Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pemeriksaan Dugaan Pungli , Kepala Imigrasi Batam Dicopot
    9 jam lalu
    Sindikat Pencurian Fasilitas Publik di Batam Dibekuk
    9 jam lalu
    Polresta Barelang Ungkap Pencurian Dengan Pemberatan Sarana Fasum di Batam
    14 jam lalu
    Pemko Batam Siap Laksanakan Kebijakan WFH 1 Hari Dalam Sepekan
    17 jam lalu
    Hadiri Halal Bihalal di Bengkong, Wako Batam Janjikan Pelebaran Jembatan
    20 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
    8 jam lalu
    Bosnia Herzegovina Gagalkan Italia ke Piala Dunia 2026
    2 hari lalu
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    4 hari lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    4 hari lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Bjorka dan Pembersihan Mahasiswa Indonesia di Eropa Timur

Editor Admin 4 tahun lalu 775 disimak

HACKER Bjorka tengah menjadi perhatian publik karena membocorkan data-data pemerintah Indonesia yang diduga rahasia. Dalam cuitan sebelum akunnya, @bjorkanism, ditangguhkan (suspended), dia memberikan petunjuk tentang jati dirinya. Dia mengaku diasuh sejak lahir oleh orang Indonesia yang kewarganegaraannya tidak diakui oleh pemerintah Indonesia karena kebijakan setelah 1965. Orangtua angkatnya itu meninggal dunia tahun lalu.

“Dia ingin kembali dan melakukan sesuatu dengan teknologi meskipun dia melihat betapa sedihnya menjadi seorang Habibie. Dia tidak punya waktu untuk melakukannya sampai dia akhirnya meninggal dengan tenang. Tampaknya rumit untuk melanjutkan mimpinya dengan cara yang benar, jadi saya lebih suka melakukannya dengan cara ini. Kita memiliki tujuan yang sama, agar negara tempat dia dilahirkan bisa berubah menjadi lebih baik. Senang bertemu dengan kalian,” cuit Bjorka.

Dalam profil twitter, Bjorka mencantumkan lokasinya di Warsawa, Polandia. Mengomentari cuitan Bjorka itu, Ismail Fahmi dalam akun twitter@ismailfahmi menyebut motifnya tidak murni leaking tapi ada unsur perlawanan pada politik Orde Baru.

“Ini nyarinya jadi lbh mudah: cari WNI yg dikirim ke Warsawa jaman Sukarno, sudah meninggal, punya anak asuh. Pasti ndak banyak,” cuit pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia itu.

Aboeprijadi Santoso, wartawan Indonesia yang tinggal di Belanda, dalam tulisannya, Batara Simatupang, Pendekar di Usia Senja, menyebut mahasiswa Indonesia di Warsawa, Batara Simatupang, adik Jenderal TNI (Purn.) T.B. Simatupang, beserta sebelas rekannya menolak screening lalu KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) mencabut paspor mereka pada Oktober 1966. Batara pindah ke Belanda dan meraih gelar doktor bidang ekonomi-sosialis dari Universitas Amsterdam.

Mungkinkah salah satu di antara mahasiswa Indonesia di Warsawa yang dicabut paspornya itu adalah orangtua angkat Bjorka?

Terlepas dari itu, screening (penyaringan atau pembersihan) membuat banyak mahasiswa Indonesia di Eropa Timur dan Uni Soviet dicabut paspornya sehingga menjadi eksil. Mereka adalah orang-orang kiri, nasionalis, Sukarnois, dan menolak mengakui pemerintah baru di bawah Jenderal TNI Soeharto.

M. Djumaini Kartaprawira, mahasiswa Indonesia di Uni Soviet, menyebut mahasiswa Indonesia paling banyak di Moskow. Di kampusnya, Univeritas Lumumba dan Universitas Lomonosov, kira-kira terdapat 500 mahasiswa Indonesia.

Selain kedua universitas itu, mahasiswa-mahasiswa Indonesia juga belajar di akademi seperti metalurgi, film, dan lain-lain. Di Odessa, mahasiswa Indonesia berlajar di perguruan tinggi perminyakan, Angkatan Laut, dan lain-lain.

Menurut Djumaini, mahasiswa Indonesia yang belajar di Uni Soviet tidak semua berideologi kiri. Selain itu, ada mahasiswa dari pemerintahan, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), dan Nahdlatul Ulama (NU).

“Gus Dur bilang ada anak Ansor yang juga dicabut paspornya. Dia studi kedokteran di Moskow dan selesai. Saya bilang saya kenal orang itu,” kata Djumaini kepada Martin Aleida dalam Tanah Air yang Hilang. Djumaini menyelesaikan pendidikan doktor bidang hukum tahun 1973. Pada 1990, dia meninggalkan Moskow untuk tinggal di Belanda.

Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, mahasiswa di Moskow terbelah. Kelompok kanan dipimpin seorang mahasiswa bermarga Sihombing, sedangkan kelompok kiri dipimpin oleh Sinuraya. Mula-mula mereka dipanggil bagian pendidikan KBRI yang memberitahukan tentang perubahan politik di Indonesia. Mereka diminta supaya tetap loyal kepada pemerintah.

“Briefing pertama supaya mendukung Sukarno, tetapi pada briefing kedua menjelang akhir 1965 sudah merupakan screening,” kata Djumaini.
Screening mahasiswa di Uni Soviet dan seluruh Eropa Timur dipimpin Atase Militer Brigadir Jenderal TNI M. Jasin. Dia mendapat perintah langsung dari Jenderal TNI Soeharto.

“Dari Jenderal Soeharto, saya memperoleh penjelasan mengenai peristiwa G30S/PKI. Saya diperkenankan kembali ke Moskow dengan tugas mengadakan screening terhadap mahasiswa di seluruh Eropa Timur,” kata Jasin dalam Saya Tidak Pernah Minta Amun Kepada Soeharto.

Pada tahap pertama, Jasin mengambil tindakan terhadap 37 orang yang terdiri dari pegawai KBRI dan mahasiswa. “Pada pertengahan tahun 1966, terpaksa saya mencabut paspor mereka,” kata Jasin.

Djumaini dan kawan-kawan tidak datang ketika dipanggil untuk kedua kali karena sudah tahu banyak orang kanan yang menentang Bung Karno. Mereka yang datang ditanya macam-macam: orangtua masih hidup atau tidak, kalau hidup, kerja di mana, alamatnya di mana, saudaranya siapa saja?

“Masak saudara-saudara yang jauh ditanyakan. Kalau ditanya orangtua masih bisa diterima. Tetapi kalau yang lain-lain, kita jadi takut. Kita sudah mengira kalau dijawab semua bisa membahayakan,” kata Djumaini yang bersyukur keluarganya selamat.

Setelah di Moskow, Jasin melakukan screening mahasiswa di seluruh Eropa Timur. Dia menanyakan pada mereka apa cita-citanya, keinginannya, dan lain-lain. Mereka diminta mengisi formulir screening. “Saya yang mengambil keputusan, bagi yang hasil screening-nya baik saya siapkan paspor,” kata Jasin.

Menurut Jasin, mahasiswa-mahasiswa kiri mengisi formulir sambil mencaci maki pemerintah. Mereka sangat anti pemerintah Orde Baru. Jasin pun mencabut paspor mereka, tetapi pemerintah Uni Soviet melindungi sehingga mereka tetap di sana.

“Di antara mahasiswa itu, ada adiknya T.B. Simatupang (Batara Simatupang, red.) yang menikah dengan orang Rusia,” kata Jasin. Jasin keliru karena istri Batara, Sekartini Markiahtoen Nawawi berasal dari Jawa Barat yang pernah menjadi dosen IKIP Bandung. Mereka menikah di Amsterdam pada 11 April 1985.

Gelombang pembersihan kedua dilaksanakan pada November 1966. Jasin mencabut paspor 115 mahasiswa. “Mereka adalah mahasiswa yang mengadakan aksi menentang pembinaan Orba,” kata Jasin.

Setelah lebih dari satu setengah tahun di Moskow sebagai Atase Militer yang memimpin screening, Jasin kembali ke Indonesia. Dia diangkat menjadi Panglima Kodam VIII/Brawijaya, Jawa Timur. Pangkatnya naik menjadi Mayor Jenderal. Dia juga yang memimpin pembersihan PKI di Jawa Timur.

Menurut Jasin, pada 1960-an, mahasiswa terjun ke arena politik bersamaan dengan pengalihan kekuasaan pada militer. Perguruan tinggi tidak lagi menjadi tempat mencetak elite intelektual, tetapi ajang pertempuran politik. PKI banyak tertarik pada kaum intelektual perguaran tinggi.

“Soeharto pun sebenarnya didukung mahasiswa untuk melakukan perubahan, meskipun itu hanya taktik. Belakangan dia pun dipaksa turun dari kursi kepresidenan oleh mahasiswa yang menginginkan reformasi total, setelah berkuasa selama 32 tahun,” kata Jasin yang kemudian melawan Soeharto.

Pada 1999, Djumaini bertemu Gus Dur di suatu hotel di Den Haag, Belanda. Dia menceritakan mengapa paspornya dicabut. Gus Dur mengatakan kalau nanti dia menjadi presiden, yang paspornya dicabut akan dipulangkan ke Indonesia.

Gus Dur menepati janjinya. Ketika menjabat presiden, Gus Dur memproses pemulangan kaum eksil dengan mengirim wakil untuk berdialog. “Dia jadi presiden,” kata Djumaini, “tetapi poros tengah dan militer kemudian menendangnya.”

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Eropa timur, g30s pki, hacker, mahasiswa, Soeharto, sukarno, Uni Soviet
Admin 13 September 2022 13 September 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Bengkong Smiling Morning 2022 Berlangsung Sukses | Warga Cipta Permata Raih Hadiah Motor
Artikel Selanjutnya Nelayan Natuna Merasa Diintimidasi Kapal Coast Guard China

APA YANG BARU?

Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
Budaya 8 jam lalu 96 disimak
Pemeriksaan Dugaan Pungli , Kepala Imigrasi Batam Dicopot
Artikel 9 jam lalu 81 disimak
Sindikat Pencurian Fasilitas Publik di Batam Dibekuk
Artikel 9 jam lalu 84 disimak
Polresta Barelang Ungkap Pencurian Dengan Pemberatan Sarana Fasum di Batam
Artikel 14 jam lalu 77 disimak
Pemko Batam Siap Laksanakan Kebijakan WFH 1 Hari Dalam Sepekan
Artikel 17 jam lalu 77 disimak

POPULER PEKAN INI

Rencana Batas Belanja Pegawai 30% pada APBD 2027, Nasib PPPK Bintan Terancam
Artikel 4 hari lalu 271 disimak
Mulai Hari Jum’at (3/04/2026) Jalan Gajah Mada (Area Hotel Vista) Ditutup Sementara
Artikel 1 hari lalu 267 disimak
Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
Artikel 4 hari lalu 253 disimak
Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
Artikel 4 hari lalu 244 disimak
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Catatan Netizen 4 hari lalu 243 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?