Hubungi kami di

Khas

Kita, Anak dan Era Digital

iqbal fadillah

Terbit

|

BEBERAPA kelompok orang tua mungkin ada yang bingung dengan sistem atau cara mendidik anak-anaknya di era milenium ini.

Di zaman digital seperti sekarang, semua terpapar mudah untuk diakses. Banyak yang gampang untuk dicoba. Pertanyaannya, tidak semuanya ternyata yang memberi efek positif bagi buah hati kita.

Mungkin terasa aneh juga ketika kita membaca bahwa para bos industri digital seperti Google, Apple, Yahoo, Hewlett-Packard dan petinggi perusahaan-perusahaan teknologi ternama dunia yang ada di Silicon Valley, Amerika Serikat, justru menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Waldorf yang tidak menyediakan fasilitas komputer.

Seperti diinformasikan di laman The New York Times, alasan mereka mengirim buah hati ke sekolah itu adalah karena komputer tidak cocok untuk sekolah. Nah, lho?

Foto : ©BBC

Foto : ©BBC

Kondisi ini berbeda dengan keadaan kebanyakan pola pengasuhan di negeri kita. Di sini orang tua justru menyambut baik berbagai perangkat digital seperti televisi, komputer, telepon pintar, dan komputer tablet.

Perangkat canggih yang mampu terhubung ke internet tersebut, justru dianggap mampu menjadi alat bantu belajar yang canggih.

Bahkan tidak sedikit pula orang tua yang menjadikan aneka peralatan itu sebagai mainan anak-anak mereka. Tablet misalnya.

Keadaan di Korea Selatan berbeda dibandingkan di negeri kita. Negeri Ginseng yang selama dikenal memiliki perkembangan teknologi digital terpesat di dunia kini mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap anak-anak, generasi penerus masa depan.

Negara-negara terdepan dalam teknologi telah mengawasi dampak negatif perangkat digital terhadap anak dan mereka mulai memusatkan perhatian pada cara mendidik anak dalam lingkungan digital secara sehat dan bijaksana.

Foto : © theonlinemom.com

Foto : © theonlinemom.com

Di laman EDU POST,  Psikolog Elisabeth Santosa menyebutkan orang tua zaman digital seperti sekarang ini sebaiknya membatasi penggunaan gadget oleh anak-anak mereka. Orang tua tidak boleh membiarkan anak menggunakan gadget hingga berjam-jam lamanya tanpa batas waktu yang jelas.

Saran serupa juga disampaikan Dr.Jesus Pujol, seorang peneliti dari Spanyol. Jesus menyebutkan bahwa meskipun gim video berpengaruh baik, tetapi harus dikombinasikan dengan aktivitas fisik di luar ruang. Ia melakukan penelitian akan manfaat positif gim ini terhadap 2.442 anak berusia 7-11 tahun di Barcelona, Spanyol.

Rata-rata anak bermain gim video 4 jam seminggu. Anak laki-laki menghabiskan 1,7 jam lebih lama dalam sepekan dibanding anak perempuan.

BACA JUGA :  "Saat WN Tiongkok Jadi Petani, Terapis Kecantikan Hingga Tinggal di Rumah Mewah"

Secara umum, anak yang hobi main gim video tidak menunjukkan masalah perilaku dibanding yang tidak main. Tetapi, makin banyak waktu yang dihabiskan di depan layar, orangtua melaporkan adanya masalah perilaku.

Anak yang bermain gim video 9 jam seminggu memiliki gangguan perilaku yang lebih terlihat dibanding yang durasi permainannya lebih singkat.

 

Foto : © digitalbookworld.com

Foto : © digitalbookworld.com

Dalam soal pilihan media dan tayangan yang sehat untuk anak, begitu juga. Elizabeth menyarankan orang tua agar selektif dalam memilihkan media atau tayangan yang tepat dan aman bagi anak.

Kehadiran multimedia di zaman sekarang seperti teknologi televisi, musik, media sosial dan internet, sulit dihindari oleh anak-anak.

Hal yang penting bagi orang tua adalah memilihkan mana yang sesuai dengan umur mereka.

Terkait dengan media sosial, Ainun Chomsun, seorang digital influencer, menyarankan agar orang tua menjadi teman anak di media sosial, seperti Facebook, Path atau Instagram.

“Jadilah teman anak di media sosial, jadi bisa tahu apa yang terjadi sama mereka,” ujar Ainun seperti dilansir KOMPAS.

Selain semua tip di atas, orang tua juga tetap wajib menyediakan waktu yang berkualitas bersama anaknya setiap hari meskipun sudah berhubungan dengan anak-anak mereka lewat telepon, email dan media sosial.

Semua anak membutuhkan waktu berkualitas bersama orang tuanya. Seorang anak yang waktunya kurang bersama orang tua akan tumbuh dengan emosi yang tak stabil.

Anda bisa menyediakan waktu dengan anak Anda pada waktu yang bisa Anda tentukan sendiri, entah itu sore hari, pagi hari, atau malam hari.

Dilansir dari laman Banua Sehat,  sore hari adalah waktu yang baik untuk menghabiskan waktu bersama anak. Waktu sore adalah waktu yang baik untuk bermain bersama, berbicara bersama, makan malam bersama sebelum kembali tidur.

Foto : © uhaweb.hartford.edu

Foto : © uhaweb.hartford.edu

Jika Anda biasa bekerja sampai malam, bisa berbagi waktu bersama anak di waktu lain.

Mendidik anak di era digital berarti mendampingi mereka agar dapat menerima manfaat berbagai peralatan canggih yang ada secara optimal.

Sebenarnya tidak sedikit manfaat yang bisa didapatkan dari perkembangan teknologi yang ada dan bisa dimanfaatkan anak. Misalnya dia bisa belajar lebih tentang pelajaran yang dipelajarinya di sekolah menggunakan internet.

Dengan mendampinginya, orang tua dapat mencegah anak untuk mengakses yang tidak diinginkan serta mencegah dari penggunaan yang berlebihan. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook