UDARA Da Nang, Vietnam, Jumat (5/6/2026) siang kemarin begitu teriknya. 34 derajat celcius. Perut kami sedikit keroncongan, begitu keluar dari bandara. Istri mengajak mampir di warung roti yang luas, untuk ngadem, sekaligus makan siang, sebelum pergi ke tempat Kami menginap. Di lantai dua, warung yang agak sepi, kami memilih meriung di sana. Di deretan sofa-sofa warna krem yang melenakan.
Oleh: Sultan Yohana
SEBENTAR kemudian, seorang lelaki 40an tahun, bule, datang bersama anak perempuannya yang berusia sekitar 4 tahun. Mereka mengambil tempat duduk di sofa berjarak sekitar 7 meter dari tempat duduk kami. Perhatikan saya, sejenak, teralih pada keduanya.
Si balita aktif dan berani sekali. Ia kemudian lari ke arena bermain di sebelah sofa mereka duduk. Si Bapak, setelah meletakkan barang dan makanan/minuman pesanannya di meja, segera berdiri. Mengawasi dengan seksama, sembari sesekali main dengan anaknya. Terlihat, gembira sekali keduanya.
Saya sangat menyukai pemandangan seperti ini.
Ndilalah, seperempat jam kemudian, seorang pria, lokal, usia sekitar 40an tahun, datang juga membawa anak balitanya. Sekitar 3 tahunan. Ia mengambil tempat duduk pas di sebelah saya. Dua kursi di samping si bule. Jam tangan mahal warna hijau yang melingkari pergelangan kirinya, serta rambut cepak dan postur tubuh, bisa menjelaskan kira-kira apa statusnya.
Begitu duduk, kedua kakinya segera diletakkan di atas meja. Semeja dengan makanan pesanan mereka. Anaknya, seperti terbiasa melihat kebiasaan jorok bapaknya, melepas sepatu, dan meletakkan sepatunya juga di atas meja. Ia kemudian berlari ke arena bermain, tempat di mana si bule balita main. Tak ada usaha apa-apa dari si bapak, untuk mengoreksi kesalahan anaknya meletakkan sepatu di atas meja. Ia bahkan membiarkan itu sepatu selamanya di sana.
Si bapak, begitu pantatnya menempel sofa, perhatiannya langsung tercekat ke HPnya. Tanpa bisa teralihkan pada yang lain, bahkan tidak pada anaknya yang sedang bermain.
Saya memperhatikan semua adegan ITU dengan seksama. Memperhatikan bagaimana si balita lokal, terlihat takut dan malu-malu ketika si balita bule mengajaknya main bersama. Saya memperhatikan si bapak bule terus memperhatikan dan mengekor putrinya main, sementara si bapak lokal hanya peduli dengan HPnya.
Bahkan ketika si balita lokal menghilang bersama si balita bule ke ruang sebelah, si bapak lokal hanya berteriak keras memanggil anaknya, tanpa sekalipun mengangkat pantatnya untuk pergi melihat putranya. Sementara si bapak bule, dengan kesabarannya, terus mengikuti ke manapun anaknya pergi.
Dua hal yang benar-benar kontradiksi.
Kita seringkali – bahkan mungkin selalu – mengukur maju-tidaknya satu negara, dari kekayaan, kedigjayaan, atau pengaruh multinational yang dimiliki satu negara. Kita seringkali silap, pada apa-apa hal sederhana kenapa sebuah negara disebut maju atau mundur. Kontradiksi yang ditunjukkan oleh dua bapak di warung roti dalam mengasuh anak-anak mereka, seharusnya bisa menunjukkan, bagaimana kita memalukan peradaban.
Manusia memang kerap menyepelekan, bahkan mempersetankan contoh-contoh sederhana di sekelilingnya. Hal yang sejak 14 abad silam, telah diperingatkan dengan tegas oleh Quran. Hal-hal sederhana, yang justru bisa memanusiawikan manusia.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


