Hubungi kami di

Dunia

Kisah Raja Yang Jadi Tukang Kebun dan Montir

Mike Wibisono

Terbit

|

NAMA pria ini Eric Manu. Eric pindah ke British Columbia pada 2012, setelah menikahi seorang perempuan Kanada yang ditemuinya di Ghana. Di negeri orang, pemuda yang kini berusia 32 tahun itu bekerja menata taman atau kebun.

Tapi, nasib berkata lain. Pamannya yang menjabat sebagai kepala suku meninggal dunia dua tahun lalu.  Pada musim panas 2015, panggilan telepon dari kampung halaman mengubah hidupnya. Para tetua adat memintanya menjadi pewaris takhta. Eric dinobatkan sebagai raja.

Awalnya, Manu menolak.

“Aku terlalu muda untuk itu,” kata dia kepada Global News. Namun, warga adatnya yakin bahwa sudah takdirnya menjadi pemimpin.

Foto : independent.co.uk

Foto : independent.co.uk

Setelah pikir-pikir, Manu kemudian melapor ke bosnya, Susan Watson. Ia bahkan mengundang perempuan itu di acara penobatannya.

Akhirnya, Manu pun kemudian dimahkotai sebagai pemimpin Suku Akan di Desa Adansi Aboabo Nomor 2 di Ghana selatan tahun lalu.

Hanya sebentar duduk di singgasana, Manu kembali ke Kanada. Ia juga meneruskan pekerjaannya sebagai seorang tukang kebun.

Sehari-hari, ia mengayunkan cangkul, menyingkirkan gulma, serta menanam dan menata tumbuhan.

“Terkadang, saat aku menjalankan tugas, orang-orang bertanya, ‘Anda kan seorang kepala suku. Aku melihatmu di TV, Mengapa Anda jadi tukang kebun?'” kata Manu kepada CTVNews, seperti dikutip oleh gowest.idKamis (22/9/2016).

“Ini adalah wujud dari keinginanku untuk tetap rendah hati. Kapan pun berada di Kanada, aku bangga bisa bekerja untuk bosku.”

Manu rela menyingkirkan egonya sebagai pemimpin demi mengumpulkan uang untuk memperbaiki layanan kesehatan bagi rakyatnya di Ghana yang berjumlah 6 ribu.

Manu dan bosnya, Susan Watson, kemudian mendirikan Yayasan To the Moon and Back Foundation.

Mereka mengirimkan kontainer berisi obat-obatan, alat-alat sekolah, dan pakaian yang tiba di Ghana musim semi ini. Yayasan tersebut terus mengumpulkan uang dan donasi, berharap bisa mengirimkan kontainer kedua berisi peralatan untuk meningkatkan kualitas klinik lokal.

“Desanya sungguh miskin. Klinik di sana hanya punya satu bidan, sejumlah perawat, tapi sama sekali tak ada dokter,” kata Watson.

Manu bertekad melakukan segala macam cara untuk menyejahterakan rakyatnya.

“Aku ingin rumahku, desaku, menjadi ‘Kanada kedua’.”

Montir Yang Jadi Raja

raja-bansah

Foto : Raja Bansah atau Togbe Ngoryifia Céphas Kosi Bansah

Raja Bansah atau Togbe Ngoryifia Céphas Kosi Bansah memerintah wilayah tradisional Gbi di Hohoe, Ghana.

Rakyatnya hanya terdiri atas 200 ribu orang. Namun, pria itu juga menjadi tetua dan pemimpin spiritual masyarakat Ewe. Itu berarti, ia menjadi panutan sekitar 2 juta orang di Togo.

Namun, sang raja tak tinggal di Ghana atau Togo. Ia menetap di Ludwigshafen, Jerman. Di negeri orang tersebut, ia menjalani kehidupan ganda.

Apa kehidupan keduanya?

Sebagai mekanik di bengkel.

Pada 1970, Céphas Bansah–demikian ia akrab dipanggil–dikirim ke Jerman oleh kakeknya yang menjabat sebagai raja di Hohoe. Di Bundes republik Deutschland ia belajar menjadi mekanik.

Saat studinya berakhir, Bansah telanjur betah. Ia memutuskan untuk tinggal. Di Jerman, ia akhirnya membuka bengkel, menikah dengan gadis setempat, menjalani kehidupan yang tenang dan bahagia.

Suatu hari, pada tahun 1987, lembaran faks dari Ghana mengubah hidupnya.

Tertera dalam kertas itu, sang kakek mangkat. Ayah dan kakak tertuanya tak berhak mewarisi takhta. Alasannya, keduanya kidal–yang dianggap “tak suci” oleh masyarakat Ewe.

Mau tak mau, Bansah harus menjadi raja. Pria yang kini berusia 67 tahun itu menerimanya dengan alasan ingin berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan rakyatnya. Namun, pria itu tak mau pulang.

Maka setiap harinya, ia bekerja dari pukul 09.00-17.00 di bengkel, sebagai mekanik yang memperbaiki mobil. Sementara, ia menjalankan roda kerajaannya lewat telepon, e-mail, dan belakangan Skype.

Seperti dikutip dari Vice, Raja Bansah pergi ke Ghana beberapa kali dalam setahun. Seringkali, kepulangannya yang sementara disertai istrinya yang berasal dari Jerman, Gabriele.

Perjalanan jauh ditempuh agar ia bisa menampung aspirasi rakyatnya.

Meski Ghana menganut sistem pemerintahan yang demokratis sejak 1992, para raja tradisional tetap memiliki peran penting sebagai mediator dan pengurus banyak hal.

Raja Bansah membangun sejumlah sekolah, jembatan, dan sumur. Ia juga mendonasikan pompa air dan kendaraan bagi rakyatnya.

Untuk mengumpulkan dana, ia tak canggung menjadi penyanyi, tampil di televisi, dan acara-acara publik di Jerman.

Bansah juga menjual bir produksinya sendiri, Akosombo– meski ia tak pernah menenggak alkohol dalam hidupnya. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook