“Perjalanan masih harus diteruskan dengan melintasi perairan teluk, sebelum akhirnya kami tiba di tempat tinggal sang batin. Ia tinggal sendirian di wilayah ini. Sementara bawahan dan penduduk lainnya tinggal tersebar di beberapa tempat.”
…
“Di wilayah ini, kami tiba di sebuah kampung Tionghoa yang kotor. Ada seorang Kepala Tionghoa yang memandu. Ia juga membawa kami ke rumah candu, di mana beberapa perempuan Tionghoa ikut duduk berjudi di antara para lelaki.” (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)
Oleh: Bintoro Suryo
MEMBACA dokumen sejarah sering kali membawa kita pada petualangan yang tak terduga. Bagian keenam dari catatan ahli Botani Belanda, J.E. Teijsmann mengupas perjalanannya ke beberapa dusun kecil di pulau Lingga.
Ia juga mengunjungi beberapa lokasi pabrik sagu. Dalam catatannya, ia menggambarkan pabrik sagu yang dikelola penduduk masih sederhana. Berada di lokasi yang becek di tepian sungai-sungai serta beraroma menyengat. Bangunannya berupa panggung terbuka (tanpa dinding) dengan tiang-tiang kayu dan atap daun sagu/rumbia. Dalam medan yang berlumpur dan licin, orang harus berjalan di atas bilah papan agar tidak terperosok.
Melalui lanskap Sungai Musai, Teluk Semarong, hingga Limbung yang datar, ia juga mencatat vegetasi endemik masa lalu di pulau Lingga.
Teijsmann dan rombongan juga kembali menghadapi badai di laut Lingga yang dahsyat dalam perjalanan menuju Tanjung Serandieng sebelum akhirnya terdampar di Sungai Plandoh yang didominasi lumpur.
Berikut catatannya pada bagian 6.
PADA tanggal 16 September 1872, saya sibuk mengurus segala sesuatu yang akan dibawa pulang. Selain itu saya memerlukan istirahat untuk memulihkan otot-otot kaki. Cuaca hari ini di Dai kering.
17 September 1872, hujan lebat. Kapal Kotter dengan surat dan perbekalan kembali dari Riau.
18 September 1872, pagi hari angin dan hujan; sore hari kering.
19 September 1872, pagi-pagi sekali dan pagi hari hujan, kemudian berhujan.
20 September 1872, hujan dan sepanjang hari cuaca buruk. Malam hari, saya begitu kedinginan pada cuaca 74° fahrenheit, sehingga harus menggunakan selimut wol.
21 September 1872, hari yang indah.
22 September 1872, hari yang indah.
23 September 1872, idem: tetapi sore hari angin kencang dengan sedikit hujan. Sore hari Sultan membawa kami dalam kunjungannya di Daik.
24 September 1872, kapal kotter dengan surat berangkat ke Riau, cuaca indah, tetapi berangin. Guntur terdengar di pegunungan yang dipenuhi awan.
PADA 25 September 1872, bersama tuan Goldman, kami melakukan kunjungan ke Bukit Uwan Peloh, terletak antara Bukit Sipientjan dan pegunungan Sipientjan. Kami perlu meninjau sekali lagi kondisi Sungai Sipientjan yang memiliki 4 cabang berbeda. Tiga dari cabang itu harus kami lewati yaitu yang mengalir di sebelah barat Bukit Uwan Peloh. Sedangkan yang ke-4, mengalir di sebelah timur Bukit itu. Semuanya, bagaimanapun bersumber dari pegunungan Sipientjan.

Kami awalnya kembali mengikuti jalan yang sama, yang membawa saya ke Bukit Sipientjan beberapa waktu lalu. Tetapi jalur kali ini, agak menyimpang ke kanan pada titik kami akan melakukan penyeberangan terakhir beberapa hari lalu. Sekarang, sungai berada di sisi kiri, di mana saya dahulu, setelah penyeberangan, berada di sisi kanan.
Akhirnya kami lebih ke hulu, namun tetap juga harus menyeberanginya. Sampai penyeberangan terakhir ini, tanah kebanyakan datar, dan sedikit bergelombang. Ketika tiba di kaki Bukit Uwan Peloh, alur tiba-tiba menjadi sangat curam sampai ke titik tertinggi. Alur curam juga terlihat sama curamnya antara titik berdiri kami sekarang dengan gunung Sipientjan.
Setelah menebang beberapa semak, kami berjalan ke arah selatan. Pada jalur ini, kami mendapati pemandangan luas ke laut dan terlihat pulau Kolombo serta Bukit Cinieng yang terletak di tepi laut. Di bagian lain, terlihat dataran ibu kota dan Sungai Dai.
Di sisi timur laut, pemandangan tidak begitu luas, hanya lereng – lereng dengan berbagai ketinggian dari Gunung Sipientjan. Sementara ke arah barat daya terlihat pegunungan Dai.
Karena kami tidak berada di puncak yang bulat serta luas, tetapi berada di titik tertinggi yang membentuk punggung sempit, dalam perjalanan selanjutnya, kami hampir tidak memiliki pemandangan sedikit pun. Titik tertinggi kami mungkin tidak lebih dari kira-kira 500 kaki dan jarak dari ibu kota kira-kira 5 pal.
Medan yang landai di kaki bukit yang kami daki — yang sedikit lebih tinggi, daripada tanah datar yang terletak lebih ke bawah — akan sangat cocok untuk berbagai budidaya. Tanahnya memiliki lapisan humus yang baik dan subur.
Pada pukul 11 siang, datang awan hujan deras yang langsung membasahi kami. Untungnya, kondisi ini segera berlalu. Kami segera dapat makan siang dengan tenang, untuk kemudian memulai perjalanan pulang.
Pukul 5 sore, kami kembali sampai ke rumah. Panen tumbuhan dalam perjalanan kali ini tidak banyak. Tetapi, tetap usaha kami tidak sia-sia. Saya berhasil mengumpulkan Convolvulacea yang indah, seperti yang juga pernah saya peroleh di hutan Bintan. Sampel yang di Bintan sepertinya tidak akan hidup saat tiba di Buitenzorg. Karena itu, untuk sampel Convolvulacea yang sekarang, saya memotong seluruh tanaman menjadi potongan-potongan dan menanamnya dalam sebuah peti. Saya berharap sampel-dampel ini tetap hidup hingga kembali ke Buitenzborg.
Pohon kamper dan Getah perca juga di sini banyak terdapat.
Pada 26 September 1872, cuaca indah tetapi berangin.
27 September, idem.
28 September 1872, angin kencang dari arah barat daya dengan awan badai di kejauhan. Bgaimanapun kondisinya terlihat melayang melewati puncak pegunungan Dai; tidak hujan.
29 September 1872, pagi pukul 8, sebuah hadeekan hebat yang sekarang berlawanan dengan kemarin, muncul dari timur dan menutupi langit seluruhnya. Tetapi setelah lewat ½ jam berlalu; cuaca kembali cerah.
30 September 1872, tidak berangin, langit berawan, tidak hujan.
1 Oktober 1872, pagi hari cuaca indah, sore hari hujan.
2 Oktober 1872, Langit berawan dan kadang-kadang sinar matahari.
3 Oktober 1872, dari pagi-pagi sekali sudah hujan. Pada pukul 9, berubah menjadi hujan deras dari arah barat daya dan berlangsung hingga sore. Kemudian, pukul 4 langit cerah.
PADA 4 Oktober 1872, pagi hari hujan, tetapi langit cerah menjelang pukul 11. Hari ini, kami hanya menunggu air pasang datang untuk melakukan perjalanan selama beberapa hari melalui perairan dan kemudian melalui jalur darat.
Kami segera naik ke sebuah sekoci, sementara sebuah sampan panjang untuk perjalanan nanti, mengikuti di belakang. Kami mendayung keluar Sungai Dai dengan tujuan untuk lewat laut ke arah Karandieng di pantai selatan.
Ketika tiba di perairan laut terbuka, kami mendapat angin yang berlawanan arah dengan tujuan. Sementara air pasang yang naik tinggi memunculkan laut yang bergelora. Ombak sesekali bergulung ke dalam sekoci kami yang ramping. Ini tidak menyenangkan. Apalagi kami juga sedang berusaha untuk terus maju dengan cara mendayung. Karena itu diputuskan, kami kembali saja ke titik awal.
Sekitar pukul 5 sore, kami kembali di rumah. Ketika baru sampai ini, ada seorang penduduk memberitahu, bahwa untuk menuju ke Karandieng, kami sebenarnya bisa melalui jalur darat melalui wilayah Musai. Kami semakin menyesal tidak mengetahui ini lebih dahulu.
Menyusuri Sungai Musai
5 Oktober 1872, pukul 2 sore kami kembali keluar Sungai Dai dan karena angin lagi melawan, dan laut juga tidak sangat tenang, kami memutuskan untuk langsung masuk ke Sungai Musai sekarang saja. Namun, ini juga tidak begitu mudah. Sungai kecil ini sangat sempit dan membuat banyak tikungan tajam, sehingga akhirnya sekoci, karena kedangkalan, tidak dapat lebih jauh bergerak.
Sepanjang sungai ini terdapat beberapa pabrik sagu dan di lokasi yang terakhir kami, satu jam mendayung dari kuala, kami akhirnya mendirikan bivak. Lokasinya dekat sebuah gudang terbuka, di atas tiang. Tempatnya cukup luas untuk kami berdua dapat membentangkan tempat tidur di atasnya.

Medan yang dilalui dari kuala Dai, di mana-mana berair dan ditutupi vegetasi rawa serta semak. Di tempat perhentian kami, kondisinya juga tidak tampak jauh lebih baik. Kami hanya dapat sedikit bergerak, agar tidak terperosok ke dalam lumpur atau ampas sagu yang membusuk.
Di lokasi ini terdapat banyak pohon sagu. Sementara di tempat yang lebih kering, tumbuh pohon kelapa. Hampir seluruh lokasi ini tertutup di antara pohon-pohon sagu dan dibelah oleh anak sungai serta alur anak-anak sungainya. Vegetasi lain berupa rumput tinggi dan semak liar.

Air di mana-mana berwarna merah kotor. Tetapi, karena tidak ada yang lebih baik, sumber air di sini tetap menjadi pilihan untuk air minum. Hanya pada air pasang yang sangat tinggi, air laut kadang-kadang masuk sampai ke sini.
Kami bagaimanapun, selalu berusaha sedapat mungkin memiliki air minum yang baik dalam botol.
Mengenai pabrik sagu di sini, saya hanya bisa menyampaikan bahwa tempatnya cuma berupa tumpukan kotoran yang kotor membusuk. Di atasnya, orang tidak dapat berjalan, tanpa terlebih dahulu meletakkan papan atau semacamnya.

Rumah-rumah penduduk juga tampak menyedihkan dan kotor. Nanti saya akan, juga mengenai pengolahan dan memberikan beberapa pemberitahuan lebih lanjut.
Bertemu Batin di Teluk Semarong
6 Oktober 1872. Pagi hari kami berangkat dengan berjalan kaki ke Semarong. Kami baru tiba pukul 4 sore. Jalan setapak menuju lokasi, tidak lebih baik daripada di tempat lain. Kondisi ini memberikan banyak pengalaman yang tidak menyenangkan. Kami harus melalui lumpur, daerah yang tergenang, maupun melalui rawa-rawa yang luas, dengan tangan menggapai batang-batang pohon untuk keseimbangan. Jika salah langkah atau tergelincir, resikonya jatuh ke rawa.
Kadang-kadang, kami juga melalui medan berbukit, mendaki dan menurun atau melalui hutan belantara. Kita tidak boleh kehilangan jalan setapak dari pandangan sedetik pun, agar tidak tersandung akar pohon atau bongkahan batu, atau tergelincir di tanah yang licin. Kemudian lagi, di bawah matahari yang terik, perjalanan kami juga melalui ladang yang tandus. Hampir tidak ada angin walaupun sepoi-sepoi yang bisa menyegarkan tubuh.
Sampai akhirnya — setelah menyantap makan siang di sebuah perkebunan gambir dan lada — kami tiba di tepi teluk Semarong. Seorang Batin Semarong yang ramah dan suka menolong datang menjemput kami dengan 5 sampan kecil.
Perjalanan masih harus diteruskan dengan melintasi perairan teluk, sebelum akhirnya kami tiba di tempat tinggal sang batin. Ia tinggal sendirian di wilayah ini. Sementara bawahan dan penduduk lainnya tinggal tersebar di beberapa tempat.
Ia menawarkan kepada kami sebuah kamar yang sangat baik di rumah papannya yang rapi. Tetapi, kami lebih memilih sebuah rumah terbuka. Kondisinya masih dalam pembangunan di atas tiang tinggi, sudah beratap. Agar nyaman sebagai tempat bermalam, bagian dinding yang masih terbuka, kami tutup dengan tikar kajang. Akhirnya, kami melewatkan malam dengan tenang di sana.
BANYAK tanaman indah yang dapat saya kumpulkan di sepanjang perjalanan yang ditempuh, bahkan sebuah Mawar Alpen (Rhododendron), saya temukan secara parasit, berlimpah pada cabang-cabang pohon besar yang tumbang di rawa. Beruntung, saya bisa membawanya dalam kondisi hidup hingga ke Buitenzorg. Saat dibawa ke Dai, salah satu kuncupnya masih berkembang dengan bunga kuning belerang. Saya berencana membudidayanya sebagai herbarium.

Di pantai, dekat hutan Rhizophora (bakau, pen.), saya mendapatkan sejenis tanaman Ericacea epifit, juga Vaccinium Malaccense. Itu dua jenis tanaman baru yang belum pernah saya temui sebelumnya di wilayah ini. Beberapa jenis tanaman lain juga berhasil saya kumpulkan.
Saya perlu mencari akal untuk membawanya karena sarana bantu untuk membuat tanaman-tanaman tersebut tetap hidup saat dipindahkan, sangat minim di sini. Untuk melindunginya dari kekeringan dan kerusakan di perahu, saya harus membungkusnya dengan sederhana dan menyimpannya di tempat yang teduh.
Kampung Cina di Sungai Papan
7 Oktober 1872. Batin yang menemani kami, sekarang telah menyediakan dua perahu besar yang lapang. Dengan itu, pagi-pagi sekali, kami berangkat ke Sungai Papan.
Apa yang orang sebut sungai di sini, sebenarnya bukanlah sungai. Tetapi benar-benar teluk yang menjorok jauh ke daratan. Dimana-mana tidak ada air tawar. Kami mendayung keluar teluk dan sekarang berada di laut lepas di pantai utara Lingga. Perairannya masih terlindungi sejumlah besar pulau besar dan kecil, sehingga laut sangat tenang.
Pukul 11 siang, kami sudah sampai di ujung teluk Sungai Papan yang juga sangat luas. Di wilayah ini, kami tiba di sebuah kampung Tionghoa yang kotor. Ada seorang Kepala Tionghoa yang memandu. Ia juga membawa kami ke rumah candu, di mana beberapa perempuan Tionghoa ikut duduk berjudi di antara para lelaki.
Istri Kepala, seorang nyonya Singapura, yang diperkenalkan kepada kami, paling kami sukai. Ia tampak benar-benar sangat manis.
Rumah-rumah Tionghoa lainnya semua tampak begitu bobrok dan kotor. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali saja ke perahu kami, menyantap makan siang di bawah sebuah gudang besar, yang hampir roboh di pantai. Kemudian, baru kembali ke kampung Cina itu lagi.
BAIK saat masuk maupun keluar teluk ini, kami selalu bertemu arus berpilin dan sejumlah besar pusaran kecil. Namun, itu tidak berbahaya. Segera setelah kami berada di luar teluk, kami turun ke darat untuk membotanisir dan berburu di sepanjang pantai. Perahu dengan pemandu mengikuti perlahan.
Pantai di sini berpasir dan mudah dilalui. Tetapi kadang-kadang ada kumpulan hutan Rhizophora atau batu yang menjorok ke laut, itu menghalangi jalan kami. Jika menghadapi kondisi seperti itu, maka kami naik lagi ke perahu, untuk mendarat lagi lebih jauh.
Sampai menjelang senja, kami akhirnya mencapai sebuah dusun (Sassa) yang ada di tepi di pantai. Kami memutuskan bermalam di sini.
Sambil berjalan di sekitar dusun ini, saya mengumpulkan koleksi tumbuhan yang baik di sekitarnya. Sementara tuan Goldman menghibur diri dengan berburu burung dan kerang. Tapi hasil tangkapannya tidak memuaskan.
Tepat sebelum Sassa, tuan Goldman katanya menemukan batu bara di sekitar pantai. Tapi setelah diteliti dan dibakar, ternyata tidak mau terbakar. Mungkin jika ditelusuri dan diteliti pada bagian lebih ke dalam dari wilayah ini, bisa ditemukan jenis yang lebih baik.
TANGGAL 8 Oktober 1872. Hari ini kami melanjutkan haluan lebih ke timur menuju Limbung. Kami berangkat pukul 6 pagi dan tiba pukul 6 sore di tempat tujuan.
Pendayung kami bersama Batin, dikirim kembali ke Semarong dan Musai untuk membawa perahu-perahu kami ke Karandieng. Rencananya, dari Limbung, kami akan berangkat lewat darat dan bertemu mereka di sana.
Setelah mengantarkan para pendayung, Batin kembali dengan beberapa barang yang kami tinggalkan. Ia menemani kami selanjutnya dalam pelayaran laut.
Budidaya Sagu di Limbung
DARI Sungai Papan, kami telah membawa serta beberapa Jukung (perahu kecil) dengan pendayungnya, untuk memudahkan pendaratan. Dengan beberapa jukung itu, kami bisa leluasa merapat ke darat untuk meneliti vegetasi di sekitarnya serta berburu.

[J.W. Stemfoort dan J.J. ten Siethoff. Masa pengumpulan data 1883 – 1885. © Arsip perpustakaan Leiden
Di tengah jalan kami juga mengunjungi kampung Sekana. Awalnya, kami berpikir akan makan siang di sini. Tapi tampaknya, kampung yang didiami oleh orang Melayu dan Tionghoa ini tidak begitu bersih. Akhirnya, kami memutuskan untuk lebih baik makan siang di sampan kami saja, sekaligus melanjutkan perjalanan.
Di Limbung, kami menginap di rumah seorang imam pembantu. Ada ruang tempat menginap. Rumahnya menjorok ke laut, namun kondisinya cukup tinggi. Sebagian bangunan berada di pantai, sebagian lain di laut.

[J.W. Stemfoort dan J.J. ten Siethoff. Masa pengumpulan data 1883 – 1885, memperlihatkan lokasi dusun Limbung/Limbang di pulau Lingga. © Arsip perpustakaan Leiden
Tapi, pada pukul 4, kami sudah terbangun. Ayam-ayam jantan milik Imam pembantu itu telah ramai berkokok. Suaranya riuh sehingga membuat kami tidak dapat lagi berpikir untuk tidur.
9 Oktober 1872. Baru sekarang saya memiliki kesempatan untuk memeriksa semua yang saya kumpulkan dengan baik dan mengemasnya. Untuk itu, kami memutuskan untuk tinggal sehari di sini.
SEBELAH timur wilayah Limbung ini, hampir seluruh tanahnya datar. Menurut cerita, juga berawa di banyak bagian. Banyak sagu di sini, terutama dari teluk Telok. Hasil sagunya banyak dikirim ke Sungai Dai.
Kondisi datar dan berawa, berakhir hingga Tanjung Hiang, ditandai dengan deretan beberapa bukit. Sebelah barat dan selatan Limbung berujung di medan yang berbukit juga, yang merupakan bagian pegunungan Sipientjan.
Selain pegunungan utama, Dai dan Sipientjan, seluruh pulau didominasi variasi kontur bukit dan rawa. Pada lokasi rawa, cocok untuk budidaya pohon sagu dan sudah banyak dibudidaya oleh penduduk. Produksi sagu yang dihasilkan, biasanya untuk kebutuhan penduduk sendiri. Sisanya baru dijual.
Budidaya sagu di sini, masih berpotensi besar untuk diperluas. Baik dengan menanami ruang-ruang kosong di kebun yang ada, maupun dengan membuka daerah-daerah yang masih belum digarap dan sangat luas. Namun, penduduk di sini terlalu malas untuk melakukannya. Mereka hanya mengupayakan yang ada saja.
Tanah kering yang landai, selain cocok untuk segala jenis pohon buah-buahan, juga cocok untuk kebun gambir dan lada.
Terjebak Badai di Tanjung Karandieng
TANGGAL 10 Oktober 1872. Pagi pukul 6, kami meninggalkan Limbung, menyeberangi pulau melintang ke arah sungai Karandieng di bagian selatan yang mengalir ke laut. Jalan kami awalnya, lagi-lagi melalui rawa dan melalui perkebunan sagu, yang tampak sama terabaikannya.
Perjalanan kami sampai di medan berbukit, kemudian masuk ke hutan belantara. Di sini, alur setapaknya cukup baik. Di sisi lain hutan ini, kami turun lagi ke tanah datar dan akhirnya bertemu kembali dengan tanah berlumpur. Tak jauh dari situ, perahu-perahu kami yang sudah berangkat lebih dulu dari Musai, terlihat di hulu sungai. Perjalanan darat hingga ke sini, ditempuh dalam 15 jam.
Perjalanan selanjutnya ditempuh menggunakan perahu. Sungai pada awalnya cukup sempit, dengan banyak kelokan dan rintangan. Banyak batang dan cabang pohon yang menggantung di atas vegetasi rawa. Bergerak lebih jauh, kami menemukan lagi kumpulan pohon sagu dan tempat pengolahannya di tepi sungai.
Beberapa cabang anak sungai yang bermuara ke sungai utama, banyak ditemukan di sini.
Setelah kira-kira 5 jam berlayar, kami tiba di sebuah lekukan laut yang lebar, di Tanjung Karandieng. Kami sampai di sana dengan kondisi cuaca baik. Namun begitu tiba, cuaca berubah menjadi hujan. Badai muncul dari arah barat daya yang membuat sekoci tua kami terombang-ambing seperti kulit kacang. Dalam kondisi terombang-ambing, kami bingung untuk memutuskan arah. Tidak ada sungai di dekatnya yang bisa kami tuju sebagai tempat berlindung.
Namun, kami melihat sebuah pantai berpasir di teluk kecil Seriem. Perahu langsung kami arahkan ke sana. Perlu berhati-hati agar tidak menabrak batu dan karang-karang di sekitarnya.
Akhirnya, kami berhasil menuju pantai berpasir itu tanpa kecelakaan, setelah melalui ombak yang hebat. Angin masih terasa kencang saat kami merapat ke darat. Dengan susah payah, para pendayung kami berhasil mengamankan perahu-perahu di antara pohon Prapat (Sonneratia) yang berdiri di laut. Hujan masih terus berlangsung.
Setelah lewat satu jam berlindung di bawah naungan tikar kajang yang dibawa dari perahu, hujan akhirnya berhenti. Kami memutuskan untuk segera bergerak kembali menggunakan perahu. Tapi sial, baru saja kami berada di luar teluk kecil ini, badai muncul lagi, bahkan lebih hebat dari sebelumnya.
Untuk berputar kembali sulit. Tapi, kami tidak berani melanjutkan perjalanan. Hanya satu pilihan yang ada; berlindung lagi di tempat terdekat, Sungai Plandoh.
Namun, untuk menuju ke sana tidak mudah. Ombak besar bergulung-gulung. Sementara lokasi sekitarnya berlumpur. Jika tidak dikemudikan oleh juru mudi yang handal, maka perahu sekoci kami ini pasti sudah terbalik digulung ombak.
Kondisi Sampan panjang kami lebih parah lagi karena berada di luar alur di atas lumpur. Sampan itu terombang-ambing seperti terkubur dalam gelombang. Air laut berkali-kali masuk ke dalam sampan, seperti akan tenggelam, tetapi muncul lagi.
Namun akhirnya kami sampai di sungai berlumpur yang sempit. Kami harus bermalam di sekoci dan terus duduk di tempat yang sama karena di sekelilingnya lumpur semua. Setelah beberapa saat badai mereda, tampak ada sebuah rumah pribumi kecil di sekitarnya. Dengan susah payah, kami berhasil menuju ke sana. Oleh pemiliknya, kami diberi tumpangan menginap.
Sekarang, kami memang berada di rumah kecil ini. Tetapi tidak dapat melangkahkan kaki ke luar, tanpa tenggelam dalam lempung kelabu yang gemuk.
Seluruh daerah ini, langsung terhubung dengan laut. Ada beberapa pabrik sagu di tepi sungai yang di mana-mana berlumpur. Kami bagaimanapun, akhirnya dapat melewatkan malam dengan tenang di tempat tidur kami.
Jika saja sekarang ada jalan yang baik, maka kami sebenarnya dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ibukota Dai tidak terlalu jauh dari sini. Tapi kami tidak tahu, bagaimana caranya karena memang tidak ada jalan darat yang bisa kami lalui.
TANGGAL 11 Oktober 1872. Pagi hari, kami melihat perahu-perahu kami terdampar dalam lumpur saat air laut surut. Laut telah tenang sekarang. Kami segera menuju ke kapal dengan cara berjuang melalui lumpur. Perahu-perahu yang terdampar pada lumpur kami luncurkan pada permukaannya yang licin sampai mencapai air laut melalui salah satu alur.
Laut tenang dan kami mulai mendayung. Kami tiba pada pukul 10 di ibu kota Kwala Dai.
(*)
Bersambung
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com



