“Di sebuah pantai yang tidak berpenghuni, kami harus mencari tempat berteduh, demi menghindari badai dan hujan yang lebat. Setelah sempat basah kuyup, kami menemukan sebuah tempat berteduh setelah berjalan beberapa lama. Ternyata ada sebuah kampung di sini.”
…
“Melalui orangnya di sampan panjang itu, Sultan sekaligus memberi tahu kami; ia akan menyusul hari ini untuk bersama-sama menuju Sungai Cukas.” (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)
Oleh: Bintoro Suryo
ARTIKEL ini merupakan lanjutan Bagian 7 dari seri Jejak J.E. Teijsmann di Negeri Segantang Lada.
Setelah melewati pantai utara Lingga dengan bekal air minum yang buruk dan pertemuan dengan empat sampan “orang laut” Tamboes, catatan JE. Teijsmann membawa kita pada suasana kepulauan Singkep pada Oktober 1872. Rombongan Teijsmann bermaksud kembali menemui Sultan Sulaiman yang sedang berada di lokasi pertambangan Timah Singkep.
Ia mencatat kondisi dan aktifitas tambang timah masa itu di pulau Singkep. Bijih-bijih timah digali hingga kedalaman 55 kaki di bawah permukaan tanahnya. Mesin uap dua piston mulai digunakan walau belum maksimal. Aktifitas tambang masih mengandalkan Kincir-kincir bertenaga alam. Sementara untuk mencuci bijih-bijih timahnya, digunakan tonmolen, sepasang kerbau atau sapi yang memutar tali panjang yang terhubung ke gerobak-gerobak kecil. Prosesnya masih manual dan padat karya. Sebanyak 250 orang Melayu dan 50 orang Tionghoa bekerja di kawasan itu.
Di tengah perjalanan yang penuh ketidakpastian, pada catatan Teijsmann kali ini, ia kembali menjelaskan satu hal yang berulang: kebaikan Sultan Riau Lingga masa itu; Sulaiman II Badrul Alamsyah.
Misalnya, ketika rombongan Teijsmann terdampar di sebuah kampung di Singkep, sementara kapal Moona mereka tak kunjung datang, Sultan tidak tinggal diam. Ia memerintahkan warga memuat perbekalan ke dalam sebuah sampan panjang dan mengirimkannya langsung ke tempat persinggahan. Bantuan itu datang tepat waktu, dan benar-benar menolong.
Sultan sendiri bahkan menyusul dan mengawal haluan sampan rombongan Teijsmann hingga selamat kembali ke Lingga. Sebuah keramahan yang melampaui adat dalam menjamu tamu.
Berikut catatannya pada bagian ketujuh ini.
DI pantai utara, kami menemukan sumber-sumber air minum yang buruk, yang menyebabkan kami diare. Tuan Goldman juga sakit perut. Untungnya, tidak sampai berdampak lebih buruk.
Di pantai ini, kami juga menjumpai ada empat buah sampan “orang laut” atau Tamboes. Mereka sering berkeliaran di perairan sekitar karena menggantungkan penghidupan dari laut.
Untuk kebutuhan meja kami, tuan Goldman telah mengurusnya. Saya memang tidak bisa terlalu berharap banyak pada penduduk di sini, mereka memang tidak memilikinya. Hanya sagu dan ayam dapat diperoleh dari mereka.
Tanggal 12 Oktober 1872, pagi hari cuaca indah. Tetapi kemudian berangin dan hujan.
13 Oktober 1872, malam hari hujan, pagi hari berangin dan selanjutnya langit berawan.
14 Oktober 1872, pagi pukul 10, kami naik kapal — tuan Goldman dan saya — menggunakan kapal Moona yang diikuti sebuah sekoci untuk berangkat ke Singkep dan mengunjungi Sultan. Ia sudah beberapa hari ini berdiam di sana untuk meninjau eksploitasi timah.
Laut tenang, tetapi angin terlalu lemah untuk berlayar, sehingga harus terus-menerus mendayung. Perjalanan laut kami tidak bisa cepat. Kami baru tiba di Singkep malam hari sekitar pukul 8. Kami mendarat di Batu Putih dekat pantai timur.
Bertemu Sultan Lagi di Singkep
TANGGAL 15 Oktober 1872, Pagi pukul 6, kami memulai perjalanan melalui gosong karang yang lebar pada saat air surut kering. Kami turun ke darat dari kapal Moona, berjalan sepanjang pantai. Sampai akhirnya kami tiba di wilayah dengan pantai berpasir, dekat kediaman Sultan. Sementara kapal Moona dan sekoci kami, mengikuti perjalanan ini melalui jalur laut. Mereka tiba hampir dengan kami, sekitar pukul 10.

[J.W. Stemfoort dan J.J. ten Siethoff. Masa pengumpulan data 1883 – 1885. © Arsip perpustakaan Leiden
Sultan menerima kami dengan beberapa anggota keluarganya dan mengantar kami ke sebuah bangunan dekat rumahnya. Bangunan itu terlihat rapi dan sepertinya baru selesai dibangun. Ada perabot yang cukup lengkap. Di dalamnya ada 2 kamar dengan ruang depan dan dalam, dikelilingi dan dipisahkan dengan tikar kajang. Kami benar-benar nyaman di sini.
Sultan sendiri mendiami sebuah bangunan papan kecil tetapi rapi, di mana ia dengan seluruh keluarganya berdiam.
Sore hari pukul 6, kami mengunjunginya. Ia menerima kami, sama ramahnya seperti saat pertemuan di Dai. Kerabat yang menemaninya di sini, lebih banyak didominasi laki-laki. Mereka sepertinya menetap dalam jumlah besar di Singkep ini. Sementara kerabat dari bangsawan Bugis tidak terlihat di sini.
Lokasi, tempat kami berada sekarang, menurut penjelasan Sultan, 25 tahun yang lalu masih laut terbuka. Sekarang, hingga beberapa ratus langkah, telah ditumbuhi pohon kelapa yang tinggi dan sudah berbuah. Lokasi ini telah ditimbun dengan pasir laut hingga berubah menjadi daratan.
Pada kedalaman hingga 55 kaki, terdapat lapisan bijih timah yang tebal, setebal 3,5 sampai 4,5 kaki. Lapisan ini membentang di bawah kawasan ini, sampai ke laut. Sekarang, banyak aktifitas orang yang mencuci bijih timah saat air surut.
Kami juga mengunjungi tambang timah yang terletak di dekatnya, yang sudah mencapai kedalaman 50 kaki. Lokasi tambang itu, awalnya digali seperti cara orang menggali sumur sampai kedalaman 5 kaki. Sebelum sampai pada lapisan timah, air hujan diangkat dengan kincir rantai (kincir) sepanjang 75 kaki.
Sebelumnya menggunakan sebuah mesin uap. Mesin itu menggerakkan pompa dengan bantuan 2 piston. Tetapi karena bobotnya yang besar serta boros bahan bakar, mesin uap itu sekarang tidak lagi digunakan. Untuk sementara, orang memilih kembali bekerja dengan kincir rantai yang digerakkan oleh air yang mengalir.
Ada sebuah mesin lain atau tonmolen. Di sekelilingnya terdapat sebuah tali panjang, yang pada ujung-ujungnya terhubung dengan gerobak kecil. Salah satu bagiannya berputar yang digerakkan oleh sepasang kerbau atau sapi. Aliran sungai dari pegunungan di sekitarnya, mengalir di belakang area pertambangan ini, memberi air berlimpah. Pada ketinggian tertentu, aliran air sungai itu juga dibendung sebelum dilepaskan. Untuk menggerakkan kincir rantai sekaligus untuk mencuci bijih timah.
Sebuah tungku peleburan, sama seperti yang dipakai di Bangka, juga terdapat di sini. Lokasinya berada pada sebuah bangunan terpisah.
Kawasan ini terdiri dari beberapa rumah orang Melayu, juga beberapa gubuk untuk pekerja tambang Tionghoa. Dalam aktifitas pekerjaan tambang ini, jumlah orang Melayu 250 orang dan orang Tionghoa sebanyak 50 orang.
PADA tanggal 16 Oktober 1872, kami, ditemani Sultan, berjalan-jalan di atas dataran bergelombang, di bawahnya bijih timah terkubur. Kemudian, kami tiba di sebuah tambang lain yang sepertinya menjanjikan hasil yang kurang memuaskan. Menurut para pekerja, tambang di sana itu tidak akan menghasilkan banyak bijih timah. Materi yang dicari terkubur pada kedalaman 25 kaki di bawah permukaan dan itu memerlukan biaya serta keras untuk mendapatkannya.
Sebuah tambang ketiga, yang kelihatannya sudah ditinggalkan, sepertinya pernah digarap dengan kerugian. Di sana telah terjadi banyak kasus demam yang dialami para pekerja Tionghoanya. Masih ada sebuah rumah Tionghoa yang berdiri. Sementara sebuah Toapekong kelihatan sudah tidak digunakan dan bekas terbakar. Walau tidak lagi digarap serius, masih ada beberapa orang yang sibuk menggali sisa-sisa untuk mencari bijih timah.
Cakupan Medan yang kami lalui bersama Sultan hari ini, sepertinya merupakan kawasan ujicoba pertambangan timah. Aktifitas tambang yang dilakukan, lebih banyak untuk menguji kadar timah yang terkandung. Termasuk juga ujicoba cara melakukan upaya tambang yang benar sesuai pengetahuan. Untuk ini, Sultan juga terbuka untuk melakukan kerjasama dengan pihak lain termasuk orang Eropa, sepanjang memenuhi syarat yang ditetapkan.
Sore harinya kami berjalan-jalan ke lokasi di dekat pantai, terletak di kampung Dabo yang berada di muara ke arah laut, dekat dengan sungai dengan nama sama. Kampung itu terletak di kedua sisinya dan memiliki area yang cukup luas. Kampung itu terdiri dari rumah-rumah papan orang Melayu dan beberapa orang Tionghoa yang sangat baik.
Area pegunungan terletak jauh dari lokasi kami, sama halnya dengan di Lingga. Di antara lokasi kami dan area pegunungan yang jauh, terdapat hamparan dataran bergelombang yang luas. Tidak ada jalur jalan menuju ke sana.
Kami berpikir, kawasan itu mungkin dapat kami capai melalui jalur berbeda di pesisir lain dari pulau ini.
Tionghoa yang Baik Hati
PADA tanggal 17 Oktober 1872, setelah pagi hari berpamitan dengan Sultan, kami naik ke sekoci. Kapal Moona tidak dapat digunakan karena air surut. Sementara air pasang diperkirakan baru akan terjadi pada sore hari. Rencana yang kami susun; kami berangkat dengan kapal sekoci, sementara kapal Moona akan menyusul pada sore hari, setelah air laut pasang.
Perhitungan dan rencana kami sepertinya salah. Sampai kami kembali lagi ke wilayah ini, kami tidak bertemu dengan awak kapal yang mengemudikan kapal Moona tersebut.
Sementara cuaca berubah cepat, begitu kami berada di laut dengan sekoci. Dari arah timur, mendadak muncul sebuah badai guntur yang hebat. Kami terpaksa mengambil keputusan untuk mendarat kembali secepat mungkin.
Di sebuah pantai yang tidak berpenghuni, kami harus mencari tempat berteduh, demi menghindari badai dan hujan yang lebat. Setelah sempat basah kuyup, kami menemukan sebuah tempat berteduh setelah berjalan beberapa lama. Ternyata ada sebuah kampung di sini.
Ketika hujan agak reda, kami kembali berjalan di sepanjang pantai, sementara sekoci mengikuti dalam perjalanan menuju ke Sungai Lanjut di pantai utara. Di sekitar kawasan hutan bakau, kami terpaksa naik kembali ke sekoci karena tidak memungkinkan melanjutkan melalui jalur darat.
Hujan kemudian mulai turun lagi, walau dengan intensitas yang lebih kecil. Ini berlangsung sepanjang hari dalam perjalanan kami kali ini. Sampai sekitar pukul 2 sore, kami akhirnya mencapai tujuan. Ada beberapa rumah-rumah orang Melayu, tapi tidak bisa kami gunakan untuk menumpang berteduh.
Akhirnya, di sebuah kawasan terbuka, kami coba membuat atap pelindung untuk tempat berteduh. Seorang Tionghoa yang ramah, yang juga tinggal di sekitar wilayah ini, berbaik hati dan menyediakan papan untuk membuat balai-balai sederhana. Dengan itu kami akhirnya bisa sedikit lebih nyaman beristirahat, walau pakaian basah kuyup dan tidak membawa pakaian kering pengganti.
Untungnya, kami membawa persediaan beras. Kami juga dapat membeli ikan dari warga di sini. Untuk tambahan lauk pauk, beberapa anggota rombongan juga berhasil menembak beberapa burung.
Kampung kecil tempat kami singgah ini, hanya terdiri dari sedikit rumah.
Sampan Panjang Kiriman Sultan
PADA tanggal 18 Oktober 1872, setelah melewatkan malam di atas balai-balai papan yang keras dan hanya ditutupi tikar, kapal Moona yang seharusnya menyusul, belum juga tiba. Tetapi, Sultan ternyata berbaik hati. Sehari sebelumnya, ia telah memerintahkan beberapa warga untuk memuat barang-barang kami lainnya menggunakan sebuah sampan panjang. Sampan itu tiba di kampung tempat persinggahan kami ini. Kami benar-benar merasa tertolong.
Melalui orangnya di sampan panjang itu, Sultan sekaligus memberi tahu kami; ia akan menyusul hari ini untuk bersama-sama menuju Sungai Cukas.
Karena merasa tidak nyaman berada di kampung Lanjut yang kotor ini, kami akhirnya memberi tahu utusan sultan bahwa kami akan melanjutkan perjalanan menuju ke Pulaka. Kami berharap bisa bertemu dengan rombongan Sultan di sana hari ini.

Usai berkemas, perjalanan dilakukan melalui jalur darat dengan menyusuri pantai. Sepanjang pantai, kami melihat banyak kebun orang Melayu. Mereka menanam pohon kelapa muda, singkong, Ubi jalar, Tebu, Nanas, Jagung, Labu, dll. Area kebun mereka berada di tanah berpasir, tetapi tertutup humus.
Usai perjalanan darat, kami perlu menunggu cukup lama untuk melanjutkan perjalanan melalui laut. Sampan panjang yang sedianya mengiringi perjalanan darat kami dari laut, terlambat tiba. Akhirnya, kami baru tiba di Sungai Pulaka pada pukul 2 sore. Kondisi air laut sedang pasang saat kami tiba, sehingga kami dapat menyusuri sungai air asin itu hingga tiba ke ujungnya di sebuah rumah Tionghoa yang roboh dan ditinggalkan. Pemiliknya sudah pergi entah kemana. Mungkin pulang ke Tiongkok. Di dekatnya, terdapat sebuah jembatan yang juga hampir roboh, tempat kami akhirnya menambatkan sampan dan turun ke darat.
Karena rumah yang setengah runtuh itu tidak dapat dihuni lagi, kami akhirnya berusaha memperbaiki dari puing-puingnya serta menambalnya agar bisa digunakan untuk bermalam.
Kondisi di sini sama kotor dan jorok seperti di kampung-kampung Melayu dan Tionghoa pada umumnya di wilayah ini. Jalan setapak yang ada, terlihat hanya karena sering dilalui. Kondisinya berlumpur. Semua sisa pohon kelapa dan segala macam kotoran dibiarkan begitu saja hingga membusuk.
Batal ke Sungai Cukas
TANGGAL 19 Oktober 1872. Malam hari kami mendapat kabar dari seorang penduduk, bahwa ada tiga utusan Sultan yang baru tiba dari pulau tetangga, Penuboh. Mereka meminta kami untuk datang kepadanya. Akhirnya, pagi-pagi sekali, kami pergi mencari mereka dan menemukan mereka dan sultan di sebuah perahu.

Orang baik itu mengikuti. Ia khawatir dengan kondisi kami dan kuatir terjadi kecelakaan di laut. Ia ingin mengantar kami ke Sungai Cukas, sebuah lokasi yang terdapat aktifitas penggergajian kayu kamper. Kegiatan usaha itu dijalankan oleh seorang tuan dari Singapura dengan sepengetahuan dan persetujuan Sultan. Katanya, di sana terdapat sebuah kampung besar.
Tapi, ia mengingatkan kami; cuaca sedang tidak bagus sekarang. Angin bertiup kencang. Ia khawatir perahu kami tidak akan dapat bertahan jika diserang badai dalam perjalanan ke sana.
Karena bingung, Kami kemudian menyerahkan keputusan tentang perjalanan ini kepada Sultan. Tapi, sultan justeru menyerahkannya kembali kepada kami. Akhirnya, alih-alih menuju Sungai Cukas, kami memutuskan untuk kembali ke Sungai Dai. Kondisi tuan Goldman juga tidak memungkinkan. Ia dilanda demam. Setelah mendengar keputusan kami, sultan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lautnya ke Singkep.
Namun, alih-alih menuju Singkep, rombongan Sampan Sultan justeru mengikuti kami menuju Lingga. Baru setelah kami tiba di sekitar wilayah Tanjung Besieng dan dirasa aman, ia baru meninggalkan kami untuk menyeberang ke Singkep.
Penyeberangan yang dilakukan rombongan Sultan, sebenarnya bisa berbahaya. Ketika angin dan arus bertentangan, mengadu ombak satu sama lain. Seperti yang kami alami pada 25 Agustus, di sekitar perairan antara Lingga dan Singkep.
Dari Tanjung Besieng, kami melanjutkan haluan kami sedekat mungkin di sepanjang perairan pantai. Akhirnya pada pukul 2 sore, kami kembali masuk ke Sungai Dai.
SELURUH perjalanan ini memberikan saya beberapa kesan. Di wilayah pantai-pantai yang dilalui, kebanyakan telah kehilangan vegetasi alaminya. Lokasinya telah diolah menjadi berbagai tempat budidaya, tapi sayang banyak yang ditinggalkan begitu saja.
Tanah dataran yang mendominasi di sekitar perairan ini, terdiri dari tanah pasir dan juga rawa-rawa. Sementara kontur bukit dan pegunungan di sekitarnya masih alami. Sayang, saya tidak bisa menyinggahinya karena sedikitnya jalan setapak yang bisa digunakan untuk memandu perjalanan.
Pohon kamper di pulau Singkep, lebih banyak yang bisa ditemui daripada di Lingga. Oleh karenanya, produksi pembuatan papan untuk kepentingan ekspor lebih banyak dilakukan di Singkep.
Hari Demi Hari di Dai Lingga
20 Oktober 1872. Cuaca hujan, sepanjang hari. Semuanya tertutup awan dan matahari tidak terlihat. Sore hari, kapal Moona baru kembali ke Lingga, setelah hilang dari sungai Dabo di Singkep. Menurut awak kapal Moona, mereka sempat mencari kami hingga ke Sungai Pulaka. Dalam perjalanan menuju Sungai Dai, kapal Moona itu sempat diterjang badai dan gelombang besar.
21 Oktober 1872, cuaca indah.
22 Oktober 1872, sama, namun kemudian hujan.
23 Oktober 1872, cuaca buruk.
Kapal uap Koehoorn datang di rede (pelabuhan, pen.) Sungai Dai untuk menjemput kotter yang ditempatkan di sini. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Indragiri, untuk melakukan survei di sungai itu.
Termometer Fahrenheit mencatat pagi pukul 6 ; 72°, 12 : 90°, 4 sore : 95° dan 6 sore: 84°.
24 Oktober 1872, cuaca indah, tetapi berangin.
25 Oktober 1872: badai guntur di laut ke selatan. Pada pukul 11 siang hujan turun. Kemudian cerah.
26 Oktober 1872, cuaca indah dan panas sampai 95°.
27 Oktober 1872; pegunungan Dai terlihat tertutup awan; pada pukul 10 badai guntur dari utara.
28 Oktober 1872, cuaca indah.
29 Oktober 1872, pagi hari langit berawan dan hujan; pukul 8 hingga 12 badai guntur. Sementara sore hari kering.
30 Oktober 1872, malam hari hujan, siang hari cuaca indah.
31 Oktober 1872, malam hari badai; pagi hari langit berawan dan berangin.
1 November 1872, cuaca indah. Awal puasa Ramadan. Pada sore hari pukul 6, 17 tembakan meriam berat atas perintah Sultan ditembakkan sebagai pengumumannya.
2 November 1872, tengah malam angin badai kencang dari barat. Tudung lampu gantung di galeri depan terbang dan hancur. Pintu terbuka, gantungan baju roboh, dan lampu padam tertiup. Sebuah gudang di dekatnya runtuh, hujan deras yang hebat; guntur dan kilat menyertai pemandangan ini.
Pagi hari langit masih sarat uap air; matahari tidak terlihat dan sepanjang hari masih berangin. Pada 3 November 1872, pagi hari badai guntur dari utara pegunungan Sipientjan.
4 November 1872, cuaca indah, awan dari utara dan barat muncul, tetapi menyebar lagi.
Datoe Stia Aboe Hassan kembali dari Indragiri.
(*)
Bersambung
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com



