Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    KSOP Batam Evakuasi Sembilan Awak Kapal MV Golden Star 1 yang Tenggelam di Selat Malaka–Singapura
    2 jam lalu
    Kapal Kargo MV Golden Star 1 Tenggelam di Selat Singapura
    3 jam lalu
    Berawal dari Keinginan Melapor, Terduga Penusuk di Batam Justru Dibekuk Polisi
    3 jam lalu
    ASDP Bangun Dermaga Kedua di Tanjunguban, Target Operasional 2027
    16 jam lalu
    Pedagang UMKM Tepi Laut Setuju Relokasi ke Anjung Cahaya dan Melayu Square
    17 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Bungkam Timor Leste 0-3, Garuda Muda Buka Peluang ke Semifinal
    2 hari lalu
    Juknis SPMB Kepri 2026/2027 Terbit, Batam Siapkan 18.228 Kursi di SMA/K Negeri
    3 hari lalu
    Pendidikan Keselamatan Berlalu Lintas untuk Siswa SD/ SMP Negeri di Batam
    3 hari lalu
    Ada Posko di Tiap Sekolah untuk Bantu Pendaftaran SPMB Batam
    4 hari lalu
    Dikbud Karimun Terapkan SPMB Online Tahun 2026
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
    2 jam lalu
    Data Inflasi di Propinsi Kepri Semester I 2026
    16 jam lalu
    Data, Kuota dan Distribusi BBM Bersubsidi di Batam
    1 hari lalu
    Raja Haji Ali (Tengku Selat)
    2 hari lalu
    Tren Pendaftar SPMB SMA/SMK Kepri 3 Tahun Terakhir
    3 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    5 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    11 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Anakronisme Gambar Raja Ali Haji

Editor Admin 2 jam lalu 92 disimak
Foto Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (tengah) bersama sosok yang sering dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji (paling kanan) di Batavia pada tahun 1867. © F. Arsip universitas Leiden.

FOTO di studio Woodbury & Page Batavia ini, mungkin termasuk foto-foto terawal yang mendokumentasi para bangsawan Melayu Riau Lingga masa lalu.

Oleh: Bintoro Suryo


FOTO di atas adalah gambar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II bersama rombongan saat berkunjung ke Batavia pada 1867; ‘De sultan van Lingga en Riouw, Soeleiman Badroe Alamsjah, met zijn gevolg in Batavia voor een bezoek aan gouverneur-generaal P. Mijer (“Sultan Lingga dan Riau, Sulaiman Badrul Alamsyah, beserta rombongannya di Batavia untuk berkunjung ke gubernur jenderal P. Mijer”)

Foto yang bersumber dari Koleksi foto KITLV Leiden ini, mendeskripsikan Sultan Riau Lingga masa itu dan rombongan di studio Woodbury & Page, Rijswijk Batavia. Koleksi asli disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Cerita di balik foto kunjungan ke Batavia itu, bisa ditelusuri melalui dokumen surat-surat korespondensi antara Haji Ibrahim dengan Von De Wall yang dirangkum oleh Jan van der Putten dalam disertasinya: His Words is Truth: Haji Ibrahim Letters and Other Writings, terbitan Leiden University 2001.

Haji Ibrahim atau lebih dikenal sebagai Datok Orang Kaya Muda Haji Ibrahim, merupakan salah satu kerabat istana di pulau Penyengat yang juga merupakan seorang Syahbandar di Riouw (Tanjungpinang). Ia juga seorang penulis yang cakap. Haji Ibrahim, berdasarkan surat korespondensinya bersama H. Von De Wall, merupakan salah satu anggota rombongan yang berangkat bersama Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah ke Batavia pada 1867.

Menurut Van Der Putten, kunjungan Sultan ke Batavia, terinspirasi dari kunjungan Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi pada setahun sebelumnya, yang juga didokumentasikan di studio foto.

Foto Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi bersama rombongan di Batavia 1866. © F. Arsip Universitas Leiden

Salah satu yang menarik dari tulisan Jan van der Putten di bukunya; bagian foto rombongan Sultan Riau lingga tahun 1867, sering disalahartikan orang di masa sekarang.

Khususnya pada sosok paling kanan dalam foto yang dideskripsikan sebagai Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad, pujangga besar asal Kepulauan Riau.

Sosok pria bersorban dalam rombongan foto bersama Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah di Batavia pada 1867. © F. Arsip Universitas Leiden

Pada kenyataannya, Raja Ali Haji tidak ikut dalam rombongan Sultan ke Batavia saat itu. Lantas, bagaimana bisa, sosok paling kanan pada foto dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji?

Menurut Van Der Putten; memastikan sosok Haji Ibrahim dalam foto bersejarah itu saja masih merupakan sebuah spekulasi; siapa di antara 9 orang dalam foto itu – di luar Sultan Sulaiman II – yang merupakan sosok Haji Ibrahim? Orang yang ikut dalam rombongan Sultan ke Batavia masa itu.

“Bagaimanapun, menempatkan pria yang berdiri di sebelah kanan foto Woodbury and Page sebagai personifikasi Haji Ibrahim, hanyalah spekulasi belaka. Itu hanya didasarkan pada deskripsi imajinatif tentang sosoknya masa itu: seorang haji yang berusia enam puluhan tahun.

Yang ironis, foto pria (paling kanan) itu (sempat) dimuat di sampul majalah yang diterbitkan di Pekanbaru (1993) menampilkannya sebagai Raja Ali Haji, padahal ia sama sekali tidak termasuk dalam rombongan sultan!”
(His Words is Truth: Haji Ibrahim Letters and Other Writings, Jan Van Der Putten, 2001)

Berawal dari kesalahan personifikasi gambar tersebut, di masa sekarang, sosok pada foto itu, justeru sudah kadung dikenal dan melekat sebagai sosok Raja Ali Haji.

Sebuah bentuk anakronisme; kesalahan menempatkan sesuatu, orang, peristiwa, atau gagasan di waktu yang tidak sesuai/tidak sezaman. Dan itu merupakan kesalahan yang fatal.


KENAPA Van Der Putten bisa yakin bahwa sosok paling kanan dalam foto tahun 1867 itu bukan Raja Ali Haji?

Foto Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (tengah) bersama sosok yang sering dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji (paling kanan) di Batavia pada tahun 1867. © F. Arsip universitas Leiden.

Menurutnya, berdasarkan arsip surat Raja Ali Haji kepada H. Von De Wall; saat kembali dari Batavia sekitar bulan November 1867, rombongan Sultan dan Haji Ibrahim, tiba bersama dengan asisten residen Riau itu.

Von De Wall diceritakan oleh Raja Ali Haji, menitipkan buah tangan untuknya dari Batavia. Namun sayang, Haji Ibrahim yang dititipi oleh asisten residen Riau itu, lupa membawanya naik dari atas kapal. Kenyataan itu kemudian diberitahu oleh Haji Ibrahim kepada Raja Ali Haji.

Berikut petikan surat yang dikirim Raja Ali kepada Von De Wall, sehari setelah kedatangan Von De Wall bersama rombongan Sultan dari Batavia, 6 November 1867;

Qouluhul Haqq

Salam kepada Sri Paduka Sahabat kita Von De Wall. Syahdan adalah kita memberi selamat kedatangan tuan ahlan wassahlan ma’al Farah wal surur.

Dan lagi kita semalam berjumpa datuq kaya Haji Ibrahim, dia berkabar kepada kita ada tambur besar daripada tuan. Maka kita pun terlalu suka mendengarnya.

Kata kita, ‘mana dia sekarang?’ Katanya, ‘terlupa, ada tinggal di kapal lagi baik lekas suruh ambil’. Maka kita menyuruh satu sampan serta satu orang kepercayaan pergi ke kapal api (yang bersandar di pelabuhan). Maka apabila tiba di kapal api ditanya itu tambur. Kata orang kapal, ‘tiada satu barang lagi yang tinggal di kapal ini’.

Kemudian orang suruhan saya itupun balik mendapat Datuq Haji Ibrahim (untuk menanyakannya kembali). Kemudian Datuq suruh sekali lagi anaknya Ismail pergi ke kapal api. Maka apabila tiba di laut kapal sudah berlayar. Kemudian kita suruh periksa mana2 perahu2 yang di Penyengat yang turun menyambut tuan Sultan semalam, maka suatu pun tiada.

Kemudian Datuq Haji Ibrahim menyerahkan kepada kita dua batang pemukul tambur besar, maka sudahlah kita terima dua batang pemukul tambur, tamburnya tiada. Syahdan jika ada mudah2an barangkali sampan2 yang dari Tanjungpinang pula ada termasuk, haraplah kita minta tolong periksakan. Jika tiada, hilanglah. Harap sahajalah kita adanya.

Syahdan lagi ini hari jumat jadi tiada sempat saya jumpa tuan pagi ini. Nanti petang2 sekarang, jika tiada uzur, saya datang karena saya terlalu sangat ingin berjumpa tuan adanya. Intiha.

Tersurat pada 9 hari bulan Sya’ban Al Mu’azzam sanah 1284.

Raja Ali Haji

(In Everlasting Friendship: Letters From Raja Ali Haji, Jan Van Der Putten & Al Azhar – 1995)


SURAT dari Raja Ali Haji kepada Von De Wall, sehari setelah kepulangan rombongan Sultan dari Batavia, menjelaskan dengan sangat terang; Raja Ali Haji tidak ikut berangkat ke Batavia bersama rombongan Sultan.

Jadi jelas, bukan sosok Raja Ali Haji yang ikut berfoto bersama Sultan di studio Woodbury & Page masa itu. Itu adalah sosok anggota rombongan Sultan yang lain.

Malangnya, sosok itu sudah kadung dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji, sang pujangga besar negeri Riau Lingga. Aneka buku sejarah yang mengupas sosok Raja Ali Haji, juga banyak yang menggunakan sosok pria bersorban dan berjanggut itu untuk merepresentasinya.

Sosok pria dari foto Woodburry & Page pada tahun 1867 dalam berbagai sampul buku yang banyak tersebar di dunia maya, dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji. F. Kolase

Termasuk museum Batam yang menampilkan besar-besar sosok tersebut dalam sebuah pigura. Sebuah Anakronisme sejarah yang terus dipertahankan dan disajikan kepada generasi masa kini.

Foto pria bersorban dan berjanggut, yang merupakan potongan sosok pada foto studio rombongan Sultan Riau Lingga di studio Woodbury & Page Batavia tahun 1867 yang dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji di Museum kota Batam. F. Ist.

Gambar sosok yang berfoto bersama Sultan Sulaiman II di studio Woodbury & Page Batavia pada 1867 itu, bahkan telah diadopsi menjadi sebuah monumen patung di Magtymgyly Pyragy Park, Turkmenistan. Deskripsi yang dituliskan di bawah patung itu: Raja Ali Hajy (1808 – 1873).

Sebuah patung di Turkmenistan, diadopsi dari potongan sosok pada foto studio rombongan Sultan Riau Lingga di studio Woodbury & Page Batavia tahun 1867 yang dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji.

Sebuah kekeliruan yang terus dipublikasi sebagai ‘kebenaran’, akhirnya benar-benar jadi ‘kebenaran’ yang mendunia.

Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad, Juga Bukan Raja Ali Haji Ibn Raja Ahmad

SELAIN foto sosok pendamping Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II pada dokumen tahun 1867, satu sosok foto lain juga sering dideskripsikan sebagai gambar tokoh bahasa, Raja Ali Haji.

Foto Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad (Tengku Selat)

Ini adalah foto Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad (Tengku Selat), seorang bangsawan Riau yang merintis usaha penerbitan Al Ahmadiyah di Singapura dan juga koperasi Ahmadi and Co di Midai, Natuna pada 1906. Bukan Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad yang dikenal orang sebagai tokoh literasi bahasa.

Kolase foto Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad di dunia maya yang juga sering dipersonifikasi sebagai Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad

Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad, juga memiliki jejak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia hidup di masa yang berbeda dibanding dengan Raja Ali Haji. Melalui rintisannya lah, dokumen Kitab Bahasa yang ditulis oleh Raja Ali Haji bisa dicetak massal pada 1927. Raja Haji Ali merupakan putra dari Raja Muhammad (Tengku Nong), salah satu putera Raja Haji Abdullah yang sempat menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau pada 1857.

Berdasarkan catatan Van Hasselt, seorang residen Riau yang sempat berkunjung ke pulau Bunguran (Natuna) pada 1896, Raja Ali dicatatkan telah mengelola sejumlah perkebunan kelapa di sana.

Pada tahun 1906, bersama kerabatnya Raja Haji Ahmad, mereka mendirikan unit usaha Ahmadi, sebuah kongsi dagang bumiputera sekaligus salah satu bentuk koperasi pertama di Nusantara yang didirikan pada tahun 1906 di Pulau Midai, Kepulauan Natuna (dahulu wilayah Pulau Tujuh, Kesultanan Riau-Lingga)

Saat awal berdiri, usaha bersama ini diberi nama Asyarikatul Ahmadiah (Sarikat Dagang Ahmadi). Nama “Ahmadi” dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu pendirinya, Raja Haji Ahmad. Seiring meluasnya jaringan bisnis, namanya diubah menjadi lebih modern, yaitu Ahmadi & Co.

Tujuan utama pendirian usaha ini adalah membantu para pemilik kebun kelapa dan masyarakat Melayu di Pulau Tujuh agar bisa memasarkan hasil bumi mereka secara langsung ke luar daerah dengan harga yang adil, tanpa melalui tengkulak. Pada masa itu, pulau Midai dan sekitarnya kaya akan hasil perkebunan kelapa. Ahmadi & Co mengelola kelapa tersebut untuk diolah menjadi kopra berkualitas.

Melalui sistem koperasi yang didirikan bersama kerabatnya itu, hampir dua pertiga kebun kelapa di Pulau Midai masa itu, akhirnya bergabung dan dikelola di bawah naungan Ahmadi & Co. Koperasi ini bahkan memperluas penanaman kelapa dan karet hingga ke pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Ahmadi & Co sangat melegenda karena menerapkan sistem tata kelola dan pengupahan yang dinilai adil bagi para pekerjanya. Setiap kali panen kelapa dan penjualan kopra dilakukan, keuntungannya dibagi menjadi lima bagian:

2 Bagian (40%): Diserahkan kepada pemilik kebun/kas koperasi Ahmadi & Co.

3 Bagian (60%): Dibagikan langsung kepada para pekerja lapangan, yang meliputi pemanjat kelapa, pengupas kelapa, serta buruh yang mengasapi dan mengeringkan kopra.

Meskipun berpusat di sebuah pulau kecil di Laut Natuna, pengelolaan koperasi ini dilakukan secara sangat profesional. Jaringan perdagangannya menggurita hingga ke Singapura, bahkan meluas sampai ke Siam (Thailand). Hasil laut, cengkih, karet, dan kopra dari Natuna diangkut menggunakan armada kapal mereka sendiri langsung menuju pasar Singapura.

Untuk mendukung kekuatan ekonomi ini, Ahmadi & Co di bawah Raja Haji Ali, juga membuka kantor cabang perdagangan, yang pada akhirnya menginisiasi berdirinya perusahaan percetakan Al-Ahmadiah Press di Singapura.

Al-Ahmadiah Press (Mathba’ah Al-Ahmadiah) merupakan salah satu pilar intelektual penting Melayu-Islam di Singapura pada awal abad ke-20. Di bawah kepemimpinan dan pendanaannya, perusahaan penerbitan yang berlokasi di Jalan Sultan (Kampong Gelam) itu berkembang menjadi agen perubahan sosial, budaya, dan agama yang sangat aktif. Perusahaan itu aktif menerbitkan buku-buku berkualitas.

Salah satu kontribusi paling monumental dari Al-Ahmadiah Press adalah menerbitkan secara massal karya-karya tata bahasa dan sastra monumental buatan bangsawan Riau, termasuk kamus ensiklopedia Kitab Pengetahuan Bahasa karya Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad pada tahun 1927.

Foto Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad, perintis Ahmadi and Co. serta percetakan Al Ahmadiyah Press di Singapura

Sementara, bersama dengan jaringan intelektual dari kelompok Rushdiah Club pimpinan Raja Ali Kelana, Al-Ahmadiah Press di Singapura menjadi motor utama modernisasi, pembakuan, dan penyebaran bahasa Melayu standar ke seluruh Semenanjung Malaya dan Kepulauan Nusantara masa itu.

Melalui aktivitas-aktivitas tersebut, Raja Haji Ali berhasil mengubah Al-Ahmadiah Press yang awalnya merupakan koperasi pengelola kelapa di Midai, kemudian berkembang menjadi perusahaan penerbitan literasi Islam-Melayu yang disegani di dunia internasional pada masanya.


RAJA Ali Haji ibn Raja Ahmad ibn Raja Haji Fisabilillah, hidup pada abad ke-19 (1809 – 1873). Ia hidup di masa kejayaan literasi Pulau Penyengat sebelum Kesultanan Riau-Lingga dihapus oleh Belanda.

Sementara Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad, hidup pada akhir abad ke-20 (1874–1954). Ia mengalami masa jatuhnya kesultanan Riau Lingga pada tahun 1911 dan harus bergerak di bidang bisnis kemandirian ekonomi pada paruh pertama abad ke-20.

Penyematan foto Raja Haji Ali ibn Raja Muhammad pada deskripsi sosok Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad, juga merupakan sebuah Anakronisme sejarah; kesalahan menempatkan sesuatu, orang, peristiwa, atau gagasan di waktu yang tidak sesuai/tidak sezaman.

Jadi, yang mana foto/gambar Raja Ali Haji, pujangga besar yang menulis karya Gurindam 12? Sejatinya, tidak ada foto/gambar dari masa lalu yang bisa dijadikan panduan tentang sosok sang pujangga.

(*)

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography. 
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan batavia, Berita Batam, Catatan, foto, gambar, Museum batam, Raja Ali Haji, Riau lingga, Riouw, singapura, Woodburry & page
Admin 7 Juni 2026 7 Juni 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura

APA YANG BARU?

Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
Peristiwa 2 jam lalu 122 disimak
KSOP Batam Evakuasi Sembilan Awak Kapal MV Golden Star 1 yang Tenggelam di Selat Malaka–Singapura
Artikel 2 jam lalu 131 disimak
Kapal Kargo MV Golden Star 1 Tenggelam di Selat Singapura
Artikel 3 jam lalu 112 disimak
Berawal dari Keinginan Melapor, Terduga Penusuk di Batam Justru Dibekuk Polisi
Artikel 3 jam lalu 103 disimak
Data Inflasi di Propinsi Kepri Semester I 2026
Statistik 16 jam lalu 196 disimak

POPULER PEKAN INI

8Th Anniversary CAF Batam, Ceria Dalam Pesona Nusantara
Artikel 3 hari lalu 819 disimak
Damkar Evakuasi Monyet di Lingkungan Warga Sebong Pereh
Lingkungan 6 hari lalu 775 disimak
Analisis Data Cuaca Kota Batam (Periode Mei 2026)
Statistik 6 hari lalu 755 disimak
Data Akomodasi Batam: Hub Utama Pariwisata, Penggerak Okupansi di Kepri
Statistik 6 hari lalu 740 disimak
Sultan Muhammad II Muazzam Shah (Sultan Riau Lingga Kedua 1832 – 1835)
Tokoh 6 hari lalu 728 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?