Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Video Amatir: Peristiwa Mitsubishi Storm Seruduk 8 Motor di Perempatan K-Square Batam
    6 menit lalu
    Mitsubihi Strom Seruduk 8 Pemotor di Perempatan K-Square Batam
    40 menit lalu
    Batam-Yogyakarta Kini Bisa Terbang Langsung Tanpa Transit
    18 jam lalu
    Lupa Matikan Kompor, Dapur Warung di Tanjungpinang Ludes Terbakar
    23 jam lalu
    Sempat Ditahan di Malaysia, 4 Nelayan Asal Bintan Akhirnya Dipulangkan KJRI Johor Bahru
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Portugal dan Swiss Lolos Babak 16 Besar
    19 jam lalu
    Kalahkan Austria 0-3, Tim Matador isi 1 Slot di Babak 16 Besar
    1 hari lalu
    Susul Kanada dan Meksiko, Tuan Rumah Amerika Masuk Babak 16 Besar
    2 hari lalu
    Dramatis Belgia Kontra Senegal, Belgia Unggul 3-2
    2 hari lalu
    Dual Gol Harry Kane ke Gawang Kongo Bawa Inggris ke Babak Selanjutnya
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    23 jam lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    1 hari lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    1 hari lalu
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    5 hari lalu
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    7 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Buku Ajar Lokal

Editor Admin 2 bulan lalu 667 disimak
Ilustrasi, kolase gambar buku pelajaran Seni dan Budaya Melayu. F. Bintoro SuryoDisediakan oleh GoWest.ID

“BAH, siapa lawan Panglima Sampit di kampung Jodoh?” Pertanyaan dari anak ketiga saya yang masih duduk di kelas 1 SD. Ia baru selesai membaca sebuah tema pelajaran di buku ajarnya. Besok, akan menjalani ujian di kelas.

“Maksudnya?”

“Aku tanya yang ada di buku ini, siapa lawan dari panglima Sampit di kampung Jodoh? Kamu kan udah dewasa, pasti bisa jawab!” Ia kemudian memperlihatkan sampul depan buku yang dipelajari.

Oleh: Bintoro Suryo


IA sering memerankan diri sebagai guru saat selesai mempelajari sesuatu di rumah. Kemudian, menanyakan beberapa jawaban dari materi yang dipelajari kepada saya. Untuk menguji pemahaman dan ingatannya sendiri.

Saya baca sekilas judul sampulnya, kemudian memberi jawaban; “Oh, mungkin Hang Tuah?”

“Bodoh sekali kamu, Bah! Masak gak tau. Ini kan pelajaran anak kelas satu SD! Kamu itu udah dewasa?!” katanya yang membuat saya tertawa.

“Jadi apa jawabannya? Bawa sini bukunya, Babah mau lihat”

“Jawabannya panglima Awang Sendang!”

Ia tidak segera menyerahkan buku yang dipegang, tapi melanjutkan dengan pertanyaan kedua: “kalo ini, kampung Tanjung Riau dibuka oleh to’ Keling dan to’ Usu atas perintah dari pulau Penyengat pada tahun berapa?” Tetap dengan wajah serius, ia kembali menanti jawaban saya.

“Hmm, kapan ya? Mungkin pada tahun 1800? Jawab saya asal, sambil tersenyum.

“Iihh, kenapa bodoh sekali kamu, Bah! Jawabannya tahun 1918! Ni, kamu dengar; Tanjung Riau dibuka oleh to’ Keling dan to’ Usu atas perintah dari pulau Penyengat pada tahun 1918!” Ia membaca ulang salah satu teks narasi tentang sejarah kampung tersebut di buku itu.

“Masa sih, coba sini Babah liat bukunya”.

Bukankah masa pemerintahan kesultanan Riau Lingga yang berpusat di pulau Penyengat sudah dibubarkan pada 1911? Apa penulisnya sedang mempraktikkan ‘sulap waktu’?, pikir saya.

“Pertanyaan ketiga; cik Awang juga mempunyai nama lain dengan gelar yaitu?” Antusias, ia masih tetap melanjutkan pertanyaannya ke saya.

“Hah, mana sini bukunya. Babah mau liat dulu”.

Ia kemudian menyerahkan buku materi pelajaran tersebut. Saya langsung melihat pada bab yang dipelajari dan menjadi materi bahan uji besok; Pelajaran 6 : Legenda Kampung Tua.

Alamak!


BUKU tipis ini terbitan tahun 2008. Merupakan bahan ajar muatan lokal untuk pelajaran Seni dan Budaya. Niat baiknya; agar siswa mengenal lebih dalam tentang kekhasan daerahnya sendiri. Ini bagian dari program pemerintah pusat yang dijalankan di daerah. Materinya disusun, dibuat dan diterbitkan di masing-masing daerah.

Bukunya dirancang untuk memuat materi kurikulum lokal yang fokus pada potensi, keunikan, nilai-nilai, tradisi, budaya, serta kearifan lingkungan. Agar siswa mengenal dan memahami keunggulan daerahnya. Menjadi identitasnya, kelak di kemudian hari saat dewasa.

Terobosan yang baik, sebenarnya.

TAPI, materi di bagian ini, seperti tidak melalui kontrol kualitas yang benar. Kalimat dan tata bahasanya tidak rapi. Penempatan tanda bacanya juga tidak jelas. Dalam satu paragraf yang berisi hingga 8 baris kalimat misalnya, hanya ditemukan satu tanda titik. Dan, hampir seluruh narasi seperti itu.

Kalimat panjang dengan jejalan narasi begitu, rasanya sulit dicerna dengan baik oleh siswa. Apalagi oleh siswa kelas satu yang sebenarnya baru bisa belajar membaca. Yang paling mudah bagi mereka adalah; melihat daftar pertanyaan di akhir cerita, lantas mencari jawaban dalam narasi dan menghapalkannya.

Ini lebih tepat disebut naskah dasar. Ditulis, tapi perlu banyak perbaikan. Banyak penempatan huruf besar dan kecilnya juga tidak jelas. Berantakan sekali. Alur cerita berputar membingungkan.

Dari sisi isi; bagian pelajaran ini, menurut saya, cenderung menyesatkan pemahaman mereka. Isinya merupakan kumpulan cerita rakyat dan legenda tentang asal muasal kampung tua yang ada di Batam. Tapi, tidak ada catatan penegas/disclaimer. Jadi, isinya cenderung dipercaya anak-anak sebagai uraian fakta sejarah.

Seperti draft tulisan awal, tapi sudah dicetak dan disajikan sebagai bahan ajar untuk siswa SD kelas 1. Dan, buku ini merupakan bahan ajar muatan lokal lintas generasi hingga kini.

Penulis sebenarnya tidak salah menggabungkan fakta sejarah seperti latar belakang, peristiwa, tempat, atau tokoh nyata di masa lalu dengan unsur imajinatif; dialog, karakter fiksi, atau alur cerita dongeng. Tapi perlu menempatkan ‘garis pembatas’ yang tegas.

Sastrawan, alm. BM Samsudin sebenarnya juga pernah melakukan seperti itu puluhan tahun lalu. Karya beliau juga dijadikan buku bahan ajar untuk memenuhi muatan lokal dalam materi pelajaran di sekolah. Tapi, isinya punya garis pembatas yang bisa dipahami sebagai sebuah karya fiksi. Tulisannya rapi sehingga mudah dipahami.

Buku “Cerita Rakyat dari Batam”. Tujuan akhir dari cerita dongeng-dongengnya, bukan pada penghapalan cerita dan tokoh-tokoh imajinatif di dalamnya. Tapi lebih pada memberi porsi ruang membaca lebih banyak kepada anak-anak usia dini. Juga untuk memicu daya imajinasi mereka dalam memahami dan membayangkan kondisi wilayah Batam masa lalu, serta tradisi budaya yang melekat. Itu jadi evaluasi untuk pesan moralnya.

Dalam bukunya, ia juga menggunakan beberapa tokoh dan fakta sesuai data sejarah. Kemudian digabung dengan karakter dan alur cerita fiksi. Ia membungkusnya sebagai dongeng cerita rakyat untuk anak-anak.

BM Samsudin teliti dalam penempatan data sejarah sesuai ruang dan waktu di alur cerita, sebelum menggabungkan dengan unsur imajinatif. Ia tidak menciptakan pemahaman baru yang bertabrakan. Seperti pada materi bahan ajar anak saya di atas, sulap waktu?

Oh ya, Panglima Awang Sendang yang ditanyakan anak saya tadi, juga dikenal sebagai Panglima Ladi dalam buku ajar tersebut.

Mungkin tokoh karakter itu yang sempat disematkan sebagai nama salah satu flyover di Batam beberapa tahun lalu ‘Laksamana Ladi’. Penamaan yang bikin heboh masyarakat di Batam. Dinafikan banyak pengamat sejarah sebagai tokoh nyata yang pernah ada, kemudian dicabut sebagai label resmi jembatan layang yang membentang di sekitar wilayah Sei Ladi Batam itu.


“UDAH kamu baca, Bah? Berarti sekarang kamu udah tau juga tentang sejarah kampung-kampung di Batam, kan?’ kata anak ketiga saya polos.

“Iya, udah Babah baca. Tapi kalo besok kamu gak bisa jawab pertanyaan ujiannya, trus nilai kamu jelek, Babah gak marah,” kata saya tersenyum.

“Serius?” Matanya membulat karena senang.

“Ya, serius. Bunda juga gak akan marah. Tenang aja”. 

(*)

Kaitan batam, Buku ajar lokal, buku pelajaran, Catatan, kepri, Seni dan budaya Melayu, siswa
Admin 19 Mei 2026 19 Mei 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Antisipasi El Nino Bulan Juni-Agustus, BP Batam Siapkan Operasi Hujan Buatan
Artikel Selanjutnya BMKG Ingatkan Warga Kepri Waspadai Banjir Pesisir/Rob (16–22 Mei 2026)

APA YANG BARU?

Video Amatir: Peristiwa Mitsubishi Storm Seruduk 8 Motor di Perempatan K-Square Batam
Berita Video 6 menit lalu 40 disimak
Mitsubihi Strom Seruduk 8 Pemotor di Perempatan K-Square Batam
Artikel 40 menit lalu 77 disimak
Batam-Yogyakarta Kini Bisa Terbang Langsung Tanpa Transit
Artikel 18 jam lalu 67 disimak
Portugal dan Swiss Lolos Babak 16 Besar
Sports 19 jam lalu 95 disimak
Lupa Matikan Kompor, Dapur Warung di Tanjungpinang Ludes Terbakar
Artikel 23 jam lalu 185 disimak

POPULER PEKAN INI

Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
Artikel 5 hari lalu 325 disimak
Lebih Mudah dan Murah, Trans Batam Resmi Layani Tujuan Bandara Hang Nadim
Artikel 4 hari lalu 320 disimak
Cuaca di Kota Batam Jum’at (3/07) Diprediksi Cerah Berawan
Artikel 2 hari lalu 303 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 5 hari lalu 294 disimak
Hari ini (1 Juli), Cuaca Batam Cerah Berawan
Artikel 3 hari lalu 275 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?