun 1997:

“Saya hanya mengatakan: hewan-hewan, hingga mereka disembelih, setidaknya harus menjalani separuh dari kehidupan yang telah direncanakan untuk spesies mereka. Setidaknya itulah yang harus Anda berikan kepada mereka.”

Dokumenter horst stern tentang laporan kehidupan ayam kampung yang diunggah di kanal laibach doku kanal di youtube

“Tempat babi bukan di atas lantai kayu, babi seharusnya berada di luar. Anak sapi, sapi dewasa, lembu jantan tidak punya tempat di atas lantai kayu, mereka adalah hewan yang suka merumput. Seekor ayam adalah hewan suka melangkah, tidak ada urusan bagi mereka berada di dalam kandang,” ujar Stern.

(*)

Sumber : DW

Kaitan Hewan, Horst stern, Jurnalis
Admin 25 Oktober 2020 25 Oktober 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya PSBB Jakarta Diperpanjang Hingga 8 November 2020
Artikel Selanjutnya Tim Gabungan Ditpam BP Batam Tanam 300 Bibit Mahoni dan Pulai

APA YANG BARU?

Mahasiswa Batam Akan Gelar Aksi 18 Juni 2026 dengan Sembilan Tuntutan “Tuntutan 45”
Artikel 22 jam lalu 244 disimak
Polibatam Perkuat Jejaring Internasional Lewat Global Knowledge Sharing 2026
Pendidikan 22 jam lalu 225 disimak
Pendaftar Membludak, SMK Negeri 1 Batam Kelebihan Kuota Hingga 1.546 Siswa
Pendidikan 22 jam lalu 208 disimak
Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Jambret di Mangsang, Korban Rugi Rp8,7 Juta
Artikel 22 jam lalu 238 disimak
ANALISIS DATA: Cuaca Batam & Kepri Sepekan ke Depan
Statistik 2 hari lalu 462 disimak

POPULER PEKAN INI

Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
Statistik 6 hari lalu 734 disimak
Gol Tunggal Ole Romeny Menangkan Timnas Garuda Atas Mozambik
Sports 6 hari lalu 679 disimak
Penduduk Batam Kategori Miskin 3,81 persen, Lingga Tertinggi di Kepri 9 persen
Statistik 6 hari lalu 554 disimak
Kalah Dari Australia, Nova Arianto Segera Evaluasi Tim Garuda Muda
Sports 4 hari lalu 521 disimak
Gagal ke Final, Tim Garuda U19 Kalah Tipis dari Australia
Sports 4 hari lalu 463 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?