Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Ribuan Srikandi ikuti gerak jalan 8 Kilometer di Tanjungpinang
    15 jam lalu
    Suhu Batam dan Karimun Tembus 32°C, Angin Kencang Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Kepri
    15 jam lalu
    Lahan Tiga Hektare di Kawasan Barelang Hangus Terbakar
    16 jam lalu
    Warga Temukan Kerangka Manusia di Sei Ladi
    2 hari lalu
    PTSP BP Batam Siapkan Standar Pelayanan 2026
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Jalan Kaki itu Membahagiakan
    16 jam lalu
    Anggaran Pendidikan Rp 820,9 Triliun Belum Sentuh Kesejahteraan Guru
    2 hari lalu
    Siswa SDN 005 Teluk Sebong Diajak Lebih Pede Lewat Kegiatan Literasi
    2 hari lalu
    IPB, UGM, dan University of Melbourne Gelar Program Kuliah Pertanian Lintas Negara
    3 hari lalu
    Tour de Bintan 2026 Kembali! 800 Pesepeda dari 42 Negara Adu Kecepatan di Lagoi Bay
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Gedung Beringin, Batam
    14 jam lalu
    Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
    5 hari lalu
    Inflasi Kota Batam Juli 2026 Stabil di Angka 3,49 Persen
    6 hari lalu
    Bandar Udara Raja Haji Abdullah, Karimun
    1 minggu lalu
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Pekatnya Riwayat Cokelat

Editor Admin 4 tahun lalu 928 disimak

TAK hanya disukai anak-anak, cokelat juga digemari orang dewasa. Belum lama ini cokelat menjadi sorotan lantaran kasus pencurian cokelat di Alfamart Sampora, Cisauk, Kabupaten Tangerang, yang ramai diperbincangkan publik.

Cokelat memiliki sejarah yang panjang. Mengutip Britannica, pohon kakao dibudidayakan lebih dari 3.000 tahun yang lalu oleh suku Maya, Toltec, dan Aztec. Bahkan, suku Maya menganggap cokelat sebagai makanan para dewa.

Adrianna Morganelli dalam The Biography of Chocolate menjabarkan proses pembuatan cokelat yang dilakukan Suku Maya. Mulanya biji kakao difermentasi dan dikeringkan, setelah itu dipanggang di atas api. Selanjutnya kacang digiling menjadi pasta cokelat dengan cara dihancurkan menggunakan batu kecil yang disebut mano pada permukaan batu yang disebut metate.

“Mereka juga menambahkan air, cabai, rempah-rempah, madu, dan vanila ke dalam pasta lalu menuangkan adonan campuran itu bolak balik dari cangkir ke panci sampai buih tebal terbentuk di atasnya,” tulis Morganelli.

Seperti suku Maya, orang-orang Aztec juga menganggap cokelat sebagai benda penting. Mereka kerap membuat minuman cokelat berbusa seperti suku Maya. Tak jarang mereka menambahkan tepung jagung dan wine ke dalam minuman yang disebut chocolatl tersebut.

Namun, kondisi wilayah yang kering membuat mereka kesulitan menanam pohon kakao. Oleh karena itu, mereka membelinya dari suku Maya. Tak hanya mengolah biji kakao menjadi minuman, mereka juga menggunakannya sebagai mata uang.

Cokelat sampai ke Eropa setelah diperkenalkan oleh Christopher Colombus. Dia membawa segenggam biji cokelat ketika kembali ke Spanyol dari pelayaran terakhirnya di Kepulauan Karibia pada 1502. Meski begitu minuman cokelat belum populer di Spanyol. Minuman itu baru tersohor 20 tahun kemudian setelah conquistador Hernán Cortés mempopulerkan minuman cokelat pahit Montezuma.

Pada 1528, Cortés kembali ke Spanyol dan menunjukkan biji kakao kepada raja Spanyol. Ia menjelaskan proses pembuatan minuman cokelat yang diolah dari biji kakao. Tak butuh waktu lama untuk cokelat menjadi minuman populer di Spanyol.

“Selama hampir 100 tahun Spanyol merahasiakan sumber cokelat karena besarnya keuntungan yang didapat Spanyol sebagai satu-satunya pemasok cokelat ke Eropa,” tulis Morganelli.

Awalnya orang-orang Spanyol mengolah cokelat sebagai minuman dingin. Mereka menggunakan metode pembuatan cokelat yang dilakukan orang Mesoamerika dengan menggunakan alat kayu berukir yang disebut molinillo. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Spanyol mulai menyajikan minuman cokelat panas. Mereka menambahkan gula ke dalam minuman untuk mengurangi rasa pahit.

Pada masa itu, biji kakao dan gula merupakan komoditas impor yang mahal. Oleh karena itu hanya orang-orang kaya yang dapat membelinya. Selain gula, orang-orang Spanyol juga menambahkan vanila, rempah-rempah, jeruk hingga kayu manis ke dalam minuman cokelat untuk menambahkan rasa. Sebagai negara pertama di Eropa yang mengenal cokelat, Spanyol juga menjadi negara pertama yang mengontrol perdagangan kakao antara Eropa dengan Amerika.

Cokelat merambah negara-negara Eropa lain seperti Italia, Austria, dan Belanda pada abad 17. Pada 1615, saat pernikahan putri Spanyol, Putri Anne dari Austria dengan Raja Prancis Louis XIII, biji kakao diperkenalkan kepada orang-orang Paris.

Cokelat juga sampai ke Inggris. Ditandai dengan dibukanya toko cokelat pertama di London pada 1657. Tempat yang disebut rumah cokelat itu menjadi primadona di kalangan orang-orang kaya. Rumah cokelat kemudian banyak berdiri dan populer karena pengunjung tak hanya menikmati cokelat panas, tetapi juga dapat bermain kartu, makan, bersosialisasi, hingga mendiskusikan politik.

Setelah harga biji kakao lebih terjangkau, minuman cokelat lambat laun dapat dinikmati oleh para pedagang dan warga biasa. Inilah yang membuat cokelat menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.

Cokelat Masuk Indonesia

Orang-orang Eropa sangat menyukai cokelat. Namun, karena Spanyol mengontrol perdagangan biji kakao di Eropa dan Amerika, negara-negara di Benua Biru mulai mencari tahu dari mana cokelat berasal. Mereka ingin mempunyai perkebunan kakao sendiri sehingga tak perlu membeli dari Spanyol.
Morganelli menulis, pada 1560 pelaut Belanda membawa pohon kakao dari Venezuela ke wilayah koloni mereka di Sulawesi, Indonesia.

Pada 1620-an, Belanda telah memiliki perkebunan kakao di daerah lain di Indonesia, Venezuela, serta koloni mereka di Karibia. Sementara itu, Inggris memiliki perkebunan kakao di Ceylon (Sri Lanka) dan mengirimkannya ke negara-negara Eropa. Prancis juga mulai menanam pohon kakao di St. Lucia yang berada di Karibia dan Madagaskar di wilayah Afrika.

Kegiatan eksplorasi dan kolonisasi yang dilakukan negara-negara Barat membuat penyebaran cokelat kian luas. Ross F. Collins dalam Chocolate: A Cultural Encyclopedia menulis, salah satu pabrik cokelat pertama di dunia dibuka di Dorchester, Massachusetts, Amerika Serikat, pada 1765.

Menurut Britannica, pembangunan pabrik pembuatan cokelat itu dibiayai oleh James Baker. Pabrik pembuatan cokelat itu kemudian dioperasikan oleh John Hannon, seorang imigran Irlandia yang dikenal sebagai pembuat cokelat. Pabrik tersebut menggunakan tenaga air untuk menggiling biji cokelat.

Setelah revolusi industri, bisnis cokelat berkembang pesat. Dalam Dark Chocolate Healing karya Pangkalan Ide, disebutkan produksi cokelat terus bergeliat di wilayah Eropa. Francois Louis Cailler salah satunya. Pelopor pembuatan cokelat Swiss ini membuka pabrik cokelat yang beroperasi menggunakan mesin yang ia ciptakan sendiri di dekat Vevey di Danau Geneva pada 1819.

Sebelumnya minuman cokelat diberi gula atau kayu manis untuk menambahkan rasa dan mengurangi rasa pahit. Pada 1828, Coenraad van Houten, ahli kimia dan produsen cokelat di Amsterdam, Belanda mematenkan penemuannya yang mengubah cokelat dari minuman menjadi permen atau manisan.

“Dia menemukan proses membuat bubuk cokelat dengan menggunakan tekanan hidrolik untuk memindahkan hampir setengah mentega cocoa dari cairan cokelat. Ini mengurangi kandungan lemak dari 50 persen menjadi 25 persen, dan membuat adonan keras yang bisa dibuat bubuk,” tulis Pangkalan Ide.

Untuk membuat bubuk lebih mudah dicampur dengan air hangat, Van Houten menambahkan garam alkali yang juga membuat warnanya menjadi lebih gelap dan menghilangkan sedikit rasa pahit. Proses ini kemudian dikenal dengan sebutan dutching.

Menurut Britannica, pada 1847 perusahaan Inggris Fry and Sons mulai memproduksi cokelat manis dengan menggabungkan mentega kakao dengan cairan cokelat dan gula. Di tahun itu pula cokelat batang pertama di Inggris dijual oleh Fry and Sons.

Kehadiran cokelat batangan kian meramaikan bisnis cokelat di Eropa. Collins menyebut setelah cokelat batang mulai dijual pada 1847, seorang pengusaha Swiss, Daniel Peter, menggunakan susu bubuk buatan Henry Nestle untuk mengembangkan cokelat susu batangan pertama.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Cokelat, Eropa, suku maya
Admin 21 Agustus 2022 21 Agustus 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya “Bertemu Ahmad Surya, Tupoksi Legislatif Hingga Pemilu 2024” | NGOBROL EVERYWHERE (Trailer)
Artikel Selanjutnya Dorong Pemulihan Ekonomi di Tanjungpinang Lewat Festival Kopi Merdeka

APA YANG BARU?

Gedung Beringin, Batam
Infrastruktur 14 jam lalu 163 disimak
Ribuan Srikandi ikuti gerak jalan 8 Kilometer di Tanjungpinang
Artikel 15 jam lalu 160 disimak
Suhu Batam dan Karimun Tembus 32°C, Angin Kencang Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Kepri
Artikel 15 jam lalu 150 disimak
Lahan Tiga Hektare di Kawasan Barelang Hangus Terbakar
Artikel 16 jam lalu 196 disimak
Jalan Kaki itu Membahagiakan
Catatan Netizen 16 jam lalu 161 disimak

POPULER PEKAN INI

Upacara dan Pawai Meriahkan HUT ke-81 RI di RW 20 Perumahan Cipta Permata
Artikel 6 hari lalu 813 disimak
BMKG Batam:”Hari Ini dan Besok, Cuaca Kepri Cerah Berawan”
Artikel 3 hari lalu 409 disimak
Basri DPO Kasus Narkoba Batam Diduga Kabur ke Malaysia
Artikel 5 hari lalu 390 disimak
Kodrat Batam Siapkan 17 Atlet ke Porprov Kepri, Target Pertahankan Juara Umum
Sports 5 hari lalu 358 disimak
Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
Statistik 5 hari lalu 317 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?