Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
    12 jam lalu
    BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
    13 jam lalu
    Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di Kampungku Dulu
    15 jam lalu
    Semarak Idul Adha di Perumahan Bida Asri 1 Batam
    16 jam lalu
    Polda Kepri Hentikan Kasus Kecelakaan Maut WNA Tiongkok Lewat RJ
    18 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
    12 jam lalu
    27 Atlet Pelajar Kota Batam Ikuti Seleksi O2SN Cabor Panjat Tebing
    3 hari lalu
    Como 1907 Lolos Liga Champions Eropa, Klub Emil Audero Degradasi ke Serie B
    3 hari lalu
    Cetak Hatrick, Persib Bandung Jawara Indonesia Super League 2025/2026
    4 hari lalu
    Cadangan Air Waduk Batam Turun Tajam
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Sultan Abdul Rahman I Muazzamshah (Sultan Riau Lingga Pertama)
    4 hari lalu
    Pulau Kasu, Batam
    2 minggu lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    3 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    4 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Habibie Kecil dan Soeharto Muda

Editor Admin 4 tahun lalu 934 disimak

BACHARUDDIN Jusuf Habibie tak dibiarkan menunggu terlampau lama di ruang tamu kediaman Soeharto, Jalan Cendana. Hanya berselang beberapa menit setelah tiba pada pukul 7 malam, 28 Januari 1974 itu, ia bersua (kembali) dengan sosok Bapak Pembangunan itu.

Itu pertemuan ketiga dan paling dinanti. Pada Agustus 1973, saat masih di berkarier di Jerman, Habibie diminta pulang Soeharto lewat kakak iparnya, Brigjen Subono Mantofani. Namun baru di akhir Januari itulah ia bisa bertatap muka lagi dengan Soeharto. Ketika bersua, salam dan sikap hormat Habibie disambut jabat tangan hangat sang presiden.

“Habibie saya tahu dan mengenal kamu, sekarang kamu harus membantu saya menyukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi. Coba kamu cari jalan,” kata Soeharto pada Habibie.

“Pak Harto, saya hanya bisa membuat kapal terbang. Mengapa saya akan diberi tugas begini?”

“Kamu bisa membuat kapal terbang, berarti bisa membuat yang lain-lain.”

Percakapan itu terekam dalam biografi Habibie karya wartawati senior Toeti Adhitama (Almh.), Dari Parepare Lewat Aachen. Percakapan itu lantas berbuah tanggung jawab Habibie membangun industri penerbangan nasional lewat Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia/PT DI).

Soeharto mengakui, ia sudah mengenal Habibie jauh sebelum sang teknokrat muda itu berkiprah di industri berat Jerman hingga dijuluki “Mr Crack”. Mereka sudah pernah bersua di Ujungpandang (kini Makassar) 24 tahun sebelumnya.

Si Bocah dan Overste di Seberang Jalan

Makassar dalam titimangsa pemberontakan Andi Azis pada 1950, Habibie dan keluarganya hijrah dari Parepare ke Makassar sejak dua tahun sebelumnya. Mereka hijrah agar tetap dekat dengan Alwi Abdul Djalil Habibie, ayah Habibie, yang bekerja sebagai landbouwconsulent (kini setara kepala dinas pertanian) wilayah Indonesia Timur.

Di sana, Habibie tinggal di Jalan Klapperland (kini Maricaya). Di seberang jalan, terdapat asrama Brigade Mataram dari Tentara Teritorium (TT) IV/Diponegoro. Overste (komandan setara letnan kolonel) Soeharto mengomandani pasukan asal Yogyakarta itu yang didatangkan untuk menumpas pemberontakan Andi Azis. Saat itu usia Soeharto belum sampai kepala tiga, sementara Habibie masih 14 tahun.

“Di tengah suasana penumpasan pemberontakan itu, kami berkenalan dengan keluarga Habibie yang tinggal di seberang jalan, di depan Brigade Mataram. Patut saya kenang, di rumah Habibie itu terdapat suasana yang membuat anggota staf kami kerasan. Ibu Habibie (RA Tuti Marini Puspowardojo, red.) yang berasal dari Yogya masih fasih berbahasa Jawa. Merupakan hiburan tersendiri bagi kami yang jauh dari keluarga,” kata Soeharto dalam otobiografinya yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya.

Keakraban antara pasukan Soeharto dan keluarga Habibie kian erat setelah Kapten Mantofani, salah satu anak buah Soeharto, jatuh hati pada kakak sulung Habibie Titi Sri Sulaksmi. Keduanya akhirnya menikah di tahun itu juga.

Namun, sukacita keakraban itu harus terusik oleh dukacita. Pada 3 September 1950 malam, ayah Habibie meninggal karena serangan jantung dalam keadaan bersujud saat salat Isya. Melihat ayahnya tak bergerak saat sujud, Sri Sulaksmi panik dan belari ke asrama brigade.

“Anak tertua pada keluarga Habibie itu menangis ke asrama meminta pertolongan dokter brigade, Dokter (Tek.) Irsan. Tapi sayang Alwi Abdul Jalil Habibie tak tertolong lagi, ia meninggal. Overste Soeharto sendiri mengatup kelopak mata Alwi Abdul Jalil Habibie. Nyonya Tuti Marini seperti baru tersadar dari mimpi buruk, menjerit memanggil nama suaminya,” tutur Andi Makmur Makka, salah satu sahabat Habibie, dalam The True Life of Habibie.

Mewakili Brigade Mataram, Soeharto turut menabahkan hati Habibie seraya mendoakan dan membantu pemakaman Alwi Abdul Jalil Habibie. Kenangan itu selalu diingat Soeharto.

Sang Jenderal dan Insinyur Muda

Satu dasawarsa kemudian, Habibie dan Soeharto “berjodoh” lagi. Kali ini di Eropa. Saat itu Brigjen –dalam biografi Habibie disebut mayor jenderal– Soeharto selaku atase militer di Kedutaan Indonesia untuk Jerman Barat ikut mendampingi KSAD Jenderal AH Nasution selama kunjungannya ke Bonn, 1961. Di sela mendampingi Nasution itulah Soeharto ditemui Habibie.

“Pertemuan saya sebagai insinyur muda dengan Pak Harto, menanamkan kesan yang sangat mendalam di dalam otak dan sanubari saya. Rupanya Pak Harto pun mengingat pertemuan itu. Saya menjelaskan peranan insinyur dalam proses pembangunan melalui karya-karya nyata,” ungkap Habibie.

Habibie merasa penjelasannya itu mendapat respons positif hingga membuatnya lekas ingin pulang. Namun, pesan Soeharto agar Habibie lebih memperdalam ilmunya di Jerman seraya menunggu kondusifnya kondisi tanah air pasca-G30S membuat keinginan untuk pulang itu tertahan.

Baru pada Agustus 1973 Habibie diminta pulang Soeharto. “Bulan Agustus 1973 saya mendapat telefon dari ipar saya, Subono Mantofani, agar siap-siap pulang dan karena itu jangan membuat kontrak-kontrak kerja baru. Dari Desember 1973, Pak Ibnu Sutowo (Dirut Pertamina) memanggil saya dari Hamburg untuk bertemu di Hotel Hilton, Düsseldorf, untuk menyampaikan panggilan pulang Pak Harto,” kata Habibie.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan bj habibie, jerman, pesawat, Sang Jenderal, Soeharto, Teknokrat
Admin 5 September 2022 5 September 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Sengit! Bagnaia Juara MotoGP San Marino 2022
Artikel Selanjutnya Hasil Liga Inggris: Man United Bungkam Arsenal 3-1

APA YANG BARU?

“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
Histori 12 jam lalu 185 disimak
Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
Artikel 12 jam lalu 176 disimak
BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
Artikel 13 jam lalu 198 disimak
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di Kampungku Dulu
Artikel 15 jam lalu 191 disimak
Semarak Idul Adha di Perumahan Bida Asri 1 Batam
Artikel 16 jam lalu 234 disimak

POPULER PEKAN INI

Bawa Inter Milan Raih Double Winner, Cristian Chivu Perpanjang Kontrak dan Naik Gaji
Sports 6 hari lalu 797 disimak
Bintan Usulkan Perluasan Free Trade Zone ke Seluruh Wilayah
Artikel 7 hari lalu 767 disimak
Tour de Bintan 2026: Kembali Digelar dengan Identitas Baru dan Kategori UCI 1.2 Point Race
Sports 7 hari lalu 759 disimak
Perbaikan Jalan Yos Sudarso (Underpass Pelita), Sementara Jalan Difungsikan Satu Lajur
Artikel 6 hari lalu 725 disimak
Waktu SPMB Semakin Dekat, Pemko Batam Pastikan SPMB Gratis
Pendidikan 6 hari lalu 651 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?