PEMERINTAH Kota (Pemko) Tanjungpinang bergerak cepat menghadapi lonjakan kasus malaria di wilayahnya. Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan setempat mencatat sekaligus menangani sebanyak 518 kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Tanjungpinang, Rustam, menegaskan bahwa pihaknya menerapkan strategi jemput bola untuk menekan angka penyebaran.
“Penanganan dilakukan tidak hanya secara pasif dengan menunggu laporan dari fasilitas kesehatan, tetapi juga aktif melalui penemuan kasus langsung di lapangan,” sebut Rustam, Rabu (24/6/2026).
Untuk memutus rantai penularan, petugas kesehatan secara rutin menggelar survei demam di tengah masyarakat. Selain itu, edukasi masif terus digencarkan agar warga yang bergejala segera memeriksakan diri.
Rustam mengingatkan bahwa kedisiplinan pasien adalah kunci utama kesembuhan, mengingat pengobatan malaria membutuhkan waktu yang cukup panjang, yakni sekitar 14 hari. Saat ini, sebagian pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut bahkan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Tak hanya dari sisi medis, Pemko Tanjungpinang juga memperketat pengawasan lingkungan. Fokus utama diarahkan pada 58 titik rawa kecil yang diidentifikasi sebagai tempat perindukan nyamuk.
“Kami juga melakukan fogging (pengasapan) sebanyak dua siklus untuk membunuh nyamuk-nyamuk dewasa,” tambah Rustam.
Peta Sebaran Wilayah
BERDASARKAN data pemantauan terbaru, tren penularan malaria di Tanjungpinang menunjukkan grafik yang bervariasi. Beberapa wilayah dilaporkan mulai membaik, namun beberapa titik lainnya masih mencatatkan angka kasus yang cukup tinggi.
Lurah Senggarang, Edi Susanto, membeberkan data riil sebaran paparan malaria di wilayah kerjanya yang mencakup enam lokasi:
| Wilayah | Jumlah Kepala Keluarga (KK) Terinfeksi | Status Terkini |
| Tanjung Sebauk Darat | 109 KK (dari total 122 KK) | Mulai Melandai / Aman |
| Tanjung Sebauk Laut | 88 KK | Masih Tinggi |
| Senggarang Darat | 17 KK | Mulai Melandai / Aman |
| Senggarang Besar | 16 KK | Masih Tinggi |
| Kampung Bebek | 15 KK | Mulai Melandai / Aman |
“Sejumlah wilayah seperti Tanjung Sebauk Darat, Kampung Bebek, dan Senggarang Darat sudah mulai aman, namun Senggarang Besar dan Tanjung Sebauk Laut kasusnya masih belum landai,” jelas Edi.
Guna mengatasi wilayah yang belum kondusif, aksi kolaboratif antarsektor terus digenjot. Pemerintah kelurahan bersama dinas kesehatan, petugas pemadam kebakaran, relawan, hingga pengurus RT dan RW bergotong royong melakukan intervensi lingkungan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menaburkan obat pembunuh jentik nyamuk di sejumlah genangan air bekas tambang demi memutus siklus hidup nyamuk penular.
(nes/ham)


