Hubungi kami di

Catatan Netizen

Never Forget 11/9 | 10 hari Mencekam di Kota New York

Terbit

|

Mardiana Handayani. Poto: Instagram @mth183.

SERANGAN 11 September 2001 (9/11) atau Peristiwa Selasa Kelabu adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target penting dikota New York City dan Washington, D.C., AS, pada 11 September 2001. Dua puluh tahun sudah peristiwa yang didalangi kelompok “teroris” Al Qaeda dan menghancurkan simbol negara adidaya itu terjadi.

Peristiwa paling terburuk dalam sejarah negeri Paman Sam ini, tidak hanya akan diingat dan dikenang oleh warga AS saja, namun juga oleh warga diluar AS. Seperti halnya yang dialami oleh Mardiana Handayani, seorang perempuan warga Indonesia mantan Cabin Crew Korean Air yang saat ini menetap di Rotterdam, Belanda, bersama keluarganya.

Ia menceritakan pengalamanya yang paling mencekam selama 23 tahun berkarier diperusahaan penerbangan asal Korea Selatan tersebut di jejaring sosial Instagram (IG) @cabincrewmenulis.

GoWest Indonesia mengutipnya yang disajikan dalam rubrik Catatan Netizen untuk anda. Selamat membaca.


DARI semua pengalaman terbang selama 23 tahun di Korean Air, cerita ini merupakan kenangan yang tidak bisa saya lupakan.

Kejadian yang sangat mencekam luarbiasa dan seluruh dunia mengetahuinya, tepatnya tanggal 11 September 2021.

Kejadian serangan bom oleh teroris di World Trade Centre, Twin Tower yang sangat terkenal dan merupakan Icon kota New York pada saat itu, yang telah menimbulkan banyak korban jiwa.

Pada saat itu, saya mendapatkan Schedulle terbang ke New York 4 hari 3 malam.

Biasanya schedulle long flight itu 8 hari mulai berangkat dari CGK-ICN-JFK-ICN-CGK. Kami tiba di New York tengah malam tanggal 8 September 2001 waktu setempat.

Pada hari pertama 9 September, saya menghabiskan waktu di hotel saja, keluar hanya sekedar untuk membeli makanan.

Perbedaan waktu membuat jam tidur terganggu. Saya masih merasakan jet lagged.

Hari kedua, saya berniat untuk pergi shopping dan melihat keindahan WTC Twin Tower.

Gedung ini merupakan gedung tertinggi dengan 110 lantai, yang konon terkenal sekali dan menjadi salahsatu icon New York selain Empaire State Building dan Liberty Statue.

BACA JUGA :  "WhatsApp Gratis, Dibayar Dengan Data Kita"

Saat itu saya layover bersama 2 orang senior, orang Indonesia juga. Kami memutuskan pergi ke WTC Twin Tower tanggal 10 September, tepat 1 hari sebelum kejadian serangan bom oleh teroris.

Salahsatu sudut dilantai dasar World Trade Centre, New York. Poto: Instagram @mth183

Kami menghabiskan waktu seharian disana. Dilantai dasar gedung terdapat shopping mall yang sangat besar.

Awalnya kami ingin menaiki lantai paling atas gedung. Tapi karena melihat antrian pengunjung yang sangat panjang, maka kami mengurungkan niat. Dari atas gedung itu kita bisa melihat keindahan kota New York.

Singkat cerita, kami kembali ke hotel setelah menghabiskan waktu di gedung WTC tersebut.

Keesokan hari, tanggal 11 September jam 10 pagi jadawal kami leaving hotel dan terbang kembali ke Korea.

Saya bersiap dandan sambil menonton televisi yang sedang siaran Live dimana memperlihatkan pesawat terbang yang mendekati WTC.

Dalam hati saya heran, mengapa pesawat terbang sedekat itu kearah gedung?

Beberapa saat kemudian, saya melihat langsung dari TV ketika pesawat mulai menabrak pinggiran salahsatu gedung WTC. Keadaan mulai terasa mencekam.

Saya masih merasa heran tapi tetap meneruskan bersiap-siap untuk leaving dari hotel.

Tak lama kemudian telepon dikamar saya berdering. Chief Purser kami mengabarkan penerbangan akan mengalami keterlambatan sampai info lebih lanjut.

Kembali saya meneruskan menonton TV. Perasaan saya campur aduk, melihat kejadian pesawat yang terlihat sengaja menabrakan dirinya ke gedung WTC.

Saya menyaksikan langsung bagaimana orang-orang panik berhamburan keluar dari gedung setinggi itu dengan menerjunkan diri mereka.

Sampai pada akhirnya saya sadar, kita sedang diserang oleh teroris.

Hari itu banyak sekali orang berkumpul di hotel tempat kami menginap, tepatnya di Manhattan, pusat kota New York.

Tampak raut wajah penuh dengan rasa kecemasan, ketakutan yang sangat tinggi. Begitu juga dengan saya dan teman-teman Crew.

Poto salahsatu sudut kota New York dengan latar belakang menara kembar WTC. Poto: Instagram @mth183

Kami semua panik, bingung. Apalagi kami mendengar rumor Empire State Building yang letaknya tepat bersebelahan dengan hotel kami menginap itu, akan menjadi target sasaran teroris selanjutnya.

Jam 2 dinihari, pihak hotel mengharuskan kami meninggalkan hotel karena issue bahwa Empire State Building akan diserang.

BACA JUGA :  Efek Wabah Covid-19, Pelayaran di Pelabuhan Domestik Terlihat Sepi

Kami semua panik berlarian. Berebut masuk lift ingin segera lari meninggalkan hotel.

Tanpa pikir panjang, masih mengenakan pakaian tidur, saya membawa Paspor dan ID Card berlari keluar hotel. Kami berlari menjauh sekitar 7 blok dari hotel.

Dalam hitungan jam, gedung WTC runtuh hancur lebur karena ternyata ada 2 pesawat yang sengaja menabrakan diri ke gedung tersebut, sehingga pondasi gedung menjadi luluh lantak.

Kota New York yang terkenal sebagai kota tidak pernah padam, saat itu langsung mencekam seperti kota mati.

Jadwal kami akhirnya diperpanjang karena semua bandara di Amerika ditutup.

Saya termenung. Sehari sebelum kejadian teroris itu, kami berada disana seharian. Saya membayangkan, andai kejadian teror itu terjadi sehari sebelumnya, pada tanggal 10 September.

Masya Allah, dengan kuasa dan kehendak Nya, saya masih menikmati kehidupan, Alhamdulillah.

Sambil berlari saya terus berdo’a. Beberapa jam kemudian kami diperbolehkan kembali ke hotel. Dengan pesan dari pihak hotel dan Chief Purser untuk tetap selalu meingkatkan kewaspadaan dan memperhatikan instruksi yang disampaikan oleh pihak hotel dan selalu siap berjaga-jaga.

Selama 10 hari layover kami diperpanjang, kami stay di New York dengan penuh rasa ketakutan.

Uang bekal kami semakin menipis. Kartu kredit juga tidak dapat digunakan lagi. Kami hanya dapat menunggu sampai keadaan benar-benar aman dan bandara di Amerika siap untuk dibuka kembali.

Akhirnya kamipun dapat terbang pulang kembali ke Korea.

Kota New York lumpuh dan terasa mencekam.

Tak henti saya mengucapkan syukur. Karena saya masih diberi kesempatan hidup sama yang maha kuasa, saat mengalami sendiri kejadian mencekam saat itu.

Ini adalah pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan bagi saya.

Kejadian tersebut jadi pengingat, bahwa siapa saja, diman saja dan kapan saja kita harus selalu berhati-hati dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa. (*)

Seperti yang diceritakan oleh Mardiana Handayani, mantan Cabin Crew Korean Air, yang ditulis di Instagram @cabincrewmenulis

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook