Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Bulan Januari-Mei 2026 Pariwisata Karimun Alami Peningkatan Signifikan
    11 jam lalu
    Imigrasi Batam Segera Deportasi WNA Terlibat Sindikat Penipuan Investasi Online
    14 jam lalu
    Serindit Food Center di Tepi Laut untuk Dongkrak Ekonomi UMKM
    17 jam lalu
    50 Anak di Bintan Ikut Khitanan Massal Gratis
    17 jam lalu
    Kejari Batam Banding, Tolak Vonis Bebas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pajak Hotel
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Hentikan Perlawanan Keras Paraguay, Prancis Tantang Maroko di Perempat Final
    15 jam lalu
    Perjuangan Kanada Terhenti, Singa Atlas Maroko Melangkah ke Perempat Final
    1 hari lalu
    Tim Benua Eropa Dominasi Babak 16 Besar, Asia Tidak Terwakili
    1 hari lalu
    Portugal dan Swiss Lolos Babak 16 Besar
    2 hari lalu
    Kalahkan Austria 0-3, Tim Matador isi 1 Slot di Babak 16 Besar
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    17 jam lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    3 hari lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    3 hari lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    3 hari lalu
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    7 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Warung Kopi Tertua di Indonesia

Editor Admin 4 tahun lalu 1k disimak

NONGKRONG sama teman rasanya tak lengkap tanpa ditemani kopi. Tak heran ngopi jadi kegiatan favorit kaum urban baik anak muda maupun orang dewasa. Kedai-kedai kopi dengan beragam konsep mudah ditemukan di berbagai tempat di Jakarta. Salah satunya yang tertua adalah Kopi Warung Tinggi yang bermula dari warung nasi.

Warung Tinggi didirikan oleh Liauw Tek Soen, seorang saudagar asal Cina. Ia melihat peluang usaha menjanjikan dari kopi yang menjadi komoditas andalan di Hindia Belanda. Ia kemudian mendirikan warung makan yang juga menyediakan kopi di kawasan Moolenvliet Oost (kini Jalan Hayam Wuruk) di Batavia.

Bangunan warung didominasi kayu jati, berdiri di atas tanah seluas 500 meter, dan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian paling depan untuk berdagang, bagian kanan bangunan dijadikan warung nasi, sedangkan di bagian kiri untuk toko kelontong. Sementara itu, bagian tengah bangunan difungsikan menjadi tempat berdagang jahitan karya Liauw Tek Soen yang dikenal pandai menjahit.

Warung itu menghadap ke Sungai Ciliwung dengan jembatan dari batang-batang pohon kelapa yang menghubungkan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada. Kala itu, kawasan Moolenvliet termasuk wilayah strategis karena penduduk kerap beraktivitas di Sungai Ciliwung. Selain itu, getek-getek bambu juga lalu-lalang sebagai alat transportasi masyarakat.

Hiruk pikuk aktivitas warga berdampak pada usaha Liauw Tek Soen. Toko kelontongnya kerap didatangi warga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Warung nasinya juga menjadi tujuan warga untuk mengisi perut setelah beraktivitas.

Menyoal nama Warung Tinggi, Rudy Widjaja dalam Warung Tinggi Coffee: Kopi Legendaris Tertua di Indonesia, Sejak 1878 menulis, dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, warung Liauw Tek Soen tampak tinggi dan megah sehingga orang-orang sekitar menamainya berdasarkan ciri-ciri tersebut.

Warung itu kian populer setelah Liauw Tek Soen menjual kopi pada 1878. Ia membeli biji kopi dari seorang pedagang wanita yang membawa kopi mentah menggunakan bakul –di kemudian hari pedagang wanita itu menjadi logo Kopi Warung Tinggi.

Liauw Tek Soen mengolah sendiri biji kopi menggunakan kuali serta lesung dan alu. Kopi disangrai di dalam kuali besar berisi pasir. Setelah matang, biji kopi diayak sehingga terpisah dari pasir, lalu ditumbuk dengan lesung yang terbuat dari batu kali.

Proses pengolahan kopi terbilang sederhana. Ia menggunakan kayu bakar untuk memanggang biji kopi. Guna memaksimalkan produksi kopi, ia merancang alat khusus yang mampu menggoreng lebih banyak biji kopi hingga matang secara merata.

Setelah melalui berbagai proses, kopi pun disajikan kepada para pelanggan. Biasanya para pelanggan tak langsung meminumnya. Kopi yang masih mengepul itu ditutup dengan piring tatakan. Setelah rokok habis diisap barulah kopi dituang ke tatakan, ditiup-tiup lalu diseruput, dengan begitu ampasnya tidak ikut terminum.

“Seperti inilah cara menikmati kopi yang sangat nikmat pada zaman tersebut,” tulis Rudy.

Bisnis kopi yang dirintis Liauw Tek Soen kemudian diteruskan anak angkatnya, Liauw Tek Siong sejak tahun 1910. Mengutip Merek Jadul dan Kerawanan Generasi Ketiga terbitan Pusat Data Analisa Tempo, Liauw Tek Siong “dibeli” Liauw Tek Soen karena anak lelaki tunggalnya –yang keterbelakangan mental– dianggap tak mampu berdagang.

Bila mula-mula kopi hanya usaha sampingan dari warung nasi, di tangan Liauw Tek Siong yang dijuluki “sang pemula” produsen kopi perorangan di Indonesia, kopi dijadikan bisnis utama. Pada 1927, Liauw Tek Siong mendirikan pabrik sederhana bernama Tek Soen Hoo Eerste Weltevredensche Koffiebranderij atau Toko Tek Soen, Perusahaan Penggoreng Kopi Pertama di Weltevreden. Ia menggunakan nama Liauw Tek Soen untuk menghormati dan mengenang ayah angkatnya. Toko yang mulai meracik kopi Luwak tahun 1940 ini juga dikenal dengan sebutan Toko Tek Soen atau Tek Soen Hoo.

Ketegangan antara Belanda dan Jepang tahun 1942 berdampak pada Toko Tek Soen. Rudy menyebut situasi yang tidak aman membuat toko ini ditutup selama berbulan-bulan, sementara seluruh keluarga mengungsi ke Mega Mendung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istri Liauw Thian Djie, putra sulung Liauw Tek Siong, berjualan kain keliling.

Pada masa pendudukan Jepang, Toko Tek Soen kembali dibuka meski dengan cara meminjam kopi dari pengusaha lain yang dibayar belakangan. Setelah Indonesia merdeka, Liauw Thian Djie yang mewarisi bisnis kopi dari sang ayah, bertekad mengembangkan bisnis keluarga ini. Ia memulai dari kualitas kopi yang diproduksi tokonya.

Menurut Rudy, anak kedelapan Liauw Thian Djie, ayahnya hanya membeli biji kopi berkualitas dari satu sumber di Pasar Pagi. Selain itu, ia juga memiliki cara unik memeriksa kadar air dalam biji kopi. “Beliau akan mengambil segenggam biji kopi, jika terasa dingin, berarti kadar air biji kopi tersebut besar; sebaliknya, jika sedikit hangat, berarti kadar airnya sedikit,” tulis Rudy.

Toko Tek Soen mulanya hanya menjual satu jenis kopi yang dibungkus dalam kertas cokelat sederhana dan diberi cap. Bisnis kopi yang maju pesat pada 1950-an mendorong Liauw Thian Djie membeli mesin-mesin baru yang canggih. Salah satunya mesin goreng kopi buatan Belanda. Mesin bertenaga listrik ini berfungsi ganda, yakni menggoreng kopi dan alat pendingin.

Selain itu, Liauw Thian Djie juga mulai menjual kopi racikan atau blend dengan mencampur beberapa jenis kopi. Ia berhasil meracik lima jenis kopi bermutu tinggi yang menjadi andalan tokonya, yaitu Rajabica, Arabica Special, Arabica Super, Arabica Extra, dan Robusta.

Pada 1960-an, Toko Tek Soen atau Tek Soen Hoo berganti nama menjadi Warung Tinggi. Setelah Liauw Thian Dhie tutup usia pada 1978, perusahaan dikelola oleh Rudy Wijaya bersama tiga saudaranya, yakni Darmawan, Suyanto, dan Yanti. Rudy membeli seluruh saham PT Warung Tinggi termasuk merek paten dan hak cipta dari saudara-saudaranya pada 1994. Ia kemudian membeli rumah di Jalan Daan Mogot untuk gudang dan pabrik kopi.

Kerusuhan tahun 1998 berdampak pada usaha Warung Tinggi. Rumah dan pabrik kopi milik Rudy hancur. Bahkan, ia dan seluruh keluarganya mengungsi ke Singapura. Rudy membangun kembali Warung Tinggi pada 1999. Ia memindahkan pabrik kopi ke Tangerang. Pada 2001, generasi keempat melanjutkan usaha keluarga ini dengan nama Bakoel Koffie.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Kopi Warung Tinggi, Tek Soen Hoo, Toko kopi Tek Sun Ho, Warung kopi
Admin 20 Oktober 2022 20 Oktober 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Wamenkes: 15 dari 18 Obat Sirup Mengandung Etilen Glikol | Pemicu Gangguan Ginjal Akut
Artikel Selanjutnya Wawako: 487 Anak di Tanjungpinang Mengalami Stunting

APA YANG BARU?

Bulan Januari-Mei 2026 Pariwisata Karimun Alami Peningkatan Signifikan
Artikel 11 jam lalu 47 disimak
Imigrasi Batam Segera Deportasi WNA Terlibat Sindikat Penipuan Investasi Online
Artikel 14 jam lalu 135 disimak
Hentikan Perlawanan Keras Paraguay, Prancis Tantang Maroko di Perempat Final
Sports 15 jam lalu 124 disimak
Serindit Food Center di Tepi Laut untuk Dongkrak Ekonomi UMKM
Artikel 17 jam lalu 265 disimak
50 Anak di Bintan Ikut Khitanan Massal Gratis
Artikel 17 jam lalu 148 disimak

POPULER PEKAN INI

Lebih Mudah dan Murah, Trans Batam Resmi Layani Tujuan Bandara Hang Nadim
Artikel 6 hari lalu 344 disimak
Cuaca di Kota Batam Jum’at (3/07) Diprediksi Cerah Berawan
Artikel 4 hari lalu 334 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 7 hari lalu 308 disimak
Hari ini (1 Juli), Cuaca Batam Cerah Berawan
Artikel 5 hari lalu 291 disimak
Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
Statistik 7 hari lalu 269 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?