Hubungi kami di

Uang

Rupiah Ditutup Menguat Rp 14.299

Terbit

|

Pekerja menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Rabu (5/1/2022). F. Dok ANTARA/Dhemas Reviyanto/wsj

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 51 poin ke posisi Rp 14.299. Akhir pekan lalu, mata uang garuda ditutup di level Rp 14.350 per dolar Amerika.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp 14.323 per dolar AS sore ini. Angkanya menguat dari penutupan akhir pekan lalu yang sebesar Rp 14.360 per dolar AS.

Senada dengan mata uang ruapiah, mata uang di Asia juga terlihat bergerak menguat. Tercatat, ringgit Malaysia menguat 0,11 persen, won Korea Selatan menguat 0,2 persen, yuan China menguat 0,07 persen, peso Filipina menguat 0,08 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.

Selain itu, baht Thailand melemah 0,25 persen dan yen Jepang melemah 0,13 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama di negara maju melemah. Terpantau, franc Swiss melemah 0,24 persen, poundsterling Inggris melemah 0,03 persen, dan euro Eropa melemah 0,28 persen. Namun, dolar Australia menguat 0,06 persen dan dolar Kanada menguat 0,03 persen.

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah bergerak menguat di tengah optimisme pasar terhadap Program Pengungkapan Sukarela (PPS) atau Tax Amnesty Jilid II.

“Setelah berlaku, ternyata banyak wajib pajak yang langsung memanfaatkan program ini,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Terbukti, data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat RI mengantongi Rp 125,52 miliar dari program tax amnesty jilid II per Minggu (9/1). Setoran pajak penghasilan (PPh) itu berasal dari pengungkapan harta bersih senilai Rp1.046,12 miliar.

Ibrahim memproyeksi rupiah terus menguat pada Selasa (11/1). Menurutnya, rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 14.270 per dolar AS-Rp 14.350 per dolar AS pada perdagangan besok.

Dari sisi eksternal, menurut Ibrahim, pasar masih bertaruh dengan data inflasi Amerika. Sentimen juga muncul setelah beberapa pejabat Federal Reserve tampak akan mendukung peningkatan suku bunga.

“Investor sekarang menunggu data inflasi, termasuk indeks harga konsumen, yang akan dirilis akhir pekan ini,” kata Ibrahim.

Bersamaan dengan Amerika, Cina juga segera merilis indeks harga konsumen dan produsennya pada Rabu. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Ukraina juga membuat para pedagang gelisah. Hal-hal tersebut yang dinilai Ibrahim turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

(*)

sumber: CNNIndonesia | Tempo.co

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid