Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    RDPU Terkait Lahan KASIBA Mangsang, DPRD Batam Dorong Adanya Kepastian Hukum
    13 jam lalu
    Ada Tugas Baru Untuk RT/RW di Batam, Menadata Warga Nunggak Pajak Kendaraan
    1 hari lalu
    Empat Orang Terlibat Curanmor Diamankan Petugas Polsek Nongsa
    1 hari lalu
    Demi Menjaga Iklim Investasi, Amsakar Meminta Aturan Khusus Adminduk di Batam
    1 hari lalu
    MTQH 2026 Kepri, Kota Batam Kembali Raih Juara Umum
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kalahkan Belgia, Matador Spanyol Tantang Prancis di Semifinal
    16 jam lalu
    Tundukan Singa Atlas, Ayam Jantan Eropa Melangkah ke Semifinal Piala Dunia
    2 hari lalu
    8 Tim ke Perempat Final Piala Dunia 2026: Peta Kekuatan, Kejutan, dan Duel Klasik
    3 hari lalu
    Argentina Jaga Asa Pertahankan Gelar, Kalahkan Mesir di 16 Besar
    4 hari lalu
    Skor Akhir 1-4, Setan Merah Belgia Sikat Tuan Rumah Amerika Serikat
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    6 hari lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    1 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    1 minggu lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    1 minggu lalu
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Masa-Masa Awal Pengembangan Batam (1)

Editor Admin 6 tahun lalu 3k disimak

PADA tanggal 26 Oktober 1971, setelah melihat prospek pengembangan pulau Batam, Presiden Indonesia kala itu, Soeharto mengeluarkan Keppres nomor 74 tentang pengembangan pembangunan pulau Batam menjadi daerah industri.

Daftar Isi
Masterplan 1972 dan PelaksanaannyaFree Trade Zone

—————
PASKA konfrontasi Indonesia-Malaysia di awal dekade 70-an, presiden Soeharto menetapkan pulau Batam sebagai Pangkalan Logistik dan operasional yang berhubungan dengan eksploitasi dan eksplorasi minyak lepas pantai.

Penetapan berdasar pada Keppres nomor 65 tahun 1970. Pertamina diperintahkan sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan proyek itu.

Direktur Utama Pertamina kala itu, Ibnu Sutowo diberi tanggung jawab  untuk membangun Batam.

Sejalan dengan Keppres 65 tahun 1970, gubernur Riau (Batam masih di bawah propinsi Riau saat itu, pen) Arifin Achmad mengeluarkan Surat Keputusan (SK) nomor kpts. 29/II/1971 tanggal 17 Februari 1970. Isinya adalah larangan sementara bagi kegiatan jual beli atau transaksi tanah yang terletak di pulau Batam.

Raja Zahar Jodan, Sekretaris Desa Nongsa, kecamatan Batam saat itu (Batam masih masuk di wilayah kabupaten Kepulauan Riau, pen) mengatakan seperti dikutip dari buku “Mengungkap Fakta Pembangunan Batam era Ibnu Sutowo-JB Sumarlin” bahwa telah ada edaran dari gubernur saat itu tentang larangan penerbitan berbagai macam surat keterangan kepemilikan tanah.

“Pokoknya dilarang mengeluarkan Surat Tebas atau Surat Atas Hak”, katanya di buku itu.

Itu dilakukan menurutnya, semata-mata untuk mendukung pembangunan Batam berdasarkan Keppres 65/1970 dan Keppres 41/1978 yang terbit kemudian.

Awalnya, Batam dikembangkan  sebagai basis logistik perminyakan. Namun kemudian berkembang menjadi daerah industri sesuai Keppres nomor 74  yang dikeluarkan presiden Soeharto pada 26 Oktober 1971.

Terbitnya Keppres nomor 74 tahun 1971 itu juga menjadi cikal bakal terbentuknya lembaga Otorita Batam (kini BP Batam, pen).

Beberapa butir penting dari Keppres 74 tahun 1971 itu adalah :

1. Pulau Batam yang sebelumnya ditetapkan sebagai basis logistik dan operasional bagi usaha-usaha yang berhubungan dengan eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai, perlu dikembangkan menjadi daerah industri yang mempunyai arti penting bagi kehidupan ekonomi nasional pada umumnya.

2. Penetapan daerah industri itu diberikan dengan status entreport partikulir untuk memfasilitasi kegiatan basis logistik dan operasional serta diberikan fasilitas-fasilitas lainnya.

3. Pembentukan Badan Pimpinan Daerah Industri Batam, yang selanjutnya disebut Badan Pimpinan, merupakan badan penguasa (authority) daerah yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada presiden.

4. Susunan Badan Pimpinan terdiri dari :
Ketua. : dr. H. Ibnu Sutowo
Wakil Ketua : Mayor Jenderal Teuku Hamzah
Sekretaris. : dr. E. Sanger

Masterplan 1972 dan Pelaksanaannya

IBNU Sutowo sebagai Pimpinan Pembangunan Daerah Industri Pulau Batam menyampaikan masterplan pembangunan Batam pada 29 Desember 1972. Isinya mencakup pembangunan phase pertama sampai dengan tahun 1984.

Penjelasan masterplan Batam, foto : © dok Otorita Batam/ Edy Sihite

Hasil kajian tim saat itu merekomendasikan strategi pembangunan Batam yang bertitikberat pada industri eksplorasi minyak dan gas, serta pusat pemrosesan produk turunannya seperti petroleum dan petrokimia.

Rapat pembahasan Masterplan Batam 1972, foto : © dok Otorita Batam

Untuk mewujudkan program pembangunan yang mulai berlangsung 1 Januari 1974, sejumlah kebijakan dirasa harus dijalankan sebelum tanggal tersebut.

Salah satu yang dianggap krusial adalah pembentukan Otorita Batam.

Yang penting lainnya adalah kesepakatan dengan pemegang izin untuk pembangunan kilang minyak serta pembiayaan infrastrukturnya.

Free Trade Zone

DALAM Masterplan 1972, kawasan perdagangan bebas (free trade zone) merupakan status yang mendapat perhatian khusus karena mengandung banyaknya rangkaian kegiatan industri.

Namun, status kawasan perdagangan bebas tidak dijabarkan secara lebih detail jika dibandingkan dengan proyek lainnya dalam laporan ini.

Menurut Masterplan tersebut, Batam punya potensi sebagai daerah industri antara lain karena lokasinya yang strategis di jalur pelayaran dunia.

Kendala besar yang dihadapi adalah sarana dan prasarana yang masih minim untuk dapat menarik minat investor menanamkan modalnya di Batam.

Untuk itu, hal-hal yang direkomendasikan dalam kawasan perdagangan bebas antara lain, kegiatan industri yang beragam dengan karyawan yang dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan pulau Batam dan terutama Indonesia.

Pada awalnya, pengembangan Batam sebagai basis logistik perminyakan mengalami beberapa kendala. Hal itu karena bekum adanya infrastruktur yang menunjang.

Cikal bakal pelabuhan Batu Ampar saat ini, foto : © dok Otorita Batam

Pengusaha Kris Taenar Wiluan mengatakan, pada tahun 1976-1977, salah satu pemasoknya yang memasukkan chemical ke Pertamina berkeinginan melihat pulau-pulau di sekitar Singapura untuk menyimpan barang-barang chemical mereka.

“Waktu itu mereka melihat beberapa pulau-pulau dekat Singapur, tadinya mereka simpan di Singapur dan sekalian mau simpan di Batam. Dan juga sekalian kemungkinan melihat untuk mengolahnya di Indonesia karena barang-barang kimia itu untuk recovery di Indonesia. Jadi, waktu itu belum ada Jurong Oil Base, apa namanya Jurong Island, belum ada. Jadi, kami usulkan waktu itu pulau Batam , paling dekat Batam (soalnya). Jadi, saya datang ke Batam tahun 1977 melihat kemungkinan penyimpanannya di Batam. Tapi ternyata Batam itu belum ada sama sekali, infrastruktur belum ada apa-apa di sini. Waktu itu landing-nya fery di Batam satu hari sekali, Batam Express saya ingat”, kata Kris T. Wiluan di buku “Mengungkap Fakta Pembangunan Batam era Ibnu Sutowo-JB Sumarlin“.

Selain belum ada infrastruktur, kendala perizinan juga masih cukup sulit dihadapi. Kris menuturkan masuk ke Batam saat awal-awal dulu termasuk cukup sulit.

“Masuknya juga susah, harus ada izin macam-macam. Saya dapat izin masuk, tapi waktu itu saya masuk dengan orang asingnya itu dia lupa bawa yellow card untuk masuk Singapur. Jadi, ada permasalahan di CIKP. Jadi kita bicara-bicara dengan karantina, akhirnya fery terlambat. Jadi mesti nginep di Batam. Di Batam tidak ada hotel saat itu, jadi kita nginep di Batu Ampar, mana nyamuknya banyak lagi. Jadi, kita lihat di situ. Orang asingnya jadi tidak tertarik karena tidak ada apa-apanya, karena tidak ada jalan (juga). Jadi, karena resepsinya kurang baik waktu itu, dengan karantina dengan customnya juga di situ, customnya kurang baik waktu itu. Jadi, saya lihat di situ bagaimana Batam gelap, Singapur terang benderang dan saya lihat waktu berbicara dengan rekan saya Amerika itu keperluan logistiknya di Indonesia, keperluan perminyakannya di Indonesia disimpan di Singapur. Jadi, ada pikiran saya kenapa tidak di Batam”, kata Kris T. Wiluan.

Bersambung

(*/nes)

* Seperti yang ditulis di buku "Mengungkap
 Fakta Pembangunan Batam era Ibnu Sutowo - 
JB Sumarlin"


Kaitan otorita batam, sejarah batam, top
Admin 26 Oktober 2020 26 Oktober 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Hal-Hal Yang Diprediksi Punah di 2025
Artikel Selanjutnya Iskandar Alamsyah Kembali Pimpin KONI Kota Batam

APA YANG BARU?

RDPU Terkait Lahan KASIBA Mangsang, DPRD Batam Dorong Adanya Kepastian Hukum
Artikel 13 jam lalu 74 disimak
Kalahkan Belgia, Matador Spanyol Tantang Prancis di Semifinal
Sports 16 jam lalu 115 disimak
Ada Tugas Baru Untuk RT/RW di Batam, Menadata Warga Nunggak Pajak Kendaraan
Artikel 1 hari lalu 98 disimak
Empat Orang Terlibat Curanmor Diamankan Petugas Polsek Nongsa
Artikel 1 hari lalu 114 disimak
Demi Menjaga Iklim Investasi, Amsakar Meminta Aturan Khusus Adminduk di Batam
Artikel 1 hari lalu 125 disimak

POPULER PEKAN INI

Serindit Food Center di Tepi Laut untuk Dongkrak Ekonomi UMKM
Artikel 6 hari lalu 432 disimak
Tekan Kemiskinan di Pesisir, Batam Jadi Kota Pertama Peluncuran SiTaskin Pesisir
Artikel 4 hari lalu 314 disimak
8 Tim ke Perempat Final Piala Dunia 2026: Peta Kekuatan, Kejutan, dan Duel Klasik
Sports 3 hari lalu 304 disimak
Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
Statistik 6 hari lalu 295 disimak
Dramatis! Meksiko Disingkirkan Inggris di Azteca
Sports 5 hari lalu 293 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?