Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Hutan Lindung Tanjung Piayu Rusak Parah, PT GTP Jadi Tersangka
    16 jam lalu
    Tanjungpinang Tembus 6 Besar Kota Termaju di Sumatera
    1 hari lalu
    Aksi Pencurian Berulang di Indomaret RSBP Batam Berakhir Damai melalui Mediasi
    1 hari lalu
    Pemko Batam Bantah Koperasi Merah Putih P. Buluh Mangkrak
    1 hari lalu
    Batam Tak Masuk 10 Kota Maju di Sumatra
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Volume Sampah di Batam Melonjak 35 Persen
    1 hari lalu
    Alun-Alun Engku Putri Penuh Sorak, Event FIBA 3×3 2026 Ramaikan Batam
    3 hari lalu
    Bungkam China 22-9, Belanda Juara FIBA 3×3 Women’s Series Batam 2026
    4 hari lalu
    Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental
    5 hari lalu
    31 Tim Basket 3×3 Internasional Mulai Berlaga di Batam Hari ini
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    1 minggu lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    2 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    3 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    4 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    1 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Cerita Gerilya dari Sanggabuana, Tempat Ditemukannya Ular Naga

Editor Admin 4 tahun lalu 889 disimak

ULAR naga yang selama ini dianggap mitos, ternyata benar-benar ada di Pulau Jawa. Ular bernama Latin Xenodermus javanicus itu ditemukan tim gabungan Sanggabuana Wildlife Ranger (SWR), mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta, dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru pada 29 Oktober lalu.

“Ular naga ini kami temukan di aliran sungai Curug Cikoleangkak pada malam hari saat herping (mencari amfibi atau reptil). Siangnya kami melakukan analisis vegetasi dibantu oleh teman-teman dari Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru,” kata Deby Sugiri, perwakilan Divisi Konservasi Keanekaragaman Hayati SWR, sebagaimana diberitakan kompas.com, 1 November 2022.

Pencarian ular naga sejatinya telah dilakukan SWR sejak kurang-lebih setahun belakangan. Saat menemukan ular tersebut, tim sebetulnya sedang melakukan analisis vegetasi di lokasi. Lokasi penemuan sendiri berada di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.

Gunung Sanggabuana merupakan “pagar” sisi tenggara Karawang. Selain kaya fauna, wilayah gunung setinggi 1500-an meter itu juga kaya vegetasi. Kekayaan flora-fauna itulah yang agaknya menyebabkan tempat itu dipilih jadi tempat tinggal sejak lama. Di masa Tarumanegara, pohon gaharu (Aquilaria) –termasuk family Thymelaeaceae– dari Sanggabuana menjadi salah satu komoditas andalan yang diekspor hingga ke Mesir.

“Tumbuhan dari keluarga Thymelaeaceae terutama genus Aquilaria mungkin merupakan komoditas perdagangan saat itu. Thymelaeaceae adalah jenis tumbuhan gaharu-gaharuan dan di Pegunungan Sanggabuana tumbuh habitat dari genus Aquilaria yang resin atau getahnya sangat bagus untuk dijadikan dupa dan pewangi. Gaharu bagian kayu maupun resin atau getahnya telah menjadi komoditas perdagangan internasional sejak 2000 tahun silam. Komoditas ini dijual mulai dari Cina sampai ke Mesir dan Eropa Timur, dan Kerajaan Tarumanegara dengan pelabuhannya merupakan persinggahan dari para pedagang internasional,” tulis Yuda F. Silitonga, Willy Firdaus, dan Dharma Putra Gotama dari Forum Pemuda Peduli Sejarah Karawang dalam Rengasdengklok Undercover.

Namun, kehidupan di Sanggabuana telah ada sebelum Tarumanegara. Berbagai peninggalan zaman batu, seperti Situs Kebonjambe, menjadi buktinya.

“Berdasarkan periodisasinya, tinggalan-tinggalan tersebut mencirikan corak budaya prasejarah, Hindu-Buddha, Islam, dan Kolonial. Tinggalan prasejarah tersebar tidak hanya di lingkungan dataran tinggi, tetapi juga di dataran rendah. Tinggalan di dataran tinggi umumnya merupakan bangunan megalitik, sarana pemujaan terhadap arwah leluhur. Di dataran rendah, tinggalan prasejarah terdapat di wilayah Batujaya berupa kubur-kubur manusia di bawah percandian Hindu-Buddha. Salah satu di antaranya di bawah Candi Blandongan, berupa kubur dengan batu datar pada tubuh candi dan di bagian bawah candi,” demikian diungkap buku yang dieditori Retno Handidi dan Sugeng Riyanto, Karawang dalam Lintasan Peradaban: Seri Pertama Monografi Workshop-Penelitian 2015.

Sanggabuana pula yang dijadikan basis gerilya oleh badan perjuangan bernama Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) –kemudian berkembang menjadi Laskar Rakyat Jawa Barat, sering disebut sebagai Laskar Rakyat saja– ketika para pejuang di Jakarta menyingkir ke timur akibat kondisi kota semakin tidak kondusif pada akhir 1945. Mereka berhasil menguasai Karawang hingga terus membesar. Namun usai penculikan Suroto Kunto, komandan Resimen Cikampek, dan adanya upaya penertiban organisasi militer oleh Komandan Divisi Siliwangi Kolonel Nasution, Laskar Rakyat “dibereskan” pasukan Siliwangi. Mereka yang tersisa lalu berpencar.

“Jatuhnya Karawang benar-benar menghancurkan hegemoni LRJR di dataran Karawang. Struktur komando organisasi terlalu rapuh dengan dasar ekonomi terlalu lemah dan reputasinya terlalu buruk bila digabungkan. Tidak semua komponen LRJR dihilangkan ataupun diterima tentara. Lemah dan kehilangan semangat, unit-unit yang tercerai-berai ke wilayah-wilayah terpencil untuk melanjutkan perjuangan. banyak juga yang menuju lereng Gunung Sanggabuana di selatan Karawang,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.

Ketika para pejuang Kiblik mesti keluar dari wilayah dalam Garis Van Mook usai Perjanjian Renville (1947), sebagian anggota Laskar Rakyat tetap tinggal di Sanggabuana untuk melancarkan gerilya. Maka begitu ibukota Yogyakarta diduduki Belanda dalam Agresi Militer Belanda II (1949), Chairul Saleh –tokoh pemuda yang berperan mendesak Sukarno-Hatta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan, ikut mengungsi ke Yogyakarta bersamaan dengan pindahnya pusat pemerintahan pada 1946– memilih kembali ke Jawa Barat untuk bergabung bersama rekan-rekannya di Sanggabuana guna melancarkan perang gerilya.

“Kita harus kembali ke pos kita masing-masing. Pos perjuangan kita adalah Krawang, Jawa Barat. kumpulkan dan siapkan pasukan, kita harus secepatnya berangkat. Kumpulkan kawan-kawan, kumpulkan senjata yang ada. Hari ini juga kita meninggalkan Yogya lewat Krawang, Purwakarta menuju Sanggabuana,” kata Chairul, dikutip Irna HN Soewito dalam biografi berjudul Chairul Saleh Tokoh Kontroversial.

Rombongan Chairul akhirnya mencapai Desa Sirna di Sanggabuana setelah berhari-hari jalan kaki dari Yogyakarta. Chairul berhasil bergabung kembali dengan Laskar Rakyat, yang oleh Mabes Tentara RI ditetapkan sebagai TNI Brigade Bambu Runcing. Di Sanggabuana pula badan perjuangan itu mengadakan rapat kepemimpinan.

“Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa pimpinan lama, yaitu Wahidin Nasution, Samsudin Can, Sidik Samsi dan Mangilap, menyerahkan jabatan mereka kepada Chairul Saleh. Adapun susunan jabatan pimpinannya dilengkapi serta dibagi dalam beberapa batalyon,” sambung Irna.

Di tangan Chairul, organisasi laskar dan taktik gerilya dibenahi. Antara lain dengan pembagian ke dalam beberapa batalyon.

“Para gerilyawan disebar meluas, supaya dapat bergerak lincah dan efektif. Kursus kader politik diadakan, PD (Pertahanan Desa) digalakkan kembali. Pemantauan perkembangan politik diadakan sebagai bahan informasi pimpinan di Sanggabuana dan kemudian dikembangkan mendasari strategi dan taktik perjuangan selanjutnya,” sambung Irna.

Dari Sanggabuana, personel-personel Laskar Rakyat menyusup ke wilayah-wilayah sekitar seperti Bogor dan Jakarta. Guna mengkoordinir serikat buruh-serikat buruh, Laskar Rakyat mengirim Kusnandar menyusup ke Jakarta. Komunikasi dilakukan Kusnandar dengan Chairul lewat tiga kurir yang –mayoritas perempuan dengan bekal berupa surat nikah palsu untuk menyiasati pemeriksaan– rutin dikirim saban tiga hari.

Lawan yang dihadapi Laskar Rakyat namun bukan hanya pasukan NICA. Para kombatan DI/TII juga kerap clash dengan kombatan Laskar Rakyat. Usai Perjanjian Roem-Royen, lawan Laskar Rakyat bertambah dengan Batalyon Kian Santang di bawah pimpinan Mayor Sambas Atmadinata dari Divisi Siliwangi yang sudah pulang dari “hijrah”.

Perselisihan dengan Batalyon Sambas dipicu oleh beda pandangan Laskar Rakyat dan Batalyon Sambas dalam merespon ketentuan cease fire yang dihasilkan dalam Perjanjian Roem-Royen. Chairul dan Laskar Rakyat, yang Murbais, tak sedikit pun mengindahkan cease fire lantaran perjanjian itu dibuat tidak adil.

Dalam pandangan Tan Malaka, yang dianut Chairul, Indonesia baru mau berunding setelah merdeka 100 persen. Artinya, Belanda mesti angkat kaki terlebih dulu dari Indonesia baru perundingan bisa dilaksanakan. Padahal faktanya, perundingan diadakan saat Belanda masih mengagresi Indonesia.

Sementara, Sambas sebagai kesatuan di Siliwangi hanya bisa menjalankan perintah dari pusat. Sebagai tentara republik, Siliwangi harus mengikuti keputusan politik yang diambil pemerintah.

Maka kendati telah ada kesepakatan “main mata” antara Chairul dan Sambas untuk menghadapi NICA, clash-clash akibat kesalahpahaman di kalangan prajurit membuat Chairul mesti mengambil sikap. Ia akhirnya membawa pasukannya pindah ke Banten Selatan. Tamatlah cerita gerilya di Sanggabuana.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Chairul Saleh, Divisi siliwangi, Laskar rakyat, Perang kemerdekaan, Tan Malaka, Ular naga
Admin 15 November 2022 15 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Batam Masih Punya Stok Vaksin Covid-19 Booster Jenis Pfizer 1.596 Dosis
Artikel Selanjutnya 623 Honorer di Pemkab Natuna Diajukan Diangkat Jadi PPPK

APA YANG BARU?

Hutan Lindung Tanjung Piayu Rusak Parah, PT GTP Jadi Tersangka
Artikel 16 jam lalu 53 disimak
Tanjungpinang Tembus 6 Besar Kota Termaju di Sumatera
Artikel 1 hari lalu 207 disimak
Aksi Pencurian Berulang di Indomaret RSBP Batam Berakhir Damai melalui Mediasi
Artikel 1 hari lalu 183 disimak
Pemko Batam Bantah Koperasi Merah Putih P. Buluh Mangkrak
Artikel 1 hari lalu 141 disimak
Volume Sampah di Batam Melonjak 35 Persen
Lingkungan 1 hari lalu 204 disimak

POPULER PEKAN INI

Urusan Paspor di Imigrasi Batam? Jangan Lupa Bawa Dokumen Asli
Artikel 4 hari lalu 354 disimak
BP Batam Rekonstruksi Total Jalan Gajah Mada Mulai 25 Juli, Arus Dialihkan
Artikel 4 hari lalu 332 disimak
Kemenkeu Berikan Insentif Pajak 0% Selama 50 Tahun Untuk Investor di PFII
Artikel 5 hari lalu 309 disimak
Alun-Alun Engku Putri Penuh Sorak, Event FIBA 3×3 2026 Ramaikan Batam
Sports 3 hari lalu 304 disimak
Hari ini, Jum’at (24/07) Kota Batam Diperkirakan di Guyur Hujan Ringan
Artikel 5 hari lalu 294 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?