Hubungi kami di

Pop & Roll

Suami Takut Istri? Ini 7 Penyebabnya Menurut Survei!

iqbal fadillah

Terbit

|

KATANYA, banyak suami yang gengsi mengakui kalau dirinya takut istri. Padahal, jika Kamu takut istri, ternyata Kamu tidak sendirian, lho. Tak heran jika sebutan “ISTI” alias Ikatan Suami Takut Istri, populer sebagai becandaan di kalangan para suami.

Meski sering menjadi guyonan, namun sesungguhnya jika ada suami yang takut istri bukanlah hal yang lucu. Sepasang manusia yang terikat pernikahan, tapi dihantui rasa takut sosok yang satu atas sosok yang lain, bukanlah relasi yang sehat.

Demikian juga sebaliknya, jika dalam sebuah relasi pernikahan ada istri-istri yang takut pada suami mereka, itu merupakan relasi yang tak sehat juga. Entah karena suaminya kasar, mengidap masalah psikologi, atau bahkan suka melakukan kekerasan.

Sebuah survei yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 1.000 orang suami sebagai responden seperti dikutip dari Boldsky mengungkapkan hal itu.  Bahkan sejumlah pria mengaku untuk pulang kantor dan bertemu istrinya di rumah saja, mereka takut.

Dari survei itu terungkap, ada sederet ketakutan yang dialami suami atas istri-istri mereka.

  1. Takut Berargumen

 

Para suami yang mengalami ketakutan untuk pulang dari kantor, kemudian bertemu istri mereka di rumah umumnya merasa malas berargumen, menghindari ledakan emosional, atau pun mengalami hal yang dramatis setelah mengalami tekanan-tekanan di tempat kerja.

Kecenderungan ini terjadi, ketika suami memiliki istri yang berkarakter tak mudah percaya, mudah curiga, atau pencemburu. Akibatnya untuk sebuah jawaban, suami harus banyak berargumen atau malah terpaksa berbohong demi meyakinkan istrinya bahwa jawaban atas pertanyaan istrinya memang benar.

2. Kepribadian Narsistik

Dalam sebagian besar kasus, suami mengalami ketakutan yang intens ketika istrinya menampilkan gejala gangguan kepribadian narsistik. (Ini berlaku untuk laki-laki juga. Seorang pria yang menderita gangguan kepribadian mungkin menyulitkan istrinya).

Kepribadian narsistik ini ditandai dengan menganggap diri hebat, istimewa, paling sukses, dan senantiasa membutuhkan pujian serta sanjungan. Dampak buruk dari kepribadian narsistik adalah cenderung menganggap orang lain lebih rendah daripada dirinya.

BACA JUGA :  Lho, Bono "U2" Diberi Penghargaan "Women of The Year"?

3. Memendam Masalah

Masalah lain yang diungkapkan oleh responden survei adalah bahwa mereka harus memendam masalah di dalam diri mereka. Tidak ada cara lain untuk melampiaskan keluar.

Ini bisa jadi karena orang menuntut atau mencitrakan suami untuk tetap kuat, tidak menangis atau merasa lemah. Jadi, mereka ketakutan jika menceritakan permasalahan yang dialaminya, dan cenderung memilih memendam sendiri tanpa memberitahu teman-teman mereka.

4. Pasangan yang Pemarah

Ketika istri (atau suami) dicekam kemarahan, pasangannya mungkin mengalami stres yang intens dan kecemasan karena sekresi kortisol dan adrenalin.

Akibat produksi dan reaksi kortisol dan adrenalin yang berlebih, tubuh mengalami banyak perubahan kimia untuk mempersiapkan diri menangkis serangan atau situasi kritis.

5. Merasa Terjebak

Fase yang paling mengkhawatirkan dari berumah tangga dengan rasa ketakutan terhadap istri, adalah ketika suami (atau istri) sudah merasa terjebak dan tak menemukan jalan keluar dari persoalan ini.

Tinggal dan merasa terjebak terlalu lama dalam hubungan yang kasar, sangat tidak sehat terutama karena efek berbahaya dari stres, kecemasan dan depresi.

6. Mencari Sumber Masalah

Jika Kamu dihantui oleh perasaan dan pikiran takut istri (atau suami), lebih baik untuk pertama mengetahui alasan di balik ketakutan Kamu.

Apakah yang Kamu takuti dari pasangan adalah kemarahannya, kekerasan, potensi konflik, kerusakan atau sesuatu yang lain?

7. Libatkan Pihak Ketiga

Setelah Kamu mengetahui apa yang menakutkan, cobalah untuk berbicara dengan pasangan tentang hal itu dan mencari bantuan. Jika pasangan bereaksi emosional, Kamu mungkin perlu bantuan dari pihak ketiga. Dia bisa keluarga, sahabat, atau teman dekat. Yang penting, sosok orang ketiga ini harus dipercaya oleh kedua belah pihak.

Kalau pun Kamu tak menemukan sosok orang ketiga yang seperti itu, tak ada salahnya mempertimbangkan konseling ke psikolog atau konsultan pernikahan.  ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook