PADA dekade 1920 hingga 1930-an, Tanjungpinang berstatus sebagai pusat administratif kolonial Belanda (Onder-afdeling di bawah Afdeling Tanjung Pinang) sekaligus kawasan yang berdampingan erat dengan pusat tradisi dan kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat. Kota ini berfungsi sebagai simpul laut yang sibuk dengan demografi majemuk antara penduduk pribumi Melayu, minoritas Tionghoa, dan segelintir warga Eropa.
Oleh: Bintoro Suryo
DI bawah Hindia Belanda, bandar Tanjungpinang selain berperan sebagai ibukota residensi Riau, juga sebagai pusat yang menangani administratif Afdeling Tanjung Pinang; meliputi Tanjungpinang, Batam, Karimun, Lingga, dan Pulau Tujuh.
Pada dekade 1920 hingga 1930-an, sistem pemerintahan kolonial di Tanjungpinang berjalan di bawah kendali penuh dan langsung (rechtstreeks bestuur) oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hal ini menyusul pembubaran dan pemakzulan resmi Kesultanan Riau-Lingga pada tahun 1911. Seluruh sisa wilayah kesultanan kemudian diubah menjadi struktur birokrasi modern ala Barat yang sangat tersentralisasi.
Sesuai Reorganisasi pada 1922, Tanjungpinang yang menjadi tempat kedudukan residensi dan afdeling, dibagi menjadi 4 Onderafdeling (wilayah administrasi tingkat bawah):
- Onderafdeling Pulau Tujuh (termasuk Tambelan dan wilayah Natuna).
- Onderafdeling Tanjung Pinang (sebagai pusat)
- Onderafdeling Karimun
- Onderafdeling Lingga
Saya merangkum dinamika kota Tanjungpinang masa itu, melalui sejumlah dokumen foto lama. Bersumber dari Wereld museum di Belanda, yang merupakan bagian koleksi Indische Wetenschappelijk Instituut (Lembaga Ilmu Pengetahuan Hindia).
Pada bagian 3.) ini, terlihat beberapa sisi kota Tanjungpinang masa itu. Misalnya keberadaan gereja Bethel Protestan yang dibangun sejak 1835, gedung Societiet yang merupakan pusat hiburan warga masa itu.

Suasana ruas jalan menuju gedung Societiet ‘Sempiterna’ pada bulan Agustus 1928. Ruas jalan ini sekarang dikenal sebagai jalan Teuku Umar, Tanjungpinang. Sementara lokasi gedung Societiet ‘Sempiterna’ berubah menjadi sekolah Bintan.

Suasana satu ruas jalan yang mengarah ke Goldman Straat di Tanjungpinang pada Agustus 1928. Lokasi saat ini berada di jalan Teuku Umar. Persimpangan yang terletak di depan, merupakan pertigaan antara jalan Merdeka dan jalan Teuku Umar saat ini.

Gedung Societiet Sempiterne difoto dari ruas jalan menuju gereja Bethel Protestan Tanjungpinang pada Agustus 1928. Lokasi saat ini berada di jalan Gereja kota Tanjungpinang. Di lokasi bekas gedung Societiet Sempiterne, saat ini berdiri sekolah Bintan yang dibangun pada dekade 1950-an.

Gereja Bethel Protestan Tanjungpinang pada Agustus 1928. Pengambilan gambar dilakukan pada ruas jalan Gereja Tanjungpinang.

Gedung gereja Bethel Protestan Tanjungpinang pada Agustus 1928. Lokasi pengambilan gambar berada di sekitar jalan Teratai Tanjungpinang.

Pemandangan salah satu ruas jalan di Tanjungpinang dengan gereja Bethel Protestan terlihat di kejauhan. Jalan ke kiri merupakan akses menuju Masjid Tanjungpinang pada Agustus 1928. Lokasi pengambilan gambar diperkirakan berada di sekitar jalan Yusuf Kahar dekat lokasi masjid Agung Al Hidayah kota Tanjungpinang pada masa sekarang.

Sebuah ruas jalan di Tanjungpinang, dekat gedung residensi Riau dan seorang anak kecil. Diperkirakan pada masa 1920 – 1930an. Lokasi tidak diketahui.

Bangunan rumah warga di salah satu lokasi di Tanjungpinang pada tahun 1938. Terbuat dari atap daun Rumbia.

Foto seorang warga dengan pedatinya di Tanjungpinang pada tahun 1938. Lokasi tidak diketahui.

De achtergrond is land met gebouwen. Foto uit een album over vermoedelijk een verblijf in Riau en op de Riau-eilanden. 1938. 7082-S-4409-23. © Wereld museum.
Sebuah kapal bersandar di rede (pelabuhan) Riau di Tanjungpinang, tahun 1938.

Achterin zit een inheemse man met hoed. Foto uit een album over vermoedelijk een verblijf in Riau en op de Riau-eilanden. 1938. 7082-S-4409-27. © Wereld museum.
Seorang nelayan dengan perahu layarnya di sekitar perairan Tanjungpinang, tahun 1938.

Seorang warga dengan perahu sedang melaut di sekitar perairan teluk Riau di Tanjungpinang. Tampak pada latar, pulau Penyengat Inderasakti pada tahun 1938.

Seorang warga sedang mengendarai sepeda tempel motor di sebuah ruas jalan. Kemungkinan di Goldman Straat (jalan Merdeka, pen. ) pada tahun 1938.

Seorang anak di tengah keramaian pesta rakyat di Goldman Straat (jalan Merdeka, pen.) pada tahun 1938.

Keramaian pesta rakyat di Goldman Straat (jalan Merdeka, pen ) tahun 1938. Lokasi diperkirakan berada di sekitar simpang jalan Merdeka – Jalan Bintan saat ini.

Salah satu ruas jalan menuju ke Goldman Straat (jalan Merdeka, pen.). Lokasi pesta rakyat digelar tahun 1938. Lokasi diperkirakan berada di sekitar jalan Teuku Umar saat ini.
(*)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com




















