“Tanggal 11 November 1872; hari ini semua disiapkan untuk keberangkatan ke Riau. Datoe Stia Aboe Hassan bersiap untuk kembali menemani saya. Bagasi herbarium, tumbuhan dll., dimuat di kotter yang dipinjam dari Sultan. Sultan telah menyuruh menyembelih seekor lembu untuk perpisahan.”
…
“Mereka biasanya melakukan pesta dan bersenang-senang di sana. Melakukan aktifitas sabung ayam hingga mengadakan permusyawaratan. Dari sanalah nama Tanjung Penyabung di wilayah ini dikenal orang, yakni tanjung tempat pertarungan ayam.” (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)
Oleh: Bintoro Suryo
ARTIKEL bagian terakhir ini mendokumentasikan fase akhir dari perjalanan panjang selama tujuh bulan J.E. Teijsmann dalam misi mengumpulkan ratusan spesimen flora untuk Kebun Raya Buitenzorg (kini Kebun Raya Bogor) di negeri Segantang Lada, Riau Lingga pada 1872.
Melalui gaya penulisan memoar yang detail, Teijsmann tidak hanya merekam aktivitas ilmiah dan tantangan navigasi laut di masa lampau, tetapi juga menangkap dinamika sosial-budaya setempat. Ada interaksi erat sang peneliti dengan otoritas Kesultanan Lingga, para pejabat kolonial, hingga potret kehidupan masyarakat Tionghoa dan pribumi di Riau Lingga pada akhir abad ke-19.
Teijsmann juga mencatat beberapa fakta tempat dalam perjalanan pulangnya dari Lingga menuju Riau. Seperti saat ia menyinggahi Tanjung Penyabung di sekitar perairan pulau Galang; disebutkan sebagai tempat berkumpul para bajak laut masa lalu dan melakukan pesta serta permusyawaratan.
Di pulau kecil Pisang yang terletak dekat pulau Combol, Teijsmann yang penasaran dan menyinggahinya, mendapati aktifitas budidaya pisang aneka jenis yang diupayakan oleh penduduk pribumi. Yang mengejutkan, ia juga mendapati jenis tanaman Palma dengan daun serupa pohon pisang yang tumbuh liar di sana. Jenis pohon yang oleh banyak peneliti disebut berasal dari pulau Madagaskar di Afrika!
Di akhir perjalanannya, ia sempat menyinggahi pulau Bangka selama beberapa hari, sebelum bertolak ke Batavia untuk selanjutnya kembali ke Bogor.
Berikut bagian terakhir dari catatan J.E. Teijsmann pada tahun 1872, saat menyinggahi negeri Riau Lingga yang disebutnya; Segantang Lada.
TANGGAL 5 November 1872, pagi hari cuaca indah, tetapi guntur terdengar di kejauhan. Pukul 8 pagi, angin ribut kencang bergulung di atas pegunungan dan terlihat turun ke ibu kota Dai. Tapi, kondisi ini tidak berlangsung lama, seiring hujan rintik-rintik dan langit berawan.
Hari ini saya mengutus 5 anak muda pribumi dengan seorang penunjuk jalan dari kampung Marawang untuk mendaki ke Gunung Dai. Sedapat mungkin, mereka bisa mendaki hingga ke kaki Piramida. Saya ingin mereka mengumpulkan tumbuh-tumbuhan di sekitar wilayah puncak gunung Dai.
Pada 6 November 1872, langit berawan. Sore hari muncul guntur dan kilat di segala arah.
Utusan yang saya minta berangkat ke puncak gunung Dai, kembali. Namun, mereka gagal mencapai bagian bawah puncak Dai yang hampir tegak lurus. Mereka sudah berupaya dengan mencoba menginap di sebuah rongga batu di sekitarnya agar bisa menjangkaunya keesokan pagi. Namun, pada akhirnya, mereka tidak sanggup mendaki lebih tinggi lagi.
Hari ini datang sebuah kapal kotter milik Sultan dari Singkep. Beberapa hari kemarin, saya menyampaikan padanya agar dapat dipinjami kapal itu untuk membawa barang-barang saya ke Riau. Saya pikir dalam beberapa hari ini, saya akan berangkat kembali ke Riau.
Tapi, pejabat yang mendampingi saya selama ini, Datoe Stia Aboe Hasan berpikir lain. Menurut kepercayaan dan perhitungannya, kami baru bisa berangkat kembali ke Riau pada tanggal 12. Ia seorang pelaut tua yang sudah sangat berpengalaman — yang kadang percaya sedikit pada hal takhayul — saya harus tunduk pada putusannya.
7 November 1872, langit masih selalu berawan dan berangin, tetapi tidak hujan.
8 November 1872, seperti sebelumnya. Hari ini Sultan kembali dari Singkep.
9 November 1872, seperti sebelumnya, sore hari sedikit hujan. Suhu hari ini; pagi pukul 6 sekitar 74° Fahrenheit. Pada pukul 8 pagi sekitar 82° F. Pada pukul 10 sekitar 90° F. Pukul 11 sekitar 88° F., pukul 12 siang sekitar 80° F., pukul 5 sore sekitar 85° F.
10 November 1872, cuaca indah; tidak berangin, kemudian gerimis. Pada sore hari, saya mendapat kunjungan dari Sultan.
Tanggal 11 November 1872; hari ini semua disiapkan untuk keberangkatan ke Riau. Datoe Stia Aboe Hassan bersiap untuk kembali menemani saya. Bagasi herbarium, tumbuhan dll., dimuat di kotter yang dipinjam dari Sultan.
Sultan telah menyuruh menyembelih seekor lembu untuk perpisahan. Kami makan malam bersama.
12 November 1872, pagi hari hujan; pukul 10 pagi, air pasang. Hal itu memudahkan kapal Moona kami keluar dari sungai Dai menuju laut. Setelah berpamitan pada Sultan, saya kemudian menjemput Datoe Aboe Hasan di rumahnya. Sekitar pukul setengah dua belas, kami mulai berangkat menuju laut lepas.
Perjalanan pulang Dari Lingga
LAUT tenang, angin berlawanan dengan perjalanan pulang kami sehingga pelayaran dilakukan dengan cara zig-zag. Pada pukul setengah tujuh malam, kami baru mencapai ujung Tanjung Besieng yang berhadapan dengan Pulau Penuboh. Ada pantai yang bisa digunakan untuk berlabuh dan tempat kami bermalam.
Tanggal 13 November 1872, tiupan angin masih berlawanan dengan perjalanan kami. Layar tetap dikibarkan dan kapal bergerak zig-zag. Melewati Penuboh, Tanjung Besieng atau Selat Penarie, dan kemudian melalui selat Pulau Lima untuk mencapai ujung Labuan Dadong.
Kami tiba sekitar pukul 8 pagi. untungnya ada sebuah tempat berlindung dari gelombang yang tinggi. Setelah lewat 1 jam, kami melanjutkan perjalanan dan berlayar dengan angin yang menguntungkan, tetapi lemah. Kondisinya terus begitu hingga kami melewati Tanjung Dato.
Kami baru bisa memanfaatkan tiupan angin yang kencang saat sudah berada di selat Dassie untuk berlayar ke selat Cempa.
Terlihat Pulau Redjai yang panjang, terletak di antara selat Dassie dan selat Cempa yang berada di sisi lambung kanan kapal. Angin kemudian melemah sedemikian, sehingga kami hanya bisa maju perlahan dan perlu dibantu dengan dayung. Pada pukul 5 sore, kami mencapai selat Cempa. Sekarang, kami berada di antara pulau-pulau Segantang Lada.
Pada pukul 6 sore, kami akhirnya memutuskan untuk berlabuh di sebuah pulau kecil, sebelah barat Pulau Temiang.
Menjelang tengah malam, pecah badai. Meskipun kami terlindung di belakang pulau kecil itu, kapal Moona tetap terombang-ambing hebat, oleng kiri dan kanan yang membuat kami takut. Untungnya, badai tidak berlangsung lama.
14 November, pagi hari angin menguntungkan, meskipun tidak kencang. Laut tidak bergelora dan air sedang mulai pasang. Kapal Kotter dan awaknya yang terpisah pada perjalanan di Tanjung Besieng, Singkep beberapa hari lalu, akhirnya muncul. Kami hanya sempat bertemu sebentar karena awak kapal akan langsung menuju Riau. Sementara kami, berencana melakukan perjalanan memutar terlebih dahulu sebelum pulang ke Riau.

Tidak lama setelah memulai perjalanan laut kembali, kami mulai menghadapi arus laut yang berpilin. Kapal Moona yang kami tumpangi beroleng hebat dan menghantam ombak. Kondisinya hampir sama seperti yang pernah kami alami pada tanggal 25 Agustus 1872 lalu.
Awak kapal mencoba mengubah haluan untuk menghindari bahaya yang lebih besar. Kami memilih untuk berlabuh di perairan yang tenang di sebuah pulau kecil. Sampai akhirnya laut menjadi lebih tenang, kami baru memulai untuk melanjutkan perjalanan kembali, menyusur perairan di sepanjang pulau Galang.
Saya mengusulkan untuk menyinggahi pulau Pisang, menyelidiki beberapa jenis tanaman pisang aneh yang katanya tumbuh di sana. Tapi, tiupan angin melemah. Kami gagal mencapai pulau itu pada sore hari. Karena hari sudah menjelang malam, kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di perairan sekitar selat Penyabung.
Arus di selat sempit itu ternyata begitu kuat. Walaupun telah mengupayakan sekuat tenaga dengan bantuan dayung, kami akhirnya berhasil masuk ke dalam perairan sempit itu. Namun, tetap muncul kekhawatiran. Jangkar kapal yang kami lepaskan, tidak akan cukup kuat menahan kapal Moona kami, mengingat arus yang kuat.
Setelah berupaya mencari sisi perairan yang lebih tenang dari gelombang, kami akhirnya melepaskan kembali jangkar kapal Moona kami. Makam ini, kami akhirnya bisa melalui malam dengan tenang.
Menyusuri Pesisir Galang – Rempang
DI muara Selat Penyabung masih terdapat sebuah dataran tinggi tertutup rumput, tetapi tanpa pepohonan. Pada masa lalu di zaman Olim, berfungsi untuk pertemuan para perompak laut. Mereka biasanya melakukan pesta dan bersenang-senang di sana. Melakukan aktifitas sabung ayam hingga mengadakan permusyawaratan. Dari sanalah nama Tanjung Penyabung di wilayah ini dikenal orang, yakni tanjung tempat pertarungan ayam.

Pada 15 November 1872, pagi hari tidak berangin. Jadi dengan mendayung, perjalanan dilanjutkan sampai ke Selat Tiong. Di Pulau Panjang, kami turun ke darat untuk menunggu angin.
Tapi tiupan angin yang ditunggu tidak muncul, hujan yang malah datang. Ketika reda, kami putuskan untuk mengangkat jangkar dan melanjutkan perjalanan laut kami dengan cara mendayung. Itu menyebabkan perjalanan kami sangat perlahan, seperti siput. Pada menjelang malam, kami akhirnya tiba di pulau Penjait Layar. Di situlah kami memutuskan untuk berlabuh dan bermalam.
Pada 16 November 1872, Pagi hari. Kami melanjutkan perjalanan laut lagi menggunakan dayung. Baru setelah melewati pulau-pulau,pulau kecil di sekitarnya, angin mulai bertiup cukup kencang, sehingga awak kapal bisa kembali menggunakan layar.
Sekitar pukul 10 pagi, kami akhirnya bisa tiba di Pulau Pisang yang terkenal itu. Awalnya, saya kecewa karena tumbuhan pisang asing yang katanya terdapat di pulau ini, tidak saya jumpai. Alih-alih, saya malah menemukan tumbuhan sejenis Palma di pulau kecil berbentuk bulat itu. Daun tanamannya berbentuk seperti pohon pisang.

Dengan susah payah kami mendaki di pulau ini melalui batu dan semak hingga tepi yang curam. Kami telah meninggalkan tempat pendaratan kami lumayan jauh hingga akhirnya tiba di sebuah perkebunan yang indah. Berisi berbagai jenis pisang budidaya!

Seluruh pulau kecil ini dahulu, dan sebagiannya hingga kini, ditumbuhi sejenis pisang liar. Mirip dengan Koffo yang bisa menghasilkan tali manila. Tumbuhan pisang liar itu memiliki batang-batang yang panjangnya 12 kaki, membentuk rumpun besar. Dari pulau ini juga banyak dibuat serat untuk tali pancing dari tadi tumbuhan itu. Namun, karena hanya dimanfaatkan dan tidak dibudidaya serta kondisi tanah di sini, tanaman pisang liar itu akhirnya mulai punah.
Saat ini, jenis pisang yang tumbuh lebih beragam karena dibudidaya. Jenis yang baik dan dapat dimakan. Tanah di sini terdiri dari lempung kuning yang subur dan terdapat banyak batu-batu besar. Sepertinya cocok untuk tanaman pisang budidaya.
Menurut keterangan penduduk di sini, budidaya pisang telah dimulai sejak kira-kira 5 tahun yang lalu. Selain mengupayakan budidaya tanaman pisang, penduduk pulau juga mengupayakan penangkapan ikan dan menjual hasilnya kepada para penanam Gambir Tionghoa di sekitarnya. Bahkan hingga ke Riau.
Cuaca Buruk, Berlabuh di Air Raja
KAMI sekarang dalam perjalanan laut ke Riau. Awalnya, berlayar dengan tiupan angin perlahan. Menjelang siang, angin mulai bertiup kencang dan sebentar kemudian berubah jadi badai yang disertai hujan. Rute perjalanan kami ke Riau jadi menyimpang cukup jauh.
Setelah beberapa waktu, kondisi kembali tenang. Kami dapat memanfaatkan angin untuk perjalanan menuju Riau. Tapi, rupanya hanya sebentar. Cuaca kembali memburuk dan membuat kami memutuskan untuk merapat ke darat. Kami akhirnya berlabuh di Pulau Air Raja.
Setelah menunggu beberapa waktu, perjalanan kembali dilanjutkan dengan tipuan angin yang lemah. Awak kapal perlu mendayung untuk menambah kecepatan perjalanan. Sementara cuaca, karena baru saja turun hujan, terasa cukup dingin. Di kabin, termometer mencatat suhu 80° Fahr’.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam, akhirnya bisa mencapai ibu kota Tanjung Pinang.
Residen Schiff yang menerima kabar kepulangan kami, menyambut dengan ramah. Di Tanjungpinang ini saya ketahui, kapal Kotter yang membawa bagasi saya, telah tiba 2 hari sebelumnya. Residen sempat khawatir karena kapal kami belum tiba sejak kepulangan kapal Kotter pembawa bagasi. Kami lupa memberi tahu awak kapal Kotter saat pertemuan di Singkep; bahwa kami akan mampir di pulau Pisang. Residen begitu mengkhawatirkan kami dan menyangka bahwa suatu kecelakaan telah menimpa kami.
PADA 17 November 1872, saya mulai berkemas untuk perjalanan ke Muntok dan Batavia.
Pada tanggal 18 November 1872, kapal pos dari Batavia ke Singapura tiba di Tanjungpinang.
19 November 1872, pagi pukul 5 terjadi badai, guntur dan hujan. Pukul 2 siang hari, kapal pos berlayar kembali menuju Singapura. Ini tidak diperhitungkan, sehingga saya dengan terburu-buru harus menyiapkan barang tumbuhan koleksi saya dan mengirimkannya ke kapal. Dengan terburu-buru, kemudian bergegas menuju kapal uap untuk perjalanan pulang ke Batavia. Saya tiba di kapal pukul setengah empat sore.
Nakhoda sudah memberi tahu bahwa kapal uap sebentar lagi akan berangkat. Sementara perahu yang membawa muatan barang-barang saya yang lain, belum juga tiba di sisi kapal uap. Saya katakan kepada nakhoda; saya tidak dapat berangkat tanpa barang-barang saya. Jika kapal tidak bisa menunggu, saya akan memilih turun dari kapal uap ini.
Untungnya, nakhoda berbaik hati dan mau mendengar keluhan saya. Ia akhirnya menunggu sampai perahu yang membawa barang-barang saya tiba. Pukul setengah lima, kami kemudian dapat melanjutkan perjalanan.
Meninggalkan Riau
SAYA sebenarnya ingin sekali tinggal beberapa hari lagi di Tanjung Pinang, untuk dapat berbicara sedikit tentang urusan dengan Residen. Bagaimanapun, ia telah menunjukkan begitu banyak tanda persahabatan kepada saya. Tetapi kebetulan terjadi. Karena berkumpulnya dua kapal N.I.L. Stoomvaartmaatschappij di Singapura, pelayaran dipercepat dua hari dari jadwal.

Tanggal 20 November 1872. Sore hari pukul setengah enam, kami tiba di rede (pelabuhan, pen.) Muntok. Terjadi peristiwa yang sedikit menjengkelkan; saat saya turun ke darat dan barang bawaan saya diangkut menggunakan sekoci, seorang Tionghoa kasar yang mengangkut barang bawaan, menjatuhkan dua koper saya yang berisi pakaian dan buku ke laut. Meski berhasil diambil kembali, kondisinya sudah basah, hampir semuanya.
Sementara tanaman koleksi saya dari Riau tetap berada di kapal.
Di Muntok, Residen van Cattenburch begitu baik menyambut saya dan kembali menawarkan penginapan.
Tanggal 21 November 1872: barang-barang saya yang basah dikeringkan. Di sini hujan hampir sepanjang hari.
22 November 1872, cuaca cukup baik, tetapi berganti-ganti sedikit hujan.
23 November 2873, malam hari dan pagi hari hujan, sore pukul 10 hujan lebat.
24 November 1872, Pagi pukul 6, saya berangkat ke Bakem, tetapi bermalam di Trentang (berjarak sekitar 29½ pal). Saya tiba sore pukul 5.
Jalan di sini basah dan sangat licin karena hujan telah turun sebelum kedatangan saya. Kondisi itu menyulitkan para pengusung tandu saya. Salah satunya sempat terjatuh karena jalanan yang licin.
Demang di Muntok yang menyambut saya kembali begitu baik. Ia bahkan meminjamkan saya sebuah tandu untuk perjalanan dan memberi saya penginapan di rumahnya di Trentang.
25 November 1872; pagi-pagi sekali berangkat lagi dan sore pukul 6 tiba di Bakem (berjarak sekitar 52½ pal). Pada perjalanan ini, perjalanan saya sempat terhadang hujan lebat yang membuat rombongan perlu berteduh di sekitar kampung Kalapa.
Pada tanggal 26 November 1872, saya mengunjungi sawah-sawah di Paya Raja, di mana ± 6 bouw telah ditanami. Separuhnya sudah mulai ditumbuhi dan menjanjikan panen yang baik. Lokasi persawahan di sini, bisa menjadi contoh bagi orang-orang di Bangka jika inginengembangkannya.
27 November 1872, pagi hari kembali ke Paya Raja. Sore hari datang seorang administratur dari Sungai Liat serta tuan Toorop dari Bakem. Kami bersama menginap di Paya Raja.
28 November 1872. Pagi pukul 4 badai kencang dari barat daya disertai hujan. Kondisinya berlangsung hingga pukul 8 pagi. Setelah reda, kami bertiga, bersama-sama sekali lagi mengunjungi sawah di Paya Raja. Menjelang tengah hari kami kembali ke Bakem untuk makan siang. Setelah itu, kami berangkat ke Pudeng Gebak.
Karena perlu mampir di Balai (berjarak 15 pal dari Pudeng Gebak), kami memutuskan bermalam di situ. Tuan Toorop memiliki agenda inspeksi atas beberapa, penanaman padi di ladang yang dirusak serangga.
Setelah bersama menuju Pudeng Gebak, kami meneruskan perjalanan kembali ke Muntok.
29 November 1872. Pagi hari kami mengunjungi sebuah ladang padi yang baru tumbuh. Ladang ini telah 2 sampai 3 kali ditanami ulang setelah dipanen. Namun kabar yang saya dapat, hasil panennya, sebagian besar rusak.
Tuan Toorop — seorang pegawai yang luar biasa cakap. Ia tidak hanya cakap sebagai administratur. Tetapi juga cakap bergaul dengan pribumi. Tuan Toorop sering menganjurkan hal yang baik dan berguna kepada penduduk pribumi. Terutama dalam pola penanaman padi ladang.
Namun, sayang. Nasihatnya jarang diikuti. Mungkin karena kemalasan para pribumi. Semua nasihatnya yang baik, dan bahkan tawaran bantuan, terbentur pada pemikiran yang berbeda dari mereka.
Jika ada perintah diberikan dari pihak Pemerintah, maka mereka akan mendengarkan dengan saksama, tapi tidak diikuti.
Sebagai bukti; kepada mereka pernah ditawarkan pemberian beras cuma-cuma selama beberapa bulan, asalkan mereka mau menanami ladang padi yang gagal itu dengan tanaman kedua. Tetapi karena mereka harus mengolah tanah, tawaran ini ditolak.
Tawaran lain saat kondisi penduduk sedang kesusahan karena minimnya stok beras, juga pernah disampaikan.
Kepada mereka ditawarkan 40 sen dan 5 kali makan sehari, atau sebanyak yang mereka pilih untuk makan, asalkan mereka mau membantu orang Tionghoa, untuk mengangkut bijih timah dari tambang. Tawaran itu tetap tidak menarik bagi mereka. Penduduk lebih memilih untuk mencari pekerjaan di Pangkals atau di Muntok, sementara istri dan anak-anak mereka ditinggal tanpa makanan di kampung.
Pesta Meriah di Muntok
DARI Muntok, saya berpamitan dengan tuan Toorop, yang masih pergi menginspeksi ladang-ladang lain. Saya harus melanjutkan perjalanan ke Trentang, untuk di sana bermalam lagi.
Tanggal 30 November 1872, malam hari hujan. Keesokan harinya, pukul 6 pagi berangkat dari Trentang dan tiba sore pukul 5 di Muntok. Data menginap di kediaman residen van Cattenburch.
Tanggal 1 Desember 1872. Sejak beberapa hari ini telah berlangsung pesta yang digelar oleh Letnan Tionghoa Tjoeng Attiam, untuk memuliakan pernikahan putra sulungnya dengan seorang gadis muda Singapura. Untuk itu, ia telah mendatangkan 100 komedian-pemain wayang dari Singapura serta dua puluhan koki. Satu set pemusik asal Batavia juga hadir. Lebih dari f 1000 kembang api dari Gors di Batavia dinyalakan malam ini. Itu adalah hari pesta untuk orang-orang Eropa yang hari ini semua diundang.
Di sebuah rumah Tionghoa yang megah, yang menelan biaya pembangunan f 96.000, semua penduduk Eropa, dengan para nyonya mereka, diundang dan hampir semua hadir. Orang tidak akan menyangka, bahwa di sana ada sekitar 100 orang berkumpul di wilayah Muntok yang kecil. Mereka Menari, bermain, menyalakan kembang api dan bersantap malam bersama hingga larut malam.
Yang tentu banyak akan menyumbang pada kebahagiaan kedua mempelai, adalah cuaca yang baik. Pesta malam itu berlangsung meriah.
Tanggal 4 Desember 1872, pagi-pagi sekali hujan; kemudian cuaca indah.
Pulang ke Buitenzorg
5 Desember 1872, cuaca sama seperti kemarin. Kapal pos Baron Bentinck dengan nakhoda Kaiser, tiba pada tengah hari dari Singapura dan berlabuh di Muntok. Pada pukul satu siang, saya naik ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Batavia.
6 Desember 1872, sore hari pukul setengah delapan, kami tiba di rede (pelabuhan, pen.) Batavia untuk berlabuh. Saya belum bisa turun dan bermalam di kapal.
7 Desember 1872, pagi hari turun ke darat.
9 Desember 1872, berangkat ke Buitenzorg (Bogor, pen.) yang sudah 7 bulan lalu saya tinggalkan. Saya kembali ke Buitenzorg dalam keadaan sehat, sama seperti saat awal berangkat.
Koleksi tumbuhan yang saya kumpulkan dalam perjalanan ke negeri Riau Lingga, ditujukan untuk Kebun Raya Negeri di Buitenzorg. Jumlahnya banyak, terdiri dari 5 peti besar yang di dalamnya terdapat lebih dari 600 jenis tumbuhan kering. Ada lagi 10 peti dengan tumbuhan hidup dalam 70 jenis, 2 peti dengan 12 botol sumbat berisi buah dalam spiritus, 28 jenis dan berbagai paket biji dengan 76 jenis. Seluruh koleksi yang saya kumpulkan itu telah dikirim secara bertahap saat saya berada di negeri Segantang Lada itu dan telah diterima dalam keadaan baik oleh Direktur kebun raya negeri Buitenzorg.
Buitenzorg (Bogor, pen.), Maret 1873
(*)
Selesai
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com



