Hubungi kami di

Histori

“Melempar Waktu ke Tanjungpinang Masa Lalu”

ilham kurnia

Terbit

|

Suasana di tepi laut kota Tanjungpinang (sekarang Melayu Square, pen) pada masa silam, © pinang-community.blogspot.com

GAYA Belanda membangun kota lama Tanjungpinang menurut Adi Pranadipa, seorang penulis di blog umrah.ac.id, serupa dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Sir Ebenezer Howard dari Inggris.

Konsep Garden City sendiri, dicetuskan pada tahun 1898 oleh Sir Ebenezer Howard di Inggris Raya. 

Garden City menurut Sir Ebenezer Howard adalah bagaimana sebuah pemukiman dalam kota itu dirancang secara terencana yang dikelilingi “sabuk hijau”, terdiri dari kawasan permukiman, industri dan pertanian yang tersebar merata.

Sebuah dokumentasi foto lama Tanjungpinang tahun 1910, koleksi Tropen Museum yang berjudul Straatgezicht met de protestantse kerk en de ingang van een moskee, Tandjong Pinang, memperlihatkan penataan kota ini yang begitu asri dan hijau.

Kota Tanjungpinang tempo dulu di tahun 1910 dengan latar di kejauhan gereja Ayam, © wikipedia

Di foto itu masih terlihat bentuk awal Gereja Ayam (belakang KFC di masa sekarang), jalan yang kini menjadi jalan dekat GOR Kacapuri. Kemudian bisa dilihat tangga dan pagar Masjid Keling (lokasi masjid Agung Al-hikmah masa kini) dengan rimbunnya pepohonan kala itu.

Nama lain dari Gereja Ayam ini adalah gereja Bethel.

Gereja Bethel di masa lalu, © kemdikbud.go.id

Serupa dengan sabuk hijau yang dikonsep oleh Ebenezer Howard melalui garden city movement menurut Adi Pranadipa.

Melalui foto bertajuk Residentswoning (links) te Tandjoengpinang (Tempat Tinggal Residen) yang diakses melalui laman Digital Collections Perpustakaan Universitas Leiden, Sabuk Hijau itu kentara sekali.

Sampai masa kini pun, hasil pembangunan konsep garden city oleh Belanda itu masih bisa dirasakan.

Bangunan Arsitektur Masa Lampau

SAMPAI hari ini, kita masih bisa menyaksikan banyak peninggalan arsitektur kolonial warisan arsitektur Indische (indis) di seputaran kota tua Tanjungpinang.

Seperti Gedung Daerah Tanjungpinang (walau sudah terlalu banyak berubah, pen), sekolah Belanda yang kini menjadi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Gereja Ayam di jalan Gereja, Rutan Tanjungpinang, Sampiterne (SD/SMP Bintan) serta beberapa lainnya.

Gedung Daerah Tanjungpinang pada masa pemerintahan Hindia Belanda, © pinang-community.blogspot.com

Selain arsitektur Indis, tinggalan arsitektur pecinan di Jalan Merdeka juga mewarnai kota lama Tanjungpinang. Seperti Klenteng Tien Hou Kong (Vihara Bahtera Sasana) yang dibangun tahun 1857.

Vihara Bahtera Sasana di Tanjungpinang, © Kemdikbud

Arsitektur warisan pecinan juga sangat khas di kawasan Jalan Merdeka. Umumnya menggunakan bentuk jendela Jalusi yang umum digunakan di daerah tropis.

Sepanjang jalan di kota tua Tanjungpinang, kita tetap bisa menjumpai bangunan-bangunan bercat usang yang bentuknya mirip satu sama lain.

Sejak pemekaran wilayah, kota tua Tanjungpinang memang tidak seramai dahulu.  Tapi justru membuat nyaman saat kita ingin mengeksplorasinya.

Bioskop Gembira pada masa silam di jalan Teuku Umar Tanjungpinang

Satu hal yang menarik dari kota tua ini yakni, toko-toko di sini masih menjual barang yang serupa puluhan tahun lalu.

Mulai bahan pokok, ikan asin, dan mainan anak-anak. Juga dengan kedai-kedai penjual makanan, rasa dan kenikmatannya masih terjaga meski sudah berusia puluhan tahun silam.

Dulunya, kota tua Tanjungpinang merupakan kota pelabuhan yang sangat ramai. Tak heran ditempat ini banyak etnis yang tinggal seperti China, Melayu, India, Arab yang hidup rukun.

Sejarah Tanjungpinang

BERDASARKAN Sulalatus Salatin, Tanjungpinang merupakan bagian dari Kerajaan Malaka. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka.

Kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum diambil alih oleh Belanda setelah mereka menundukkan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di Pulau Penyengat.

Pada masa Hindia Belanda, Tanjungpinang merupakan pusat pemerintahan Karesidenan Riouw. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi ibu kota Provinsi Riau.

Pada tahun 1957, Tanjungpinang menjadi ibu kota Provinsi Riau. Namun dua tahun kemudian ibu kota propinsi itu dipindahkan ke Pekanbaru. Setelah itu statusnya menjadi Kota Administratif hingga tahun 2000.

Suasana di jalan Merdeka Tanjungpinang tahun 1956, © pinang-community.blogspot.com

Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2001, pada tanggal 21 Juni 2001 statusnya ditingkatkan menjadi Kota Tanjungpinang. Pusat pemerintahan yang semula berada di pusat Kota Tanjungpinang, kemudian dipindahkan ke Senggarang (bagian utara kota). 

Hal ini bertujuan untuk pemerataan pembangunan serta mengurangi kepadatan penduduk yang selama ini berpusat di Kota Lama (bagian barat kota). Pada tahun 2002, Kota Tanjungpinang kembali menjadi ibu kota provinsi, yakni Provinsi Kepulauan Riau.

(*/nes)









Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook