MENHADAPI pesatnya arus perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren dituntut tidak hanya sekadar menjadi penonton atau sekadar pengguna teknologi. Santri masa kini didorong untuk tampil sebagai kreator dan teknokrat yang tetap memegang teguh etika serta keilmuan pesantren.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “Modernisasi Pesantren dan Madrasah di Era Artificial Intelligence (AI)” yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 Gedung PES Politeknik Negeri Batam pada Jumat (23/10) kemarin
Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 ini diinisiasi atas kolaborasi Politeknik Negeri Batam bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Batam.
Wakil Direktur III Politeknik Negeri Batam yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Batam, Dr. H. Muhammad Zaenudin, menegaskan bahwa forum akademik ini dirancang sebagai pemicu lahirnya generasi baru di lingkungan pesantren. Menurutnya, santri masa depan harus mampu menguasai bidang sains dan teknologi tanpa kehilangan identitas dirinya.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi pemacu para santri untuk bisa menjadi teknokrat ke depannya yang berkarakter santri,” ujar Zaenudin dalam sambutannya.
Pandangan senada disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus mantan Staf Khusus Presiden RI (2017–2019), KH. Abdul Ghoffar Rozin, M.Ed. Pria yang akrab disapa Gus Rozin ini menggarisbawahi bahwa modernisasi dan transformasi digital di pesantren tidak boleh berhenti pada penyediaan perangkat fisik atau sekadar memindahkan kegiatan belajar ke platform digital.
Gus Rozin menekankan pentingnya membekali para santri dengan nalar kritis dan literasi etis agar mereka mampu memfilter serta menentukan arah ekosistem digital itu sendiri.
“Yang lebih penting adalah menumbuhkan kemampuan santri untuk memahami, menilai, dan ikut membentuk ekosistem digital dengan etika keilmuan pesantren,” tegas Gus Rozin saat memaparkan materinya.
Antusiasme publik terlihat dari hadirnya sekitar 500 peserta yang memadati ruangan. Peserta berasal dari beragam latar belakang, mencakup santri, siswa madrasah, pengasuh pesantren, guru, pengurus PCNU dan MWCNU se-Kota Batam, hingga badan otonom seperti Muslimat NU.
Melalui peringatan Hari Santri berbasis diskusi akademik ini, pesantren dan madrasah menegaskan perannya yang strategis dalam merespons tantangan zaman. Modernisasi yang berjalan seiring penguatan akhlak dan nilai keislaman menjadi bukti bahwa santri siap mengambil porsi penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
(dha)


