PEMERINTAH Malaysia sejak April lalu memang menerapkan Movement Control Order, sehingga mengganggu suplai bahan penunjang industri di sebagian perusahaan di Batam. Akibatnya ada sekitar 10 persen perusahaan di Batam merumahkan sebagian kecil dari karyawan mereka akibat dari tidak beroperasinya supplier dan perusahaan supply chain serta customer mereka di negara tetangga Malaysia ini.
Meskipun demikian, kegiatan industri manufacture di Batam dinilai masih berjalan dengan normal.
“Kegiatan di semua kawasan industri, dapat kita lihat dari pergerakan pekerja/operator pabrik muali jam 06.15 WIB. Jalan-jalan menuju kawasan industri pada pagi hari sangat padat. Artinya Perusahaan di sektor manufacture tetap berjalan dengan normal,” kata Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Tjaw Hoeing di Batam pada Kamis (7/5) kemarin.
Di tengah upaya pencegahan Covid-19, Tjaw Hoeing mengeku terus mendorong agar kegiatan di industri di Batam dan Kepri dapat berjalan dengan normal sesuai aturan yang mendukung upaya tersebut. Mendorong perusahaan menjalankan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 tahun 2020 dan Surat Edaran (SE) Menteri Perindustrian (Menperin) Nomor 4 dan 7 tahun 2020 terkait Ijin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI).
“Rata-rata semua perusahaan kawasan Industri dan perusahaan industri sudah mendapatkan IOMKI tersebut dengan melakukan tindakan preventif pencegahan Covid-19 sesuai protokol kesehatan yang diwajibkan,” kata Tjaw Hoeing lagi.
Meskipun demikian, Tjaw Hoeing mengakui memang pada triwulan pertama 2020 ini terdapat penurunan -4.51 persen dari quarter sebelum sesuai dengan laporan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik Kepri. Secara tahunan pun, walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi Kepri masih tumbuh sebesar 2,06 persen, kondisi ini berada di bawah pertumbuhan rata-rata nasional sebesar 2.97%.
*(Bob/GoWestId)


