Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Krisis Sampah Batam: Armada Minim dan TPA Telaga Punggur Kian Over Kapasitas
    3 jam lalu
    Proyek Rekonstruksi Dimulai, Jalan Bintang Tanjung Uncang Ditutup Total Selama Lima Bulan
    3 jam lalu
    Pria di Batam Bacok Korban Menggunakan Parang di Parkiran Hotel
    4 jam lalu
    Tertib Administrasi atau Siasati Data Pengangguran?
    4 jam lalu
    Angka Kecelakaan Lalulintas di Batam Meningkat, Kematian di Jalan Turun
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Hujan Gol di Miami, Inggris Tekuk Prancis 6-4
    17 jam lalu
    Workshop Literasi Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
    2 hari lalu
    Kalahkan Inggris 2-1, Argentina Berpeluang Back to Back Juara Dunia
    4 hari lalu
    Dominasi Pertandingan, Matador Spanyol Melangkah ke Final Usai Hentikan Prancis
    5 hari lalu
    Full Big Match, Semifinal Piala Dunia 2026 Laga Antar Para Jawara
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    2 hari lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    2 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    2 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    2 minggu lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    4 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Rempang Dalam Dokumen Catatan Masa Lalu”

Editor Admin 2 tahun lalu 1.2k disimak
Peta Belanda yang tersimpan di Universiteit Leiden berjudul “P[oelau] Rempang”, map duttch survey date 1941 tentang Pulau RempangDisediakan oleh GoWest.ID

KEBERADAAN Orang Darat di Pulau Rempang (Batam) disebutkan dalam sejumlah arsip kolonial Belanda. Pada tanggal 4 Februari 1930, Controleur Onderafdeeling Tanjungpinang, P. Wink mengunjungi Orang Darat di Pulau Rempang.

Oleh: Bintoro Suryo


CATATANNYA tentang kunjungan dimuat dalam artikel berjudul Verslag van een bezoek aan de Orang Darat van Rempang, 4 Februari 1930 (Laporan Sebuah Kunjungan ke Orang Darat di Pulau Rempang pada 4 Februari 1930). 

Waktu itu, Tanjung Pinang (dalam ejaan lama ditulis ‘Tandjoengpinang’) berstatus administratif sebagai salah satu onderafdeeling dalam wilayah Residentie Riaouw en Onderhoorigheden (Keresidenan Riau dan Wilayah-wilayah Taklukannya) dengan ibukotanya (hoofdplaats) Tanjung Pinang.

Dokumen catatan P. Wink tentang Orang Owtan di Pulau Rempang.

Wilayahnya meliputi: Pulau Bintan, Rempang, Galang, Batam dan pulau-pulau kecil sekitarnya, kelompok Pulau Tambelan dan Wates, juga kelompok Pulau Pendjantan (St. Barbe) dan Pengiki (Staatblad van het Nederlandsch-Indië over het jaar 1922. Weltevreden: Landsdrukkerij, 1923: 4; Reegeeering Almanak voo Nederlandsch Indië 1924. Batavia: Landsdrukkerij, 1924: 166-167).

Sekitar 80 tahun sebelumnya, Residen Riouw, E. Netscher, sudah menyebut-nyebut juga kelompok suku yang menghuni Pulau Rempang yang disebutnya ‘orang Benoea’, sebagaimana dapat dibaca dalam tulisannya “Beschrijving van een gedeelte de Residentie Riouw” (Deskripsi Bagian dari Residensi Riau) yang diterbitkan dalam Tijdscrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 1854 dan 1855.

Sedangkan penulis lain menyebut mereka dengan nama ‘orang Oetan’, misalnya oleh J.G. Schot yang menulis artikel “De Battam-Archipel” (Kepulauan Batam) yang dimuat secara berseri dalam majalah De Indische Gids, 1882 & 1883.

Penduduk Rempang 1930. Sarip (kiri) dan Rotjoh (kanan), dua tetua adat ‘orang Darat’ yang ditemui dan diwawancarai P. Wink ketika berkunjung ke Pulau Rempang pada awal Februari 1930 (Sumber: P. Wink, 1930: antara hlm.  338 dan 339).

Meskipun Orang Darat dianggap penganut agama tempatan, menurut Wink, mereka mengenal konsep “Allah”. Mereka juga disebutkan memiliki tradisi penghormatan terhadap leluhur, berdasarkan rasa takut terhadap balas dendam orang yang meninggal. Tradisi turun menurun itu lewat tujuh, 40 dan 100 hari persembahan makanan di makam orang yang meninggal, sambil berseru, “hoen makan!.”

Ahli linguistik Jerman, Hans Kahler meyakini, Orang Darat di Rempang ada kaitan dengan orang asli di Malaysia yakni Orang Senoi. Dia mengolah data dari Kolonial Tijdsohrift tahun 1939. Dalam laporan itu, Orang Darat mewakili penduduk pra-Melayu yang berpindah-pindah. Orang Darat hidup nomaden dalam keseharian menukar hasil hutan dengan makanan dan barter barang bekas dengan pedagang Tiongkok. Mereka hidup dari berburu dan menangkap ikan juga.

Beberapa temuan Hans Kahler menyebutkan, Suku Darat memiliki  senjata sejenis sumpit. Begitu juga satu-satunya hewan peliharaan mereka adalah anjing. Orang Darat hidup monogami dan tak memiliki kepala suku resmi.

Foto warga di Pulau Rempang saat dikunjungi P. Wink tahun 1930. (Sumber: P. Wink, 1930: antara hlm.  338 dan 339).

Sudah sejak 1840an, bahkan mungkin lebih awal lagi, tanah Pulau Rempang sudah diolah menjadi ladang-ladang untuk penanaman gambir.

Keterlibatan pendatang Cina dalam perdagangan produk ini dicatat oleh beberapa sarjana Belanda, antara lain dalam laporan yang berjudul “Over de gambier- en pepperkultuur op Riouw” (Tentang budaya gambir dan lada di Riau) dalam Tijdschrift voor Nijverheid in Nederlandsch Indië, Deel 1 (1854): 136-144 yang mencatat adanya 42 ladang gambir di Pulau Rempang pada tahun 1854 dan tulisan A.F.P. Graafland, “Schets der Chineese vestigingen in de Afdeeling Kārimon” (Sketsa tentang pemukiman orang Cina di Afdeeling Karimun) dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 37,3 (1888): 506-544.

Rempang dalam Peta dan Publikasi Masa Lalu

CATATAN DR. Suryadi, Ahli sejarah dari Leiden University, walau terselip di antara taburan pulau-pulau yang lusinan jumlahnya di Kepulauan Riau, Pulau Rempang tidak dianggap sepele oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada masa lampau.

Ini antara lain dapat dikesan dari penamaan sebuah kapal yang dioperasikan oleh maskapai pelayaran Stoomvaart Maatschappij Nederland. ‘S.s./stoomschip Rempang’ dioperasikan oleh perusahaan ini tahun 1947 sampai 1968.

“Ada beberapa kapal lainnya yang diberi nama menurut nama-nama pulau yang ada di Sumatra/Kepulauan Riau, seperti s.s. Roepat, s.s. Riouw, s.s. Banka, s.s Bengkalis, s.s. Karimoen, s.s. Poelau Roebiah, s.s. Nias, s.s. Enggano dan s.s. Krakatau, yang merefleksikan kuatnya orientasi bahari bangsa Belanda”, tulis Dr. Suryadi.

Kapal api (ss) Rempang (1947-1968) milik Stoomvaart Maatschappij Nederland (Sumber: https://www.marhisdata.nl/schip?id=5454; diakses 08-10-2023 )

Catatan Dr. Suryadi :

“Bahkan dalam Atlas Sekolah Hindia Nederland oleh W. van Gelder (lihat misalnya edisi 1919; cet. ke-10), Pulau Rempang dicatat sebagai salah satu pulau yang penting di Riau agar dapat diketahui oleh murid-murid sekolah. Dan sejak 1880an, selat yang memisahkan Pulau Setoko dan Pulau Rempang sudah menjadi laluan kapal penumpang dan barang dari Selatan ke Utara, tepat keluar dekat Tanjong Piajo (Tanjung Piayu, pen).“

Karena menjadi lalu lalang kapal penumpang dan barang sejak zaman dulu, di sekitar teluk Duriangkang yang tidak jauh dari Tanjung Piayu di Batam, sempat tumbuh menjadi perkampungan penduduk yang banyak dihuni kaum pendatang. Seperti Tionghoa, Bugis, Jawa hingga orang Melayu sendiri yang berpindah dari pulau-pulau di sekitarnya. Keberadaan mereka dan keturunannya, masih terlihat hingga awal dekade 1990-an, sebelum wilayah itu dibendung menjadi sebuah danau reservoir tadah hujan oleh Otorita Batam.

Catatan Dr Suryadi juga menyebut, pada tahun 1946, Survey Allied Land Forces Southeast Asia (ALFSEA) di bawah koordinasi Belanda memproduksi peta Pulau Rempang dengan detail infrastruktur dan kontur tanahnya (lihat: Nationaal Archief, Den Haag, Nummer Toegang: 4.MIKO, Inventarisnummer: 265.11).

Peta Belanda yang tersimpan di Universiteit Leiden berjudul “P[oelau] Rempang”, map duttch survey date 1941 tentang Pulau Rempang

Dalam beberapa dokumen dan publikasi asing masa itu, pulau Rempang sudah dikenal sebagai salah satu wilayah pendudukan tentara Jepang untuk mengontrol jalur perdagangan di sekitarnya.

Kliping publikasi tentang Rempang oleh koran Straits Times Singapura, edisi 18 Juni 1946.

Salah satu dokumen publikasi tentang pulau Rempang dan tentara Jepang, dipublikasi oleh Koran Straits Times edisi 18 Juni 1946: “Japs to Leave Rempang Prison Isle”.

(*)

Sumber:

Artikel P. Wink: Verslag van een bezoek aan de Orang Darat van Rempang, 4 Februari 1930

Artikel E. Nescher, Beschrijving van een gedeelte de Residentie Riouw 1854

Catatan Dr Suryadi : Rumpang Informasi Historis tentang Rempang

Straits Times, 18 Juni 1946
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan batam, Catatan, Dokumen, Rempang, sejarah
Admin 5 Januari 2025 5 Januari 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Inflasi Tanjungpinang 2024 Dalam Angka
Artikel Selanjutnya Pembangunan Pasar Sementara di Tanjung Banon untuk Warga Relokasi

APA YANG BARU?

Krisis Sampah Batam: Armada Minim dan TPA Telaga Punggur Kian Over Kapasitas
In Depth 3 jam lalu 106 disimak
Proyek Rekonstruksi Dimulai, Jalan Bintang Tanjung Uncang Ditutup Total Selama Lima Bulan
Artikel 3 jam lalu 98 disimak
Pria di Batam Bacok Korban Menggunakan Parang di Parkiran Hotel
Artikel 4 jam lalu 94 disimak
Tertib Administrasi atau Siasati Data Pengangguran?
Artikel 4 jam lalu 93 disimak
Hujan Gol di Miami, Inggris Tekuk Prancis 6-4
Sports 17 jam lalu 134 disimak

POPULER PEKAN INI

Prakiraan Cuaca, Rabu-Kamis Batam Berawan Tidak Berpotensi Hujan
Artikel 5 hari lalu 404 disimak
Lahan Tidur 2 Tahun di Batam Bakal Dicabut
Artikel 6 hari lalu 283 disimak
Penolakan Lahan Sekolah Rakyat di Pulau Rempang
In Depth 3 hari lalu 282 disimak
PMII Minta Polisi Periksa Tiga Anggota DPRD Batam
Artikel 2 hari lalu 267 disimak
Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
Tokoh 2 hari lalu 267 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?