Hubungi kami di

Berita

Populasi Kritis Badak Sumatera

Mike Wibisono

Terbit

|

Spesies badak Sumatra sedang mengalami krisis populasi. Data yang diungkap organisasi internasional terkait konservasi lingkungan dan hewan World Wildlife Fund for Nature-Indonesia (WWF-Indonesia), hanya tersisa kurang dari 100 individu.


KONDISI Badak Sumatra (Dicerorinus sumatranus) tidak sebaik saudaranya yang hidup di Jawa. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) nasibnya lebih baik, walaupun saat ini juga dihadapi masalah dengan terbatasnya luasan habitat yang mampu mengakomodir pertumbuhan populasinya.

Masalah lain yang dihadapi adalah pertumbuhan Langkap (Arenga obsitulia) yang sangat cepat sehingga menahan laju tumbuhnya pakan Badak Jawa di satu-satunya habitat mereka di Ujung Kulon.

Berdasarkan data terakhir yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah Badak Jawa di habitat terakhirnya di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sebanyak 63 individu.

“Untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang semakin kritis, perlu adanya pendekatan konservasi berbasis spesies seperti yang dilakukan pada Badak Jawa,” kata Program Koordinator Proyek Ujung Kulon WWF-Indonesia Yuyun Kurniawan, dilansir kantor berita Antara.

Meskipun diperkirakan jumlah populasi Badak Sumatra relatif lebih besar dari populasi Badak Jawa, tetapi keberadaannya tersebar dalam sub-sub populasi yang kecil. Dengan demikian, peluang pertumbuhan populasi Badak Sumatera relatif lebih rendah dibandingkan dengan Badak Jawa.

Jika tidak dilakukan upaya-upaya proaktif untuk mengkonsolidasikan sub-sub populasi yang kecil tersebut, maka ancaman kepunahan lokal Badak Sumatera besar kemungkinan terjadi.

Jumlah populasi Badak Jawa pada tahun 1970 hanya ada 47 individu berdasar data WWF, kemudian naik menjadi 51 individu pada tahun 1981. Pada tahun 2014 dketahui jumlahnya 57 individu, dan tahun ini total 63 individu.
Peningkatan jumlah individu ini membuktikan bahwa upaya konservasi berbasis spesies perlu dilakukan juga untuk meningkatkan populasi Badak Sumatra.

“Upaya konservasi Badak Sumatra di Indonesia harus dilakukan dengan mengedepankan inovasi baru yaitu mendorong program pembiakan semi alami yang lebih aktif. Kondisi populasi di alam sudah sangat kritis oleh karenanya, perlindungan habitat saja tidak cukup untuk menyelamatkan Badak Sumatra,” katanya.

Sementara itu, ia berpendapat, untuk Badak Jawa, manajemen habitat harus segera dilakukan dengan lebih agresif, melalui langkah-langkah pengendalian langkap yang merupakan spesies invasif dan sudah sangat menggangu habitat asli badak.

Rendahnya populasi Badak Jawa disebabkan beberapa hal diantaranya adalah tingkat reproduksi yang rendah, penurunan kualitas genetik, ancaman penyakit, ancaman ketersediaan pakan, persaingan ruang pakan dengan satwa lain (banteng), potensi bencana alam, dan perburuan.

WWF-Indonesia juga mengingatkan bahwa pemerintah Indonesia mencanangkan target pertumbuhan populasi sebesar 10 persen untuk 25 satwa dilindungi pada kurun waktu tahun 2015-2019.

Termasuk di dalamnya adalah Badak Sumatera dan Badak Jawa. Untuk Badak Jawa, target ini hampir terpenuhi, sayangnya tidak untuk Badak Sumatra, yang jumlah populasinya pada tahun 1974, diperkirakan antara 400-700 individu namun dalam 10 tahun belakangan, laju kehilangan populasinya mencapai 50 persen. Bahkan di salah satu kantong populasinya di Kerinci Seblat, Badak Sumatera sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 2008.

BACA JUGA :  Ke Pulau Bawah Anambas Naik Sea Plane, Bisa!

Badak Kecil Yang Divonis Punah

Badak sumatera, juga dikenal sebagai badak berambut atau badak Asia bercula dua(Dicerorhinus sumatrensis). Dari wikipedia diperoleh informasi badak ini merupakan spesies langka dari famili Rhinocerotidae dan termasuk salah satu dari lima spesies badak yang masih ada.

Badak sumatera merupakan satu-satunya spesies yang terlestarikan dari genus Dicerorhinus.

Badak ini adalah badak terkecil, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Tingginya 112-145 cm sampai pundak, dengan panjang keseluruhan tubuh dan kepala 2,36-3,18 m, serta panjang ekornya 35–70 cm.

Beratnya dilaporkan berkisar antara 500 sampai 1.000 kg, dengan rata-rata 700–800 kg, meskipun ada suatu catatan mengenai seekor spesimen dengan berat 2.000 kg. Sebagaimana spesies badak Afrika, badak sumatera memiliki dua cula; yang lebih besar adalah cula pada hidung, biasanya 15–25 cm, sedangkan cula yang lain biasanya berbentuk seperti sebuah pangkal. Sebagian besar tubuh badak sumatera diselimuti rambut berwarna cokelat kemerahan.

Spesies ini pernah menghuni hutan hujan, rawa dan hutan pegunungan di India, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Tiongkok.

Dalam sejarahnya, badak sumatera dahulu tinggal di bagian barat daya Tiongkok, khususnya di SichuanMereka sekarang terancam punah dengan hanya enam populasi yang cukup besar di alam liar: empat di Sumatera, satu di Kalimantan, dan satu di Semenanjung Malaysia.

Jumlah badak sumatera sulit ditentukan karena mereka adalah hewan penyendiri yang tersebar secara luas, tetapi dapat diperkirakan kalau jumlahnya kurang dari 100 ekor. Ada keraguan mengenai kelangsungan hidup populasinya di Semenanjung Malaysia, dan salah satu populasi di Sumatera mungkin sudah punah.

Jumlah mereka saat ini mungkin hanya 80 ekor. Pada tahun 2015, para peneliti mengumumkan bahwa badak sumatera timur di bagian utara Kalimantan (Sabah, Malaysia) telah punah.

Dalam sebagian besar masa hidupnya, badak sumatera merupakan hewan penyendiri, kecuali selama masa kawin dan memelihara keturunan. Mereka merupakan spesies badak yang paling vokal dan juga berkomunikasi dengan cara menandai tanah dengan kakinya, memelintir pohon kecil hingga membentuk pola, dan meninggalkan kotorannya.

Spesies ini jauh lebih baik untuk dipelajari daripada badak jawa yang sama tertutupnya, sebagian dikarenakan adanya program yang membawa 40 badak Sumatera ke dalam konservasi ex-situ dengan tujuan melestarikan spesies tersebut.

Program ini bahkan dianggap sebagai bencana oleh pemrakarsanya; sebagian besar badak tersebut mati dan tidak ada keturunan yang dihasilkan selama hampir 20 tahun, sehingga menggambarkan penurunan populasi yang bahkan lebih buruk daripada habitatnya di alam liar. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook