Hubungi kami di

Histori

Slebew, Slang, dan Walikan

Pejuang di Malang menciptakan bahasa baru untuk mengelabui mata-mata Belanda. Bahasa walikan ini jadi media komunikasi rahasia dan tanda pengenal.

Terbit

|

Pejuang Indonesia diinterogasi tentara Belanda. F. Dok. NIMH/ind45-50.org/historia.id

ADA banyak hal yang dapat dibahas dari popularitas Citayam Fashion Week yang sempat menghebohkan publik. Salah satunya istilah yang menarik yaitu “slebew”. Kata ini kerap diucapkan anak-anak muda yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Arti “slebew” mungkin hanya mereka yang tahu. Kata ini tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena bentukan baru sebagai bahasa informal atau slang.

Gorys Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa menjelaskan bahwa slang merupakan kata-kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer (manasuka); atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga, dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang kala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain.

Di Indonesia, bahasa slang telah digunakan masyarakat sejak lama. Salah satu yang populer adalah bahasa prokem. Beberapa kata prokem masih kerap digunakan hingga kini, seperti doi, bokap, nyokap, cuek, kece hingga memble.

Menurut Henri Chambert-Loir dan Prathama Rahardja dalam Kamus Bahasa Prokem, bahasa prokem bukan satu-satunya bahasa sandi dan kode di Indonesia. Di masa perang revolusi, para pejuang di Malang juga memiliki bahasa sandi dan kode yang digunakan untuk mengelabui mata-mata Belanda. Bahasa itu dikenal dengan sebutan Osob Kiwalan atau Boso Walikan.

Dukut Imam Widodo dalam Malang Tempo Doeloe menyebutkan bahwa bahasa walikan merupakan ciptaan para pejuang dalam kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang sangat disegani di Kota Malang. Penggunaan Boso Walikan dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan dan efektivitas komunikasi sesama pejuang.

Selain itu, bahasa ini juga digunakan sebagai “tanda pengenal” kawan atau lawan. Hal ini dianggap penting karena pada masa perang kemerdekaan, sekitar akhir Maret 1949, Belanda gencar menyusupkan mata-mata ke dalam kelompok pejuang di Kota Malang.

Menurut Dukut, mata-mata Belanda itu tentu fasih berbahasa Jawa gaya Jawa Timuran tapi bukan Boso Walikan. Tugas mereka mencari informasi mengenai sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran di Dukuh Sekarputih.

Mayor Hamid Rusdi dikenal sebagai pemimpin perjuangan kemerdekaan di wilayah Malang. Ia beberapa kali membuat pusing Belanda karena memberikan komando serangan umum terhadap wilayah pendudukan Belanda. Tak hanya itu, bersama anak buahnya, Mayor Hamid Rusdi juga bergerilya di masa perang revolusi.

BACA JUGA :  Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola

Wicaksono, Devan Firmansyah, dan Febby Soesilo dalam Sejarah Singkat Kecamatan Singosari dan Mengenal Tinggalan Kesejarahannya dari Masa Prasejarah sampai Masa Kemerdekaan menambahkan bahwa rute-rute gerilya pasukan Mayor Hamid Rusdi pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1949 berada di wilayah Karanglo dan beberapa desa di Singosari. Kematian Mayor Hamid Rusdi membuat pasukan Belanda gencar memburu para pejuang yang tersisa.

Informasi yang didapat tentara Belanda dari mata-mata membuat sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi beberapa kali tertangkap, meski bersembunyi atau disembunyikan sedemikian rupa oleh penduduk. “Tidak itu saja, manuver-manuver mereka pun bisa terbaca oleh pasukan Belanda,” tulis Dukut.

Untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi, seorang pejuang bernama Suyudi Raharno bersama kawan karibnya Wasito menciptakan bahasa baru untuk digunakan para pejuang. Gagasan cerdik itu diharapkan dapat menjaga kerahasiaan informasi yang dikomunikasikan para pejuang. Lebih dari itu, identitas para pejuang pun bisa terjamin.

Bahasa baru yang diciptakan Suyudi dan Wasito ini diberi nama Osob Kiwalan atau Boso Walikan Coro Malang (Bahasa Kebalikan Cara Malang). Boso Walikan digunakan dengan cara membaca atau menyebut sebuah kata secara terbalik, dari belakang dibaca ke depan. “Boso Walikan Coro Malang kaya akan kode dan sandi. Bahasa ini tidak terikat pada aturan tata bahasa yang umum dan baku,” tulis Dukut.

Aturan penggunaan Boso Walikan bebas dan longgar. Sehingga para pejuang dapat membuat kesepakatan dalam menciptakan sejumlah istilah. Kesepakatan ini diperlukan karena banyak kata penting yang sulit dibaca terbalik. Sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh penuturnya. Salah satu contohnya adalah kata “Belanda” yang dalam bahasa Jawa disebut “Londo”. Kata ini sulit dibaca terbalik, maka disepakatilah istilah padanannya yaitu “Nolo”.

Selain itu, istilah “mata-mata” juga tak dibalik dan dibaca secara literal menjadi “atam”. Agar maksudnya tersampaikan untuk merujuk kepada antek Belanda, maka ditambahkan kata “keat” dari kata “taek” yang dalam bahasa Jawa artinya kotoran. Sehingga saat bicara mengenai mata-mata Belanda, para pejuang memanggilnya dengan sebutan “keat atam”.

BACA JUGA :  Tidak Ada Jalan dan Mobil, Cuma Perahu

Boso Walikan dalam waktu singkat telah menjadi bahasa andalan para pejuang di Malang. Mereka fasih menggunakannya untuk berkomunikasi dengan sesama pejuang. Penggunaan Boso Walikan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi rahasia cukup membuat mata-mata Belanda kerepotan. Pasalnya, mereka tidak setiap hari bergaul dengan para pejuang sehingga kesulitan mengikuti perkembangan yang terjadi di kelompok tersebut, termasuk penggunaan Boso Walikan yang ramai digunakan para pejuang.

Para pejuang dengan Boso Walikan mampu mengetahui siapa lawan dan siapa kawan di tengah kecamuk perang. Komunikasi antarpejuang maupun simpatisan pejuang dapat berlangsung dengan cepat dan terjaga kerahasiaannya.

Boso Walikan tak hanya diandalkan untuk komunikasi rahasia, tapi juga menjadi penanda identitas orang-orang di masa perang. “Malah kala itu ada suatu pendapat, bahwa siapapun yang tidak bisa menggunakan ‘bahasa baru’ Kota Malang, maka ia akan dicap bukan dari kalangan pejuang atau simpatisan para pejuang,” tulis Dukut.

Para pejuang kemudian mengetahui mata-mata Belanda yang telah membocorkan informasi sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi. Setelah identitas para penyusup itu dibongkar dan diinterogasi, mereka kemudian dihukum mati.

Boso Walikan cukup efektif mengelabui mata-mata Belanda. Bahasa ini terus hidup meski penggagasnya mati pada September 1949.
Dukut menyebut Suyudi Raharno disergap tentara Belanda pada pagi buta di pinggiran wilayah Dukuh Genukwatu (kini Purwantoro).

Konon ada mata-mata yang melaporkan keberadaan Suyudi di tempat tersebut. Padahal kala itu tengah gencatan senjata antara pejuang di Malang dengan pasukan Belanda. Suyudi gugur dalam penyergapan itu.

Sebelumnya, Wasito, kawan akrab Suyudi, lebih dulu gugur dalam pertempuran di Gandongan (kini kawasan Pandanwangi). Jasad Suyudi dan Wasito terbaring di Taman Makam Pahlawan Surapati Malang.

Meski perang revolusi telah lama berakhir, namun Boso Walikan hingga kini masih digunakan oleh masyarakat di wilayah Malang. Tak hanya digunakan oleh para veteran, Boso Walikan yang semula sebagai sandi untuk mengelabui mata-mata Belanda, kini menjadi bahasa populer di kalangan anak-anak muda.

(*)

Sumber: historia.id

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid