TEKANAN inflasi di Kota Batam pada April 2026 masih menunjukkan arah kenaikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Batam mencapai 3,26 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,77.
Kenaikan ini menandakan bahwa secara umum harga-harga kebutuhan masyarakat lebih tinggi dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Secara bulanan (month to month/m-to-m), Batam juga mengalami inflasi sebesar 0,51 persen, dari IHK 112,20 pada Maret menjadi 112,77 pada April 2026.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, menyebut bahwa tekanan inflasi masih cukup kuat dan terutama dipengaruhi oleh kelompok pangan, transportasi, serta jasa konsumsi. Ia menilai perkembangan harga berbagai komoditas pada April 2026 secara umum mengalami kenaikan.
Dari sisi bahan pokok, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 2,66 persen dan menjadi salah satu kontributor utama inflasi. Komoditas pangan yang paling dominan mendorong inflasi tahunan meliputi beras, daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, kangkung, tomat, ikan tongkol, ikan kembung, ikan layang, serta jeruk. Selain itu, harga nasi dengan lauk juga turut menambah tekanan inflasi, yang menggambarkan meningkatnya biaya makan bagi rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner.
Tidak hanya pangan, sektor transportasi juga berperan besar. Kelompok transportasi tercatat naik 4,53 persen, dengan angkutan udara sebagai komoditas paling dominan mendorong inflasi. Kenaikan ini berkaitan dengan tingginya mobilitas masyarakat. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami kenaikan 5,78 persen.
Lebih lanjut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami lonjakan paling tinggi, yaitu 12,48 persen, dipengaruhi naiknya harga emas perhiasan. Jika dilihat dari kontribusi, kelompok dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan Batam adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,83 persen, diikuti makanan, minuman dan tembakau 0,77 persen, transportasi 0,63 persen, serta restoran 0,53 persen.
Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang justru membantu meredam laju inflasi. Penurunan harga terjadi pada cabai merah, bawang merah, bawang putih, cabai hijau, santan segar, bayam, wortel, serta ketimun.
Berdasarkan pola pergerakan harga saat ini, komoditas yang berpotensi memicu inflasi Batam dalam waktu dekat masih didominasi bahan pangan strategis seperti beras, daging ayam, telur, minyak goreng, dan ikan segar. Komoditas transportasi seperti tiket pesawat dan bahan bakar minyak juga diperkirakan tetap menjadi faktor penting. Di Batam, tantangan pengendalian inflasi semakin kompleks karena faktor distribusi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta fluktuasi permintaan, terutama mengingat Batam merupakan wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada jalur logistik.
(dha)


