Hubungi kami di

Khas

Memahami Makna Nyala Lilin Di Vihara Pada Momen Imlek

Terbit

|

Lilin-lilin di ruang sembahyang di Vihara Samudra Dharma (Cui Kao Pekong Keng) di Tiban Mentarau, Kecamatan Sekupang, Batam, Foto : © GoWest Indonesia

SUSUNAN lilin yang memenuhi ruang sembahyang di Vihara Samudra Dharma (Cui Kao Pekong Keng) di Tiban Mentarau, Kecamatan Sekupang, Batam nampak cukup menarik.

Lilin-lilin berwarna merah, mulai ukuran kecil hingga lilin besar sampai setinggi sekitar dua meter tertata rapi diantara kelengkapan sembahyang umat Budha di vihara yang telah berusia hampir 30 tahun ini.

Ada lilin yang telah menyala, namun ada juga yang belum dinyalakan. Lilin-lilin yang belum menyala ini disediakan pengelola vihara untuk para jemaah.

Di setiap momen imlek, stok lilin yang disediakan pihak vihara akan lebih banyak dibanding hari biasanya. Untuk lilin dengan ukuran yang paling besar yang dihargai sekitar Rp 3.800.000 per batangnya, disiapkan antara 30 sampai 50 batang pada momen Imlek 2020 ini.

Semakin kecil ukuran lilin, stok yang disiapkan semakin banyak, menyesuaikan dengan kecenderungan umat yang lebih banyak menyalakannya.

“Kami sediakan dari yang paling besar sampai lilin kecil yang dibayar sukarela. Tapi tidak semua umat pasang lilin, kami sediakan bagi yang ingin menyalakan,” kata Ahua, pengelola vihara yang ditemui di sana.

BACA JUGA :  Anak Yatim Panti Asuhan Miftahul Ulum Bida Asri I Dapat Santunan dari BKDI BP Batam

Umat yang datang dan menyalakan lilin di vihara ini, kata Ahua lagi, tidak hanya masyarakat lokal saja, warga negara asing (WNA) dari Singapura dan Malaysia juga sering datang dan berkunjung. Mereka juga ikut menyalakan lilin yang didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur (Jatim) ini.

Lilin-lilin ini akan dinyalakan mulai pagi saat vihara dibuka hingga malam harinya sampai vihara ditutup, begitu seterusnya.

Seperti fungsi lahirnya sebagai penerang, umat Budha yang menyalakan lilin di vihara, merupakan simbol semangat dan peran dirinya yang disampaikan untuk menerangi kehidupan, menebar manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Di tempat terpisah, Humas Vihara Duta Maitreya Monastery, Alvin Oyolanda menjeaskan, lilin sudah sejak dulu digunakan sebagai alat penerangan di vihara.

Pada dasarnya nyala lilin di vihara hanyalah simbol, alat yang dipakai untuk menunjukan kalau setiap orang mempunyai lilin di dalam diri mereka. Kesadaran ini, diperlukan agar semua orang bisa berlomba-lomba menebar kebaikan.

BACA JUGA :  Inovasi Mobile Medical Chek Up (Mobile MCU) RSBP Raih Penghargaan IMF 2019

“Setiap orang punya satu lilin juga yang tidak nampak. Ini yang tidak kalah hebatnya bahkan ini yang paling dibutuhkan. Orang memancarkan kehidupan dengan hati nurani mereka, hidup tentu akan bahagia. Dan orang lain akan merasakan kehadiran mereka,” kata Alvin.

Nyala lilin di vihara ini juga menunjukkan semangat untuk meneladani kepribadian orang-orang suci, para Budha yang menebar kasih, menggugah cinta kasih tanpa membedakan ras, suku, agama, bahasa, budaya, dan sebagainya.

Alvin melanjutkan, api yang bersumber dari nyala lilin adalah bagian dari lima unsur yang membentuk kehidupan, yakni logam, kayu, air, api, dan tanah. Kelimanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Sebaliknya unsur-unsur ini hadir untuk saling melengkapi tanpa meninggikan unsur manapun.

Lebih jauh, di momen Imlek ini, Alvin mengaku semangat menyalakan lilin tentu lebih tinggi dari hari-hari biasanya. Sama seperti nyala lilin yang terus menerus ada di tiap vihara, semangat untuk menebar kebaikan juga akan terus ada.

*(bob/GoWestId)

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid