DI saat sejumlah waduk di Kota Batam terus mengalami penyusutan debit air akibat dampak musim kemarau sejak awal Agustus 2026, kondisi air baku di Tanjungpinang dan Bintan relatif lebih terkendali.PDAM Tirta Kepri mencatat dua sumber air utamanya, Waduk Sei Pulai dan Waduk Gesek, masih dalam posisi aman untuk menopang kebutuhan air bersih masyarakat selama beberapa bulan ke depan.
Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, menyebut bahwa ketinggian air di Waduk Sei Pulai berada pada posisi 1,9 meter, sedangkan Waduk Gesek tercatat setinggi 1,6 meter.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan dinamika ketahanan waduk di daerah tetangga yang beberapa di antaranya harus memperketat distribusi akibat penurunan curah hujan yang signifikan.
Meskipun pasokan di Sei Pulai dan Gesek cukup kuat, tekanan kemarau tidak sepenuhnya terhindarkan untuk wilayah Tanjungpinang dan kabupaten Bintan.
Akibat kemarau yang melanda misalnya, Waduk Sei Jagi di Uban terpaksa menyesuaikan jadwal suplai air menjadi tidak lagi 24 jam penuh sejak Selasa (25/8).
Berdasarkan koordinasi dengan BMKG terkait fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) dan iklim ekuatorial, puncak kekeringan diprediksi berlangsung hingga akhir Agustus ini, dengan harapan peningkatan curah hujan mulai September. Seluruh warga pelanggan di Tanjungpinang maupun Bintan diimbau untuk tetap bijak dan menghemat penggunaan air bersih.
Sebagai langkah antisipasi krisis air jangka panjang, PDAM Tirta Kepri terus mempercepat proyek integrasi Waduk Kawal.
Penambahan jaringan pendukung serta proses lelang pembangunan jaringan pipa sepanjang 4,5 kilometer sedang berjalan, dengan target tambahan pasokan air mencapai 250 liter per detik yang rampung pada tahun depan.
(nes/ham)


